Perempuan Akhir 20an Masih Sendirian: Balada Bosan Jadi Pagar Ayu, Tapi Males Mikirin Drama Jadi Pengantin

Daftar Isi

Kemarin tiba-tiba aja Ninut kirim Whatsapp nanya bisa telepon atau engga.

Di satu sisi, saya heran kenapa dia tiba-tiba kirim mesej mau telepon. Di sisi lain, saya udah berteman cukup lama sama makhluk eksentrik satu ini sehingga ga ada yang aneh dari kelakuan dia yang sering sekali timbul tenggelam. Bisa mendadak cerewet pengen ngobrolin geje, terus lagi asik-asik ngobrol mendadak ngilang. Sudah biasa.

Sedikit latar belakang pertemanan saya dengan Ninut adalah karena usut punya usut Ninut ini ternyata teman saya dari TK. Saya udah ga inget kalau kita ternyata pernah berteman sampai ketika kuliah dan menjadi teman dekat, dia dengan bangga nunjukkin foto saya sama dia di sekolah. Nah, setelah lulus kuliah Ninut pindah mengembara ke Benua Biru dan saat ini berdomisili di Denmark.

Dan ketika akhirnya kita tersambung melalui free call di Whatsapp, akhirnya saya mengerti maksud dan tujuan Ninut telepon: Ninut mau nikah.

Sebagai sahabat, tentu saya ikut bahagia mendengar berita tersebut walaupun saya langsung konfirmasi rencana waktu dan tanggal dia menikah supaya ga bentrok sama rencana jangka panjang saya.

Ninut pun langsung cerita panjang lebar soal ribetnya ngurusin birokrasi pernikahan, karena dia baru aja ke Kedutaan Jerman di Copenhagen untuk sumpah kalau dia berstatus tidak menikah untuk proses dokumen ijin menikah untuk calon suaminya, Andreas, yang memang kewarganegaraan Jerman.

Dan layaknya wanita umumnya yang akan menikah, Ninut pun langsung sedikit bercerita soal drama menikah, dari mulai lokasi dan konsep pernikahan, dan bagaimana nasib piala bergilir LOMICERs yang kita buat kalau Ninut menikah. Apakah harus dibawa ke Copenhagen dan dikirim melalui Fedex kalau next time ada yang menikah lagi, atau ditinggal di Bandung.

Piala bergilir LOMICERs yang didesain oleh Akin, adik saya sesuai dengan permintaan cewek-cewek rempong LOMICERs yang berprinsip kalau kita strong and independent women. 😀

Setelah selesai bicara dengan Ninut melalui telepon, saya mulai berpikir kenyataan cukup pahit yang selama ini sudah saya sadari tapi malas mengakui: saya sudah memasuki masa lebih dari cukup umur untuk menikah.

Bukannya saya ga pernah sadar, karena saya sudah declare kepada dunia kalau mungkin kehidupan saya ini mirip-mirip kaya Katherine Heigl di 27 Dresses yang kerjaannya jadi bridesmaid terus tapi nunggu waktu yang lama banget sampai akhirnya jadi bride.

Bedanya cuma kalau Katherine Heigl disitu adalah sosok perempuan yang betul-betul jomblo dan ga punya cowo, kalau saya biasanya cowo mah ada aja tapi bukan buat diseriusin. Eh. Terus. Salah. Siapa. Bye.

Gimana engga? Saya ini hampir setiap tahun selalu aja dapat bahan buat bikin baju jadi pagar ayu, itupun ga tanggung-tanggung dari mulai standar sanggul sampai harus pake kerudung pun saya jabanin demi persahabatan.

Dari mulai pernikahan adat Sunda, Jawa sampai terbang ke Malaysia dan pakai baju kurung dan kerudung udah saya jabanin sebagai pagar ayu.

Apakah saya sudah berada di titik bosan menjadi pagar ayu dan pengen segera jadi pengantin? Mungkin. Tapi apakah saya sudah siap dengan drama akan perayaan pernikahan sebagai calon pengantin? Sepertinya belum.

Seusai pembicaraan saya dan Ninut melalui telepon, saya langsung ngeluh sama ibu saya yang saat itu ada di sebelah saya dan bilang kalau saya menikah kayanya saya mau register ke KUA atau catatan sipil aja.

Saya sebenernya pengen jadi pengantin di pesta pernikahan sederhana yang isinya cuma orang-orang terdekat saja, tapi kalau saya pikir-pikir, dengan tipikal keluarga Indonesia yang rempong dengan jumlah anggota yang banyak banget, seandainya ada perayaan pun ga akan sesederhana itu.

