Rekomendasi Destinasi Untuk Jalan-Jalan Ke Luar Negeri Pertama Kali (Yang Bukan Singapore!)

Daftar Isi

Gara-gara kemarin saya buka grup facebook Backpacker Internasional dan lihat ada postingan yang minta saran untuk destinasi jalan-jalan ke luar negeri untuk first timer, saya jadi kepikiran untuk angkat topik ini di blog sendiri.

Saya liat kayanya Singapore tetap menjadi destinasi generik untuk para traveler Indonesia yang baru pertama kali ke luar negeri. Makanya, saya mau emphasize terlebih dahulu kalau destinasi rekomendasi saya di postingan ini saya jamin bukan Singapore yang besok akan merayakan hari jadi-nya yang ke-52 tahun.

Kenapa saya kurang rekomendasikan Singapore? Selain mahal, saya akan coba jelaskan sedikit banyak alasannya lebih lanjut nanti.

Jadi, negara apa yang akan saya rekomendasikan untuk kamu yang berencana jalan-jalan ke luar negeri pertama kalinya dengan budget murah tapi ga murahan?

Destinasi luar negeri pertama yang saya kunjungi adalah Turki, tapi mungkin saya juga ga akan rekomendasikan Turki karena masalah biaya dan jarak yang mungkin akan jadi pertimbangan untuk para first timer yang belum pernah meninggalkan Indonesia sebelumnya.

Malaysia

Malaysia menjadi negara pertama yang saya rekomendasikan untuk dikunjungi untuk kamu para first timer. ๐Ÿ˜‰

Seperti mungkin beberapa traveler lainnya, alih-alih Singapore saya akan rekomendasikan Malaysia untuk menjadi destinasi jalan-jalan ke luar negeri kamu untuk pertama kalinya.

Kenapa? Ada setidaknya dua hal yang menjadi pertimbangan saya untuk rekomendasikan Malaysia alih-alih Singapore, diantaranya adalah karena urusan biaya dan sedikit-banyak kemiripan Malaysia dengan Singapore.

Malaysia sendiri menjadi destinasi pertama saya setelah Turki, dan hingga saat ini saya masih mau-mau lagi untuk kesana lagi. Dari mulai rencana terkait dengan pekerjaan, pertemanan, sampai iseng-iseng karena berencana buat retake foto-foto yang saya dan adik saya ambil di Melaka beberapa tahun lalu.

Melaka menjadi salah satu kota favorit saya dari tempat-tempat yang sudah saya datangi. Kenapa? They’ve got the food, the vibes, the view and the history! ๐Ÿ˜€

(+)

Walaupun dulu ga pernah ke Singapore sebelumnya, tapi saya memutuskan untuk menjadikan Malaysia destinasi pertama liburan ke luar negeri sama adik saya karena alasan saya pengen banget ke Melaka. Ternyata keputusan saya sangat tepat, karena dalam periode 5 hari 4 malam, saya bisa menikmati Malaysia melalui 2 kota yang saya kunjungi: Kuala Lumpur dan Melaka.ย 

Selain itu, berhubung sekarang saya udah pernah ke Malaysia dan ke Singapore juga, rasa-rasanya budget saya selama 5 hari di Malaysia itu hampir sama dengan budget 2 hari di Singapore. Kelebihannya, karena dengan budget yang lebih murah tapi saya bisa mendapatkan dua nuansa liburan yang berbeda.

Di Kuala Lumpur, saya bisa menikmati suasana kehidupan masyarakat urban dengan segala hiruk pikuknya. Pusat perbelanjaan, drama commuting dan lain sebagainya. Yah, ga jauh beda sama Singapore, cuma bedanya suasana doang yang lebih ‘homey‘ karena sedikit banyak mengingatkan saya akan Jakarta. Walaupun KL masih mending kemana-mana. ๐Ÿ˜›

Berhubung saya bukan penggemar berat kehidupan urban, KL sendiri bukan destinasi favorit saya untuk liburan. Tapi, karena satu dan lain hal saya dihadapkan sering kesana baik untuk liburan atau bekerja. Yang bikin saya sedikit banyak cukup mengerti kehidupan disana.

