Tips Aman dan Nyaman Jalan-Jalan Sendirian Buat Perempuan

Udah lumayan lama nih saya ga nulis konten yang berkaitan sama perjalanan. Baru kepikiran ide buat nulis soal topik ini pas beberapa waktu lalu ada yang nanya apakah aman solo traveling di Vietnam untuk perempuan.

Saya yakin sih, di luaran sana udah banyak yang nulis soal tips dan saran untuk perempuan yang merencanakan perjalanan atau liburan sendirian. Tapi saya juga jadi sedikit banyak pengen berbagi tips buat jalan-jalan sendiri buat para sister-sister sekalian.

Maklum sis, ga peduli udah seberapa progresif dunia saat ini, tapi kemampuan perempuan bertahan hidup sendirian masih sering dipandang sebelah mata sama orang-orang. Itulah kenapa, biasanya cewek jomblo lebih sering dinyinyirin daripada cowo yang masih belum punya pacar. *tuh khan jadinya kelepasan curhat lagi hmm 😛

Terus, tips apa yang pengen saya bagikan supaya kalian para perempuan pemberani dan tangguh aman dan nyaman ketika jalan-jalan sendirian? Cekidot mari, girls! 😀

#1 – Soal Destinasi

Sejak mulai fokus untuk lebih serius blogging, saya jadi lebih rajin networking di dunia maya melalui grup-grup di sosial media ataupun comment pods sebagai usaha saya buat meningkatkan interaksi sama target audience saya. Salah satu grup favorit saya yang paling sering saya pantengin di Facebook adalah The Solo Female Traveler Network.

Selain teman-teman cewek yang udah biasa bepergian sendirian, banyak juga teman-teman member lainnya yang gabung karena masih dalam taraf rencana untuk solo traveling dan minta tips untuk first timer kayak mereka. Dan salah satu pertanyaan yang paling sering saya temukan adalah masalah destinasi ini.

… (sebutkan satu kota/negara) ini aman ga sih buat cewek jalan-jalan sendirian?

Peta, kamera dan kartu identitas: sahabat saya tiap kali jalan-jalan sendirian.

Untuk pertanyaan satu ini, mungkin jawaban saya ini ga cukup membantu tapi berdasarkan pengalaman saya, aman atau tidaknya suatu destinasi itu tergantung hoki. Beneran.

Iya sih, beberapa tempat atau negara ada yang lebih terkenal dengan stereotip tingkat keamanan yang lebih rendah daripada negara lainnya, tapi apakah itu aman atau engga, itu balik lagi ke nasib kita. Yang kita perlu lakukan adalah, dimanapun kita berada, kita harus tetap waspada.

Ga percaya? Saya kasih contoh sedikit deh… Ada yang familiar sama negara Bangladesh? Sebelum mendapat kesempatan untuk mendarat sebentar di Dhaka jaman saya terbang dulu, satu-satunya yang saya tau mengenai Bangladesh adalah Muhammad Yunus dan Grameen Bank-nya.

Karena saya familiar dengan Bangladesh sebagai salah satu negara termiskin di dunia, pikiran saya otomatis akan berasumsi kalau tingkat kriminalisasi di Dhaka, ibu kota Bangladesh akan tinggi. Pas mendarat, keadaan Dhaka yang serba jadul bikin saya bertanya-tanya apakah waktu udah menunjukkan lewat tahun 2010 di Bangladesh saking berasa segalanya serba ketinggalan jaman. 😛

Tapi ternyata, Dhaka ga seburuk yang saya kira. Walaupun saya jalan-jalan sendiri dengan tuktuk yang bikin saya berkesan kaya dikrangkeng kalau engga di penjara, segalanya serba aman. Orang-orang yang saya temuin baik-baik, bahkan ketika mereka ga bisa Bahasa Inggris sekalipun.

