Moedhir Smoked Factory: Akhirnya Ada Juga Yang Meluruskan Bahwa Kebab Yang Dikenal di Indonesia Sebenarnya Shawarma!

Waktu pertama kali denger Moedhir Smoked Factory, sesungguhnya saya gak terlalu ngeh ini tempat apa karena saya pikir ini semacam kafe-kafe dengan andalan daging asap biasa.

Pas saya nyampe sana, ternyata undangan pertama yang saya terima sebagai salah satu anggota grup Blogger BDG ini ternyata merupakan sebuah kebetulan yang menyenangkan. Kenapa? Karena salah satu menu andalannya adalah… Shawarma! Dan mereka nyebut shawarma dengan sebutan asli: shawarma.

Sebagai seseorang yang pernah menghabiskan sebagian kecil hidupnya di Turki dan Saudi Arabia, sejujurnya saya punya pet peeve soal kebab dan shawarma ini.

Di satu sisi, saya pengen ngasih tau soal kebab disini itu sebenernya shawarma. Tapi di sisi lain, branding ‘kebab’ disini kayaknya udah kuat banget sampai kalau saya kasihtau biasanya dianggap omong kosong belaka. 😐

Sebelumnya nih, saya ngaku dosa dulu… Saya ini tipe orangnya yang agak belagu, yang kadang-kadang annoying jadinya ngajarin orang kalau misalnya ada hal-hal yang saya yakin saya tau jawaban benernya.  Salah satunya ya soal kebab ini. Yang biasanya ditanggapi sinis sama orang-orang karena dianggap omong kosong. HAHA.

Walaupun waktu icip-icip kemarin saya pura-pura anak bawang aja, karena baru pertama kali kumpul sama temen-temen dari Blogger BDG. 😛

Shawarma adalah salah satu makanan andalan saya kalau lagi belum gajian jaman saya dulu tinggal di Saudi. Layover boleh di hotel bintang lima, tapi nyampe bandara jangan lupa beli makan malam 5 SAR: shawarma.

Oke, sekarang lanjut yah ke perkenalan saya sama Moedhir Smoked Factory ini. Apa bener Moedhir Smoked Factory ini kafe dengan menu andalan daging asap?

Moedhir Smoked Factory

Logonya Moedhir Smoked Factory.

Moedhir Smoked Factory ini lokasinya di Jl. Emong no. 40C, Bandung. Posisinya sendiri gak terlalu jauh dari sekolah BPI, jadi lumayan terjangkau buat temen-temen yang mungkin tinggal atau nginep di daerah Asia Afrika dan sekitarnya.

Sesampai disana, saya otomatis langsung cek menu dan sesungguhnya mendadak happy waktu liat ada shawarma di salah satu menu. Dan ternyataaaaa… Moedhir Smoked Factory sendiri dinamakan ‘moedhir’ karena diambil dari kata ‘moedhir’ yang dalam Bahasa Arab artinya pemimpin.

Jadi gini, saya ini tinggal 1.5 tahun di Arab ga bisa Bahasa Arab, cuma tau ‘aywa’ sama ‘la’ doang. Sama ada lah beberapa kata umpatan, thanks to mantan pacar saya orang Tunis yang bad influence. HAHAHA.

Tapi, saya tinggal di Turki selama 3 bulan, Bahasa Turki saya lumayan jago dan berhubung dulu jaman tinggal di Turki sering bolak-balik ke kantor müdür di yurt tempat saya tinggal, saya langsung ngerti. Iya, khan Bahasa Turki banyak saduran Bahasa Arab-nya, walaupun gak mirip. Moedhir dan müdür ya mirip, artinya sama-sama ‘leader‘.

Mas Andi dan beberapa tim internal di dapur Moedhir Smoked Factory.

Baru disini, Mas Andi, salah seorang dari tim Moedhir Smoked Factory jelasin kalau disebut smoked factory sendiri karena sebetulnya Moedhir ini lebih banyak bergerak sebagai supplier untuk daging asap ke rumah-rumah atau ke hotel.

