Seribu Alasan Untuk Mencintai Bangkok

Salah satu target jangka pendek saya saat ini adalah mengunjungi seluruh negara anggota ASEAN sebelum saya menginjak umur 30 tahun.

Terdengar sangat ambisius memang, apalagi saat ini saya sudah menginjak umur 28 tahun dan saya baru berkesempatan mengunjungi setengah dari jumlah negara anggota ASEAN tersebut. Negara terakhir yang akhirnya saya sambangi baru-baru ini adalah Thailand, tepatnya ibukota Bangkok.

Saya kesana bersama kedua adik saya dalam rangka ulang tahun saya yang ke-28, dan sesampai di Bangkok, saya jatuh cinta.

Iya, saya jatuh cinta dengan kota dan negaranya. Saya pun langsung mengerti kenapa banyak sekali teman-teman sesama traveler saya yang menjadikan Thailand sebagai destinasi favorit mereka. Ada seribu alasan untuk mencintai Bangkok, yang beberapa diantaranya akan saya bahas di postingan ini. 😉


Chatuchak Weekend Market 

Alasan utama saya kenapa memilih Bangkok sebagai tujuan saya di hari ulang tahun sebetulnya adalah karena bekas roommate saya waktu saya tinggal di Jeddah beberapa tahun lalu, Jittima adalah orang Thailand yang juga asli dari Bangkok. Ga cuma ‘memanfaatkan’ Jittima sebagai orang lokal supaya bisa jadi guide saya selama disana, tapi juga karena saya punya resolusi tahun 2017 untuk meningkatkan kualitas pertemanan saya dengan teman-teman lama saya. 😀

Karena saya landing hari Sabtu malam, saya dan adik-adik saya pun memutuskan buat pergi ke Chatuchak Weekend Market yang konon katanya terkenal banget di Bangkok dan cuma ada di akhir pekan. Berdasarkan selentingan yang kita baca dan dengar dari orang-orang yang udah pernah ke Bangkok sebelumnya, konon harga barang-barang disini murah meriah. Dan kebetulan lagi, pas saya telepon Jittima, ternyata dia tinggal juga ga jauh dari lokasi Chatuchak Weekend Market ini.

Alhasil, kita pun ketemuan dan walaupun ga ngeborong barang-barang selayaknya saya pengen karena keterbatasan biaya, tapi harus saya akui harga barang-barang di Chatuchak Weekend Market ini murah parah!

Ga heran banyak banget online shop yang PO Bangkok di Indonesia, karena memang harga baju dan kaos-kaos lucu disini kalo dirupiahin murah parah!

Misalnya aja, ade saya bisa dapet t-shirt dengan harga THB 100 per buah, yang kalo dikonversiin ke rupiah harganya cuma sekitar IDR 30,000-an. Wajar banget kalo para sista-sista balik Indonesia jual sekitar IDR 75,000-an, karena buat kita di Indonesia masih tergolong murah dan kualitasnya bagus pula! 😀


Buddhist Temples di Bangkok

Seperti yang mungkin cukup populer diberitakan di media massa baru-baru ini, Thailand menyatakan satu tahun berkabung sepeninggal Raja Bhumibol Adulyadej atau yang lebih dikenal dengan sebutan King Rama IX. Tak heran, kuil-kuil di Bangkok hampir pasti ramai pengunjung dengan rakyat-rakyat Thailand yang ingin berdoa untuk mendingan King Rama IX ini.

King Rama IX adalah raja yang sangat dihormati oleh rakyatnya. Ga main-main, karena saya langsung mendengar cerita tentang King Rama IX langsung dari Jittima dan bahkan ketika cerita Jittima terlihat berkaca-kaca. That’s how much she loves the King, and so does everybody else in Thailand! 

Berdasarkan cerita yang saya dengar dari Jittima, King Rama IX ini betul-betul bekerja untuk kesejahteraan rakyatnya. Ga heran, beliau di masa hidupnya berani untuk datang ke tempat-tempat terpencil dan berbahaya yang bahkan tabu untuk dikunjungi oleh orang-orang pada umumnya. Mendengar cerita dari Jittima, saya sedikit banyak membandingkan King Rama IX dengan Lady Di di Inggris. Kalau Lady Di adalah putri di hati rakyat, saya pikir mungkin King Rama IX ini adalah raja di hati rakyatnya.

Maka dari itu, saya mohon untuk siapapun yang berencana untuk pergi ke Thailand untuk respek terhadap apa yang terjadi disana. Saya sempat membaca artikel tentang kejadian yang agak memalukan beberapa waktu lalu saat konser Coldplay di Bangkok, yang katanya banyak turis Indonesia yang ga mau kalah nyanyi Indonesia Raya ketika lagu nasional Thailand dinyanyikan di tempat konser.

Saya mengerti nasionalisme kalian sebagai warga Indonesia, tapi percayalah ini bukan soal gengsi nasionalisme. Kalau mau sedikit berperibahasa, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Hargailah rakyat setempat.

Untuk kuil sendiri, menurut Jittima setiap raja Thailand memiliki kuil masing-masing yang dipersembahkan untuk mereka. Ga heran, banyak sekali kuil yang bisa dikunjungi dimana di depannya terdapat patung raja yang bersangkutan.

