Tips Sukses Wawancara Kerja di Berbagai Industri

Kalau ada topik yang paling sering saya terima di inbox saya dari para pembaca blog saya ini, biasanya kalau enggak dari cewek-cewek galau yang pengen coba Auraku atau enggak temen-temen yang minta tips interview kerja.

Temen-temen yang minta tips interview kerja ini biasanya kalau enggak temen saya sendiri yang pengen masuk ke tempat kerja saya sebelumnya, atau kalau enggak temen-temen yang gak sengaja nyasar di blog saya dan dapet panggilan interview di maskapai tempat saya kerja sebelumnya.

Dan setelah saya pikir-pikir, kayaknya saya sering banget dimintain tips supaya sukses wawancara kerja. Maklum, saya ini emang multitalented, dalam kurun waktu 7 tahun sejak saya lulus kuliah, saya udah punya pengalaman kerja di berbagai industri. Hmm.

Ibarat kata jaman saya dulu kuliah Filsafat Ilmu, kayaknya pengalaman yang saya dapat selama 7 tahun bekerja ini sifatnya non-fragmentaris. Artinya, saya ngerti beberapa industri ini secara luas, mendalam dan mendasar karena pernah tergabung di dalamnya.

Sebagai info, saya punya pengalaman 2.5 tahun bekerja di bidang aviasi atau penerbangan, baik sebagai Ground Staff atau Pramugari. Setelah itu, saya lebih banyak bekerja di bidang marketing dan sales. Pokoknya sungguh mati aku jadi pemasaran.

Selama itu juga, saya punya pengalaman sebagai freelance copywriter. Sajauh ini, saya juga pernah ngerasain gimana bedanya kerja di perusahaan lokal dan internasional. Enak dan gak enaknya punya rekan kerja sesama orang Indonesia dan juga harus terbentur sama perbedaan persepsi karena budaya.

Untuk alasan yang saya juga kurang ngerti, tapi hampir semua wawancara kerja yang saya ikuti pasti membuahkan hasil. Hasilnya? Saya kerjanya pindah-pindah melulu. ๐Ÿ˜›

Alasan ini jugalah yang kayaknya bikin orang-orang sering minta pendapat saya soal tips-tips wawancara kerja. Kadang saya susah jelasinnya karena memang pada dasarnya saya ini multitalented dan gak semua orang penuh talenta seperti saya. ๐Ÿ˜›

Tapi, baiklah… Saya akan coba share tips-tips supaya sukses wawancara kerja, terutama buat kamu yang mungkin baru lulus kuliah dan bingung mau kerja kemana habis ini.

Sumber: Unsplash

1. Pastikan kamu tau pekerjaan yang kamu lamar, dan memang sesuai dengan minat dan bakat kamu.

Waktu saya lulus kuliah, JobStreet belum sepopuler sekarang dan saya masih ngerasain tuh namanya ngecek lowongan kerja di koran Kompas tiap hari Sabtu. Di hari yang sama, biasanya saya malah kedistract baca fitur-nya Samuel Mulia, bukannya cari kerja. ๐Ÿ˜›ย 

Selain baca koran dan cek e-mail dari LiNa (LOL), saya juga seperti para pengangguran bertitel sarjana lainnya suka main-main ke job fair demi dapet kerjaan. Yang kalau dipikir-pikir sekarang ironis juga yes, mau cari duit tapi dateng ke job fair juga gak pernah ada yang gratis. ๐Ÿ™

Cuma, dari awal pun saya udah bilang sama diri saya sendiri kalau saya gak mau kerja di bank. Tapi, karena di job fair kebanyakan bank yang buka lowongan kerja, saya pun melamar ke beberapa bank yang akhirnya beberapa meloloskan saya ke interview direksi sebagai tahap rekrutment paling akhir sebelum ditawarkan kontrak kerja.

Sumber: Pexels

Jujur, bukannya menolak rejeki, tapi saya sabotase beberapa interview ini karena emang saya gak pengen masuk bank.

Saya pikir, daripada entar saya diterima terus saya setengah hati kerja disitu, ya mendingan juga mereka rekrut orang yang bener-bener emang niat pengen kerjaan itu.ย 

Waktu itu, saya inget banget pertanyaan yang muncul di interview akhir sama direksi. Salah satunya adalah saya diminta untuk sebutin 4 nama bank BUMN terbesar di Indonesia. Saya dengan santai sebutin BJB di dalam daftar, walaupun saya tau BJB itu BUMD. Oke, sip.