Sedangkan di Melaka, saya bisa menikmati kehidupan yang lebih ‘humble‘ dimana kemana-mana bisa jalan kaki dan menikmati bangunan-bangunan tua yang sarat akan sejarah. Malamnya, saya pun bisa menikmati pasar malam di Jonkerwalk atau sekedar minum-minum cantik. ๐Ÿ™‚

Selain itu, saya setuju banget sama tagline pariwisata Malaysia Truly Asia, karena ke Malaysia membawa kita pada replika mini benua Asia. Gimana engga? Malaysia sendiri didominasi oleh paling tidak 3 ras: Melayu, Tionghoa dan India. Karena itu, Malaysia cocok banget untuk travelers seperti saya yang suka banget kepo akan kebudayaan.

Di kota manapun di Malaysia, rasa-rasanya cukup mudah menemukan baik mesjid, kuil Hindu atau klenteng. Terdengar familiar? Ya, karena kondisi di Singapore pun kurang lebih sama.

Dari segi makanan, untuk teman-teman yang Muslim pun ga sulit buat cari makanan halal. Dari segi rasa, jujur lidah saya masih punya tingkat patriotisme yang tinggi karena saya masih lebih milih Nasi Padang kalau dihadapkan kepada pilihan itu atau Nasi Lemak. Walaupun lain ceritanya kaya waktu jaman saya terbang dulu, terbang ke KL setelah lama ga dapat terbang Indonesia merupakan suatu pelipur lara buat saya. *anaknya oportunis ๐Ÿ˜›

Buat kamu yang berencana pergi ke Melaka, jangan lupa coba Sate Celup yang konon katanya memang khas Melaka sana karena kalian ga bisa menemukan Sate Celup di tempat lain.

(-)

Saya sendiri nyaris ga pernah mendapatkan cerita duka pas jalan-jalan di Malaysia, walaupun ketika pertama kali sampai di Kuala Lumpur tahun 2013 saya sempat kena scam taksi dari Putrajaya ke Petaling Jaya dan kena mahal aja yang abang taksi-nya keukeuh karena kita sampainya malam. -_-

Tapi dengan adanya Grab dan Uber, kayanya cerita-cerita kaya gini udah ga perlu terjadi lagi. Walaupun sebenernya kalau mau murah dan kalian ga jalan-jalan tengah malam, transportasi publik di Malaysia udah cukup mumpuni kecuali kalian berada di Johor Bahru dimana kemana-mana kalian nyaris masih harus mengandalkan taksi.



Thailand

Kebetulan, expertise saya soal Thailand masih belum banyak karena satu-satunya kota yang pernah saya kunjungi di Thailand adalah Bangkok.

Untuk Thailand sendiri, kebetulan Bangkok menjadi destinasi luar negeri pertama untuk Akin, adik laki-laki saya satu-satunya. Makanya saya hampir yakin Thailand adalah negara yang cocok buat kamu yang berencana untuk pergi ke luar negeri pertama kalinya.

Menurut saya, Thailand adalah salah satu negara yang betul-betul menangani pariwisata-nya dengan serius. Mereka adalah negara yang bisa mengubah persepsi negatif menjadi sesuatu yang positif. Gimana engga? Dengan stigma shemaleย dari Thailand ga memberhentikan turis-turis untuk mengunjungi negara mereka, dan malah menarik lebih banyak turis lagi untuk berkunjung.

Thailand, khususnya Bangkok menjadi simbol dimana hal-hal yang dianggap sakral bisa hidup berdampingan dengan hingar-bingar pesta.

