Resolusi 2018: Antara Bell’s Palsy dan Re-SOUL-usi

“It is important that when we make a resolution, or establish a goal, that we take the action necessary to accomplish that goal.”

Steve Maraboli on Life, The Truth, and Being Free

Wahai beautravelers, apa kabarnya?!

Sebelumnya, saya mau ngucapin selamat natal untuk siapapun dari kamu yang merayakan!

Untuk kamu yang ga merayakan, gimana liburannya? Mudah-mudahan liburan kali ini bisa sedikit meringankan beban pikiran kamu dari rutinitas sehari-hari kamu dan kamu bisa memanfaatkan waktu dengan keluarga atau orang-orang tersayang kamu! 😀

Klise sih kalau saya posting resolusi tahun baru, karena emang saya selalu posting mengenai ini di blog saya sejak bertahun-tahun yang lalu. Kebetulan, postingan ini akan menjadi postingan pertama untuk resolusi tahun baru di blog Ransel Ungu ini.

Jadi, apa sih kira-kira yang saya harapkan di tahun 2018 yang akan datang?!


Sekilas Mengenai Tahun 2017 Untuk Saya

Mungkin buat beberapa orang terdekat saya, atau kalau kamu rutin baca blog saya karena saya sering curhat colongan, kamu mungkin ngerti kalau 2017 adalah tahun yang cukup bittersweet buat saya. Sepanjang tahun ini, banyak banget kejadian yang bikin saya banyak belajar arti hidup.

Januari-April 2017

Awal tahun ini, saya mengalami depresi yang cukup parah karena pekerjaan.

Ironisnya adalah karena saya sebetulnya betah menjadi bagian di kantor saya tersebut. Gimana engga? Saya menjadi bagian dari satu perusahaan multinasional yang banyak memberikan saya kesempatan untuk memperluas wawasan.

Selain itu, rekan kerja saya juga teman-teman yang baik. Nyaris semuanya ga ada yang nyebelin. Mau di kantor Jakarta, Singapore, Kuala Lumpur, semuanya asik.

Pokoknya, ketika banyak banget teman-teman saya jaman kuliah yang ngeluh soal teman-teman sekantornya, I simply couldn’t relate to the situation karena teman sekantor saya ini tipe-tipe orang yang ada buat saya dalam susah dan senang. Asik.

Foto ala-ala eksekutif muda dengan rekan kerja yang lama. 😛

Tapi, entah kenapa pekerjaan ini bikin saya hilang semangat hidup. Saya merasa apa yang saya kerjakan ga pernah cukup baik dan efeknya adalah saya kehilangan semangat ga cuma terhadap pekerjaan, tapi kehidupan saya secara keseluruhan. 

Di bulan April, saya ga berpikir dua kali untuk keluar dari pekerjaan saya itu ketika saya diberikan tawaran untuk pekerjaan di kantor lain.

April-Juli 2017

Saya pikir, saya akan merasa lebih baik dengan pekerjaan yang saya kira lebih cocok dengan kepribadian saya, tapi ternyata saya salah besar.

Permasalahan di tempat baru ternyata malah lebih parah, karena ga cuma pekerjaan, tapi juga lingkungan yang bikin saya semakin ga bahagia.

Dengan kredibilitas perusahaan yang jauh dari profesional dibandingkan dengan kantor saya sebelumnya, ditambah dengan bos dengan kecenderungan berpribadi selayaknya seorang diktator… Di kurun waktu April sampai Juli merupakan titik terendah saya sebagai profesional. 

Selain itu, saya sudah memiliki masalah dengan wajah saya karena terkena Bell’s Palsy sejak saya terbang bertahun-tahun yang lalu. Iya, wajah saya ‘melorot’ sebelah dan saya mengalami kesulitan untuk tersenyum tanpa memperlihatkan wajah saya yang beda bentuk antara kiri dan kanan. 

Saya sempat ke dokter beberapa kali, tapi dokter seringkali bilang kalau satu-satunya cara supaya cepat sembuh adalah dengan menghindari stress. Sempat melakukan pengobatan secara tradisional berupa akupresur, tapi akhirnya terputus juga karena disibukkan oleh pekerjaan.

Photo by Oscar Keys on Unsplash

Sampai akhirnya di bulan Juni ketika dekat dengan libur lebaran, saya akhirnya mengambil keputusan untuk keluar dari pekerjaan yang baru saya mulai.

