Menghindari Drama Grup Whatsapp Keluarga (dan Macam-Macam Grup Lainnya)

Dari dulu, saya ini orangnya cenderung anti terlalu banyak terlibat dalam komunitas kalau ga perlu-perlu amat. Jangankan komunitas macam geng motor, saya sama temen segeng kuliah saya yang menamakan diri kami Lomicers aja saya males kalau sering-sering banyak acara.

Untungnya, kalau temen-temen di Lomicers saya ga perlu pusing tujuh keliling cari alasan kalau lagi ga pengen jalan. Tinggal bilang males dan ga punya duit, beres urusan. Itu kalau misalnya ga tiba-tiba mereka datang ke rumah supaya bisa nyampah bareng tapi murah.

Saya inget, dulu waktu masih jaman Blackberry, temen-temen sekantor saya semua udah pada hijrah ke Blackberry sedangkan saya masih istiqomah pake Nokia 7160 Supernova saya karena saya superstar. Waktu itu temen-temen saya rame-rame nyuruh saya untuk ganti HP supaya bisa masuk grup SRG station, grup kantor saya dulu.

Dan ga pake pura-pura, saya langsung bilang kalau saya males mikirin diganggu sama mereka lagi, mereka lagi pas saya lagi off. Maklum, waktu itu saya rantau di Semarang dan otomatis keluarga dan temen main saya di Semarang cuma mereka. Jadi males aja gitu hidup saya dipenuhi sama mereka-mereka doang. πŸ˜›

Tapi itu dulu, karena baru-baru ini ketika saya mulai fokus ngeblog, saya jadi mulai rajin join grup ini-itu di media sosial. Ditambah beberapa kegiatan saya yang mengharuskan saya untuk ekspansi jaringan melalui cara digital ini.

Tapi, makin banyak grup yang saya ikuti, makin mengerti lah saya kalau lelucon soal drama grup Whatsapp keluarga ga cuma berlaku di aplikasi itu aja, tapi bahkan segala macem grup lainnya. Ga di Whatsapp, di LINE, di Facebook sama aja. Sama-sama riskan untuk menyebabkan prahara.

Drama Grup Sosial Media

Dari apa yang saya pelajari selama ini soal gabung grup, rasa-rasanya cuma beberapa grup aja yang bikin saya nyaman menjadi anggota karena ga terlalu rempong. Jujur, saya ini paling males gabung sama grup yang ujung-ujungnya ngalor-ngidul ngomong kemana-mana. Lebih kesel lagi, kalau udah ngalor-ngidul ngomong kemana-mana, pas bagian saya timpalin malah dicuekin. Zzz.

Ga jarang, grup-grup ini juga malah bikin berantem. Apalagi kalau bukan tabiat asli orang-orang kita yang senang sekali nyinyirin orang secara random. Ga cuma Whatsapp keluarga kok yang isinya adalah gosip tante-tante kepo, tapi bahkan grup-grup yang membernya kadang ga saling kenal pun saya perhatikan banyak banget yang suka sindir-sindiran kaya Backpacker Internasional di Facebook. πŸ˜›

Hal-hal seperti inilah biasanya yang bikin saya langsung otomatis nge-mute grup-grup yang saya bergabung di dalamnya, walaupun akhirnya saya liat juga karena saya gatel tiap liat notifikasi yang belum dibuka. Hmm.

Prinsip saya, bukankah lebih baik ga tau apa-apa daripada melibatkan diri dalam sebuah drama tanpa faedah, apalagi di sosial media? πŸ˜€

Mantra paling hakiki: post apapun yang sekiranya penting!

Ini nih masalahnya, biasanya di grup apapun itu selalu adaaaaaaa aja anggota yang merasa hal kecil seperti apapun harus dipost. Ga peduli apakah itu artikel soal Jennifer Dunn yang katanya tinggal di apartemen seharga 20 milyar, atau foto makanan yang lagi mereka makan saat ini di restoran yang kalian bahkan ga peduli dimana.

Makanya, kalau perlu sebelum bikin grup di medsos, ada baiknya buat samakan persepsi dulu untuk apa sebetulnya grup ini dibuat. Apakah untuk sekedar silaturahmi, atau berbagi informasi? Kalau berbagi informasi, informasi seperti apa yang dicari?!

Ini nih yang saya suka dari temen-temen saya di Lomicers, karena mereka bener-bener jarang update di grup kalau ga perlu-perlu amat. Dan satu-satunya grup kita berisik adalah hanya ketika kita abis ketemuan, itupun karena saling ngirimin foto yang udah diambil.

Saya dan temen-temen segeng Lomicers saya di nikahan Ninut kemarin.

Sedangkan beberapa grup sebelah, saya menemukan beberapa yang annoying banget sampai rasanya mau keluar ga tega, tapi tetep disitu juga males banget ngeceknya. Hmmm.

Hindari menanyakan pertanyaan bodoh.

Ada pepatah kalau orang itu sebetulnya ga dilihat dari apa yang dia ucapkan, tapi bisa dilihat dari pertanyaan seperti apa yang dilontarkan. Hmmm, ada benernya juga sih karena saya nemu banyak sekali postingan di grup-grup tempat saya menjadi anggota yang bikin saya sakit kepala.

Kenapa? Karena pertanyaan yang dilontarkan adalah pertanyaan yang jawabannya sebetulnya bisa dijawab dengan nalar dan logika rata-rata. Kalau udah begitu, sulit untuk menghakimi orang-orang yang melontarkan pertanyaan tersebut.

Kalau misalnya kamu pengen nanya sesuatu di sebuah grup terbuka, misalnya di grup Facebook yang isinya orang-orang yang mungkin kamu ga akan kenal, sebelum submit pertanyaan kamu, mungkin ada baiknya kamu cari dulu jawabannya di Google.

