Wangsit Batik dan Cantik di Balik BeautiQ

Reading Time: 8 minutes

Sebetulnya, bahkan sejak saya mulai terbang dan sering pulang-pergi jadi bocah petualang, ibu saya yang visioner seringkali menasehati saya untuk bisa ‘menghasilkan’ tiap kali saya jalan-jalan.

Dalam Bahasa Sunda-nya yang kental, bukan sekali dua kali beliau berkata, “Kalau senang jalan-jalan tuh, ya jangan cuma senang jalannya aja. Cari tau donk apa yang kira-kira bisa dijual dari sana atau yang bisa dibawa dari sini supaya ga cuma senang, tapi menghasilkan uang.”

Dulu saya ga pernah menghiraukan apa kata beliau karena memang pada dasarnya saya adalah tipe traveler yang paling males diribetin sama budaya titip-titipin yang mendarah daging di Indonesia ini.

Pikir saya, boro-boro mikirin apa yang bisa dijual, cucian muat di koper aja udah alhamdulillah.

Pemikiran saya mulai berubah ketika jasa titip mulai jadi trend tersendiri di Indonesia tercinta ini. Ditambah dengan keadaan saya yang stress urusan pekerjaan beberapa bulan yang lalu, yang bikin saya betul-betul cari jalan keluar supaya hidup saya lebih berwarna daripada cuma sekedar bekerja keras demi kecintaan saya untuk berlibur.

Thanks to the power of kepepet, akhirnya saya mulai memikirkan apa kata ibu saya.

Sebagai seorang anak, saya ini adalah tipe anak yang keras kepala dan baru mulai mempertimbangkan pendapat orang tua saya ketika saya sudah kena batunya sendiri. Beruntung karena saya memiliki kedua orang tua yang membebaskan saya dalam memilih jalan hidup, dengan sedikit nasehat ini-itu sebagai pertimbangan.

Makanya ketika di periode bulan Februari 2017, ketika biasanya di bulan tersebut saya cuma excited menyambut ulang tahun saya, saat itu saya malah merasa tertekan karena beban pekerjaan bahkan ketika saya sudah merencanakan perjalanan untuk berlibur ke Hongkong dan Bangkok sebagai kado ulang tahun untuk diri sendiri.

Saat itu, saya berada di ambang nyaris putus asa karena saya merasa ga bahagia sama pekerjaan saya. Momen liburan yang sudah saya rencanakan jauh-jauh hari pun ga cuma saya sambut sebagai kado ulang tahun, tapi juga sebagai momen untuk refleksi diri mengenai apa yang sudah saya lakukan selama ini dan juga rencana saya ke depannya.

Saya memilih Hongkong sebagai destinasi liburan di birthday trip saya tahun ini karena alasan yang cukup simpel: saya ingin berada di suatu tempat yang dingin karena saya bosan dengan panasnya Jakarta.

Perjalanan pertama saya ke Hongkong, saya menikmati solo traveling di negara yang dikenal sebagai surga belanja untuk banyak orang di Asia ini. Untuk perjalanan ke Hongkong ini, saya sendiri sudah beli tiket pesawat jauh-jauh hari untuk keberangkatannya walaupun menunda pembelian tiket pulang karena satu dan lain hal.

Sebetulnya, itu memang kebiasaan saya tiap kali merencanakan traveling ke suatu tempat. Saya bukan tipe traveler yang bisa spontan beli tiket dan berangkat ke suatu tempat saat itu juga. Tak jarang, saya beli tiket pesawat untuk tahun depan hanya keberangkatannya saja, dan baru membeli tiket pulang sebulan sebelum keberangkatan sekaligus booking hotel.

Selama di Hongkong, walaupun saya asyik jalan-jalan sendiri mengelilingi Mongkok dan Ladies Market, pintu hati saya belum terketuk sedikit pun untuk mencoba peruntungan untuk menghasilkan uang seperti yang ibu saya pernah bilang. Maklum, saat itu saya ga menemukan barang yang betul-betul menginspirasi saya untuk dibawa dan dijual kembali di Indonesia.

Semuanya berubah sampai akhirnya saya berkumpul dengan adik-adik saya di Bangkok dan saya mulai mengerti kenapa akhir-akhir ini PO Bangkok di Indonesia ngetrend banget.

Dikarenakan perbedaan jadwal terbang dan bandara, saya dan adik saya memutuskan untuk bertemu langsung di hotel tempat kami menginap di kawasan Khao San Road.

Kebetulan, adik-adik saya siang itu berangkat menggunakan AirAsia yang mendarat di Don Mueang, sedangkan saya yang berangkat dari Hongkong menggunakan Srilanka Airlines mendarat di Suvarnabhumi di malam hari.

