Borneo Trip: Review Bus DAMRI (Pontianak-Singkawang)

Salah satu hal yang saya sadari dari Borneo trip saya yang meliputi wilayah Indonesia di Borneo adalah betapa sulitnya menemukan informasi terpercaya mengenai transportasi antar kota di Kalimantan.

Iya, jadi alasan kenapa saya beberapa kali nunda-nunda waktu buat nyusun rencana perjalanan saya pada awalnya adalah karena saya mendapatkan kesulitan untuk menemukan informasi tentang transportasi umum di wilayah Kalimantan.

Karena saya biasa jalan-jalan kisaran Jawa dan terbuai dengan mudahnya informasi di pulau ini, sekalinya ke Kalimantan saya bingung. HAHA.

Ironisnya adalah, untuk urusan transportasi di wilayah Borneo bagian Malaysia dan Brunei, saya sama sekali gak mendapatkan kesulitan. Jadi, tiap kali jalan-jalan ke luar negeri, terutama di wilayah Asia Tenggara ini, saya memang biasanya booking tiket bus lewat Easybook.

Dan waktu saya cek jadwal bus untuk rute yang saya ambil di wilayah Malaysia dan Brunei, sama sekali gak ada masalah. Yang bermasalah justru waktu saya cek bus untuk perjalanan saya di Indonesia-nya. 🙁

Transportasi Umum di Kalimantan Barat

Jadi, soal informasi transportasi umum di Kalimantan Barat bukannya sama sekali gak ada di internet. Ada, tapi bikin bingung.

Salah satu alasan utama kenapa saya agak kesulitan nyusun itinerary adalah karena saya pengen mampir ke Singkawang.

Jadi, Singkawang ini posisinya lebih dekat ke Kuching. Dan awal saya merencanakan perjalanan di Borneo ini, saya sempat galau karena bingung soal rute dan transportasi.

Jadi, kalau berdasarkan peta, idealnya saya bisa lintas perbatasan melalui Singkawang. Apalagi, berdasarkan jarak Singkawang-Kuching itu lebih dekat dibandingkan Pontianak-Kuching. Cuma, masalahnya adalah saya gak menemukan info lengkap terkait transportasi umum dari Singkawang ke Kuching sampai detik-detik terakhir saya berangkat ke Pontianak. The power of kepepet.

Setelah sebelumnya galau apakah saya mau berangkat ke Kuching melalui Pontianak yang transportasinya sudah pasti tersedia, atau mau nekat cari tau nanti sesampainya di Kalimantan, saya akhirnya pilih yang terakhir.

Apapun yang terjadi, saya harus ke Pontianak dulu karena emang saya sudah booking penginapan disana. Urusan dari Singkawang nanti mau langsung ke Kuching atau balik Pontianak, gimana nanti. Tapiii, untuk perjalanan dari Pontianak ke Singkawang sendiri, saya sudah booking satu hari sebelum keberangkatan saya ke Pontianak melalui Traveloka.

Bus DAMRI (Pontianak-Singkawang)

Sebelum akhirnya saya booking bus lewat Traveloka, sebetulnya saya sempat galau. Gara-garanya, beberapa teman-teman Couchsurfing di Pontianak yang saya kontak kebanyakan kasih saran saya untuk booking travel untuk rute Pontianak-Singkawang.

Karena informasi minim mengenai perusahaan travel yang tersedia, dan saya pun kurang inisiatif buat nanya-nanya lebih lanjut soal travel ini, saya cuma punya dua pilihan berdasarkan opsi yang saya temukan di Traveloka dan Easybook: DAMRI dan Labua Trans.

Dan karena saya ini tipikal konsumen yang sangat price-sensitive, akhirnya saya pun pilih DAMRI karena harganya yang lebih murah. Saya sendiri dapet kupon diskon dari Traveloka waktu booking, dan total yang saya bayar untuk bus rute Pontianak dan Singkawang ini cuma sekitar IDR 81.000.

Naik dari kantor DAMRI di Pontianak yang beralamat di Jl. Sultan Hamid, kalau berdasarkan tiket di Traveloka, bus ini akan berhenti di Terminal Singkawang.

Daftar harga beberapa rute yang beroperasi dari DAMRI Pontianak.

Kesan Pertama DAMRI (Pontianak-Singkawang)

Waktu pertama kali booking tiket bus lewat Traveloka, sebetulnya saya booking untuk jam 12 siang dari kantor DAMRI di Pontianak.

Awalnya sih, karena saya baca-baca Pontianak-Singkawang itu memakan perjalanan kurang lebih sekitar 3 jam, kalau saya berangkat jam 12 pas banget saya sampai Singkawang bisa langsung check in hotel.