Selain itu, Thailand juga cocok untuk nyaris seluruh tipe traveler. Buat kamu yang suka belanja dan menikmati kehidupan urban, Bangkok akan menjadi surga buat kamu. Tapi buat yang mau menikmati nuansa alam yang indah, kalian bisa ke Phuket untuk suasana pantai atau Chiang Mai untuk pegunungan.

(+)

Salah satu alasan kenapa Thailand patut dikunjungi adalah karena semakin banyaknya maskapai yang membuka non-stop flight ke Bangkok dari Jakarta. Misalnya aja AirAsia dan ThaiLion, dan kalau kalian lagi beruntung, kalian bisa dapat harga yang cukup terjangkau untuk rute tersebut. Saya beli tiket untuk adik saya di periode H minus beberapa hari di bulan Februari kemarin, saya dapet harga sekitar IDR 1.3jt dengan keberangkatan menggunakan AirAsia dan pulang ThaiLion.

Ga cuma itu, karena sesampainya di Thailand kalian akan disambut oleh kenyataan begitu murahnya barang-barang disana. Thailand itu ga cuma surga belanja karena barang-barang yang tersedia kualitasnya oke punya, tapi juga karena harganya yang murah pula. Dari mulai makanan, baju sampai bir… Semuanya murah meriah! ๐Ÿ˜€

Yang menarik dari Thailand adalah karena selain MRT dan bus, mereka juga menyediakan ferry dalam kota untuk transportasi publik.

Yang saya suka dari Thailand adalah karena orang-orangnya yang ramah. Saya sama adik saya sampai bersumpah kalau Thailand adalah potret terbaik untuk Asia Tenggara, karena secara fisik banyak kokoh-kokoh gemas macam di Singapore tapi versi ramahnya yang bikin baper. ๐Ÿ˜›

Selain itu, makanannya pun enak-enak dan murah. Dari mulai padthai pinggir jalan atau tom yam di restoran, nyaris semuanya neneng ga bisa nolak!

Reuni dadakan sama Abul di Bangkok.

Saya sendiri pertama kali menginjakkan kaki di Bangkok langsung jatuh cinta samsa kondisi kotanya. Dengan udara yang kurang lebih mirip-mirip Bandung, tapi hingar-bingar pesta yang meriah setiap malamnya.ย 

Saya bukan party goer, tapi saya sangat mengerti kenapa orang-orang suka banget dugem di Thailand. Karena vibes-nya membawa kita untuk suka akan suasananya.

(-)

Jadi, karena bulan Februari lalu adalah pertama kalinya ke Bangkok dan saya minta saran dari Jittima, orang Bangkok yang sama sekali hopeless dimintain saran kalau urusan jalan-jalan, Jittima menyarankan saya untuk nginep di daerah Khao San Road karena biasanya turis-turis cari penginapan di daerah sana.

Tapi ternyata, karena Khao San Road notabene adalah pusat hiburan malam buat para travelers ini, kalau malam dan kalian light sleeper seperti saya, suasananya cukup berisik dengan hingar bingar semalaman yang party ga beres-beres. :/

Setelah ngobrol sama Abul, dia sempet kasihtau kalau next time ke Bangkok, mungkin bisa coba cari penginapan di sekitaran Asok karena daerah cukup strategis dan cenderung lebih peaceful dibandingkan Khao San.



Vietnam

Akhir-akhir ini saya sering lihat postingan travelers yang sial di Vietnam melalui forum Backpacker Internasional di Facebook. Saya sendiri ga ngerti dan cuma bisa bersyukur bahwa saya mendapatkan pengalaman yang sangat menyenangkan disana.

Kalau kalian rela untuk mengeluarkan sedikit lebih banyak uang dan waktu, kalian bisa pilih Vietnam sebagai destinasi kalian. Maklum, saat ini belum ada non-stop flight ke Vietnam dari Indonesia dan hampir seluruh penerbangan harus transit dulu di Kuala Lumpur atau Singapore.