Uang yang saya hasilkan dari bekerja selama bertahun-tahun nyaris nihil, tapi alhamdulillah saya punya orang tua yang sangat mendukung keputusan saya. Bapak saya cuma pengen yang terbaik untuk anaknya, sedangkan ibu saya ga tega liat muka saya karena sampai sekarang saya belum nikah.

Akhirnya, saya pun memutuskan keluar dari pekerjaan saya dengan dua niat utama: fokus terapi untuk sembuh dari Bell’s Palsy dan merintis bisnis BeautiQ yang sudah saya rencanakan bahkan dari awal tahun. 

Juli-Desember 2017

Saya pulang ke rumah orang tua saya di Bandung bulan Agustus, beberapa minggu setelah saya keluar dari pekerjaan saya. Dan di bulan yang sama, saya kembali menjalankan terapi sebagai usaha saya untuk sembuh dari Bell’s Palsy karena saya kangen dengan wajah saya yang cantik sempurna itu. 😛

Di bulan Agustus juga, saya mulai cari-cari supplier untuk mulai jualan batik dan sempat ke Malaysia dan Singapore juga di bulan Oktober karena ada pelanggan disana.

Alhamdulillah sih, tapi sekarang saya malah kehilangan motivasi buat fokus lagi ke bisnis karena saya terapi setiap hari dan gara-gara itu, hari-hari saya seolah-olah dihabiskan cuma buat terapi.

Tapi, sementara itu saya punya kesempatan buat mengembangkan hobi saya: blogging.

Iya, jadi awal tahun ini saya akhirnya memutuskan buat bikin blog dengan niche yang sesuai sama apa yang saya pengen selama ini, beauty and travel. Kun fayakun, maka jadilah blog ini. 

Dan ketika semangat saya surut buat ngurusin bisnis, saya malah fokus sama blog saya ini. Karena saya tipe-tipe makhluk nokturnal, setelah pulang terapi saya biasanya langsung menyibukkan diri buat bikin konten baru untuk dipost baik di blog ini atau blog Bahasa Inggris saya, The BeauTraveler.

Walaupun belum menghasilkan uang yang seberapa, tapi di tahun ini juga saya dapet sponsor buat beberapa postingan di blog saya yang Bahasa Inggris. Selain itu, saya juga jadi rajin pantengin pengumuman lomba blog supaya bisa ikutan kalau kira-kira lombanya sesuai sama niche blog saya atau saya secara pribadi tertarik sama isunya. 🙂 

Belum pernah keluar sebagai pemenang utama sih, tapi setidaknya dua lomba blog yang saya ikutin keduanya dapat hadiah hiburan berupa uang dan voucher di angka yang bisa dibilang yaaaa… lumayan, daripada kaga. 😛


Harapan Saya di Tahun 2018

Sejauh ini, sebetulnya saya merasakan perubahan yang cukup drastis setelah saya keluar dari pekerjaan. Boke sih, tapi saya happy.

Dulu-dulu, saya punya duit tapi kok tiap bangun tidur berasa kaya pengen mati.

Selain itu, setelah berkutat dengan terapi selama hampir 5 bulan ini, saya pun merasa jauh lebih baik kalau dibandingkan sama awal tahun ini. Seengganya, sekarang muka ‘asli’ saya lebih banyak keluar daripada muka mencong ala-ala Bell’s Palsy. Dan yang terpenting, saya lebih pede kalau harus foto. 😀

Jadi, kalau boleh saya mendeskripsikan harapan saya di tahun 2018, harapan saya di tahun depan seengganya ada tiga: sehat, kaya raya dan bahagia. 

Cepat sembuh dari Bell’s Palsy dan dijauhkan dari segala macam penyakit lainnya!

Jadi, sampai saat ini saya masih setia menjalankan terapi akupresur dengan bantuan herbal selama masa pengobatan yang berguna untuk syaraf sesuai anjuran terapis saya.

Kalau kalian mau tau kenapa saya memilih untuk terapi secara tradisional dan bukan melalui medis, alasannya adalah karena saya kebetulan sudah coba kedua cara tersebut dan yang paling saya rasakan efeknya ya terapi akupresur ini. 🙂 

Selain herbal, saya juga disarankan untuk mengurangi makanan berlemak selama masa pengobatan selain juga diperbolehkan untuk mengkonsumsi vitamin tambahan untuk menjaga stamina tubuh.

