Pelecehan dan Kekerasan Terhadap Perempuan: Karena Tak Selamanya Diam Itu Emas

Umur saya 22 tahun ketika saya baru menyelesaikan studi saya dan memutuskan untuk pindah sementara ke Jakarta untuk berpartisipasi dalam sebuah pagelaran olahraga regional disana.

Ketika banyak teman-teman saya yang langsung memilih bekerja di perusahaan setelah lulus kuliah, saya memutuskan untuk menunda mencari pekerjaan dan berpartisipasi dalam pagelaran olahraga tersebut untuk mempersiapkan mental dan menambah soft skill saya sebelum bekerja secara profesional.

Pertimbangan saya saat itu, pagelaran olahraga regional yang diadakan di Jakarta ini merupakan salah satu pagelaran olahraga terbesar di Asia Tenggara dengan ribuan tamu dari negara-negara tetangga. Kalau saya berpartisipasi di acara ini, maka setidaknya saya akan memiliki sedikit pengalaman ketika mencari pekerjaan sesungguhnya selain saya juga mencoba memanfaatkan acara ini sebagai ajang networking yang mungkin akan membuka peluang-peluang bekerja ke depannya.

Siapa yang sangka ternyata partisipasi saya dalam ajang kompetisi olahraga regional ini tidak saja membuka wawasan saya mengenai profesionalisme dan menambah teman, tetapi ajang olahraga ini juga membukakan mata saya terhadap suatu isu yang lebih besar: pelecehan terhadap perempuan.

Pelecehan Seksual dan Bagaimana Rasanya Menjadi Seorang Korban

Di ajang olahraga yang sama, saya menjadi korban pelecehan seksual ketika seorang supervisor menjebak saya di sebuah kamar hotel setelah selesai bertugas tengah malam.

Ketika saya protes dan minta untuk pisah kamar, supervisor saya, sebut saja D, dengan santai bilang kalau kamar hotel sudah penuh dan rekan-rekan saya yang lain akan menuduh saya yang bukan-bukan kalau saya membangunkan mereka untuk berbagi kamar.

Apakah akhirnya saya bisa tidur dengan lelaki asing di tempat tidur sebelah? Tentu tidak.

Dan suasana semakin parah ketika beliau tiba-tiba pindah ke tempat tidur saya dan berusaha untuk menyentuh saya. Saya terbangun dan dengan sedikit gusar berusaha mengancam untuk berteriak kalau beliau berani melakukan hal lebih jauh dari itu.

Waktu itu belum jaman WhatsApp atau LINE yang memungkinkan saya untuk langsung berkomunikasi dengan teman-teman minta pertolongan. Alhasil, saya cuma bisa terjaga semalaman karena takut lengah dan beliau berani untuk mencoba melakukan hal yang sama lagi.

Sumber: https://pixabay.com/en/oppression-women-violence-barbie-458621/

Pelaku pelecehan terhadap saya saat itu adalah seorang laki-laki yang mencitrakan diri beliau sebagai seseorang yang cinta keluarga dengan foto istri dan ketiga anaknya kerap kali muncul di lini waktu Facebook saya. Peristiwa itu tidak saja membuat saya trauma, tapi membuat saya merasa sangat bersalah baik terhadap diri sendiri atau keluarga beliau.

Keesokannya, saya menceritakan apa yang terjadi ke beberapa teman satu tim saya hanya untuk mendapatkan rasa kecewa karena sebagian dari mereka malah cenderung menyudutkan saya dalam kasus ini.

Bagi sebagian dari mereka, kesalahan ada pada tangan saya karena sejak awal saya mengiyakan ajakan beliau untuk makan malam terlebih dahulu padahal saya berada di posisi sadar betul kalau beliau sudah beristri.

Saya pikir nasib saya sudah cukup apes karena sudah menjadi korban pelecehan, tapi ternyata keadaan bisa lebih buruk lagi karena secara nyata di depan saya malah ada yang menyangka saya sebagai seorang perempuan murahan.

Banyak pertanyaan yang muncul ketika saya dihadapkan oleh kejadian tersebut, karena saya mulai bertanya-tanya apakah itu memang salah saya untuk berpikir positif terhadap ajakan makan malam yang saya pikir biasa terjadi dilandasi oleh dasar pertemanan?

Apakah seharusnya saya diam saja dan mengubur rapat-rapat kejadian ini sendirian supaya yang tau apa yang terjadi malam itu cuma saya, si supervisor dan Tuhan? Apakah wajar teman-teman saya menganggap saya wanita murahan?

Dari kejadian itu, setidaknya saya mempelajari tiga hal yang cukup vital untuk pembentukan karakter saya hingga saat ini.