Dan karena energi saya selalu berlebih ketika liburan, walaupun lelah dengan perjalanan dari Hongkong ke Bangkok serta muter-muter cari hotel yang susah ditemukan, saya dan adik-adik saya langsung memutuskan buat langsung jalan-jalan di daerah Khao San untuk nongkrong sekaligus lihat-lihat apa yang ada di kisaran sana.

Tak disangka, wangsit pertama untuk mempertimbangkan ide ibu saya untuk ‘menghasilkan’ tiap kali liburan datang ketika saya berada di tengah hiruk-pikuk party yang ada di sepanjang jalan Khao San.

Selain bar dan penginapan murah yang menjamur disana, Khao San Road juga penuh oleh penjual kaki lima yang berjualan barang-barang dari mulai pakaian sampai aksesoris seperti kalung dan gelang. Yang menarik perhatian saya saat itu adalah kaos bergambar Hanson dengan tulisan Nirvana di bawahnya.

Sebetulnya, gambar Hanson dengan tulisan Nirvana ini bukan pertama kalinya saya liat, karena sebelumnya saya sempat menemukan gambar yang sama di Tumblr beberapa tahun yang lalu.

Mengetahui harganya yang waktu itu kurang dari 100 baht atau sekitar Rp. 30ribuan, saya pun langsung kepikiran untuk beli banyak untuk dijual lagi di Indonesia hanya demi humor yang terselubung dalam kaos tersebut. Hanya saja, saya urungkan niat tersebut karena mengingat koper saya yang udah cukup penuh dengan barang-barang saya.

Sampai keesokan harinya ketika saya akhirnya memutuskan untuk ketemu dengan bekas roommate saya ketika di Jeddah, Jittima, di Chatuchak Market, saya semakin mengerti kenapa PO Bangkok banyak sekali peminatnya.

Jalan-jalan di Chatuchak Market ini bikin saya mengerti kenapa Bangkok menjadi surga belanja untuk kebanyakan orang, dengan kualitas super bagus, harga yang ditawarkan bisa sangat, sangat murah. 🙂

Walaupun saya mulai mempertimbangkan ide untuk menjadi reseller barang-barang di Bangkok, tapi saya masih belum membeli barang apapun untuk tujuan dijual kembali di Indonesia saat itu. Ibaratnya, wangsit ini cuma muncul sekelebat tanpa aksi yang saya lakukan untuk merealisasikannya.

Baru ketika tiba-tiba teman kuliah saya, Ibel tiba-tiba kirim DM lewat Instagram dan bertanya apa bisa dia nitip obat migraine dari Bangkok buat dia, untuk pertama kalinya saya mengiyakan untuk dititipin barang. Dia bilang, obat migraine ini bisa didapat di apotek manapun di Thailand, dan dia pun mengirimkan gambar contoh kemasan obat tersebut untuk saya cari di apotek terdekat.

Waktu itu, obat migraine yang saya beli untuk Ibel harganya sekitar 100 baht, dan saya langsung nanya apa boleh saya minta Rp. 50ribu sebagai gantinya. Dan diperbolehkan! 😀

Saya pikir, ya lumayan juga kalau misalnya saya keluarin sekitar Rp. 40ribu untuk satu barang, kalau niat dititipin dari 5 orang aja bisa dapat untung Rp. 50ribu. Apalagi kalau misalnya barang yang dititipin besar, sehingga saya bisa ambil untung lebih banyak.

Urusan bagasi, belajar dari jaman saya kerja di AirAsia, untuk AirAsia sendiri bisa beli bagasi sampai 40 kg. Jadi ya cukup wajar kalau bisnis PO ini bisa sangat menguntungkan.

Lagi-lagi, adik dari salah satu teman saya pun tiba-tiba DM saya untuk tanya bisa nitip kosmetik dari Bangkok atau ngga. Tapi saat itu saya harus tolak karena tempat beli kosmetik yang dia cari ga ada di itinerary saya, sedangkan saya baru pertama kali ke Bangkok sehingga saya ga mau menyia-nyiakan waktu liburan perdana saya di Bangkok untuk cariin barang orang. 😛

Walaupun begitu, sepulangnya saya dari Bangkok, saya mulai kepikiran untuk merintis bisnis serupa yang saya lihat marketnya semakin banyak di Indonesia.

Curhat berbuahkan ide.

Sepulang saya dari Bangkok, saya yang malah semakin tertekan sekembalinya ke kantor langsung curhat di aplikasi chatting kantor dengan salah seorang teman saya yang bekerja di kantor Malaysia.

