Pengalaman Menginap di Hotel Pudu 88 Kuala Lumpur

Reading Time: 6 minutes

Kalau ditanya ini kali berapa saya mendarat di Kuala Lumpur, jujur saya udah ga tau lagi ini keberapa kalinya karena selain Malaysia menjadi negara ketiga (setelah Indonesia dan Turki) seumur hidup saya, jaman saya masih terbang dulu pun saya sering banget kebagian layover Kuala Lumpur.

Maklum, dulu di airline tempat saya kerja kru Malaysia-nya cuma 7 orang sehingga seringkali kru Indonesia seperti saya dikaryakan untuk penerbangan ke KUL. Dan ga tanggung-tanggung, layover yang saya dapet pun kadang ga cuma minimum rest karena saya pernah beberapa kali dapat layover 3 sampai 5 hari yang bikin saya nyaris males jalan kemana-mana lagi kalau ke Kuala Lumpur.

Untuk trip terakhir ini, karena kebetulan saya dapet customer di KL, saya pun akhirnya memutuskan untuk terbang dari Jakarta ke Kuala Lumpur untuk business/leisure trip pertama saya sebagai owner BeautiQ. Dan karena customer saya bilang kantor dia ga jauh dari KLCC, akhirnya saya pun memutuskan buat cari-cari hotel di daerah Bukit Bintang walaupun sebelumnya saya sempat berniat untuk nginap di tempat Sutha di Shah Alam.

Saya booking hotel di Kuala Lumpur pun last minute karena emang awalnya ga niat buat booking hotel, dan karena pertimbangan saya adalah lokasi, harga dan fasilitas, saya akhirnya book hotel melalui booking.com untuk Superior Double Room di Hotel Pudu 88.

Pertimbangan saya cukup simpel sampai akhirnya memilih Hotel Pudu 88 ini menjadi pilihan saya, dengan harga MYR 113.10 untuk dua malam, fasilitas yang ditawarkan cukup menggiurkan. Dengan harga tersebut untuk kelas Superior Double Room dengan private bathroom, selain itu harga juga sudah termasuk complimentary breakfast.

Awalnya, saya pikir complimentary breakfast bisa mengurangi budget saya yang traveling dengan adik saya untuk makan di luar. Walaupun sayangnya, saya dan adik saya malah bangun kesiangan dan ga sempet sarapan selama dua hari nginep disana. :/

Oke, lanjut ke review hotel secara keseluruhan dari Hotel Pudu 88 ini yah!

Lokasi, Kamar dan Fasilitas Keseluruhan

Hotel Pudu 88 ini punya lokasi yang cukup strategis karena posisinya ga jauh dari Pudu Sentral Bus Terminal yang sebelumnya merupakan terminal bus utama di Kuala Lumpur sebelum ada Terminal Bersepadu Selatan (TBS). Tapi, lebih dari itu sebetulnya dari sisi lokasi emang oke karena berada di Jalan Pudu Raya yang aksesnya mudah kalau misalnya kalian berniat untuk mengandalkan Grab atau Uber untuk moda transportasi kalian selama disana.

Saya dan adik saya sendiri sesampainya KLIA langsung pesan tiket bus ke Bukit Bintang dan dengan tiket seharga MYR 18, saya diantarkan persis di depan hotel.

Selain itu, lokasi hotelnya pun ga terlalu jauh dari Petaling Street karena cuma sekitar 10-15 menit jalan kaki. Dari sisi lokasi, jelas Hotel Pudu 88 ini lebih oke karena sebelumnya saya pernah nginep di hotel yang lokasinya berada di Petaling Street dan berisik banget.

Yang agak disayangkan adalah karena sesampainya disana ternyata ga ada lift, padahal saya bawa koper gede banget yang beratnya kurang lebih sekitar 20 kg. Lebih parah lagi karena saya kebagian kamar di lantai 2 dengan tangga per lantai-nya lumayan melelahkan apalagi ditambah hotel ini yang mengandalkan self-service termasuk untuk angkat-angkat barang bawaan ini.