Pertama, adalah untuk tidak mudah percaya terhadap pencitraan yang ditampilkan seseorang di khalayak umum tanpa mengenal mereka lebih jauh. Selain itu, saya juga dibukakan mata bahwa memang pelecehan seksual itu benar adanya, dan lebih apes lagi karena saya menjadi korbannya. Yang terakhir adalah bahwa terkadang, atau bahkan seringkali, pelecehan yang terjadi bisa menjadi bumerang bahkan kepada korban pelecehan seksual tersebut.

Begitu mudahnya teman-teman saya menganggap saya sebagai seorang perempuan murahan tanpa mengetahui betapa takutnya saya ketika menyadari apa yang terjadi terhadap saya, dan hal yang lebih buruk apa lagi yang mungkin terjadi saat itu.

Dan ketika saya mendapati teman-teman saya malah mengucilkan saya karena apa yang terjadi, saya merasa dihantam untuk kedua kalinya: tidak cukup rasanya saya menjadi korban pelecehan, sekarang saya juga jadi kehilangan (beberapa) teman.

Saya Tidak Sendirian

Saat ini, hampir 8 tahun lamanya setelah kejadian tersebut terjadi kepada saya, mental dan pemikiran saya sudah berkembang jauh dari saat saya baru lulus kuliah saat itu. Saya sudah bisa melihat hikmah dari kejadian-kejadian tersebut, dan mengambil apa yang terjadi sebagai proses pembelajaran hidup.

Sayangnya, selama 8 tahun ke belakang ini juga lah saya menemukan begitu banyak kejadian yang menyangkut pelecehan dan juga kekerasan terhadap perempuan. Saya bukan satu-satunya perempuan di Indonesia yang menjadi korban.

Kasusnya pun beragam dan terjadi kepada begitu banyak perempuan dari berbagai kalangan.

Dimulai dari kejadian seorang teman yang tiba-tiba disentuh dengan tidak senonoh oleh lelaki yang berpapasan dengannya ketika sedang berjalan kaki, drama pertengkaran sepasang kekasih di parkiran pusat perbelanjaan, hingga yang terakhir adalah kasus salah satu tante saya yang mengalami KDRT hingga akhirnya berbuah perceraian.

Baru beberapa waktu lalu, ketika saya membaca satu berita di media nasional terkait dengan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan, saya menyadari bahwa saat ini di Indonesia dapat dikategorikan darurat kasus kekerasan terhadap perempuan dengan jumlah kasus yang terjadi tahun lalu setidaknya ada 259.150 kasus yang tercatat, diantaranya berdasarkan kasus yang ditangani baik oleh Pengadilan Agama atau lembaga mitra pengadaan layanan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2017/03/07/19240821/2016.ada .259.150.kasus.kekerasan.terhadap.perempuan.

Miris? Memang.

Lebih miris lagi karena angka tersebut hanya berasal dari kasus yang sudah terekam secara formal di lembaga-lembaga terkait. Kenyataannya, masih banyak korban yang memilih untuk diam yang menyebabkan mungkin ribuan kasus lainnya terjadi secara terselubung.

Kalau boleh sedikit mengaitkan kasus pelecehan seksual yang terjadi kepada saya 8 tahun yang lalu, kasus saya di masa lampau tidak termasuk dalam persentasi dan data yang masuk dalam infografis diatas. Kenapa? Karena saya memilih untuk diam dan tidak melaporkan kejadian tersebut secara formal. Namun, pertanyaan berikutnya adalah: ada berapa orang yang seperti saya?

Terlebih, ada berapa orang yang seperti saya dan mengalami pelecehan atau kekerasan seksual berkali-kali tapi diam saja?

Ibaratnya, kalau mau bersyukur dengan keadaan, setidaknya komitmen saya dengan pagelaran olahraga hanya berlangsung selama satu bulan dan saya tidak dihadapkan oleh kenyataan harus terus-menerus bertemu dengan pelaku yang melecehkan saya.

Tapi, ada berapa perempuan yang tidak seberuntung saya dan harus terus menerus dihadapkan untuk bertemu dengan pelaku karena mungkin, pelaku kekerasan atau pelecehan tersebut, ironisnya, adalah orang terdekatnya? Atau mungkin kamu adalah salah satunya?

Kalau iya, satu saran saya: ini waktunya kamu untuk berbicara.

Diam Tak Selamanya Emas

Ada pepatah yang bilang, kalau diam adalah emas. Tapi, saya kurang setuju karena ada berbagai konteks yang tidak sesuai dengan pepatah tersebut. Ada saatnya ketika diam bukanlah emas, dan ada saatnya ketika diam malah akan membawa bencana.

