Mengerti Hari dan Jasa Kartini Kepada Bangsa Ini

“Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.” -R.A. Kartini

Dulu ketika saya masih berada di bangku TK, saya sempat bertanya kenapa kita harus merayakan Hari Kartini dan pergi sekolah memakai kebaya. Waktu itu, jawaban dari ibu dan guru TK saya kurang lebih sama: berkat jasa Ibu Kartini-lah saya yang perempuan ini bisa sekolah. 

Saya pikir, kenapa? Toh saya sendiri juga ga pengen-pengen banget sekolah karena saya males bangun pagi, apalagi harus pakai kebaya. Alhasil, saya pun berangkat ke sekolah dengan memakai kostum Polwan ketika anak perempuan lainnya memakai kebaya. Percayalah, kritis dan ngeyel itu beda tipis. Ibarat kata diagram Venn, saya ini berada di irisan antara dua himpunan. 

Sampai akhirnya saya mulai besar dan membaca buku-buku sejarah dan pahlawan nasional sendiri. Ketika itu, sisi primordialisme saya mulai bertanya-tanya. 

Kenapa Kartini digadang-gadang sebagai pionir sehingga wanita Indonesia saat ini memiliki kesempatan untuk bersekolah ketika pahlawan perempuan lain yang juga berasal dari tanah Sunda seperti saya, Dewi Sartika lah yang pertama kali mendirikan Sakola Keutamaan Istri? 
Ketika dewasa, saya mulai membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Dalam salah satu karyanya, Jejak Langkah diceritakan Minke dan Mei bertemu dengan seorang ‘wanita Jepara’ yang tak setuju dengan konsep poligami juga menuntut hak seorang istri untuk menggugat cerai apabila diperlukan. Disitu terdapat sebuah dialog bahwa ia juga berkorespondensi dengan ‘perempuan yang mendirikan sekolah di Rancaekek’ sebelum akhirnya kemudian meninggal beberapa waktu setelah pertemuan tersebut. 

Dari situlah saya mulai tertarik dengan isi dari surat-surat Kartini, walaupun sayang sekali saya belum berkesempatan untuk membaca bukunya secara keseluruhan. Sampai saat ini, saya hanya membaca kutipan-kutipannya yang saya temukan melalui internet, tetapi satu hal yang membuat respek saya terhadap Kartini lebih tinggi dari sebelumnya: idenya yang tak lekang oleh waktu. 

Kartini adalah sosok visioner yang berpikir jauh ke depan, sehingga apa yang ia pikirkan masih relevan bahkan hingga saat ini. 113 tahun kemudian sejak ia mangkat. 

Kartini adalah seorang feminis, bahkan ketika kosakata feminisme masih awam pada masanya. Habis Gelap Terbitlah Terang bukanlah hanya sekedar buku, tetapi lebih dari itu juga isinya membentuk perkembangan peranan perempuan di Indonesia dari masa ke masa. 

Pemikiran Kartini mengantar Megawati Soekarnopoetri menjadi sosok presiden wanita di Indonesia, bahkan sebelum rakyat Amerika Serikat yang konon adalah bangsa paling maju percaya untuk dipimpin oleh seorang wanita. 

Penolakan Kartini terhadap konsep poligami dan keinginannya untuk para istri bersuara membawa kita ke saat ini ketika seorang istri memiliki hak yang setara dengan suami dalam suatu ikatan bernama pernikahan. 

Tak kurang tak lebih, berkat Kartini jugalah saya ketika TK dapat memilih untuk memakai baju Polwan alih-alih kebaya untuk meramaikan karnaval Hari Kartini. Dan berkat ide Kartini jugalah saya dapat menulis tulisan ini dengan rasa bangga sebagai seorang perempuan. 

Untuk seluruh perempuan di Indonesia, dengan senang hati saya mengucapkan Selamat Hari Kartini dan semoga kita semua terus menginspirasi! 🙂 

Tinggalkan Balasan