Seberapa Seru Singkawang di Luar Cap Go Meh?

Oke, sebelumnya saya minta maaf sama kenyataan kalo butuh waktu hampir satu semester buat saya mulai nulis lagi soal Borneo trip di blog saya ini.

Diawali sama space di hosting saya yang nyaris penuh dan saya males upgrade, sampai akhirnya saya harus memperbarui paket hosting saya beberapa waktu lalu. Yes, gara-gara hal sepele ini akhirnya saya nunda-nunda cerita soal trip saya ke Kalimantan tahun lalu di blog ini. Mohon dimaafkan yah. πŸ˜›

Dan sekarang, setengah tahun kemudian, saya baru lanjut nulis lagi soal cerita perjalanan saya. Mudah-mudahan gak keburu basi ya sis… Dan mudah-mudahan masih memotivasi siapapun yang belum pernah menginjak tanah Kalimantan, seperti saya tahun lalu. Hahaha.

Jadi, setelah tahun lalu saya cerita soal review naik DAMRI ke Singkawang dari Kalimantan, sekarang saya mau cerita soal perjalanan saya ke Singkawang di masa off-peak season.

Sekilas cerita soal Singkawang yang saya ambil di Singkawang Cultural Center.

Singkawang dan Cap Go Meh

Jadi, barangkali ada yang belum tau, peak season buat datang ke Singkawang itu sebetulnya saat perayaan Cap Go Meh. Konon katanya, harga tiket pesawat ke Pontianak dan juga hotel di Singkawang bisa berkali-kali lipat lebih mahal selama periode Cap Go Meh ini.

Cap Go Meh sendiri jatuh pada hari ke-15 perayaan Imlek dan festival di kota Singkawang sendiri masuk dalam Top 100 Calender of Event (CoE) Kementerian Pariwisata tahun ini. Festival ini juga diliput oleh banyak media internasional, terutama Festival Tatung yang selalu ditunggu-tunggu tiap tahunnya.

Singkawang di Luar Cap Go Meh

Saya sendiri memutuskan buat tetap ke Singkawang di luar Cap Go Meh karena emang saya penasaran sama kota ini tanpa hingar-bingar festival. #thelifeofanintrovert

Dan beruntung buat saya, karena gak lama setelah saya pulang dari Borneo trip ini, saya baca berita dan alangkah senangnya saya waktu baca hasil survey yang menyatakan kalo Singkawang merupakan kota paling toleran di Indonesia.

Terlepas dari itu semua, seberapa seru sih jalan-jalan di Singkawang di luar Cap Go Meh?! Ini nih yang pengen saya bahas di postingan kali ini. πŸ˜€

Kesan Pertama Sampai di Singkawang

Peta Singkawang.

Singkawang itu kota kecil, dan kemana-mana deket. Paling enggak, pusat kota Singkawang bisa ditempuh dengan jalan kaki kalau kamu doyan muter-muter tanpa juntrungan kayak saya. HAHA.

Untuk aplikasi ojek online sendiri, di Singkawang baru tersedia Grab aja karena Gojek belum masuk. Sedikit saya sayangkan, karena waktu saya kesana saya udah isi Gopay lumayan banyak yang akhirnya gak saya pakai sama sekali. 😐

Lebih dari itu, saya lebih banyak jalan kaki. Di Singkawang sendiri saya sempat jalan-jalan bareng teman dari Couchsurfing namanya Ayu. Selain itu, saya lebih banyak jalan-jalan sendiri. Bahkan ada satu kali saya ketiduran dan tengah malam keluar karena lapar, cukup aman kok.

Cuma ya hati-hati aja sih, karena Singkawang kota kecil, jadi di atas jam 10 itu udah lumayan sepi… Apalagi kalau bukan weekend yah.

Kemana Aja di Singkawang?

Di luar Cap Go Meh dengan festivalnya, Singkawang itu kurang lebih sama kayak Pontianak kalau soal makanan: makanannya enak-enak!

Tapi, kalau saya boleh jujur sih yaa… Dari segi tempat-tempat yang saya kunjungi, kalau saya harus bandingin antara Pontianak dan Singkawang, saya bakal lebih pilih Singkawang. Tempat-tempatnya lebih unik dan seenggaknya saya gak harus merasakan kekecewaan seperti waktu saya datang ke Rumah Radakng.

Karena Singkawang terkenal dengan sebutan kota seribu kelenteng, saya pun lebih banyak fokus ke kelenteng yang ada di kota ini. Tapi, ya gak cuma ke kelenteng aja… Jadi, kemana aja saya selama di Singkawang?

1. Vihara Surga Neraka

Foto saya di Vihara Surga Neraka, Bukit Pasi, Singkawang.
Pemandangan dari puncak vihara.

