Indonesia-Malaysia Jalur Darat: Perjalanan dari Singkawang (Kalimantan Barat) ke Kuching (Sarawak)

Dari segala hal yang pengen banget saya tulis soal Borneo trip saya ini, topik ini yang paling pengen saya angkat karena satu dan lain hal.

Pertama, soal perjalanan darat dari Indonesia ke Malaysia dengan rute Singkawang ke Kuching ini jadi alasan kenapa saya nunda nyusun itinerary sekian lamanya. Jadi, saya beli tiket pesawat ke Pontianak itu sekitar bulan April tahun lalu, tapi saya baru beresin rencana perjalanan beberapa hari sebelum saya berangkat di akhir bulan Oktober.

Alasannya simpel banget sih sebenernya… Karena saya pengen banget mampir ke Singkawang, tapi saya keukeuh pengen lanjut perjalanan ke Kuching lewat jalur darat. Yang jadi masalah adalah, karena saya googling pun minim banget soal informasi mengenai Indonesia-Malaysia lewat jalur darat untuk rute ini.

Kebanyakan info yang saya temukan itu kebanyakan perjalanan jalur darat dari Pontianak ke Kuching. Kebetulan untuk rute Pontianak-Kuching sendiri, pilihannya lumayan banyak. Dari mulai pake bus DAMRI atau Eva Bus, atau ada juga pesawat Airasia yang terbang setiap hari menuju Kuching dari bandara Supadio.

Usaha saya buat nemu informasi jelas soal perjalanan darat dari Singkawang ke Kuching ini lumayan ekstra dibandingin cari info perjalanan lainnya untuk Borneo trip kali ini. Makanya, saya pengen banget nulis soal ini supaya gak ada yang senasib kayak saya. 😛

Patung Garuda yang ada di kejauhan itu adalah batas negara Indonsia, foto ini sendiri diambil di area yang sudah memasuki wilayah Malaysia di Biawak, Sarawak.

Singkawang-Kuching Jalur Darat dan PLBN Aruk

Jadi nih ya, ngomongin perjalanan jalur darat dari Singkawang ke Kuching juga transportasi umum yang tersedia ini gak bisa dilepaskan dari keberadaan PLBN Aruk. Perbatasan Indonesia-Malaysia yang berada di Kabupaten Sambas ini baru diresmikan Presiden Joko Widodo di tahun 2017. Jadi, emang keberadaan perbatasan yang satu ini lumayan baru.

Sebenernya, saya nemu beberapa artikel yang cukup relevan soal perjalanan darat dari Kalimantan Barat menuju Sarawak. Tapi, gak ada informasi yang jelas mengenai transportasi umum yang tersedia.

Iya, saya nemu beberapa artikel soal bus dengan rute Singkawang-Kuching yang masih dalam taraf percobaan di beberapa media lokal. Bahkan website dishub Singkawang pun punya artikel soal percobaan ini. Tapi, gak ada info apapun soal bagaimana cara pemesanan tiketnya, atau apakah ada nomor telepon yang bisa dihubungi untuk info selanjutnya.

Perjalanan Singkawang-Kuching Melalui Darat

Yang saya tau waktu itu, kemungkinan bus rute Singkawang-Kuching yang tahun lalu dalam masa percobaan itu rencananya akan diresmikan bulan Agustus 2018. Makanya, saya pun akhirnya menunda-nunda bikin rencana perjalanan sambil nunggu informasi resmi soal bus ini.

Sampai beberapa minggu sebelum keberangkatan saya di bulan Oktober 2018, saya belum dapet info sama sekali soal ini. Bahkan info dari Alvi, temen Couchsurfing yang saya temuin di Pontianak pun kurang jelas. Cek segala macem platform untuk pemesanan tiket bus, rute Singkawang-Kuching masih belum tersedia.

Akhirnya, karena desperate dan waktu keberangkatan udah cukup mepet, saya pun mulai cari info sana-sini sampai mention beberapa akun Twitter yang ada kaitannya sama Singkawang. Gak dapet info berarti, sampai akhirnya saya ngehubungin Info Singkawang di Facebook.

Perjalanan saya dari Singkawang menuju Kuching di dalam mobil sama supir dan dua orang penumpang lainnya.

Dari Info Singkawang ini, saya dikasih nomor yang bisa dihubungi lewat Whatsapp a/n Jie To di +62 852 522 99 216.