Hal ini termasuk dalam konsep pelecehan dan kekerasan seksual dimana siapapun kamu, dimanapun kamu, ketika dihadapkan dengan kekerasan dan kamu memerlukan perlindungan, maka kamu berhak untuk mendapatkan itu semua.

Kenapa? Karena kamu memiliki nilai yang sama di mata hukum, dan sebagai manusia kamu memiliki sebuah hak yang hakiki: hak asasi manusia.
Sumber: https://unsplash.com/photos/tSfuLGojT60

Saya mengerti, untuk sebagian orang mungkin berbicara itu sulit terlepas apa alasan kalian memilih untuk diam.

Dulu, saya memilih diam dan tidak melaporkan orang yang melecehkan saya karena saya pikir kejadian masih bisa terkontrol karena beliau tidak menyerang saya ketika saya menolak.

Tapi, tidak sedikit orang-orang yang memilih diam karena faktor lainnya, dari mulai malu karena merasa hal tersebut aib, dan terlebih merasa tidak punya hak bersuara hanya karena mereka adalah perempuan.

Untuk kamu yang masih memiliki kendala seperti itu, setidaknya ada dua UU yang melindungi kamu apabila kamu menjadi korban kekerasan, diantaranya UU no. 7 tahun 1984 yang merupakan pengesahan konvensi penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Selain itu, ada lagi UU no. 5 tahun 1998, yaitu pengesahan konvensi menentang penyiksaan dan perlakuan atau penghkuman lain yang kejam.

Kamu sudah mengerti posisi perempuan dan bagaimana tak seorangpun berhak mendapat perlakuan kekerasan atau pelecehan, saatnya kamu bicara!

Kalau kamu adalah korban dari kasus pelecehan atau kekerasan, atau kamu kenal seseorang yang mungkin hidupnya terancam karena selalu tersudutkan oleh kasus yang sama, kamu bisa mulai membuka diri dan lapor melalui Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban atau LPSK.

Tidak perlu takut, tidak perlu sungkan, karena LPSK ini merupakan lembaga mandiri yang bertugas untuk membantu dan memberi perlindungan kepada saksi dan korban selama proses hukum berlangsung terkait dengan kasus yang berkaitan.

Ini sudah tahun 2017, saatnya kamu untuk bicara dan katakan tidak terhadap segala jenis kekerasan dan pelecehan. Karena seperti pembukaan UUD 1945 yang selalu dibacakan tiap kali upacara: kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Dan tanpa wanita, bangsa pun tak akan ada.

Referensi:

http://nasional.kompas.com/read/2017/03/07/19240821/2016.ada.259.150.kasus.kekerasan.terhadap.perempuan.
http://www.mampu.or.id/id/partner/komnas-perempuan

loading…


6 thoughts on “Pelecehan dan Kekerasan Terhadap Perempuan: Karena Tak Selamanya Diam Itu Emas

    1. hallo mbak icha, thank you for dropping by! 🙂
      betul, budaya patriarki kita memang masih cenderung menomorduakan kaum perempuan. tapi sebetulnya kita cukup beruntung, karena kita setidaknya masih punya lembaga-lembaga seperti LPSK ini dan setidaknya suara perempuan masih ‘didengarkan’.
      saya sempat tinggal di saudi, dan jelas sebagai perempuan yang tinggal di indonesia saat ini saya lebih nyaman daripada harus balik lagi kesana. 😀

  1. Keren mbak, saya salut dengan keberanian mbak. Saya pun pernah “disiulin” ketika saya jalan kaki menuju tempat les. Tapi ya itu tadi, apakah “disiulin” juga termasuk pelecehan? Memang sepele sih. Rasanya tidak nyaman bahkan saya harus marah-marah atau pasang muka jutek ketika ada yang seperti itu.

    1. sebetulnya kalau mau ikutan aturan-nya ‘free country’ sih, disiulin aja udah termasuk pelecehan. tapi di sisi lain, budaya patriarki dan kebiasaan masyarakat kita yang emang dari dulu suka ga suka me’lumrah’kan perlakuan seperti itu, jadi kadang buat cewe2 kaya kita yang suka ‘disiulin’ atau ‘dipanggil2 mesra’ tiap jalan kaki, jadinya cuma berasa anyep dan pasang muka judes aja sebagai self-defense. masih lama sih kayanya buat bikin orang-orang aware mengenai isu ini, tapi setidaknya kita bisa mulai dari hal-hal kecil khan dengan cara ga ngeladenin mereka kalo ngga beneran dilawan sekalian. take care say! 😀

Tinggalkan Balasan

loading...