Untuk vitamin sendiri, saya akhirnya memilih Theragran-M, vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan.

Penampakan Theragran-M dengan muka saya yang udah hampir sembuh dari Bell’s Palsy. 😛

Harganya ga mahal kok, cuma Rp. 20.000 untuk satu strip berisi 4 tablet salut gula. Saya sendiri ga ngerti maksudnya salut gula ini apa, tapi yang pasti bentuk vitaminnya ini tablet berwarna gelap dan ada rasa sedikit manis waktu nempel di lidah. Mungkin ini yang dimaksud dengan salut gula?!

Kenapa saya memutuskan buat tambah konsumsi vitamin? Karena sesungguhnya, saya betul-betul pengen cepet sembuh.

Pertama, saya udah cape dengan berbagai prahara yang disebabkan oleh Bell’s Palsy. Dari mulai ga pede kalau ketemu orang baru, males kontak mata bahkan sama orang yang dikenal cuma karena berasa diperhatiin kalau lagi ngomong, pokoknya saya merasa sangat vulnerable gara-gara ini. 🙁

Selain itu, di bulan Februari 2018 pun saya akan ikut serta menjadi volunteer untuk acara test event Asian Games di Jakarta, yang artinya di bulan itu amit-amit deh jangan sampe sakit. Yah, kalau sakit jangan lama-lama lah, makanya Theragran-M ini penting! 

Khan malu kalau saya harus ngurusin atlet, tapi saya-nya malah sakit. Yekan? 😛

Punya pacar dan kencan cantik di tanggal cantik 18.02.2018.

Hahaha. Jadi, poin soal punya pacar ini hampir selalu ada di daftar resolusi saya sejak tahun 2014. Sedih banget. Dan, saya selalu punya resolusi yang sama soal kencan cantik di bulan Februari sejak tahun 2010.

Awalnya pengen kencan di tanggal 20.10.2010, tapi ga kesampaian. Terus tahun berikutnya saya pengen ada yang nembak di tanggal 11.02.2011 karena itu pas banget sama ulang tahun saya. Tapi ga kejadian juga. Begitu juga seterusnya sampai tahun ini di tanggal 17.02.2017. Nasibmu, Mar! 🙁

Sumber: Pixabay

Kebetulan, tahun depan bagian tanggal cantik 18.02.2018 yang kalau ga ada aral melintang sih merupakan hari terakhir test event buat Asian Games diadakan.

Kalau boleh sih, sedikit khayal-khayal babu, mimpi saya sih pengen kencan sama atlet atau official gitu yang dateng buat test event ini. Ya khan siapa tau yah, jangan-jangan saya ketemu jodohnya disitu karena gara-gara acara ini saya ngorbanin birthday trip yang biasanya rutin saya rencanakan setiap tahun. 

Siapa tau aja khan, birthday trip harus diundur tapi jodoh datang lebih cepat karena Asian Games? 😛

Khan saya ga mau nolak kalau tiba-tiba saya berjodoh sama Joseph Schooling.

Sumber: https://i.ytimg.com/vi/a_1PaAL4Dao/maxresdefault.jpg

Sebelum kalian teriak-teriak, woyyyy daun muda woyyyyy… Harap diingat kalau si Joseph ini mukanya tua, dan muka serta kelakuan saya terlihat lebih muda daripada umur saya yang sebenarnya. 😛

Selain itu, kenyataan paspor Singapore merupakan paspor terkuat di dunia saat ini, ga salah khan yah saya agak-agak delusional nikah sama orang Singapore, dapet residence permit dan terus punya paspor merah? *suka-suka lo sih Mar ahahha

Fokus bisnis atau nge-blog? Sukur-sukur kalau dua-duanya bisa jalan!

Sekarang kalian udah tau khan kalau saya udah mulai agak angin-anginan buat fokus ke bisnis saya yang BeautiQ, saya mulai agak ragu apakah ini betul-betul hal yang ingin saya lakukan.

Tapi, walaupun gitu, saya dan ibu saya ada rencana sih untuk bikin semacam galeri kecil di garasi rumah untuk koleksi batik yang akan dijual oleh BeautiQ nantinya. Kebetulan juga, yang nyewa salah satu kamar kosan punya orang tua saya adalah istri dari salah satu selebritis di Indonesia yang juga berprofesi sebagai desainer. 