Tuktuk di Dhaka, yang sekalinya naik berasa kaya dipenjara. Ga cocok buat orang yang claustrophobia. 😛

Lain ceritanya di negeri sendiri, apalagi di tanah Jawa yang konon katanya orang-orangnya suka jaga wibawa. Hmm.

Di Semarang, waktu jaman saya kerja disana dan kemana-mana gowes sepeda, satu hari di perjalanan saya menuju tempat kerja untuk shift pagi, saya digrepe sama pengendara motor iseng subuh-subuh.

Iya, jadi penjahat ini tiba-tiba mepet sepeda saya dan dia literally meremas payudara saya ketika saya panik takut keserempet.

Jadi buat kamu yang berencana solo traveling, pertanyaan apakah tempat yang pengen kamu kunjungin itu aman atau engga, jawabannya ga mutlak karena balik lagi ke nasib kamu juga nantinya. Saran saya, kalau kamu emang pengen banget ngunjungin tempat tersebut, jangan pernah batalin rencana pergi kamu cuma karena denger cerita-cerita ga enak yang terjadi sama orang lain. 🙂

#2 – Soal Pengeluaran

Kalau misalnya kalian nanya apa hal yang paling saya ga suka soal jalan-jalan sendiri, jawaban saya akan mantap: pengeluaran.

Dengan jalan-jalan sendirian, otomatis segala macam ditanggung sendiri. Bahkan nih, kalau kalian ikutan paket tur tertentu, biasanya ada charge tambahan kalau misalnya kamu dateng sendirian tanpa pasangan. Itu kejadian waktu saya ikutan tur kapal pesiar di Ha Long Bay. Ngenes banget, kaya belum cukup nasib saya ga punya pacar, sekalinya mau liburan kena charge karena jalan-jalan sendirian pula. 😛

Urusan akomodasi pun agak sedikit tricky, apalagi kalau kamu tipe-tipenya kaya saya yang maunya segala macem serba private. Mending kalau saya jalan-jalan ke tempat-tempat yang lumrah ditemukan akomodasi dengan private room yang murah meriah, tapi kalau sekalinya saya harus ke Singapore, ya susah.

Tempat tidur saya di Capsule by Container KLIA2 waktu saya nungguin transit. Capsule by Container ini jadi satu dari beberapa akomodasi dengan shared bathroom yang pernah saya booking dengan alasan harga yang lumayan hemat. Kebetulan saya booking ini karena di KLIA2 cuma beberapa jam untuk transit nunggu penerbangan selanjutnya.

Akomodasi sebetulnya jadi satu-satunya persoalan hakiki kalau kamu tipe-tipe kaya saya yang suka jalan-jalan sendiri tapi masih mengutamakan kenyamanan, terutama soal privacy sih. Kalau lainnya bisa diatur sendiri, karena biasanya ga terlalu ngaruh banyak selama transportasi umum di tempat tujuan kamu mudah.

Maksud saya, kalau sendirian jalan-jalannya, ya kalau budget kamu ga cukup ya ga perlu nyewa mobil di tempat tujuan kamu.

Kalau sendirian, ya coba pake bus aja. Sukur-sukur di negara tujuan semisal kota-kota di Asia Tenggara seperti Bangkok atau HCMC, kalau kalian ga mau ribet juga bisa pesan GrabBike. 🙂

Urusan makan pun bisa kamu atur sendiri untuk urusan pengeluaran. Saya pribadi karena emang pada dasarnya bukan pecinta fine dining dan ga doyan makanan sehat yang biasanya mahal, kalau lagi jalan-jalan sendirian saya biasanya lebih milih buat makan makanan di pinggir jalan. Alhamdulillah perut Indonesia saya belum pernah apes kena food poisoning sejauh ini.

Balik ekmek (sandwich ikan) dan beberapa side dish yang saya pesan waktu jalan-jalan di Mersin, Turki.

#3 – Soal Segala Macam Sendirian

Ada plus dan minusnya sih memang kalau urusannya sama jalan-jalan sendirian.