Travel dari Singkawang Menuju Kuching

Jie To ini melayani travel dari Singkawang ke Kuching dengan menggunakan mini bus. Point to point. Jadi, supirnya jemput saya di Hongkong Inn dan nganter saya langsung ke penginapan di Kuching.

Keberangkatannya tiap hari, dengan penjemputan di Singkawang sekitar pukul setengah 5 sampai jam 5 pagi. Untuk satu kali perjalanan, harganya Rp 350.000 dan bisa dibayarkan langsung ke driver masing-masing waktu dijemput.

Jadi memang, dibandingin bus DAMRI, orang-orang Singkawang lebih banyak memilih buat ke Kuching pake sistem travel kayak gini. Yowes, selain emang saya udah kapok banget naik DAMRI, dan emang saya gak nemu alternatif lainnya, saya pun akhirnya langsung ngubungin Jie To yang memang cukup responsif melalui Whatsapp.

Dan emang perjalanan dari Singkawang menuju Kuching melalui jalur darat ini berasa banget jadi lebih mudah dan gak pake ribet dengan travel kayak gini.

Prosedur Keberangkatan dari Singkawang ke Kuching

Mobil yang dipakai untuk perjalanan Singkawang-Kuching adalah mobil Innova, dengan jok bagian belakang digunakan khusus untuk barang. Salah satu hal yang saya khawatirkan pada awalnya sebenernya bagian ini, karena kebetulan barang saya lumayan banyak.

Saya agak anxious untuk jalan pakai mini bus karena takut barang-barang saya ini jatohnya jadi makan tempat. Tapi saya agak lega juga ya waktu tau jok belakang emang dikhususkan buat barang.

Saya sendiri share perjalanan ini dengan dua orang penumpang lainnya. Dan kita berhenti sekali untuk sarapan di daearah Sambas. Disana, saya makan bubur harganya Rp 19.000 aja, tapi lumayan buat ganjel perut karena perjalanan dari Singkawang-Kuching sendiri memakan waktu kurang lebih sekitar 5 jam.

Mobil yang saya gunakan untuk perjalanan Singkawang-Kuching kali ini.

Imigrasi di PLBN Aruk (Kalimantan Barat) dan Pos Imigresen Biawak (Sarawak)

Sesungguhnya, saya ini suka parno kalau urusan lintas negara lewat jalur darat. Maklum, tiap kali ngomongin soal lintas negara jalur darat, yang saya inget suka gimana rusuhnya imigrasi dari Johor Bahru ke Singapore atau sebaliknya.

Makanya, sebelum ke imigrasi pun saya agak deg-degan. Ditambah lagi kenyataan kalau mobilnya plat hitam dan drivernya minta saya ‘bohong’ buat ngaku-ngaku mau berobat. Hmm. Jadi agak gak karuan saya dibikinnya. HAHA.

Dan, memang begitu saudara-saudara… Justru di pos imigrasi Indonesia di PLBN Aruk ini, staff-nya lumayan interogasi saya dari mulai A sampai Z. Tapi, karena saya emang agak males kalau harus bohong sama imigrasi, saya jawabnya jujur aja bilang ke Sarawak mau liburan dan saya mau pulang lewat Kota Kinabalu sebulan kemudian.

Yang bikin saya agak heran adalah, karena justru di imigrasi Malaysia gak ada pertanyaan yang berarti sama sekali. Bener-bener staff-nya cuma liat muka saya terus langsung cap paspor saya gitu aja.

Review Perjalanan Darat dari Singkawang ke Kuching

Sesungguhnya, saya merasa beruntung banget dapetin info nomor telepon Jie To last minute dari Info Singkawang. Perjalanan darat dari Singkawang ke Kuching ini walaupun memakan waktu 5 jam, tapi bener-bener gak berasa sama sekali karena (1) perjalanan lancar jaya dengan jalan yang super mulus dan (2) karena jalan mulus, saya jadi tidur terus.

Foto diambil dari Pos Imigresen Biawak di Sarawak, bagian ini udah masuk wilayahnya Malaysia.

Berdasarkan salah satu penumpang yang juga menumpang dengan travel yang sama, PLBN Aruk ini memang jauh lebih enak dibandingin perbatasan Entikong. Katanya, Entikong itu imigrasinya lebih penuh dan lebih kotor. Mungkin karena emang beroperasi lebih lama, dan kebanyakan diambil oleh orang-orang yang berangkat dari Pontianak.