Selain itu, ada juga kuil-kuil lain seperti Grand Palace atau Wat Pho yang bisa dikunjungi. Saya sendiri berhubung ga punya cukup waktu untuk mengunjungi Grand Palace (plus karena tiket masuknya juga mahal hehe), hanya menyempatkan diri untuk datang ke Wat Pho.

Tiket masuk untuk ke Wat Pho sendiri cuma THB 100 per orang yang bisa ditukar dengan air minum di salah satu kuil disana. Dan memang seperti apa yang dikatakan Jittima sebelumnya, cukup banyak pengunjung yang datang untuk berdoa.


The Jim Thompson House

Jim Thompson berasal dari Amerika dan merupakan seorang arsitek yang memutuskan untuk menghabiskan masa tuanya di Bangkok setelah mendirikan perusahaan yang bergerak di industri tekstil untuk produksi sutra Thailand.

Didirikan cukup megah, rumah Jim Thompson saat ini menjadi sebuah museum yang bisa dikunjungi dengan harga tiket masuk THB 150. Khusus untuk pelajar dan pengunjung di bawah 21 tahun, harga tiket masuk hanya THB 100. Kebetulan, adik cowok saya belum 21 tahun dan dia kebagian diskonnya. Hmmm.

Di loket pembelian tiket, kita akan ditanya perlu guide dalam bahasa apa karena ternyata untuk mengunjungi Jim Thompson house ini tersedia tour guide dalam tiga bahasa: Thai, Bahasa Inggris dan Bahasa Prancis. Nantinya, kita akan dikasih kode rombongan untuk kemudian menunggu giliran selanjutnya masuk ke rumah Jim Thompson bersama dengan rombongan lain.

Kita memilih paket tur Bahasa Inggris yang cukup memuaskan, karena tour guide-nya cukup bagus menjelaskan tentang apa-apa saja isi rumah Jim Thompson ini.

Dengan arsitektur semi modern, rumah Jim Thompson ini masih memiliki beberapa desain yang mengikuti arsitektur tradisional khas Thailand. Ditambah dengan banyaknya barang-barang antik yang merupakan koleksi dari Jim Thompson semasa hidupnya.

Jim Thompson sendiri dinyatakan hilang pada tahun 1967 di Cameron Highlands, Malaysia. Hidup tanpa menikah, saat ini rumah Jim Thompson sendiri dikelola oleh yayasan yang diwariskan kepada salah satu keponakannya.

Jim Thompson house ini sedikit banyak mengingatkan saya sama rumah Bosscha di Pangalengan.


Asiatique The Riverfront

Yang unik dari Asiatique ini adalah karena merupakan kombinasi dari bazaar dan mall di satu tempat. Sebetulnya sedikit mengingatkan saya akan PVJ di Bandung, cuma bedanya adalah karena Asiatique ini bisa ditempuh dengan menggunakan ferry.

Sebetulnya dari segi isi sih ga terlalu istimewa karena isinya ya antara booth dan cafe selayaknya mall. Cuma mungkin dari segi suasana aja yang cukup antik karena berada di pinggir sungai. Hmm.

Saya sendiri menuju sana dari daerah Khao San menggunakan boat menuju Ashok dan lalu melanjutkan dengan ferry gratis ke Asiatique. Pulangnya, karena udah cukup malam, kita balik ke Khao San dengan menggunakan bis. 🙂


Khao San Road

Waktu saya tanya Jittima daerah rekomendasi untuk cari penginapan, dia langsung jawab Khao San Road karena banyak backpacker mancanegara yang nginep di daerah sana. Dan memang bener, sepanjang jalan Khao San ini isinya bar yang penuh sama turis di malam hari.

Saya disana 4 hari 3 malam, dan 3 malam berturut-turut itu jugalah saya party terus di Khao San Road. Dari sekedar ngebir cantik sampe agak-agak mabok, walaupun belum parah sih. Haha.

Khao San Road cukup mengobati depresi saya karena pekerjaan beberapa waktu lalu. Buat saya yang jarang keluar dan males ketemu orang, jalanan di Khao San ini pun cukup menaikkan social skill saya yang hampir hilang. Haha.

Saya betul-betul jatuh cinta dengan Bangkok, ga cuma karena tempat-tempat yang menarik dan juga surga belanja buat saya yang suka beli barang-barang murah. Tapi juga karena suasana di Bangkok itu menyenangkan, dari segi udara Bangkok ini mirip-mirip Bandung masa kini. Panas, tapi ga selembab Jakarta.

Dari segi cuci mata pun, saya suka orang-orang Thailand! 😀

Oke, terlepas dari banyaknya tranny disana, tapi yang saya liat Thailand ini surga lelaki tampan. Kenapa? Karena disana orang-orangnya lebih ‘cerah’ daripada Jakarta, tapi lebih ‘ramah’ daripada Singapore. Hence, the perfection! 

Saya hampir pasti pengen balik lagi ke Thailand, tapi belum tau kapan. Tapi yang pasti, sekali lagi: saya cinta Thailand! 🙂

One thought on “Seribu Alasan Untuk Mencintai Bangkok

Tinggalkan Balasan