Di satu sisi, percaya deh, jalan-jalan sendiri itu bakal bikin kamu berkembang secara persona. Karena ga cuma kamu keluar dari zona nyaman kamu, tapi juga kamu memiliki kebebasan untuk menentukan apa yang akan kamu lakukan.

Tapi sebagai perempuan, kita juga harus nerima kenyataan kalau jalan-jalan sendiri buat kita ini ga semudah kalau para lelaki di luaran sana keluyuran sendiri.

Satu hal yang sering banget terjadi sama saya tiap kali jalan-jalan sendiri adalah jaraaaaaaang banget ada yang membiarkan saya sendirian tiap kali lagi makan. Serius, tiap kali saya masuk restoran atau cuma nongkrong buat ngemil, pasti ada aja orang yang basa-basi ngajak ngobrol.

Hal ini bisa menyenangkan dan bikin kesel juga, menyenangkan karena kita bisa nambah teman tapi juga kadang kesel karena sebenernya ya emang saya pengen dibiarkan sendirian tapi kok malah diajak ngobrol? Hahaha.

Belum kalau misalnya jalan-jalan sendiri dan kamu nyasar. Wassalam banget kalau udah kaya gitu urusannya. 🙁

Urusan nyasar-nyasar ini, saran saya adalah untuk selalu punya peta manual selain juga smartphone yang lengkap dengan GPS. Untuk smartphone, saya ga akan merekomendasikan iPhone karena sejauh pengalaman saya, iPhone ini petanya sama sekali ga berguna.

Setelah struggling sering nyasar di Vietnam karena cuma mengandalkan iPhone saat Android saya rusak, sebisa mungkin saya menghindari pemakaian iPhone untuk mengandalkan peta. 😀

#4 – Soal Siapa Yang Fotoin

Ga disangka-sangka, pertanyaan soal ini juga sering muncul di grup The Solo Female Traveler Network.

Tapi ya apalagi cewek-cewek narsis kayak ngana-ngana, urusan foto ketika liburan itu sifatnya pasti hakiki. Terus gimana kalau kamu jalan-jalan sendiri? Siapa yang fotoin? Apa perlu bawa tongsis atau tripod untuk menjamin bakal ada foto yang jadi bukti valid kalau kalian pernah jalan-jalan di tempat tujuan?

Jawabannya adalah, semuanya tergantung kalian. Saya sendiri bukan tipe-tipe orang yang bawa tongsis atau tripod, karena satu dan lain hal. Apa alasannya?

Pertama, saya pernah bawa-bawa tripod pas jalan-jalan dan yang ada malah tripodnya seharian ga saya keluarin karena ain’t nobody got time to that. Hmm. Selain itu berat juga, males bawa-bawanya. Sedangkan tongsis, alasannya kurang lebih sama. Cuma kalau saya, tongsis ini selain ujung-ujungnya jarang dipake, biasanya saya suka lupa.

Sejak tongsis keluar, saya udah lupa ada berapa tongsis yang saya hilangkan cuma karena saya taro di suatu tempat dan saya lupa ngambilnya lagi. Alhasil, tiap kali jalan-jalan sendiri, saya lebih suka foto pemandangan, kalau engga minta fotoin orang.

Hasil foto Mas Zainul, ojek saya selama jalan-jalan di Bromo sendirian. 😀

Saya ga kapok minta fotoin orang, walaupun biasanya banyak juga orang-orang yang saya minta fotoin ternyata angle-nya jelek dan alhasil fotonya juga jelek. Tapi ga jarang juga saya malah jadi nambah temen cuma karena saya minta fotoin. Dan gara-gara ini, malah jadi tuker cerita soal A sampai Z.

Ibarat kata, dengan minta orang lain fotoin saya, keuntungannya ga cuma saya jadi punya foto baru, tapi juga saya jadi punya temen baru.

