Millen, Raisa, dan Mesum di Bintaro

Beberapa waktu lalu, tiba-tiba aja Binsar nge-DM saya lewat Instagram ngajak ngobrol ngalor ngidul dengan diakhiri pesan kira-kira seperti ini: “Eh, biar lu ga bosan, coba nulis deh sehari sekali. Entah cerita atau sajak.”

Saya ga tau kenapa Binsar tiba-tiba nulis gitu, karena konteks obrolan kita waktu itu soal terapi akupresur yang sedang saya jalankan untuk Bell’s Palsy saya. Tapi, pesan dari Binsar ini cukup memotivasi saya untuk cari-cari topik apa lagi yang kira-kira bisa ditulis, karena kebetulan untuk sajak dan puisi, skill saya nyaris nihil. 😛

Dan lalu, rentetan kejadian-kejadian yang jadi viral di sosial media di Nusantara akhir-akhir ini akhirnya memaksa saya untuk mencurahkan pemikiran saya terkait isu-isu yang antara penting dan ga penting itu.

Isu apa? Apa lagi kalau bukan kasus video oral sex-nya Millen Cyrus yang keponakannya Ashanti, #HariPatahHatiNasional karena pernikahan Raisa dan Hamish Daud, dan yang terakhir video penggrebekan sepasang ABG yang lagi asyik masyuk di Bintaro.

Melihat respon orang-orang soal isu-isu ini, saya langsung teringat karakter manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis. Menurut beliau, salah satu karakter manusia Indonesia diantaranya adalah hipokrit atau munafik.

Ga usah jauh-jauh deh, ambil contoh ibu saya yang setiap hari selalu komentar soal apa yang dilakukan orang-orang yang dia kenal. Terkadang, saya pun ikut menimpali untuk nyinyirin orang yang sama, tanpa ingat kalau saya juga pernah berbuat dosa yang kurang lebih ga jauh berbeda. Tapi ga jarang, saya harus malah nyinyirin ibu saya dengan mengingatkan beliau untuk coba belajar untuk ga kepo-in urusan orang.

Definisi kepo berdasarkan Urban Dictionary.

Dan suka ga suka, rasa kepo dan pengen ikut campur urusan orang ini adalah karakter orang Indonesia yang paling familiar. Ga percaya? Coba diinget-inget lagi, udah berapa kali kalian dikatain cuma karena kalian ga punya pacar? Berapa orang anggota keluarga kalian yang nanyain kapan nikah saat lebaran kemarin?

Saya dan Akin, adik saya, setuju kalau siapapun yang joke-nya melulu masih meliputi istilah ‘jomblo’, itu artinya level intelegensi mereka masih jauh di bawah kami.

Oke, itu intermezo. Back to the recent issues soal Millen dkk, saya mau sedikit mengutarakan pendapat saya soal headline berita di Indonesia akhir-akhir ini.

Tentang Millen: Kasus Mirip-Mirip Ariel, Antara Kasian Sama Memang Resiko.

Saya sebetulnya bukan termasuk pengamat Lambe Turah karena memang saya kurang mengikuti perkembangan berita artis Indonesia. Maklum, saya udah lama ga nonton TV Indonesia dan Spotify saya pun isinya ga ada penyanyi Indonesia. Jadi walaupun ngikutin akun Lambe Turah di Instagram, kadang saya sendiri ga tau artis siapa yang diberitakan disana.

Nah, kasus Millen ini saya cuma tau kalau Millen ini adalah keponakan Ashanti, sepupunya Dek Olel yang nyaman karena berdandan seperti perempuan walaupun dia seorang lelaki.

Masalah buat saya? Ga juga. Karena dia bergaya seperti laki-laki atau perempuan ga bikin tabungan saya nambah.

Saya berada di pihak netral karena saya ga pro atau kontra soal gaya Millen ini. Dan ketika video oral sex-nya tersebar di jagat maya karena kena hack, kejadian ini langsung mengingatkan saya akan kasus Ariel Peter Pan.

Di satu sisi, Millen dan Ariel sebetulnya adalah korban karena mereka merekam apa yang mereka lakukan untuk konsumsi pribadi dan disebarkan oleh orang-orang yang ga bertanggung jawab.

Tapi, perlu diingat kalau Indonesia punya UU Pornografi yang malah bisa menjadi bumerang untuk mereka. Itulah kenapa walaupun korban, ujung-ujungnya Ariel dipenjara. Walaupun sebetulnya saya juga bingung sih, kenapa Ariel dipenjara sedangkan Luna Maya dan Cut Tari lolos.