Namanya Rie, seorang perempuan Jepang, yang saat itu sama seperti saya juga merasa stress dengan pekerjaan di kantor yang sama walaupun beda negara.

Saat itu, saya langsung cerita kalau saya kepikiran untuk berjualan baju dan kosmetik dari Thailand ke Indonesia sepulangnya saya dari Bangkok. Tak disangka, gayung bersambut ketika Rie bilang kalau dia juga tertarik untuk coba berjualan kebaya di Jepang.

Rie sendiri sama seperti saya, juga suka traveling dan mengaku kalau Bali dan Indonesia adalah destinasi liburan favorit dia bersama suaminya. Dan sebagai seorang perempuan, dia jatuh cinta dengan kebaya sebagai simbol fashion yang unik dari Indonesia.

Karena curhatan kita saat itu, saya pun langsung terbersit ide yang akhirnya mengantarkan saya kepada proyek pribadi saya saat ini: BeautiQ.

BeautiQ dan ada apa dengan batik?

Karena obrolan saya dengan Rie yang tertarik untuk memasarkan kebaya ke Jepang, terutama komunitas Jepang di Malaysia, akhirnya memberikan saya ide untuk mengeksplor kesempatan untuk merintis bisnis yang sesuai dengan minat saya ke depannya.

Sebulan setelah percakapan saya dan Rie di aplikasi chatting kantor, kita berdua akhirnya keluar dari perusahaan yang sudah menjadi bagian hidup kami selama satu tahun tersebut. Karena suami Rie, Teddy, ada urusan pekerjaan di Jakarta saat itu, kami akhirnya memutuskan untuk bertemu dan membicarakan lebih lanjut mengenai ide yang kita hasilkan dari curhatan sesama karyawati stress sebulan sebelumnya.

Hasil girls’ talk kita malam itu cukup simpel, tapi sukses bikin saya betul-betul mulai berpikir untuk eksekusi saran-saran ibu saya untuk ‘ga cuma senang, tapi menghasilkan uang’.

Kalau awalnya saya dan Rie memiliki ide untuk menjual barang jadi berupa baju dan kebaya, di pertemuan kita saat itu kami setuju untuk memulai bisnis kita dengan berjualan berupa bahan.

Pertimbangan kita adalah karena dengan berjualan bahan, konsumen kita nantinya akan lebih leluasa untuk menentukan model baju yang diinginkan selain kita juga ga perlu repot berpikir soal ukuran. Ditambah, dengan meningkatnya trend DIY akhir-akhir ini.

Setelah obrolan saya dengan Rie malam itu, saya langsung kepikiran untuk merintis bisnis ini dimulai dengan menjual bahan batik dengan target market Malaysia, dengan adanya Rie disana.

Baru setelah itu, saya flashback ke 7 tahun lalu ketika saya menerima beasiswa summer course untuk belajar Bahasa Turki di Izmir. Suatu kali, saya dan teman-teman dari Indonesia yang jumlahnya 3 orang pernah kompak memutuskan untuk pakai batik ke tempat kursus untuk memperkenalkan batik Indonesia ke teman-teman sekelas kami lainnya yang berasal dari berbagai negara.

Foto ini saya ambil ketika istirahat kursus di wilayah Alsancak, Izmir sekitar bulan Juli 2010. Kalau saya ga salah ingat, ini jugalah kali pertama saya coba ngopi di Starbucks karena sebelumnya saya ga pernah coba Starbucks di Indonesia.

Ga disangka, ternyata teman-teman saya suka dengan batik yang kita pakai. Dan setelah saya pikir-pikir lagi saat ini ketika saya mulai berpikir untuk merintis bisnis batik dengan target market ke luar negeri, saya menjadi optimis.

Saya pikir, kapan lagi saya bisa punya kesempatan untuk melakukan apa yang saya senang dan menghasilkan uang? Saya suka jalan-jalan. Saya suka memperkenalkan budaya Indonesia di luar negeri. Dan ga mau munafik, saya juga senang uang. Dan kalau batik adalah salah satu jalan untuk saya mendapatkan itu semua, kenapa engga?

Kemudian saya teringat dengan kunjungan saya ke beberapa kota di Indonesia sebelumnya yang semakin mendukung semangat saya yang menggebu-gebu akan misi memperkenalkan batik Indonesia di luar negeri.

Pertama adalah kunjungan saya dan adik saya ke Solo di tahun 2013 dimana saya berkesempatan untuk mengunjungi Museum Batik Danar Hadi di jantung kota Surakarta. Disana, saya melihat proses pembuatan batik celup, batik cap, hingga batik printing yang sedikit banyak menjadi bekal ilmu saya untuk berjualan nanti ke depannya.