Tapi sangat beralasan kenapa saya merekomendasikan Vietnam untuk kamu yang berencana untuk ke luar negeri pertama kalinya. Kenapa? Karena Vietnam punya berbagai tipe iklim, dimana buat kamu yang pengen coba dinginnya winter, kalian bisa coba berpetualang ke Vietnam bagian utara di kisaran bulan Desember atau Januari.

Memang ga sampai bersalju sih (kecuali Januari di daerah Sa Pa katanya!), tapi ya lumayan berasa dingin-dinginnya khan. Cocok kalau kalian berencana bulan madu. ๐Ÿ˜›

(+)

Alasan pertama saya kenapa memilih Vietnam sebagai destinasi liburan saya sebetulnya cukup konyol. Jadi, jaman saya tinggal di Jeddah dulu, seringkali penumpang saya nanya saya berasal darimana kalau terbang. Berdasarkan pengalaman, saya sudah cukup bosan dibasa-basiin ngobrol pakai Bahasa Indonesia tiap kali jujur soal kewarganegaraan saya. Akhirnya, saya membiasakan berbohong sama penumpang dengan ngaku-ngaku sebagai orang Vietnam.

Nah, alasan inilah yang memotivasi saya untuk betul-betul mengunjungi Vietnam. Ga tanggung-tanggung, saya pun langsung merencanakan untuk berpetualang sekaligus dari Utara ke Selatan selama 10 hari.ย 

Kelebihan Vietnam adalah karena Vietnam memiliki corak iklim yang lebih beragam daripada negara lain di Asia Tenggara.

Selama berpetualang menyusuri tanah kelahiran Paman Ho ini, ga pernah terbersit sedikit pun kekecewaan saya akan keputusan saya ke Vietnam karena exposure yang berbeda di setiap tempat yang saya kunjungi disana.ย Saya memulai perjalanan saya di Hanoi, tepatnya di malam Natal bulan Desember dan disana saya cukup kedinginan. Terus saya melanjutkan perjalanan ke dataran tinggi di Sa Pa dimana saya sempat kaku di tempat tidur saking dinginnya dan ga ada yang meluk. Eh. :/

Selama 10 hari di Vietnam itu, saya merasakan dari mulai dingin banget sampai harus pake berlapis-lapis pakaian di Sa Pa, sampai ke kegerahan dan cuma mengandalkan hotpantsย di Ho Chi Minh City.

Kalau kalian ga punya waktu sebanyak saya untuk menyusuri Vietnam, kalian bisa pilih spot-spot sesuai dengan ketertarikan kalian. Misalnya, kalau kalian suka pegunungan dan trekking, kalian bisa ke Sa Pa untuk ikutan trekking sekaligus mengenal suku minoritas mereka, Black Hmong. Kalian juga bisa mencoba pengalaman bermalam sambil berlayar menyusuri Ha Long Bay, atau sepedahan sambil liat-liat lampion cantik malam hari di Hoi An. Kalau kalian suka kehidupan urban, kalian juga akan cukup bahagia di Ho Chi Minh City.

Saya suka film-film kolosal dan pada dasarnya suka sejarah, sehingga berada di Vietnam dan mencoba mengerti cerita di balik Perang Vietnam adalah sensasi tersendiri bagi saya pribadi.