Misalnya nih, kamu mau cari tempat kursus Bahasa Inggris paling oke di Bandung, kenapa ga kamu cek dulu di Google apa aja yang keluar pilihannya. Dari situ, baru deh kamu bisa pilah-pilih mana yang sesuai sama kebutuhan kamu. Kalau kamu masih ragu, baru deh tanya ke grup kamu, kira-kira tempat kursus A sama B bagusan mana yah? Tunggu deh jawabannya dari orang-orang yang udah punya pengalaman coba dua tempat kursus yang jadi pertimbangan kamu itu.

Dan kalau kalian ga tau jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan, lebih baik diam.

Itu satu. Nah, yang lebih sedihnya lagi adalah karena ketika ada orang yang melontarkan pertanyaan bodoh, hampir pasti saya menemukan orang-orang yang malah nyinyirin mereka. Entah dengan kata-kata yang bernada hinaan atau cuma emoji dengan efek mengejek.

Oke, yang satu udah menanyakan pertanyaan bodoh. Tapi ya jangan jadi seseorang yang juga keliatan bodoh dengan nanggepin pertanyaan bodoh tanpa solusi yang jelas. Karena kalau gitu, ya berarti kalian sama aja. Hmmm.

Saran saya, kalau kalian udah nemu pertanyaan ga bermutu yang bisa dengan mudahnya dicari di search engine, mending ga usah dijawab daripada menimbulkan drama di sosial media. Apalagi kalau lawan bicara kalian adalah orang yang kalian kenal pun engga. Buang-buang energi. -_-

KenapaΒ  mending ga usah dijawab? Karena bahkan jaman belum ada telepon pun udah ada pepatah yang bilang “If you don’t have anything nice to say, you better not say anything at all.”Β 

Selain itu, kita harapkan juga dengan ga ada jawaban dari siapapun, yang punya thread menyadari kalau pertanyaan tersebut sebenernya gampang dicari jawabannya asal dia mau sedikit usaha. Kalau ternyata ga begitu, ya itu mah dia yang rugi khan? Mau tau jawaban tapi ga mau lewatin proses belajar? :/

Kalau ada yang ga sepaham, (lagi-lagi) diam adalah emas.

Kalau ngomongin soal grup keluarga, jangan tanya saya ada berapa orang anggota keluarga (extended family!) saya yang pahamnya berseberangan sama saya. Dari mulai tante yang tiap hari selalu posting kata-kata mutiara, sepupu yang doyan pasang status drama seolah-olah hidupnya paling sempurna. Kalau disebutin satu per satu, makin dosa deh hidup saya. Hmmm.

Kalau udah gitu, rasa-rasanya saya harus berterima kasih sama ibu saya yang selalu mengupdate saya mengenai hal-hal yang perlu saya ketahui sebelum benar-benar interaksi sama anggota keluarga yang sebenernya kalau ga perlu-perlu amat saya males juga sih buat deket.

Misalnya aja, jaman lagi santer soal Pemilu DKI Jakarta, ada tante yang mau dateng ke rumah saya dan ibu saya wanti-wanti buat jangan bawa-bawa nama Ahok selama dia di rumah karena tante saya ini suka berapi-api dengan jargon penjarakan Ahok.

Ajaran ibu saya cukup simpel, saya mungkin merasa paling benar tapi seringkali ga ada gunanya untuk mengajarkan apa yang saya ketahui kepada orang yang pemikirannya berlawanan.

Dan itulah kenapa saya seringkali memilih buat menjadi anggota grup pasif yang cuma nanggepin kalau ditanya, kalau engga perlu-perlu banget saya nanggepin.

Jadilah anggota pasif di grup apapun yang kalian ikuti!

Manfaatnya adalah karena kamu ga perlu repot-repot ngetik buat debat sama orang, apalagi itu keluarga kamu sendiri. Yang artinya, ketika ketemu kamu masih bisa pasang senyum palsu.

Selain itu, kalau sampai ada prahara yang ditimbulkan dari satu persoalan di grup tersebut, kamu ga perlu jadi salah satu bagian yang bermasalah. Kenapa? Karena kamu bisa dengan mudah berada di tengah-tengah, menertawakan keduanya.

Maklum, saya ini punya prinsip yang absolut: manusia itu ga ada yang sempurna, kecuali saya.

Jadi wajar kalau seringkali saya menghakimi pilihan orang-orang. Ga perlu diomongin secara langsung, cukup tertawa dalam hati aja. Ingat, ga ada yang perlu tau isi hati kita kecuali mereka nyerang kita dan kita bisa serang balik dengan apa yang kita tau.

Dan itu adalah tips untuk menjadi sarkastik dan jago ngeles kaya saya, teman-teman! πŸ˜€

Jadi, tipe yang anggota grup yang manakah kamu? Apakah kamu tipe yang suka rempong berasa semua hal yang kamu liat penting dan jadi nyampah di grup? Kalau iya, mungkin ada baiknya kebiasaan kamu itu dikurangi karena annoying.

Atau kamu tipe yang suka menanyakan pertanyaan bodoh, dan nyinyirin orang yang melontarkan pertanyaan bodoh?

Kalau kamu tipe-tipe yang lebih cenderung pasif tapi oportunis karena akan menjadi aktif ketika dipancing, mungkin ada baiknya kita bikin grup juga?

Tau khan? Macem dedek-dedek gemas yang doyan pake jaket Anti-Social Social Club? Hahahaha. πŸ˜›

Oke, sekian dulu postingan saya kali ini. Cheerio! πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

loading...