Bisa dibayangin, ibu saya aja punya adik-kakak yang jumlahnya 10 orang yang semuanya sudah beranak pinak dengan kekeluargaan ala Sunda yang dekat satu sama lain sehingga suka kepo dimana satu orang kudu tau urusan orang lainnya. -_-

Yang kalau dipikir-pikir, mungkin ini alasannya hingga saat ini saya ga pernah pacaran atau berhasil di-PDKT-in sama cowok Sunda. Mungkin sedikit banyak saya trauma dengan kekepoan keluarga sendiri.

Belum mau nikah aja saya udah pusing dibuatnya.

Yah, walaupun sebenernya saya ga perlu repot-repot mikirin nikahannya dulu sih. Calon pengantin cowonya aja masih wallahualam.

Percayalah, akhir-akhir ini saya betul-betul dihadapkan oleh begitu banyak drama pernikahan dari sisi calon pengantin perempuan yang bikin kepala saya pening walaupun saya bukan calon pengantinnya. Lain Ninut, lain lagi Rie, bekas teman sekantor saya dulu.



Kasusnya Rie ini, dia sebetulnya sudah resmi menikah dengan suaminya 1.5 tahun lalu, tapi hanya registered dan sekarang berencana untuk mengadakan resepsinya di Bali pertengahan bulan ini.

Apa yang terjadi adalah, Teddy yang kewarganegaraan Perancis tiba-tiba kehilangan paspor-nya di Kuala Lumpur dan setelah proses pembuatan paspor sementara di Kedutaan Perancis dan memproses visa di Kedutaan Indonesia, mereka diinformasikan bahwa visa tidak bisa dibuat tanpa adanya surat sponsor apabila menggunakan paspor sementara.

Alhasil, Rie langsung panik dan pagi-pagi mengirimkan pesan panjang yang baru saya buka pas bangun tidur.

Maklum, pengangguran biasanya baru bangun jam 10 pagi tiap hari. 😛

Saya mungkin ga tau rasanya berada dalam posisi calon pengantin dalam drama pernikahan, tapi saya pun ga tega pas baca bagian “I can’t imagine having wedding without the groom”. 🙁

Alhasil, saya pun langsung sibuk telepon Imigrasi sana-sini untuk cari info apakah surat sponsor ini bisa diproses melalui kantor imigrasi di Bandung dan apa-apa saja syaratnya. Dan ternyata, dari seluruh nomor telepon kantor imigrasi yang tertera di website, cuma nomor kantor imigrasi yang betul-betul bisa dihubungi. Kantor imigrasi di Jakarta hasilnya nihil. Hidup Bandung!

Sebagai info, jika ada diantara kalian yang mengalami peristiwa serupa dan harus menyediakan surat sponsor untuk WNA dalam proses pengurusan visa, kalian bisa membuat surat yang menyatakan bahwa kalian siap menjadi sponsor untuk WNA tersebut dan membawa dokumen yang diperlukan (fotokopi KTP dan KK untuk sponsor, serta fotokopi paspor untuk WNA yang akan disponsori) ke Ditjen Imigrasi yang lokasinya di Kuningan.

Berhubung saya saat ini berada di Bandung, untungnya ada teman kantor Teddy yang di Jakarta bisa membantu untuk proses ke Imigrasi ini. Belum ada kabar dari Imigrasi, tapi saya bisa mengerti bagaimana stress-nya Rie memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi karena peristiwa beberapa hari ke belakang ini.

Life works in a mysterious way, especially when it comes to the wedding. And the marriage for the rest of your life. 

Yang saya tangkap sih sebetulnya simpel, drama menjelang pernikahan itu sifatnya hampir 100% absolut. Begitu juga drama kehidupan. Tapi yang terpenting dari segalanya adalah kalian berada dengan orang-orang yang membantu kalian sehingga kalian mampu untuk melalui drama tersebut. Simpelnya, ga penting dramanya seperti apa, yang penting kalian bersama dengan siapa.

Mungkin esensi ‘bersama dengan siapa’-nya itu yang belum saya temukan dalam sosok lawan jenis yang sejauh ini saya temui. Belum lagi mikirin perintilan dari keluarga yang bersangkutan.

Rasa-rasanya, saat ini walaupun bosan jadi pagar ayu terus, mungkin saya menganggap ini waktu untuk saya belajar dari satu drama ke drama lainnya supaya saya sendiri ga ‘kaget’ pada saat bagian saya nanti. Practice makes perfect khan yah?

Mudah-mudahan.

Sementara itu, saya hepi-hepi aja sih seru-seruan nangkep bunga di setiap pernikahan. FYI, saya nyaris dapet bunga-nya sih di nikahan Priska taun lalu. So close yet so far. Belum rejeki. Kaya jodoh. Bye.

One thought on “Perempuan Akhir 20an Masih Sendirian: Balada Bosan Jadi Pagar Ayu, Tapi Males Mikirin Drama Jadi Pengantin

Tinggalkan Balasan