Salah satunya ya ini, ojek saya di Bromo yang ternyata punya skill yang bagus banget buat fotografi. Foto-foto saya di Bromo sama sekali ga ada yang gagal, thanks to Mas Zainul! 😀

Selfie saya sama Mas Zainul. Kalau kalian ada rencana ke Bromo sendirian, boleh banget hubungin saya. Nanti saya share nomor Mas Zainul. 😉

#5 – Soal Ancaman Baper dan Kesepian

Satu hal yang sifatnya hakiki akan terjadi kalau kalian jalan sendirian adalah kalian cenderung lebih cepet baper dan merasa kesepian. Kadang-kadang, bahkan ada kejadian yang bikin kalian berharap seandainya aja kalian punya temen buat berbagi.

Saya pribadi biasanya kalau udah ada rencana jalan-jalan sendiri selalu post rencana saya lewat Couchsurfing untuk cari-cari temen di tempat tujuan tersebut. Jarang sih biasanya saya nemu partner jalan-jalan seluruh trip saya lewat Couchsurfing, tapi hampir pasti kemanapun saya pergi saya akan menyempatkan beberapa jam saya untuk jalan bareng kalau engga ngopi-ngopi cantik sama temen-temen yang terkoneksi sama saya di Couchsurfing. 🙂

Saya sama Christine ketemu lewat Couchsurfing di Vietnam, dan jalan-jalan di Sapa waktu kita ga sengaja masuk ke Sapa HL Gallery dan malah menghabiskan waktu berjam-jam main kartu sama pemiliknya, suami istri Trung dan Linh.

Karena saya bukan hostel lover yang bisa dengan mudah bersosialisasi dengan sesama tamu hostel, Couchsurfing selama ini sukses membantu saya buat bisa sosialisasi dan ketemu sama temen-temen baru. Jalan-jalan sendirian boleh, tapi jangan sampai kesepian yes! 😀

Kalau kalian tanya kejadian yang bikin saya ngerasa pengen banget punya temen ketika jalan-jalan sendirian, mungkin jawaban saya adalah waktu saya ke War Remnants Museum di Ho Chi Minh City.

Ga cuma karena saya jalan-jalan sendiri dan cuma mendapati saya menjadi orang pertama yang masuk ke museum setelah istirahat makan siang, tapi pas masuk ke area replika penjara jaman perang, saya langsung teriak karena kaget liat patung yang ada disana dan ga disangka-sangka. Pengunjung yang lain ngeliatin saya dari belakang karena kaget. 😛

Juga di tempat sama, saya pernah bener-bener ngerasa nestapa dan ngarep banget ada temen ngobrol paling ngga buat mencurahkan isi hati saya pas liat koleksi foto-foto korban Agent Orange di Vietnam.

Beberapa foto korban Agent Orange di War Remnants Museum, HCMC.

Saya ga tau apakah kejadian ini ada hubungannya sama saya lagi PMS, atau emang foto-foto korban Agent Orange ini begitu nestapa, tapi saat itu saya bener-bener ga kuasa untuk nahan air mata saya. Saya ga bisa membayangkan sebegitu panjang efek yang diakibatkan oleh peperangan. 🙁

Dan karena ga bisa nahan air mata, saya akhirnya ke WC cuma buat duduk di dalam WC dan nangis sendirian.

#6 – Soal Kencan dan Pacaran

Kalau kalian jomblo seperti saya, jalan-jalan sendirian adalah lahan yang ‘basah’ buat cari teman kencan. Hahaha. Tapi, banyak juga kok di luaran sana yang punya pasangan dan masih pengen traveling sendirian karena satu dan lain hal. 

Yah, walaupun saya ga expert di urusan yang terakhir, tapi menurut saya sih justru jalan-jalan sendiri bisa sangat efektif buat refleksi diri. Termasuk buat kamu yang punya pasangan. Pernah denger istilah distance only makes the heart grow fonder?