Kebetulan saya di jalan tidur terus pun bikin saya merasa kehilangan momen sebetulnya, karena bahkan waktu sesekali saya kebangun, pemandangan di jalan pun lumayan indah. Sekeliling masih hijau dan emang udaranya kelihatan segar, walaupun saya di dalam mobil pake AC. 😛

Tapi sejauh ini, saya bener-bener gak menyesal untuk ngambil keputusan pake travel ini. Walaupun satu yang agak saya pertanyakan adalah perjalanan ini menggunakan mobil plat hitam. Hehe. Tapi lain dari itu, semuanya terbayarkan sih… Nyampe Kuching pun bahkan lebih cepat dari perkiraan, karena jam 11 saya udah nyampe penginapan saya.

(+)

  • Prosedur keberangkatan yang point to point, sehingga udah gak perlu mikir soal biaya tambahan buat Grab atau repot-repot cari alamat sendirian di Kuching. 
  • Jie To yang lumayan responsif di Whatsapp. Nantinya, walaupun bukan Jie To bukan driver-nya, dia bakalan kasih nomor telepon yang jadi driver sehari sebelum keberangkatan kita. 
  • Harganya cukup terjangkau, ditambah kenyataan kalau jok belakang khusus untuk barang. 
  • Pemandangan yang indah sepanjang perjalanan. 
  • Imigrasi yang cukup mudah dan lancar, kebetulan waktu saya kesana, baik di pos imigrasi Indonesia atau Malaysia, nyaris gak ada antrian lain selain kita berempat yang ada di mobil. 

(-)

  • Mobil pakai plat hitam, yang artinya agak cukup riskan kalau (amit-amit) ada kecelakaan, karena gak termasuk asuransi perjalanan. 

Punya Pengalaman Lintas Negara dari Perbatasan Lainnya?

Sejauh ini, saya cukup happy sih dengan perjalanan lintas negara kali ini. Bahkan saya gak terlalu khawatir sama kenyataan kalau travel yang digunakan mungkin belum berlisensi mengangkut penumpang, karena memang perjalanan yang cukup lancar.

Pelayanan dari imigrasi kedua negara di perbatasan pun cukup cepat dan gak pake ribet, jadi so far so good lah!

Dan terlepas dari hasil Pemilu sementara sih ya, sebagai seseorang yang baru pertama kali menikmati fasilitas negara lewat PLBN Aruk ini, saya mau memberikan thumbs up untuk Pak Jokowi yang meresmikan perbatasan yang satu ini. It was indeed a good job, karena dari segi jalan dan pelayanan cukup bagus. Walaupun yah, gak ada salahnya juga sih untuk terus diperbaiki.

Salah satunya misalnya, mungkin dengan update info soal transportasi umum lain yang tersedia untuk perjalanan lintas negara ini? Jadi, mungkin ada yang bisa kasih info soal alternatif transportasi resmi dari Singkawang ke Kuching selain ini?! 🙂

8 thoughts on “Indonesia-Malaysia Jalur Darat: Perjalanan dari Singkawang (Kalimantan Barat) ke Kuching (Sarawak)

    1. kondisi jalan mulus bangeeeet… kayak yang aku bilang di postingan khan, jalan mulus sampai aku tidur terus sepanjang perjalanan. hahaha. klo misalnya DAMRI sih aku sampe saat ini belum nemu info soal cara pake DAMRI dari singkawang ke kuching, tapi aku naik DAMRI dari pontianak ke singkawang dan emang ga recommended. 🙁

      1. Rute Singkawang-Kuching ini memerlukan izin internasional, mungkin belum tersedia. Jika pun masih mengingginkan menggunakan angkutan umum maka alternatif pilihannya adalah
        Pakai damri rute Pontianak-sambas atau dari singkawang mengunakan bus umum lainnya menuju sambas, sampai di sambas ganti trayek menggunakan damri perintis jurusan sambas-aruk (PLBN), keluar PLBN menuju border biawak mengunakan angkutan (biasa disebut Ben oleh orang lokal) yang tersedia di Gerbang imigresen Biawak untuk menuju Kucing.
        dan menurutku alternatif ini sangat tidak rekomended karena tidak bisa menghemat waktu dan tenaga…

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.