Moedhir Smoked Factory
Contoh kemasan daging asap vacuum dari Moedhir Smoked Factory dengan ukuran 200 gram, terdiri dari sayap ayam yang dibandrol IDR 30.000, ayam fillet IDR 35.000, dan daging sapi IDR 100.000.

Gak tanggung-tanggung, salah satu langganan Moedhir Smoked Factory ini adalah hotel yang jadi tempat layover pramugari Emirates di Jakarta Tangerang. Bisa tebak hotel apa?! 😛

Untuk dine-in sendiri, walaupun Moedhir Smoked Factory punya tempat sendiri, tapi untuk saat ini tempatnya sendiri belum terlalu besar. Dan memang kebanyakan yang pesen sekarang sih kalau enggak untuk take away atau delivery.

Kebetulan, sekarang Moedhir Smoked Factory juga free delivery sekota Bandung tanpa minimum order. Untuk saat ini, delivery sendiri dilakukan dari tim internal mereka karena proses untuk jadi vendor di GoFood masih dalam tahap verifikasi.

Oh iya, selain itu Moedhir juga kerjasama dengan petani dan peternak lokal di Lembang untuk sayur dan daging yang dipake untuk menu-menu mereka.

Shawarma, Bukan Kebab!

Pas pertama kali dateng, saya langsung pengen tau donk yah menu andalan disini apa… Dan Mas Andi menjelaskan kalau selain daging asap vacuum yang mereka jual, mereka juga punya andalan shawarma dimana Mas Andi jelasin kalau di Arab sana, makanan yang orang Indonesia kebanyakan sebut ‘kebab’ itu yah sebenernya disebutnya shawarma. Karena di Arab sana kebab itu bentuknya seperti sate.

Disini, saya pengen sedikit menambahkan sih… Bener banget, baik di Saudi Arabia atau di Turki untuk jenis makanan yang orang Indonesia kebanyakan kenal sebagai ‘kebab’ disebut shawarma, tapi istilah kebab antara di Saudi Arabia dan di Turki sebenernya beda. Hmmm.

Kalau di Saudi Arabia, yang bentuknya sate emang disebutnya shish kebab karena itu makanan favorit saya tiap kali pesen room service di tempat tinggal saya dulu.

Tapi, kalau di Turki, kebab kebap sendiri sebetulnya untuk nyebutin dagingnya itu sendiri. Apa yang disebut dengan shish kebab di Saudi Arabia, di Turki sebutannya şiş köfte. Sedangkan untuk roti daging sendiri, sebutannya döner kebap.

Yang membedakan döner kebap dan shawarma di Turki adalah jenis roti yang digunakan, karena kalau shawarma pake roti sejenis pita atau paratha cmiiw pokonya roti tipis itu namanya apadöner kebap biasanya pake roti jenis baguette. Gimana? Udah cukup kesel dengan kebelaguan saya?! 😛

Daftar menu dan harga Moedhir Smoked Factory.

Anyway, menu andalan Moedhir Smoked Factory ini adalah shawarma dengan harga cukup bersahabat mengingat porsinya hampir menyerupai porsi standar di Arab sana. Yang belum pernah ke Arab, harap diketahui porsinya disana cukup buat kasih makan keluarga nuklir kalau misalnya anaknya cuma satu dan porsi makannya gak kaya saya.

Roti yang digunakan untuk bahan shawarma, handmade buatan dua chef di Moedhir Smoked Factory.

Disini, Mas Andi juga cerita kalau seluruh proses pembuatan bahan makanan di Moedhir Smoked Factory ini handmade karena dua chef di belakang Moedhir, Mas Pram dan Mas Habib, berpengalaman bekerja sebagai chef di salah satu hotel bintang lima di Dubai dan negara lainnya.