Ternyata, satu hari sebelum keberangkatan saya dapat SMS dari pihak DAMRI yang menyatakan kalau keberangkatan untuk jam 12 dibatalkan. Sebagai gantinya, saya boleh pilih apakah ambil keberangkatan jam 9 pagi atau jam 2 sore. Saya pilih yang jam 2 sore, karena alasan simpel: saya takut gak bisa bangun pagi. 😛

Pilihan ini saya anggap pertanda buat saya supaya bisa explore lebih banyak bagian Pontianak, karena toh malam terakhir saya disana hujan gede sampai gak bisa kemana-mana. Karena keberangkatan di sore hari, akhirnya paginya saya masih bisa gunakan untuk jalan-jalan sekitaran Pontianak dulu.

Prosedur Keberangkatan Bus DAMRI (Pontianak-Singkawang)

Saya sendiri menggunakan Gocar untuk perjalanan dari penginapan saya di Sentosa Guest House ke kantor DAMRI di Sultan Hamid. Total ongkosnya cuma IDR 20.000, dan saya sampai markas sedikit lebih cepat karena memang diminta untuk datang paling lambat satu jam sebelum keberangkatan.

Awalnya, saya pikir bus yang akan membawa saya ke Singkawang ini adalah bus yang sama yang berangkat dari Bandara Supadio.

Saya pikir sesampai disana saya juga perlu menukar e-ticket saya dengan print-out tiket. Tapi ternyata enggak, sesampai disana saya cuma diminta tunggu oleh beberapa petugas yang lalu-lalang.

Pelataran parkir markas DAMRI di Pontianak.

Satu jam, dua jam… Kok gak ada tanda-tanda busnya datang. Saya tanya petugas yang kebetulan lewat, karena emang disana sepi banget dan gak ada petugas stand-by yang bisa ditanya-tanya. Beliau bilang ada keterlambatan sedikit.

Sedikit mbahmu, karena kenyataannya kita baru berangkat sekitar jam setengah 4 dari jadwal keberangkatan yang seharusnya jam 2 sore. 😐

Dan lebih kriks lagi, karena ternyata bus yang berangkat adalah bus yang dari tadi parkir di pelataran parkir kantor DAMRI ini. Jadi, tebakan saya yang saya pikir bus dari bandara mampir ke kantor DAMRI untuk jemput saya itu salah besar.

Waktu bus siap berangkat, saya cuma diminta nama lengkap tanpa memperlihatkan e-ticket saya sama sekali. Total penumpang yang berangkat dari markas DAMRI pun cuma 3 orang. Ada saya dan pasangan ibu anak lain.

Bus, Fasilitas dan Kenyamanan DAMRI (Pontianak-Singkawang)

Jadi, waktu masuk bus, saya dikasih permen Kopiko sama supirnya. Saya gak ngerti apakah ini memang prosedur DAMRI di Pontianak atau ini sebetulnya salah satu tanda permintaan maaf gara-gara delay. Hmm.

Seuntung-untungnya, saya ini tipikal konsumen yang jarang komplain. Seandainya saya bawa ade saya di perjalanan ini, saya hampir yakin dia bakal marah-marah.

Apalagi waktu masuk bus, ternyata bus-nya super bobrok. Sedih sih, entah apakah saya sedih karena terlalu terbuai dengan nyamannya bus DAMRI di Jakarta atau sedih karena saya jadi insecure pas duduk di salah satu jok terus tempat duduknya goyang-goyang jadi merasa tertampar dan disuruh diet. 🙁

Penampakan bus DAMRI pertama yang saya tumpangi dari kantor di Pontianak menuju Singkawang, dilengkapi dengan permen Kopiko yang dikasih waktu boarding.

Pas liat ke atas, eh AC-nya bolong. Abus angin, coy! 🙁

Pokoknya kalo dari segi kenyamanan, ini parah banget sih busnya. Kondisinya itu bus kosong, jadi saya pindah spot tempat duduk beberapa kali cari yang paling nyaman. Hasilnya, semua AC bolong dan akhirnya saya memutuskan duduk di jok yang agak mendingan. 

Belum lagi, bus ini ngetem beberapa kali lumayan lama buat naikin penumpang. Pokoknya kalau berdasarkan pengalaman saya naik bus DAMRI dari Pontianak untuk pertama kalinya, saya bener-bener gak akan saranin buat siapapun yang mau ke Singkawang dikejar waktu dari Pontianak.