Saya harus akui adanya akurasi dari statement tersebut, karena dengan sedikit menghabiskan waktu untuk diri sendiri, kita bisa menggunakan untuk refleksi apa yang terjadi baik mengenai diri sendiri atau pasangan kita.

Tsim Sha Tsui Promenade untuk perhatian. 😛

Karena saya cuma bisa ngobrol dari sisi cewek jomblo sih ya, saya sendiri biasanya aktifin Tinder atau OKCupid selama saya traveling. Bahkan salah satu kencan paling mengesankan yang paling saya ingat ya pas lagi jalan-jalan sendirian ini.

Saya ketemu sama cowok di HCMC juga, padahal kencannya ga ngapa-ngapain, cuma makan, jalan-jalan terus duduk ga jelas di taman. Ngobrol-ngobrol ngalor ngidul sampai akhirnya ciuman di bangku taman. *haha*

Sampai saat ini, belum ada yang bisa ngalahin kencan pertama (dan terakhir) yang paling mengesankan ini sih. Kenapa? Karena saya udah lama ga kencan ‘tradisional’ kaya gini. Dan saya happy cuma karena makan banh mi sambil liatin orang main badminton dan ngomongin orang yang lalu lalang.

Dan gara-gara ini, saya ga pernah menyia-nyiakan kesempatan ketemu teman kencan baru tiap kali saya jalan-jalan sendiri. Buat kamu yang juga jomblo kaya saya, saya pun sangat rekomendasikan nyoba-nyoba ketemu orang lewat dating apps karena bisa aja kamu malah ketemu orang yang mengesankan kalau engga yang ujung-ujungnya jadi jodoh kalian.

Jalan-jalan sendirian bisa bikin kamu pulang dengan segudang cerita. Ga semuanya menyenangkan mungkin, tapi itu bisa sangat berguna untuk pengembangan diri kamu sebagai seorang individu. Tapi harap diingat, ga semua orang juga mungkin cocok dengan gaya traveling sendirian. 

Jadi, sebelum kalian memutuskan buat jalan-jalan sendiri, mungkin ada baiknya juga buat kamu mengenali diri sendiri tentang apa atau bagaimana hal yang kalian suka dan inginkan. Once all is set, waktunya kamu jalan-jalan sendirian.

Percaya deh, kalau kamu tipe cewek kayak saya, sekalinya udah pernah jalan-jalan sendiri, kamu malah males jalan-jalan rame-rame sama orang lain. 😛

Gimana? Siap jalan-jalan sendirian kah? Atau kamu udah biasa jalan-jalan sendirian juga? Share donk pengalaman paling mengesankan kamu waktu jalan-jalan sendirian di komentar… Cheerio! 😉

19 thoughts on “Tips Aman dan Nyaman Jalan-Jalan Sendirian Buat Perempuan

  1. Blm pernah aku mb klo sendiri..palagi mpe jauh2..

    Ha..ha, apalg aku tipenya pelupa jalan, bingungan arah..pokoknya klo soal jln + nginget jalan pulang..pinteran kucing kayaknya😊

    1. kalo aku malah sejak berani jalan2 sendirian, malah kalo boleh milih kemana2 mending sendiri karna kalo sama orang lain suka malah jadi ribet mbak. hihihi. ya ribet atur jadwal lah, ribut beda selera ini-itu, klo sendiri khan mau kemana aja suka2. hahaha. 😀

  2. well keren deh ya para solo traveller.. saya sendiri bisa dibilang gak pernah solo travel heheh.. kecuali travelingnya sekalian kerja.. baru deh jalan sendiri hehhe..