Dan seluruh daging pun diproses secara alamiah, dengan cara diasap tanpa menggunakan MSG, pengawet, ataupun minyak. Artinya, selain halal, juga dijamin sehat karena proses pengasapan dagingnya pun dijamin berkualitas.

Untuk daging ayam, biasanya membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam untuk diasap. Sedangkan untuk daging sapi biasanya membutuhkan waktu lebih lama, minimal 10 jam untuk proses pengasapannya.

Proses pengasapan daging.

Dan kalaupun kamu beli jenis kemasan vacuum, daging yang kamu beli bisa tinggal dipanasin aja di teflon karena pada dasarnya dagingnya udah mateng. Walaupun sebagai mantan chef di hotel bintang lima, gak heran kalau Mas Habib dan Mas Pram gak menyarankan untuk manasin pake microwave.

Saya pribadi sih emang pada dasarnya gak doyan pake microwave, karena biasanya kalau manasin makanan pake microwave, ada ‘aroma’ microwave yang biasanya bikin makanan apapun rasanya berasa mirip-mirip kalau dipanasin pake microwave. Kamu doyan gak pake microwave? 😐

Cita Rasa, Harga, dan Kesan Pertama

Dan, tibalah waktunya buat icip-icip makanan yang jadi andalannya Moedhir Smoked Factory ini. Gak tanggung-tanggung, karena tim dari Moedhir menyediakan serangkaian makanan dari mulai appetizer sampai dessert.

Kalau dari segi tampilan sih jelas namanya juga chef-nya yang bikin pernah kerja di hotel bintang lima yah, seenggaknya makanan yang disajikan pun instagrammable. 😛

Oke, fyi kalau kalian nanya kenapa saya gak memutuskan jadi foodie terlepas dari kenyataan kalau saya tukang makan, harap diketahui kalau saya ini selain gak jago ngambil foto makanan, hampir dipastikan saya selalu lupa buat foto makanannya karena abis duluan.

Tapiiiii, karena emang untuk kali ini saya ditugaskan buat nulis review-nya nih, saya pun akhirnya maksa buat ambil foto makannya juga.

Moedhir Smoked Factory
Appetizer yang disajikan Moedhir Smoked Factory ada salad, ditambah dengan nasi rempah dan berbagai jenis daging asap.

Appetizer dan Main Dish: Salad, Daging Asap, dan Nasi Rempah!

Pilihan saus yang bisa dipilih, dari mulai saus tomat standar, thousand island sampai sambel cengek semua ada disini sis… Bisa dicustom sesuai selera! 😛

Pertama-tama, salad yang disajikan Moedhir Smoked Factory ini bener-bener fresh banget sayurannya. I really do love the salad, dan bahkan saya gak nambah saus atau mayonnaise sama sekali buat nikmatin saladnya.

Tapiiiiii, saya lebih amazed lagi sama nasi rempahnya Moedhir Smoked Factory ini. Enak bangeeeet!!!

Jadi, awalnya saya pikir yang disebut nasi rempah disini adalah semacam nasi biryani gitu khan, which I love. Tapi pas disajikan ternyata bukan nasi biryani, tapi lebih ke nasi putih dengan toping kismis dan almond, yang terlihat ‘sedikit’ berbeda dan pas dicoba… Enak banget!

Nasinya ini enak, bahkan kalau saya pribadi kayaknya gak masalah kalau harus makan tanpa lauk sekalipun karena emang rempah di nasi ini juga udah berasa banget. Kalau kata Mas Pram sih, rempah yang dipake di nasi ini ada bawang merah, bawang putih, cengkeh dan… saya lupa.

Nasi rempah-nya Moedhir Smoked Factory yang saya suka banget.

Ini lho jeng, alasan kenapa saya ini gak bisa jadi foodie. Soalnya, saya ini cuma doyan makan tanpa punya kemampuan masak. Urusan perbumbuan di dapur saya nol besar, saya cuma tau makanan yang enak dan gak enak. Itupun kayaknya saya jarang banget nemu makanan yang gak enak. 😛

Dan walaupun mungkin buat orang awam terlihat ‘aneh’ campurin kismis sama nasi, tapi rasanya saya jamin sih gak aneh. They go pretty well with each other, kecuali mungkin kamu tipe-tipe orang yang agak picky soal makanan sih yah.