Sukur-sukur kalau mungkin ke depannya kita berdua bisa kerjasama. Mudah-mudahan niat ini bisa dijalankan dengan baik dan saya-nya ga males-malesan dan hilang arah karena galau.

Selain itu, karena blogging merupakan hobi saya bahkan sejak jaman saya SMA berbelas-belas tahun yang lalu, saya harap di tahun mendatang blogging ga cuma jadi hobi buat saya, tapi juga jadi hobi yang bisa menghasilkan uang. Karena jujur, saat ini saya nyaris ga punya uang. Beruntung, saya masih punya kerjaan sebagai freelance copywriter di salah satu e-commerce.

Photo by Melinda Pack on Unsplash

Tapi khan saya sukanya yang serba mewah, penghasilan saya ini masih jauh di bawah standar pemasukan saya jaman dulu punya pekerjaan full-time walaupun depresi dan pengen mati.

Yah, sejauh ini sih saya berusaha buat mensyukuri apa yang ada, tapi ga mau munafik saya pun pengen lebih fokus monetisasi blog yang menjadi anak kesayangan saya saat ini. 😀

Nabung!!!!

Ngomong-ngomong uang emang sensitif, apalagi saya ini tipenya boros banget… Dan seperti yang tadi saya bilang, saya ini sukanya segala macem serba mewah kaya Fredrich Yunadi. 😛

Tapi, sekarang saya udah ngerasain gimana rasanya nyaris ga punya penghasilan setiap bulannya dan bertahan hidup karena adanya kasih sayang orang tua yang tiada tara, di tahun 2018 ini saya betul-betul pengen memperbaiki cara saya mengatur uang. 

Sumber: Pixabay

Ya, jangan sampai menggandakan uang kaya Kanjeng Dimas sih, tapi setidaknya gimana caranya supaya hidup saya lebih baik secara finansial. Karena ini berhubungan sama poin resolusi saya selanjutnya. Hmm.

Menyelesaikan target pribadi saya: mengunjungi ke-10 negara anggota ASEAN sebelum saya ulang tahun yang ke-30!

Jadi, bulan Februari depan akan menjadi ulang tahun 20an saya yang terakhir. Iya, saya udah tua… Ga kerasa udah mau 29, padahal kaya kemarin sore baru sweet 17. 🙁

Tapi, sejak umur 27, saya punya target pribadi buat jalan-jalan ke seluruh negara anggota ASEAN sebelum ulang tahun yang ke-30.

Kebetulan, sejauh ini saya udah mengunjungi sebagian besar negara anggota ASEAN ini, kecuali tiga negara: Laos, Kamboja dan Brunei. 

Patung Reclining Buddha di kota Bago, Myanmar.

Rencananya, kalau ga ada aral melintang saya pengen jalan-jalan ke Laos dan Kamboja sekaligus setelah test event Asian Games selesai sebagai birthday trip yang diundur nantinya. Tanggal atau gimana rute yang akan saya ambil kebetulan masih di awang-awang, tapi saya betul-betul antusias buat membayangkan trip ini kalau sampai terealisasi!

Kalau ada rejeki lebih, ya mudah-mudahan saya bisa ke Brunei juga akhir tahun depan. Kalau ga kesampaian, ya mudah-mudahan saya dapat rejeki untuk ke Brunei buat birthday trip saya di ulang tahun yang ke-30! 🙂

Maklum, saya sudah biasa dikecewakan sama realita, jadi plan B itu wajib hukumnya. Hahaha.

Sempatkan waktu untuk family bonding dengan berlibur bersama mereka. 

Saya dan sepupu-sepupu saya itu waktu kecil terbilang sangat, sangat dekat. Tapi seiring berjalannya waktu, dengan kesibukan masing-masing, hubungan kita sudah jauuuuuuh berbeda.

Makanya, saya dan beberapa sepupu saya berencana buat liburan bareng di awal tahun depan. Ga jauh-jauh sih, rencananya paling cuma sekitaran Bandung dan juga mantai ke Pangandaran.

Kebetulan si Heri, salah satu sepupu saya, pengen banget cobain body rafting di Santirah, Pangandaran. Dan karena satu paket itu terdiri untuk 6 orang, kita pun langsung rencanakan liburan rame-rame buat cucu-cucu nenek saya yang masih pada jomblo. 😛

Yah, pas banget juga sih karena saya udah lama banget ga ke pantai. Terakhir kali ke pantai akhir tahun lalu waktu saya jalan-jalan ke Bangka-Belitung dan sempat mampir juga ke rumah Ahok.