Sekitar jam 6 sore, bus berhenti untuk istirahat sekitar kurang lebih 45 menit di salah satu tempat makan di perjalanan menuju Singkawang. Salah satu hal yang saya salut banget dengan Kalimantan adalah, gak peduli seberapa sederhana keliatannya rumah makan atau warung kopi, mereka itu pasti free wifi! Wifinya kenceng pula. 😛

Gak lebih dari setengah jam setelah kita naik bus lagi, supir saya waktu itu minta maaf sama seluruh penumpang karena kita semua harus turun dan ganti bus. Eaaaa. 

Ganti Bus di Tengah Jalan

Agak kesel sih waktu ternyata disuruh turun dan ganti bus, tapi untungnya supirnya ini super sopan dan bahkan dia nanyain saya mau turun di belah mana Singkawang-nya. Dia cek alamat hotel saya di Singkawang, dan kasih info ke supir yang bawa bus yang akan saya tumpangi selanjutnya. 

Supirnya ini juga bawain barang bawaan saya yang berat dan banyak itu. Pokoknya, walaupun pindah bus tapi saya tau beres buat sampai ke tujuan saya.

Jadi, kalau saya gak salah info sih ternyata bus dari Pontianak ke Singkawang ini sebetulnya tujuan akhirnya ke Sambas. Makanya, di Singkawang itu gak berhenti persis di terminal-nya. Yang artinya gak sesuai sama tiket yang tertulis di e-ticket Traveloka.

Penampakan bus DAMRI baru yang saya tumpangi.

Sementara itu, bus baru yang saya tumpangi ini ternyata kondisinya berkali-kali lipat lebih bagus daripada bus yang sebelumnya. Pokoknya super nyaman, dengan AC dan jok yang berfungsi dengan baik yang bikin saya sirik sama penumpang-penumpang yang udah duduk disana sebelumnya. 

Entah apakah karena saya naik setelah tempat istirahat, tapi bus yang satu ini jarang berhenti-berhenti setelah itu. Baru berhenti sesekali, itupun sebentar, waktu udah masuk wilayah Singkawang.

Saya sendiri diberhentikan di dekat masjid agung, karena itu rute terdekat dari alamat hotel saya yang dilewati oleh DAMRI. Dari masjid agung ke hotel saya cuma sekitar 5 menit naik mobil, dan saya sampai sekitar jam 9 malam.

Iya, total 5.5 jam perjalanan saya dari Pontianak ke Singkawang, dari 3 jam yang sebelumnya saya prediksikan. LAMA BANGET!

Review Bus DAMRI (Pontianak-Singkawang)

Sesampainya di Singkawang, saya sempet ngobrol sama Ayu, salah satu teman yang saya kenal dari Couchsurfing dan dia bilang memang itulah kenapa orang-orang lebih suka sewa mobil atau travel untuk perjalanan Pontianak-Singkawang. Buat menghindari adegan bus berhenti-berhenti kayak DAMRI ini.

(+)

  • Prosedur e-booking yang super gampang dan paperless. 
  • Harga terjangkau. Dari total IDR 90.000 yang ditawarkan Traveloka, karena saya dapet kupon untuk tiket bus, saya cuma bayar sekitar IDR 81.000. 
  • Supir yang sangat koordinatif dan juga sopan, memberikan bantuan yang diperlukan.

(-)

  • Kurang jelasnya informasi mengenai keberangkatan. Nyaris gak ada petugas yang stand by untuk dimintai keterangan mengenai keterlambatan. 
  • Bus pertama yang saya tumpangi sebaiknya dipensiunkan aja karena gak nyaman. 
  • Gak bisa disebut shuttle bus juga karena gak on-time, ditambah dengan kenyataan sering berhenti-berhenti dan sekalinya berhenti lama banget. 

Pakai DAMRI Lagi?!

Gak mau deh.

Kalau bandingin Labua Trans sama DAMRI, dari segi harga cuma beda IDR 25.000. Kalau misalnya Labua gak pake berhenti-berhenti, rasanya mendingan Labua kemana-mana.

Rasanya kalau dengan sistem yang kayak gini, saya gak mau lagi naik DAMRI dari Pontianak ke Singkawang. Walaupun untuk kali pertama ini, saya anggap sebagai pembelajaran aja karena toh baru pertama kali juga cobain DAMRI di Kalimantan. 🙂 

Seperti yang udah saya sebutin sebelumnya, saya gak akan rekomendasikan DAMRI ini buat orang-orang yang dikejar-kejar waktu karena saya aja ke Singkawang bisa nyaris 6 jam.

Ada yang punya rekomendasi travel atau mungkin supir yang oke buat perjalanan Pontianak-Singkawang ini? Tinggalin komentar kamu yaa, cheerio! 😀

Tinggalkan Balasan