The last but not least, pastinya yang paling penting karena ‘raja’ dari segala menu di Moedhir Smoked Factory ini: jenis-jenis daging asap jagoan mereka.

Kumpulan daging asap. 😛

Dari ketiga jenis daging asap (sayap ayam, ayam fillet dan daging sapi), saya pilih ayam fillet karena selain rasanya enak, juga gak perlu malu sama yang lain kalau harus gerogotin tulangnya.

Kalau biasanya saya gak malu-malu gerogotin tulang, kemarin itu saya jaim jadi cuma ngampir sayapnya satu biji aja karena ribet makannya.

Sedangkan karena emang pada dasarnya gak terlalu doyan sapi, menurut saya ayam fillet-nya Moedhir Smoked Factory is da best! 😀

Yang saya suka itu, bumbunya itu bener-bener meresap banget sama dagingnya. Jadi, walaupun gak ada kulitnya, tapi saya suka banget sama dagingnya.

Teh Lebanon atau Kopi Suriah?

Kopi Suriah dan Teh Lebanon yang gak jelas apa bedanya. 😛

Untuk minumnya, ada dua pilihan yang disediahakan: kopi Suriah dan teh Lebanon.

Kebetulan, saya sendiri kebagian nyoba teh Lebanon-nya, yang rasanya menurut saya menarik. Awalnya, saya nebak rasanya bakal kaya chai tea gitu, tapi ternyata enggak. Rasanya juga gak kayak teh tarik, tapi menurut saya enak karena gak terlalu manis. 🙂

Tampilan kopi Suriah dan teh Lebanon mirip persis dan sama sekali gak ada bedanya.

Kayaknya yang membedakan mana kopi dan mana teh dari luar cuma tempat penyimpanannya di kulkas aja. Selebihnya, susah banget bedain mana yang kopi dan mana yang teh karena warna dan kemasannya mirip persis.

Kebetulan, saya sendiri gak sempet cobain kopi-nya, jadi gak terlalu bisa bicara banyak soal kopi. Tapiiii, kalau kamu suka teh tarik tapi gak terlalu suka manis, I could guarantee that you’d like to try their Teh Lebanon! 😀

Shawarma dan Manakish

Shawarma ala Moedhir.

Makanan terakhir yang kita coba di Moedhir adalah… shawarma dan manakish!!!

Untuk shawarma sendiri, saya sempet nanya ke Mas Habib apakah serving standar-nya emang dipotong kecil-kecil gini, atau enggak. Maklum, karena kalau serving dipotong kayak gini, saya kok malah liatnya mirip martabak? 😛

Tapi ternyata enggak, ini disajikan kayak gini supaya saus yang dipake buat temen-temen dari Blogger BDG bisa pilih sendiri, karena biasanya hidangan sajian yang diberikan sausnya disesuaikan dengan permintaan customer.

Contoh penyajian shawarma standar ala Moedhir.

Untuk shawarma sendiri, Mas Pram bilang kalau bahan dasar yang digunakan di shawarma ini sebisa mungkin otentik seperti di Timur Tengah tanpa menghilangkan selera lokal. Misalnya, shawarma di Moedhir ini masih pake labneh tapi dengan takaran yang disesuaikan. Pas Mas Pram ngomongin labneh, saya malah jadi kepikiran pengen laban. Moedhir Smoked Factory gak ada niatan jual laban kah disini?! 😀 *perempuan doyan laban

Manakish dan es krim ala Moedhir.

Dan untuk dessert-nya, manakish dan es krim. Saya sendiri jaman di Arab pun gak pernah cobain manakish sih. Kenapa? Soalnya makanan ‘manis’ ala Timur Tengah tuh suka agak kebangetan, sedangkan saya tuh gak terlalu doyan manis.

