Sumpah Pemuda: Kita Tidak Sama, Tapi Harus Kerjasama!

Selamat Hari Sumpah Pemuda, beautravelers di Nusantara!

Sekarang saya lagi kejar setoran karena lagi minim kerjaan sekaligus lagi banyak ide buat nulis nih. Karena itu, saya jadi agak produktif blogging akhir-akhir ini. Dan kebetulan juga, pas banget sekarang di tanggal 28 Oktober 2017 ini bangsa Indonesia juga merayakan Sumpah Pemuda.

Apa sih arti Sumpah Pemuda buat kamu? 🙂

Sebelum lanjut ke opini pribadi saya tentang Sumpah Pemuda, mari kita mengingat kembali isi dari Sumpah Pemuda itu sendiri. Karena jujur, saya sebagai WNI yang ngakunya cinta Indonesia, kadang-kadang kalau disuruh ulang isi Sumpah Pemuda suka lupa-lupa inget. *WNI karbitan 😛

Sumpah Pemuda

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Inti dari Sumpah Pemuda ini adalah satu, kita memiliki satu tanah air, bangsa dan bahasa, yaitu Indonesia. Tapi di luar aspek tanah air, bangsa dan bahasa, apa kita masih tetap harus sama? Jawabannya tidak.

Seperti yang kita tahu, semboyan bangsa Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika, yang artinya berbeda-beda tapi satu jua. Semboyan ini sebetulnya kurang lebih mirip-mirip sama motto-nya Uni Eropa, in varietat concordia. Bedanya kalau Uni Eropa pakai motto diserap dari Bahasa Latin, semboyan negara kita diambil dari kitab Sutasoma-nya Mpu Tantular jaman baheula.

Perbedaan dan Keseragaman

Nah, sekarang saya mau membahas soal perbedaan yang menurut saya ga kalah pentingnya dengan keseragaman yang ada diantara bangsa Indonesia.

Kenapa? Karena akhir-akhir ini saya sering sekali melihat postingan-postingan kontroversial dari teman-teman cuma karena perbedaan sudut pandang si A dan B.

Penyebabnya jelas, karena gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta terpilih yang baru kemarin-kemarin dilantik dan langsung menuturkan pernyataan kontroversial dengan menggunakan kosakata ‘pribumi’ dalam pidatonya.

Untuk saya pribadi, sebetulnya sangat disayangkan kosakata tersebut muncul dari seorang gubernur dan saya pun langsung mengkritisi dengan santai karena saya Ahokers: maksud Pak Anies ini pribumi atau hadhrami? 😛

Oke, setelah menyampaikan pendapat pribadi, mari kembali ke pokok permasalahan mengenai pentingnya perbedaan di balik keseragaman tanah air, bangsa dan bahasa.

Kenapa perbedaan itu penting? Because that’s what makes the world go round. 
Photo by Robert Collins on Unsplash

Komunis Yang (Katanya) Musuh Bersama dan Sumpah Pemuda

Kemarin-kemarin waktu isu anti-Komunis dan nonton bareng G30S/PKI lagi marak-maraknya, saya sempat baca satu artikel di Mojok yang inti dari tulisannya seperti ini: isu anti-Komunis muncul di tahun 1960an karena saat itu bangsa kita terbagi menjadi dua, yaitu kaum nasionalis dan kaum agamais yang mempunyai visi untuk mendirikan negara Islam di Indonesia.

Ketika bangsa terbagi menjadi dua, maka dicarilah satu musuh bersama. Komunis lah yang menjadi korbannya. Paham sampai sini? Hmm.

Yang menjadi ironis buat saya saat ini adalah karena keadaan kurang lebih sama. Ada orang-orang seperti saya yang merasa menjunjung tinggi perbedaan merupakan hal terpenting dalam sebuah bangsa, tapi di sisi lain ada orang-orang seperti beberapa teman saya yang masih menjunjung tinggi nilai agama lebih dari apapun.

Setelah itu, muncul kembali isu anti-Komunis ketika dibalik isu tersebut. Yang nasionalis mulai mencecar kaum agamais dengan alasan mereka kurang menggunakan logika dan sebaliknya, kaum agamais pun mulai melemparkan ayat-ayat sebagai usaha untuk ‘menyadarkan’ mereka yang katanya kafir itu.

Lalu, ada satu hal yang muncul setelah saya lihat fenomena ini: inti dari komunis itu jelas, sama rata dan sama rasa. Terus apa bedanya dengan kedua kelompok yang ada di Indonesia, baik yang nasionalis maupun agamais? Kenapa mereka begitu memaksa ‘lawan’ mereka untuk berpandangan sama dengan mereka?

Jadi, kalau udah gitu sebenarnya yang komunis itu siapa?

Di postingan ini, saya cuma berusaha mengingatkan kalau perbedaan itu penting karena kita perlu dinamika sebagai bangsa. Di atas perbedaan yang kita punya, daripada ikut campur urusan prioritas orang (negara atau agama?), mending kita kerjasama untuk memelihara apa yang menyatukan kita: tanah air, bangsa dan bahasa.

Stop memaksakan kehendak, saatnya mendengarkan dan bekerjasama apapun aspek perbedaan yang ada di antara kita. Selamat Hari Sumpah Pemuda, Indonesia! 🙂



Tinggalkan Balasan

loading...