Dengan latar belakang Perang Vietnam, sebagai seorang history junkie Vietnam betul-betul membekas buat saya karena di Vietnam lah pertama kalinya saya masuk museum hingga lemas karena ga sanggup ngebayangin kejadian pas perang terjadi. Saya ga bohong, waktu masuk War Remnants Museum, saya sempat harus mojok buat ngapus air mata saya yang akhirnya malah memaksa saya buat bener-bener ke WC saking ga kuatnya. Padahal dibandingin ade saya, saya ini masih tergolong pemberani dan tangguh serta jarang nangis kalau nonton film sekalipun. :/

Selain itu, untuk keseluruhan Vietnam pun cukup murah walaupun kebanyakan kalau ikut tur mereka ikut kurs USD. Tapi untuk hal-hal seperti akomodasi dan transportasi ga perlu kuatir, karena VND ini nilainya jauh di bawah rupiah. ๐Ÿ˜‰

Buat kalian yang ga suka commuting, kalian pun ga perlu kuatir karena di Vietnam juga tersedia Grab Bike seperti di Jakarta. Bahkan dengan rate harga yang jauh lebih murah serta driver yang ramah-ramah. Tapi kalau soal ramah sih kayanya hampir seluruh orang Vietnam ramah sih, saya aja bisa ketemu random sama orang di Chatime, sampai sekarang masih berteman di Facebook walaupun cuma ketemu beberapa menit. ๐Ÿ˜€

Saya dan Christine serta suami istri pemilik Sapa HL Studio menikmati kopi dan teh bersama.

Dan terakhir, Ca Phe Sua Da atau es kopi Vietnam yang sempat populer karena kasus Mirna-Jessica beberapa waktu lalu. Saya bukan peminum kopi, tapi ketika di Vietnam saya ga bisa ga minum es kopi Vietnam ini barang sehari aja. Bener-bener deh. Dan hingga saat ini, saya belum pernah nemu es kopi Vietnam di Jakarta yang mengalahkan rasa Ca Phe Sua Da di Vietnam-nya. ๐Ÿ™

Soal makanan pun jangan ditanya, dari mulai pho sampai banh mi saya suka semuanya!

Intinya sih ini ceritanya kerupuk udang khas Indonesia. Mungkin semacam kerupuk palembang KW 100 yang dijual di Saigon. Rasanya jangan tanya, enakan kerupuk udang Palembang atau Sidoarjo dimana-mana. ๐Ÿ˜€

(-)

Mungkin yang cukup sulit di Vietnam adalah dari segi komunikasi karena logat orang Vietnam yang agak sulit ditangkap oleh kuping saya. Ibaratnya, walaupun mereka bisa Bahasa Inggris, tapi kadang saya ga ngerti mereka ngomong apa. Hmm.

Tapi itu ga jadi alasan saya untuk kapok ke Vietnam lagi karena bagaimanapun, Vietnam adalah salah satu negara yang sangat membekas di hati saya. Dan saya akan kembali kalau seandainya ada kesempatan untuk kesana lagi.

Nah, kurang lebih itu 3 negara yang menjadi rekomendasi saya untuk kalian yang tertarik untuk traveling ke luar negeri untuk pertama kalinya. Semoga postingannya bermanfaat, dan kalau kalian butuh saran terkait ketiga destinasi tersebut, jangan sungkan untuk hubungi saya yah. Cheerio! ๐Ÿ˜€

7 thoughts on “Rekomendasi Destinasi Untuk Jalan-Jalan Ke Luar Negeri Pertama Kali (Yang Bukan Singapore!)

    1. betul banget, mas.. indonesia masih luar buat diexplore, aku aja blom pernah ke bali nih. abisnya tiap kali mo ke bali ada aja alasan sampai akhirnya ga jadi. mudah2an taun ini deh bisa kesana. hehe. ๐Ÿ˜€

  1. Wow bener banget Singapore itu mahal banget biaya hidupnya, mau belanja2 pun males karena harganya malah dan sebagian besar ada di Indonesia.. kalau disuruh pilih Singapore apa Thailand saya pilih Thailand lagi.. great food and great shopping ๐Ÿ™‚

    1. Bener banget Mbak, kalau disuruh pilih Thailand sama Singapore mending Thailand karena Singapore paling menang di harga tiket pesawat aja yang murah, biaya disananya bikin susah kencengin iket pinggang. ๐Ÿ˜›

Tinggalkan Balasan