Contohnya aja, ketika orang-orang banyak banget yang suka baklava di Turki, saya gak doyan. :/

Untuk manakish ini sendiri, filling-nya ada peanut butter, coklat, dan marshmallow. Menurut saya enak, dan manisnya pas. Dan untuk es krim katanya bisa minta sesuai request.

Mungkin next time kalau saya ke Moedhir lagi, saya mau minta es krimnya yang rasa coklat aja berhubung gak doyan es krim rasa lain. Hahaha. 😀

Moedhir Smoked Factory menurut Ransel Ungu

Saya suka semua makanan di Moedhir, dan nyobain daging kemasan vacuum-nya pun rasanya mirip-mirip sama yang disajikan dine-in kemarin. Kebetulan, ibu saya beberapa tahun lalu emang seneng banget dikasih Happy Call, dan alhamdulillah yah happy juga saya makan hasilnya. 😛

Untuk harga, buat saya sih harganya cukup terjangkau karena sesuai dengan kualitasnya. Yang kurang mungkin dari segi dine in aja, karena lahannya gak terlalu besar. Jadi waktu saya dan teman-teman dari Blogger BDG dateng, tempat duduk udah penuh.

Komunitas Blogger BDG, saya sendiri gak ikutan foto soalnya saya yang foto ditambah kamera saya batrenya soak. Jadi kalau minta fotoin orang lain malah takut keburu abis batrenya. 😛

Tapi emang sesuai dengan penjelasan Mas Andi, untuk saat ini emang pelanggan Moedhir Smoked Factory lebih banyak untuk take away atau delivery. FYI, Mas Pram juga sempet ngejelasin kalau misalnya kita mau beli daging asap dalam jumlah besar pun bisa, bahkan harganya biasanya lebih murah. 

Moedhir Smoked Factory
Mas Pram, Mas Habib dan Mas Andi dari Moedhir Smoked Factory.

Misalnya, kalau untuk ukuran 200 gram ayam fillet harganya IDR 35.000, kalau mau sekaligus beli 1 kilo harganya bisa cuma IDR 125.000 aja. Sedangkan untuk daging sapi, harga 1 kilonya cuma IDR 400.000. Gak perlu repot, karena cukup dipanasin aja udah enak! 😀

Selain itu, Moedhir juga terima pesanan partai besar. Bahkan nih, katanya Moedhir ini juga bisa terima pesanan nasi biryani dan bahkan menyediakan pesanan dengan menggunakan beras basmati sekalipun.

Sejauh ini, untuk pengantaran gratis untuk kota Bandung dengan kurir dari Moedhir Smoked Factory sendiri. 

Untuk pemesanan lebih lanjut, kalian bisa cek juga langsung Moedhir Smoked Factory disini:

Moedhir Smoked Factory
Jl. Emong No. 40C, Burangrang, Bandung
Instagram: @moedhirsmokedfactory | Facebook: Moedhir Smoked Factory
Delivery: +62 819 3995 0858

Gimana? Siap untuk menyebut shawarma ‘shawarma’ dan bukan ‘kebab’ lagi di Indonesia? 😛


Disclaimer: 

Postingan ini didukung oleh sponsor, dimana saya mendapatkan komisi untuk penulisan dan penayangan tulisan ini. Walaupun begitu, penulisan yang ada di dalam konten murni merupakan opini pribadi saya. 


 

5 thoughts on “Moedhir Smoked Factory: Akhirnya Ada Juga Yang Meluruskan Bahwa Kebab Yang Dikenal di Indonesia Sebenarnya Shawarma!

  1. Itu juga kenapa saya bingung waktu awal2 “kebab” di Indonesia mulai menjamur. Setau saya kebab nggak bentuknya kaya yg banyak dijual di sini deh hahaha

    Ya mungkin sebelas duabelas sama orang Mexico bilang yang dijual Taco Bell itu bukan taco

Tinggalkan Balasan