Vihara Dharma Suci Mulia, nama resmi dari kelenteng yang lebih dikenal sebagai Kelenteng Surga Neraka dan terletak di daerah Bukit Pasi, sekitar kurang lebih 30 menit dari pusat kota Singkawang.

Kelenteng ini jadi salah satu tempat utama yang pengen saya datengin sesampainya di Singkawang. Gara-garanya, saya baca kalau kelenteng ini merupakan vihara tertinggi di Kalimantan Barat.

Masalahnya, waktu saya coba cek di Google Map, saya sama sekali gak nemu Vihara Surga Neraka atau Vihara Dharma Suci Mulia di Singkawang. Akhirnya, sesampainya di Singkawang, saya langsung tanya supir Grab saya soal keberadaan vihara yang satu ini.

Kebetulan, supir Grab saya ini langsung nawarin rental mobil untuk kesana dan langsung saya iya-in aja karena saya anak Sultan yang males ribet dan banyak duit. Amin. πŸ˜›

Salah satu kuil di Vihara Surga Neraka.

Dan ternyata, emang rute menuju kelenteng yang satu ini agak ekstrim. Makanya, kalo misalnya pesan Grabbike dari pusat kota pun jarang ada yang mau walaupun secara jarak sih emang gak terlalu jauh.

Seperti namanya, kelenteng ini memang menggambarkan kehidupan manusia berdasarkan ajaran Taoisme. Dimana ada surga dan neraka, tergantung bagaimana hidup kita di dunia.

Jalan-jalan di vihara ini berasa kayak ngikutin cerita. If anything, you don’t need to be a Tao to understand the story line.Β 

Setelah minta izin ke yang jaga vihara, saya ngikutin petunjuk yang ada di tembok untuk menyusuri kuil-kuil yang ada di vihara ini. Total keseluruhan di vihara ini ada tujuh kuil, dengan kuil terakhir berada di paling puncak.

Ada kotak donasi yang bisa kamu isi kalau berencana kesana, tapi secara keseluruhan masuk ke kuil ini gratis.

2. Rumah Keluarga Tjhia

Pelataran rumah keluarga Tjhia di Singkawang.
Choi pan di Rumah Keluarga Tjhia, plus es namong yang super nikmat itu.

Siapapun yang pernah atau merencanakan perjalanan ke Singkawang, hampir dipastikan bakal nemu Rumah Keluarga Tjhia di daftar tempat yang harus didatengin di kota ini. Terus, seharus ITU kah kesini kalau mampir ke Singkawang?!

Jawabannya, iya.

Buat saya pribadi, karena saya awalnya kepo banget soal Rumah Keluarga Tjhia ini, saya akhirnya googling soal siapa Tjhia Hiap Shin dan gimana ceritanya sampai rumah keluarganya ini jadi salah satu tempat yang harus didatengin di kota ini.

Dan ternyata, cerita soal Tjhia Hiap Sin ini emang jadi salah satu cerita rakyat di Singkawang sendiri. Pesan moralnya pun kurang lebih sama seperti cerita rakyat kebanyakan: jangan pernah menyerah dan jujur adalah kunci kesuksesan.

Dimulai dari jatuh-bangun Tjhia Hiap Shin yang datang ke Kalimantan untuk berdagang, sampai akhirnya terpaksa menjadi buruh dan mulai kembali usahanya sampai sukses.

Ruang sembahyang di rumah keluarga Tjhia.

Saat ini, rumah keluarga Tjhia sendiri ditempati oleh generasi ketujuh dan pengunjung bisa datang ke rumah keluarga yang juga merupakan cagar budaya di kota ini. Pengunjung sendiri bisa masuk sampai pelataran depan rumah aja, karena memang rumahnya masih ditempati oleh generasi keluarga Tjhia yang masih hidup saat ini.

Tapi, selain rumah keluarganya yang emang lumayan instagrammable, mereka pun buka kafe yang emang enak banget dipake nongkrong. Kafenya semi outdoor, dan lumayan adem apalagi kalau kamu kebetulan ke Singkawang lagi panas-panasnya.

Yang paling recommended buat dicoba di Rumah Keluarga Tjhia ini pastinya choi pan mereka. Dan untungnya, saya kesana sama Ayu yang rekomendasiin saya buat coba juga es namong-nya. Dan emang kombinasi choi pan dan es namong ini beneran nampol banget enaknya! πŸ˜€

Choi pan dan chai kue sebenernya intinya sih sama aja. Yang membedakan cuma dialek yang digunakan untuk penyebutan bahasa-nya. Kalau yang saya baca sih, konon untuk sebutan choi pan sendiri diambil dari dialek Hakka. Sedangkan chai kue merupakan dialek Tio Ciu. Begitchu.