    1. iyaaa, ngerti banget mbak.. solo traveling is not everybody sih memang. klo aku malah justru ketagihan, tapi orang lain kayanya ada aja yang malah kapok jalan2 sendiri. tergantung orangnya lagi, tapi perlu banget coba sekali2. 😛

    1. kalo aku karena bukan full-time traveler, aku biasanya nyicil buat perintilannya beberapa bulan sebelum keberangkatan. misalnya kalo ulang tahun aku suka bikin agenda birthday trip jalan2 kemana sendiri gitu. ultah aku bulan february, biasanya dari bulan mei/juni udah beli tiket, terus tiap gajian pisahin uang sedikit buat langsung dituker ke mata uang negara tujuan (klo tujuannya ke luar negeri). biasanya klo udah kaya gitu, seboke2nya sayang nukerin uang lagi, jadi paling ngga buat bekel jalan2nya udah ada. 😀

  3. Ngebaca postingan ini rasanya cepet banget, keasyikan bacanya ^^ apa karena aku merasa senasib? Hihihihi
    Aku tipikal orang yang kemana-mana juga lebih suka pergi sendirian, karena merasa nyaman dan seneng aja sering ketemu orang baru di tiap perjalanan hihihi. Soal daerah A ini aman ga ya buat travelling sendirian? Jawabannya bener banget : Hoki!
    Pernah traveling ke Jogja sendirian, dan menurut aku aman-aman saja dan asyik, tapi waktu temen aku traveling ke Jogja, dia cerita disana ga aman soalnya dia kena copet, memang hoki-hokian ya XD aaah, jadi pingin traveling lagi, semoga bisa nabung tahun ini ^^

    1. benerrrr, soalnya klo misalnya bareng temen suka segan gitu nyapa orang duluan karena pasti fokusnya sama temen jalan2 kita itu aja. 😀

      amiiiin, semoga bisa nabung tahun ini dan jalan2 ke tempat yang kamu mau yah.. makasih banyak udah sempetin baca! 🙂

  4. Lengkap nih ceritanya, jadi bikin aku pingin solo traveling lagi dan join di grup FB itu mba.. 😀 Aku pernah tapi udah lama, itu juga karena kerjaan, terakhir belum lama ini ikut open trip sendiri tapi itungannya gak sendiri juga ke mana2 karena ada teman baru.. Kadang butuh juga jalan-jalan sendiri buat me time.. 🙂

    1. join aja di grup-nya mbak.. ga jalan2 sendirian juga jadi terinspirasi buat jalan2 sendiri karena liat cerita2 mereka *sekaligus sirik* hehehe. iya, aku tipenya juga butuh jalan2 sendiri banget karena anaknya introvert. makanya lebih seneng solo traveling, klopun jalan rame2 kudu yakin dulu betah sama orang2nya. 😛

  5. Pernah saya jadi ngakak ketika baca tulisan yang intinya, kalo lo single, lo mana bisa traveling? (siapa yg bayarin lo?) Saya balaslah dikomen, traveling itu kayaknya masalah duit deh, bukan masalah lo punya pasangan atau enggak. Selama lo punya duit, lo bisa jadi female solo traveler. Tapi so far kalau keluar kota dan ke luar negeri memang belum pernah solo traveling banget sih, at least b2 atau b3 (sekamar hotel). Selama udah pelajari itinerary dan wawasan ttg daerah itu ya jalani aja. Yesss, traveling akan memberi banyak cerita walau ga semuanya happy ya.

  6. Aku belum pernah solo traveling, jujur aja aku pengen bange solo traveling sebelum merit, tapi kok takut ya, banyak pertimbangannya hihihihi, mudah2an terwujud, thks buat sharingnya mbak

    ursulametarosarini.blogspot.co.id

    1. klo opini pribadi aku, sekali seumur hidup boleh lah dicoba sekali2 solo traveling. hihihi. 😛
      resiko dari solo traveling cuma dua, bisa malah jadi ketagihan (kaya aku) atau malah kapok. kalopun kapok, yowes gpp.. yang penting khan pernah udah coba. hihi. 😀

Tinggalkan Balasan