Proses pembuatan batik di Museum Batik Danar Hadi, Surakarta.

Misi saya untuk BeautiQ.

Apa yang membuat batik menjadi menarik adalah karena tidak saja jenisnya yang klasik dan cenderung tradisional, tapi lebih dari itu karena motif di sebuah kain batik bisa memiliki arti yang lebih dari hanya sekedar warna-warni di dalam sebuah kain.

Peralatan batik cap yang digunakan untuk menempelkan corak di dalam kain.

Batik seringkali menceritakan makna filosofi hidup masyarakat di daerah tempat pembuatannya.

Saya pun kemudian teringat dengan ilmu yang saya dapatkan ketika saya jalan-jalan ke Kota Batu tahun lalu dan mengunjungi D’Topeng yang berada di area Museum Angkut. Beberapa pajangan yang ada di D’Topeng ini adalah salah satunya kain batik dari berbagai macam daerah beserta cerita di balik motif dan warna kain-kain batik yang ada.

Konon katanya, kain batik berwarna biru-putih ini adalah kain batik yang sering digunakan oleh orang-orang Belanda di masa kolonialisme, selain penggunaan warna-warna dasar hitam dan coklat yang biasanya digunakan oleh kaum-kaum priyayi terutama di wilayah Jawa. Yang mengantarkan saya kepada pertanyaan, berhubung batik jaman sekarang banyak warna-warni, apa artinya batik yang sering kita gunakan untuk fashion kali ini adalah batik yang dikhususkan untuk rakyat jelata? 😛

Dan sebagai seseorang yang sangat menyukai makna tersirat dari suatu barang, hal ini menjadi semacam inspirasi untuk saya kemudian memperkenalkan batik tidak saja di Indonesia, tapi ga tanggung-tanggung karena saya punya misi memperkenalkan batik ke seluruh negara anggota ASEAN.

Dengan misi pribadi saya untuk mengunjungi seluruh negara ASEAN sebelum saya menginjak umur 30, saya pun menambahkan misi saya dalam BeautiQ dengan cara memperkenalkan batik ke negara-negara yang saya kunjungi di kemudian hari.

Ditambah dengan rencana untuk memperkenalkan batik dalam bentuk kain, misi saya adalah untuk menjunjung nilai glokalisasi di setiap negara yang saya kunjungi untuk kain batik dari Indonesia.

Berbeda dengan globalisasi yang menjunjung nilai-nilai global dan internasional dalam suatu praktek, saya ingin dengan memperkenalkan kain batik Indonesia ke luar negeri, khususnya negara ASEAN, saya akan membuka jalan bagi saudara-saudara kita sesama negara Asia Tenggara untuk mengkombinasikan batik Indonesia dengan budaya dan trend lokal mereka.

Ditambah dengna kemudahan melakukan aktifitas ekonomi di ASEAN dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), saya optimis untuk selanjutnya dapat mempercantik Asia Tenggara dengan batik khas Indonesia.

Dan nanti, ketika suatu saat nanti saya sukses, saya akan selalu ingat perkataan ibu saya yang sebelumnya saya anggap lalu tapi ternyata ada benarnya: kalau senang jalan-jalan ya jangan cuma senang jalannya. Cari tau apa yang kira-kira bisa dijual dari sana atau yang bisa dibawa dari sini supaya ga cuma senang, tapi juga menghasilkan uang.

Rasanya, sekian dulu cerita saya soal wangsit saya mengenai batik dan cantik di balik BeautiQ. Untuk teman-teman yang tertarik melihat koleksi batik dari BeautiQ, silakan cek lebih lanjut disini.

BeautiQ – SEA
Instagram: @beautiq.sea
ID: @beautiq.id | MY: @beautiq_my | SG: @beautiq_sg
WhatsApp: +62 823 7684 1773
LINE: @beautiq

Dan sebagai usaha marketing, saya pun mulai rajin bikin baju dari bahan batik yang saya jual untuk materi pemasaran di kemudian hari sekaligus tambah-tambah koleksi baju saat jalan-jalan.

Suatu sore di Pamukkale.

Sementara itu, saat ini saya lagi getol-getolnya cek harga tiket pesawat dan hotel untuk destinasi saya selanjutnya di Skyscanner karena platform-nya betul-betul membantu saya untuk menemukan harga paling murah yang ditawarkan. Berguna banget untuk entrepreneur yang baru merintis bisnis dengan misi internasional seperti saya! 😀

7 thoughts on “Wangsit Batik dan Cantik di Balik BeautiQ

Leave a Reply