Untungnya, sesampai kamar, kamarnya cukup nyaman walaupun sedikit sempit terutama karena barang bawaan saya yang memang pada dasarnya banyak. Tapi dari segi kamar, saya sih cukup puas dengan kamar yang dimiliki Hotel Pudu 88 ini.

Di kamar Superior Double Room ini disediakan sebuah kasur queen-size yang cukup nyaman untuk menampung saya dan adik saya selama stay 2 malam di Kuala Lumpur. Yang membedakan kamar di Hotel Pudu 88 dan hotel-hotel lainnya yang pernah saya tempati adalah karena bed cover dan sarung bantal yang digunakan di hotel ini warna-warni dan bergambar lucu-lucu. 😀

Selain itu, yang paling vital adalah karena tersedia kaca yang cukup besar di kamar untuk dandan. AC yang ada di kamar pun kayanya AC baru sehingga cukup membantu buat sirkulasi udara di kamar tanpa jendela ini.

Kalau dari segi kamar sih saya cukup suka dan nyaman, walaupun mungkin sedikit keluhannya adalah karena tembok di hotel ini betul-betul tipis sehingga di hari kedua kita di Kuala Lumpur, saya dan adik saya kebangun sekitar jam 7 pagi karenaaaaa… ada suara ah-euh dari kamar sebelah.

Kita sampai agak menggerutu, kenapa sih ena-ena jam segini banget? *sirik*

Kamar mandi private yang tersedia di kamar pun cukup enak kok, walaupun pintunya agak menerawang sehingga bikin saya agak salting kalau mau mandi dan adik saya di luar.

Sedikit kekurangannya mungkin karena alat pemanas air di kamar mandi yang tersedia ga berfungsi dengan baik. Buat saya sih ga masalah, karena saya memang biasa mandi pake air dingin. Sedangkan buat adik saya yang lebih suka pake air hangat, agak bikin sedikit bad mood juga di pagi hari. Hmmm.

Nah, yang sangat saya sayangkan adalah karena saya ga bisa review menu sarapan yang ditawarkan Hotel Pudu 88 ini. 🙁

Padahal, fasilitas breakfast ini bisa jadi pertimbangan yang cukup untuk memilih hotel ini jadi pilihan ketika liburan di Kuala Lumpur. Breakfast sendiri dibuka dari jam 7 sampai jam 10 pagi di pantry lantai dasar hotel.

Dari segi lokasi dan kamar serta fasilitas sih saya cukup puas ya dengan Hotel Pudu 88 ini. Pertimbangan saya mungkin kalau misalnya next time ga bawa bawaan banyak ke Kuala Lumpur, Hotel Pudu 88 ini bisa dijadikan pilihan lagi. Cuma kalau case-nya bawaan banyak kaya saya kemarin, ga recommended sih.

Customer Service

Ini nih yang bikin saya agak sempet ‘panas’ selama stay di Hotel Pudu 88 ini.

Cerita diawali karena saya sampai di hotel tengah malam sehingga late check-in, nah ketika check-in seperti biasa karena saya booking kamar lewat booking.com, saya diharuskan menyelesaikan pembayaran saat check in sekaligus dengan deposit serta tourism tax yang diberlakukan oleh pemerintah Malaysia per tanggal 1 Oktober 2017.

Jadi, masalah pertama muncul karena waktu di Jakarta, money changer di Kalibata kehabisan MYR dan kita cuma bisa tukar MYR 200 untuk total dan sisanya uang kami tukar ke USD dan SGD. Salahnya saya dan adik saya adalah karena kami menunda penukaran USD ke MYR sesampainya di KLIA, sehingga ketika check-in di Hotel Pudu 88 ini kita ga punya cukup MYR dengan rincian pembayaran kita sebagai berikut:

Rate untuk 2 malam: MYR 113.01
Deposit: MYR 50
Tourism Tax untuk 2 malam: MYR 20

Total yang kita harus bayar saat itu MYR 184, sedangkan uang MYR kita kurang dari MYR 184. Staff yang ada di meja resepsionis saat itu pun menolak untuk melakukan transaksi melalui kartu kredit/debit karena mengaku belum tahu cara menggunakan mesin EDC-nya.