Dari segi apa yang Millen perbuat, mungkin itu bukan urusan saya untuk komentarin. Saya percaya Millen udah cukup dewasa untuk tau apa yang terbaik untuk dirinya. Yang jadi masalah adalah karena Indonesia masih merupakan sebuah negara dengan segala macam stigma. Ditambah dengan orang-orang yang suka menghujat, jadi saya akan sangat mengerti kalau Millen mungkin sedikit banyak mengalami depresi karena kejadian ini.

Ditambah, sekarang denger-denger dia dilaporkan juga karena kejadian ini? Sudah jatuh, tertimpa tangga. Persis seperti Ariel.

Tentang Raisa dan Hamish: Sesungguhnya, Saya Ga Peduli.

Soal Raisa dan Hamish Daud, sebetulnya ga banyak yang pengen saya omongin karena sedikit banyak saya memang ga peduli.

Hamish Daud siapa aja saya baru tau beberapa waktu lalu ketika dia digosipin deket sama Nadine Chandrawinata, dan menurut saya ga ganteng-ganteng amat juga. Jadi susah buat saya patah hati juga. Hmmm.

Menanggapi pernikahan yang untuk sebagaian orang adalah #HariPatahHatiNasional ini, saya sih cuma mendoakan semoga pernikahan mereka langgeng dan ga banyak gosip-gosip miring kaya pasangan sebelah yang lakinya tetangga mantan saya waktu masih di Bandung. *eh oops jadi inget mantan 😛

Tentang Mesum di Bintaro: Indonesia, Kalian Ga Perlu Bikin Viral Semua Hal!

Dari ketiga hal yang lagi trending akhir-akhir ini, mungkin agak mengejutkan ketika isu ini yang paling bikin saya ‘panas’. Gimana engga? Karena terlepas dari penggrebekan, video ketika kejadian disebarkan tanpa sensor!

Menurut saya, yang mesum dan yang grebek sama-sama ga punya moral.

Pas saya liat video-nya, jujur saya marah. Marah sama orang-orang yang sedikit-sedikit cari sensasi bikin viral kejadian-kejadian yang nirfaedah. Dan lebih sedihnya, karena itu jadi kebiasaan jelek orang-orang kita yang menjadikan segala hal sensasi, terlepas dari apakah itu lebih banyak manfaat atau mudaratnya.

Oke, sekarang sepasang ABG ini salah karena mereka mesum di ranah publik. Tapi apa harus banget ketika digrebek divideoin waktu ke-gap dengan anak-anak ini panik belum pake celana dan bilang ampun-ampun? Dan harus banget yang kaya gini diviralkan?

Orang-orang kaya gini nih tipe orang-orang munafik yang langsung lupa dosa mereka di dunia ketika liat orang lain berdosa. Orang-orang yang bikin Muchtar Lubis menarik kesimpulan hiprocricy ala orang Indonesia.

Menurut saya, dengan mereka digrebek aja itu udah hal yang sangat sangat memalukan. Cukup dengan digrebek dan dimarahin di tempat pun udah cukup hukuman moral-nya. Mau sesuai prosedur? Telepon orang tua-nya, kalau ga mau ribet laporin ke Dinas Sosial. Jangan malah kemudian dipermalukan ke seantero jagat maya yang langsung berasa Santa semua tiap kali liat beginian.

Indonesia, please stop terlalu ngurusin urusan orang, karena saya yakin urusan hidup kalian pun masih banyak yang belum beres. Kalau emang kalian peduli dengan kehidupan yang lebih baik, apa susahnya kalian mulai dari diri sendiri?

Daripada terus-terusan menghakimi, kenapa ga kalian coba untuk belajar berempati? Daripada videoin hal-hal ga penting yang malah jadi kontroversi, kenapa ga kalian bikin film dengan bobot konten yang lebih mendidik?

Kepo boleh, tapi jangan pernah merasa cuma kalian yang paling benar. Sekian, dan terima kasih!


4 thoughts on “Millen, Raisa, dan Mesum di Bintaro

    1. iya, mbak.. dilematis karna memang khan salah mereka adalah melakukan hal tersebut di tempat umum. tapi harusnya yang grebek juga ga main hakim sendiri asal main sebar video, bisa khan mungkin diproses secara hukum melalui perda tentang kasus yang bersangkutan daripada malah dipermalukan lewat video viral seperti itu. 🙁

Tinggalkan Balasan

loading...