Dialek apapun yang kamu pake buat sebutan makanan yang satu ini, jangan sampai lupa buat cobain ini kalau mampir ke Rumah Keluarga Tjhia! πŸ™‚

3. Rujak Thai Pui Ji

Rujak mangga yang super legendaris di Singkawang itu.

Kebetulan saya sendiri nginep di Hongkong Inn yang lokasinya di Pasar Hongkong. Dan ternyata Rujak Thai Pui Ji yang super terkenal itu posisinya persis di belakang hotel tempat saya nginep ini. Cuma sekitar 5 menit jalan kaki lah.

Tempat rujaknya sendiri sebetulnya cuma ruang tenda biasa, tapi gosipnya sih yaaa… Yang punya sampai mampu beli Ferrari dari bisnis ini.

Berhubung Ayu rekomendasiin buat cobain rujak mangga-nya, saya pun pesan rujak mangga aja pas kesana. Harganya Rp 20.000, dan saya agak heran waktu liat emping di rujaknya. Maklum, saya gak pernah makan rujak pake emping. Makanya agak culture shock. HAHA.

Tapi pas saya coba, emang rujaknya enak bangeeeeet… Seger tuh lagi siang-siang makan yang asem-asem gitu. Sebenernya saya pengen cobain yang lain, tapi berhubung saya jalan-jalan sendirian dan waktu itu perut saya udah dalam keadaan agak kenyang makan bakmi, akhirnya saya harus puas dengan cuma mencoba rujak mangga-nya aja. πŸ™

Terus sekarang udah nyampe Bandung malah kepikiran. Kriks. HAHA.

4. Vihara Dewi Kwan Im

Vihara Dewi Kwan Im, Singkawang.

Dibandingin sama vihara-vihara lain yang saya datengin di Singkawang, Vihara Dewi Kwan Im atau yang punya nama resmi Vihara Budi Dharma ini sesungguhnya yang paling indah. Pahatannya tuh detail banget, saya yang gak artistik pun sampai terkesima.Β 

Vihara-nya sendiri gak terlalu besar, bahkan kalau dibandingin sama Vihara Surga Neraka jelas jauh lebih kecil. Tapi emang arsitekturnya bagus banget. Lokasinya pun gak terlalu jauh dari hotel tempat saya nginep, cuma sekitar 20 menit jalan kaki.

5. Mesjid Agung Singkawang dan Vihara Tri Dharma Bumi Raya

Sudut toleransi di kota Singkawang.

Secara emosional, sebenernya pojokan dengan vihara dan mesjid yang bersebelahan ini jadi tempat favorit saya di Singkawang. Sayangnya, secara estetis lokasinya agak gak enak diliat dengan adanya sutet dimana-mana. HAHA.Β 

Yah, salah saya juga sih karena gak jago ngedit foto yah. Tapi ya gimana lagi, memang begitu kenyataannya.

Tapi setidaknya liat pojokan ini saya merasa terenyuh sebagai orang Indonesia sambil membatin, this is how Indonesia should be. Peaceful and full of tolerance.Β Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda, tapi toh sama-sama Indonesia.

Saya sampai membatin, kira-kira kapan tempat lainnya di Indonesia bakal kayak di Singkawang?! Hmmm.

Tertarik Datang ke Singkawang di Luar Cap Go Meh?

Yahhh, emang gak terlalu banyak sih yang bisa didatengin di Singkawang. Tapi kalau kamu spare 2-3 hari disana, datang ke Singkawang di luar Cap Go Meh juga cukup seru kok, ya buat makan atau buat jalan-jalan keliling kelenteng.

Dan emang saya juga kurang suka rame-ramean sih yah, jadi ya saya hepi-hepi aja ngelilingin kota kecil yang satu ini.

Sebenernya, saya tuh pengen ke rumah Bosscha yang ada di Singkawang. Maklum, orang Bandung. Rasanya kayak pengen tau aja gitu. Tapi saya coba datengin ke Jalan Sudirman yang tertulis di artikel tersebut, dan gak nemu rumahnya. πŸ™Β 

Sayang banget… Mungkin kalau ada yang orang Singkawang dan kebetulan tau rumahnya bisa kasihtau saya? Siapa tau saya punya kesempatan datang lagi kesana. Siapa yang tau? Mungkin next time saya kesana pas Cap Go Meh? Hehe.

Baiklah, segini dulu ya soal Singkawang… Besok-besok, sedikit demi sedikit saya bakal mulai nyicil buat nulis soal Borneo trip saya dalam Bahasa Indonesia. Doain aja gak banyakan mager-nya. HAHA. Cheerio! πŸ˜‰

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.