Akhirnya, karena ga ada solusi akhirnya saya usul ke petugasnya untuk menitipkan USD 100 saya untuk jaminan sampai keesokan harinya setelah money changer buka dan kita selesaikan pembayaran dengan ringgit. Staff-nya mengiyakan, tapi tetap meminta kami untuk memberikan deposit dan tourism tax dalam ringgit yang kami iyakan karena untuk MYR 70 kita kebetulan masih pegang uang.

Saat check-in ini, kita diberi receipt untuk total pembayaran MYR 184 ini.

Yang jadi masalah adalah ketika kita sudah tukar ringgit dan mengambil uang jaminan, staff yang lain yang saat itu bertugas di meja resepsionis minta kami membayar MYR 184 dan mengembalikan USD 100 tanpa memberikan receipt apapun. Salahnya saya dan adik saya adalah karena kita ga membawa receipt yang sebelumnya diberikan ketika check-in, dan saya baru ngeh waktu saya ga sengaja lihat receipt tersebut di meja.

Alhasil, saya pun langsung turun dan komplain karena itu artinya masih ada MYR 70 lagi yang merupakan hak saya sebagai tamu. Awalnya, staff yang ada di resepsionis bilang kalau saya bisa kembali lagi besokannya ketika check out karena masalah ini harus diklarifikasi dengan staff yang jaga malam karena dia kebetulan sedang tidak ada di tempat.

Saya baru mulai di ubun-ubun ketika keesokan harinya saya mau check out dan minta MYR 70 saya dikembalikan dan staff yang sama masih bilang kalau staff tersebut tidak ada dan masih tidur. Saya sempat komplain baik dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia, tapi tidak digubris. Padahal yang saya lihat sebetulnya masalahnya simpel karena hal tersebut sebetulnya tidak perlu terjadi apabila komunikasi internal antara pengurus hotel lebih baik.

Beruntung, karena saya ga buru-buru dan janji untuk ketemu customer saya sebelum berangkat ke Melaka sorenya. Akhirnya, saya pun bilang kalau saya akan kembali sekitar pukul 2 siang dan saya minta masalah saya diklarifikasi karena setelah itu saya harus segera berangkat ke TBS karena sudah beli tiket bus ke Melaka.

Saya udah ngadu Sutha yang siang itu janjian sama saya untuk ngopi bareng supaya dia bisa komunikasikan langsung karena privilege sama-sama orang Malaysia, tapi ternyata masalah sudah diselesaikan dan MYR 70 saya akhirnya dikembalikan.

Menurut saya, dari segi customer service, Hotel Pudu 88 ini masih perlu ditingkatkan karena perlakuan staff perempuan yang ada di meja resepsionis tidak menyenangkan dan jauh dari ramah.

Rekomendasi

Hotel Pudu 88 ini cocok buat kamu yang cari hotel strategis di Kuala Lumpur dengan harga yang terjangkau serta kamar dan fasilitas yang nyaman. Ditambah sarapan pula.

Tapi, hotel ini mungkin kurang cocok buat kamu heavy traveler karena akan agak repot untuk membawa barang bawaan berhubung tidak ada lift yang tersedia. Selain itu, usahakan untuk lebih terperinci di hotel ini untuk menghindari kejadian kurang menyenangkan yang terjadi sama saya.

Walaupun begitu, saya masih rekomendasikan Hotel Pudu 88 ini karena kenyamanannya. Rate dari saya mungkin sekitar 7 dari 10.

Cheerio! 😉

Leave a Reply