Ketika saya akhirnya dapet panggilan dari AirAsia, saya malah merasa happyย karena bahkan sejak pertama kali ditelepon sama HR pun saya ngerasa kerjaan seperti inilah yang bakal cocok buat saya.

Kalau ada satu hal yang perlu saya pelajari dari interview dengan berbagai macam jenis perusahaan, salah satu tips utama adalah: trust the vibes. Ketika kamu merasa excited dan bahkan setelah wawancara kamu merasa cocok ngobrol sama interviewer kamu, insya allah kerjaan itu rejekinya kamu. ๐Ÿ™‚ย 

2. Kepo itu penting!

Jadi gini, kalau misalnya kamu kebiasaan suka nanyain orang lain kapan kawin atau kenapa gendutan, mending kepo yang kayak gini dikurang-kurangin… *nyindir terselubung ๐Ÿ˜›

Salah satu tips yang esensial ketika wawancara kerja adalah, kamu harus kepo akan latar belakang perusahaan yang manggil kamu interview. Seenggaknya, kalau kamu belum familiar sama nama perusahaannya, kamu wajib tau perusahaan ini bergerak di bidang apa.ย 

Ini terjadi sama perusahaan tempat saya kerja beberapa waktu lalu. Jadi, waktu saya ngelamar kerja disana sebetulnya saya lebih fokus ke penempatan kerjanya yang awalnya harusnya di Malaysia. Saya gak tau perusahaan ini apa, tapi posisi yang mereka butuhin kebetulan sesuai sama pengalaman bekerja saya sebelumnya.

Sumber: Unsplash

Tapi, walaupun saya gak familiar sama perusahaannya, bukan berarti saya diem aja.

Waktu pertama kali saya ditelepon sama HR di Malaysia buat jadwalin interview lewat Skype sama calon reporting manager saya, sejujurnya pas dia nyebutin nama perusahaannya pun gak jelas. Tapi saya iyain aja waktu dia minta schedule Skype interview minggu depannya.

Selanjutnya, saya minta HR-nya untuk kirim detailnya lewat e-mail. Dengan ngomong kayak gini, saya pikir dari pihak HR sendiri bakal melihat permintaan saya ini sebagai sikap proaktif, yang artinya saya profesional dan gak malu buat mengingatkan.ย Padahal mah, karena emang nama perusahaannya saya gak denger pas awal dia nelepon.

Pas terima e-mail, khan jadi ketauan tuh dari mana. Nah, tinggal googling deh ini perusahaan apa, bergerak di bidang apa dan kira-kira kultur perusahaannya seperti apa.

Buat apa? Ini penting supaya nanti pas interview kamu jadi ada bahan obrolan sama interviewer-nya. Percayalah, kalau interview-nya garing, hampir dipastikan rejekiย buat kamu di tempat itu juga garing. ๐Ÿ˜

3. Klise sih, tapi jangan malu untuk bertanya. Tapi, jangan juga jadi kebanyakan nanya.

Jadi gini lho sis, bukannya mau ngatain yah… Tapi saya agak annoyed ketika saya diharuskan kerja bareng sama banyak mahasiswa di acara yang saya ikuti beberapa waktu lalu dan saya agak mengalami ‘culture-shocked’ ketika saya menyadari begitu banyak mahasiswa jaman now yang begitu banyak bertanya, tapi pertanyaannya gak ada isinya. ๐Ÿ™ย 

Salah seorang teman saya pernah bilang, dan saya setuju banget nih sama statement-nya dia ini, seseorang itu dinilai bukan dari apa yang dia katakan. Tapi dari apa yang dia tanyakan.

Kasarnya, semakin berbobot pertanyaannya, berarti semakin high qualified lah orangnya.

Bertanya itu penting, wajib malah. Tapi kamu harus lebih ‘smart‘ dalam memilih pertanyaan yang diajukan ketika wawancara kerja.ย 

Sumber: Pexels

Misalnya nih, kamu dipanggil interview di perusahaan riset. Ya jangan nanya ke HR riset itu apa, karena yang ada malah keliatan bodonya. ๐Ÿ˜

Cari pertanyaan yang lebih ‘mendalam’ yang nunjukin kamu udah cukup tau soal perusahaannya dan apa yang dilakukan perusahaan secara general, tapi kamu tertarik buat pengen tau detailnya. Misalnya, daripada nanya soal riset itu apa, mending kamu tanya biasanya riset yang dilakukan dalam bidang apa, dan nantinya riset seperti apa yang bisa ditawarkan kepada klien.