Foto di Belitung tahun lalu, di Pantai Tanjung Kelayang sama Diandra.
Menjadi pribadi yang lebih baik. 

Ini nih yang saya maksud dengan re-soul-ution. Karena resolusi ga melulu sifatnya sama materi, sehat pun juga ga cuma jasmani. 

Apalagi saya udah pernah ngerasain depresi, rasa-rasanya apapun keadaannya yang penting saya bisa happy. Itu aja.

Entahlah, masih banyak sih hal dari diri saya yang perlu diperbaiki. Mungkin dari selera humor yang ga ‘masuk’ ke semua kalangan, atau emosi yang meluap-luap yang bikin saya ga kunjung punya pacar.

Saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik, seengganya buat diri saya sendiri. Kenapa bukan buat orang lain? Karena saya udah cukup tua untuk mengerti bagaimana diri saya, tanpa harus menghiraukan apa kata orang mengenai diri saya.

Cuma mungkin, ke depannya saya juga bisa mengurangi sifat cuek sabodo amat yang dominan dalam diri saya selama ini. Mungkin tahun 2018 ini juga waktu dimana saya harus lebih sering ‘mendengarkan’ masukan dari orang lain tanpa perlu ditambahin marah-marah karena ga terima dikritik. 😀

Insya allah, kalau saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik, mungkin poin-poin di resolusi 2018 akan kesampaian semua. Mudah-mudahan.


Yah, begitulah kira-kira… Ternyata panjang juga tulisan saya soal resolusi ini. Mudah-mudahan kamu masih betah baca sampai sini ya guys! 😛

Tapi ya balik lagi, resolusi ya resolusi. Tapi saya juga harus usaha lebih keras buat mewujudkan resolusi-resolusi ini supaya jadi kenyataan, karena toh kalau misalnya saya punya kemauan tapi ga ada usaha ya sama aja bohong. Bagai punuk merindukan bulan.

Minta doanya aja, teman-teman… Mudah-mudahan saya diberi waktu dan kesehatan untuk mewujudkan semua resolusi saya ini. Amin.

Akhir kata, terima kasih banyak untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktu untuk membaca. Share donk di kotak komentar, apa resolusi tahun baru kalian?

Dan ga lupa, selamat tahun baru… Semoga di tahun yang baru ini, kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik! 😀


Disclaimer: Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.

25 thoughts on “Resolusi 2018: Antara Bell’s Palsy dan Re-SOUL-usi

    1. hallo imas, makasih banyak udah blogwalking ke blog aku yah.. amiiiin, semoga kamu punya resolusi juga bisa dilancarkan, dan 2018 jadi tahun yang lebih baik buat kita semua! 🙂

    1. amiiiin, sama2 mbak. semoga resolusi mbak di tahun depan juga terwujud semuanya. 😀

      haha, makasih.. tapi yakin itu kacamatanya yang lucu? bukan akunya? yakin? 😛

    1. makasih banyak, say.. untungnya kayanya keputusan buat mengakhiri apa yang bikin stress bener2 tepat, sekarang sih hepi2 aja walaupun boke. hihi. kmu juga yah, semangat dan selamat tahun baru! 😀

  1. Semoga di tahun yang baru ini, makin sehat, disembuhkan sakitnya.
    Kalo pekerjaan tidak membuat kita bahagia, itu memang artinya say good-bye aja sama pekerjaanny. Been there before and yes I quited.

    1. amin mbak, terima kasih banyak doanya ya.. sama2 mbak, semoga di tahun yang baru ini mbak juga selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan. happy new year! 😀

    1. amiiin, mbak.. terima kasih banyak doanya. selamat tahun baru juga ya, mbak. 🙂

      soal bell’s palsy, diagnosanya sih karena pengaruh angin. curiganya jaman aku terbang dulu khan aku tinggal di saudi yang cuacanya cenderung kering, tapi banyak kerja di pesawat dengan udara artifisialnya. kayanya itu ngaruh ke syaraf aku. jadinya nyerah ke syaraf di wajah. ditambah sama stress, jadi begitulah. 🙁

Tinggalkan Balasan