Soal gaji pun sama, saya sendiri pantang nanya-nanya soal gaji kecuali kalau dari pihak perusahaan yang memulai obrolan. Kecuali kalau misalnya kamu udah tau bakal ditempatin out of base dari tempat kamu saat ini.ย 

Misalnya, waktu saya wawancara buat maskapai tempat saya bekerja sebelumnya yang base-nya di Jeddah, yang saya tanyakan waktu itu hal-hal standar seperti soal akomodasi dan asuransi. Ini penting, karena kamu bekerja khan gak cuma cari uang, tapi juga security untuk aspek kehidupan kamu lainnya. Apalagi kalau jauh dari rumah. Ya khan?

4. Cari benang merah antara apa yang pernah kamu lakukan sebelumnya, apa yang sedang kamu lakukan, dan apa yang kira-kira akan kamu lakukan di (calon) pekerjaan kamu selanjutnya.

Jaman saya kuliah, tiap kali saya ikutan seminar atau kepanitiaan, biasanya satu-satunya yang saya incer adalah satu: sertifikat.ย 

Mitosnya adalah, semakin banyak sertifikat, semakin mudah diterima kerja. Apakah itu benar? 7 tahun saya bekerja, saya cuma bisa bilang engga. HAHA.

Kecuali kalau sertifikat kamu berhubungan sama TOEFL atau IELTS dan berbagai macam sertifikasi keahlian praktis lainnya, sertifikat gak pernah dimintain sama calon employer kamu. Kecuali kamu kerja di BUMN, bahkan ijazah pun jarang-jarang diminta. ๐Ÿ˜

Terus, yang diliat itu apa? Skill ngebullshit kamu dalam menjelaskan kenapa kamu orang yang paling tepat buat pekerjaan tersebut, atau hal apa yang kira-kira pernah kamu lakukan di pekerjaan sebelumnya dan kenapa itu relevan sama pekerjaan yang kamu lamar ini.

Sumber: Unsplash

Contoh konkritnya adalah waktu saya memutuskan buat banting setir dan berhenti dari dunia aviasi ke dunia perkantoran. Waktu itu, pastinya yang diragukan oleh calon employer adalah, saya gak pernah kerja sebagai orang kantoran, terus kok bisa-bisanya saya pikir pekerjaan ini bakal cocok sama saya?ย 

Jawaban saya waktu itu simpel, tapi mungkin ‘ngena’ sama mantan bos saya yang bikin first impression dia terhadap saya adalah saya pinter orangnya. Pas kenal, eh ternyata somplak terus dia nyesel. ๐Ÿ˜›

Posisi yang saya lamar waktu itu adalah sales, dan saya punya pengalaman selama 2.5 tahun di dunia aviasi, baik sebagai Guest Service Assistant ataupun pramugari. Kenapa saya merasa mampu kerja di bidang sales ketika saya gak punya pengalaman sama sekali?

Karena inti dari sales adalah satu, gimana kita bisa maintain klien yang udah ada dan gimana kita membangun relasi dengan calon klien atau klien baru kita. Dan untuk bisa seperti itu, perlu skill customer service yang bagus, hal yang saya punya dari 2.5 tahun bekerja di bidang jasa. Terkait dengan target dan operasional sales seperti apa, ya saya bisa belajar. Semua hal mungkin terjadi, asal kita mau belajar.ย 

Iya, selain multi talenta, saya juga jago ngebullshit dan akhirnya dapet deh itu kerjaan. ๐Ÿ˜€

Jadi gimana? Kamu siap buat mulai berpetualang cari kerjaan? Atau malah kamu lagi kepikiran buat banting setir ke industri yang berbeda?

Percaya sama saya, you can do it. You just need to try. ๐Ÿ˜‰

Punya pengalaman interview kerja yang mungkin lucu atau mengena dalam hati kamu? Atau punya tips lain yang mau kamu share sama temen-temen lain? Drop your comment below and cheerio! ๐Ÿ˜€

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.