Menengok Kampung Ahok di Belitung

Reading Time: 3 minutes

*Disclaimer: Bukan kampanye hitam.

Di postingan pertama Ransel Ungu edisi Bahasa Indonesia ini, saya mau cerita sedikit tentang pengalaman saya beberapa bulan ke Belitung, tepatnya di bulan November ketika saya dan beberapa teman memutuskan buat liburan ke Belitung.

Karena saya sendiri selain bertugas jadi supir selama liburan, saya juga jadi seksi sibuk terkait urusan rencana perjalanan, saya pun melakukan riset ini-itu terkait apa-apa aja yang bisa saya datengin di Belitung. Dan berhubung saya adalah salah satu pengagum Ahok, Kampung Ahok pun jadi salah satu tujuan saya di Belitung.

Beruntung bagi saya, karena teman-teman seperjalanan saya pun semuanya pengagum Ahok dan mereka setuju untuk ke Kampung Ahok setelah kita berkunjung ke spot-spot Laskar Pelangi, dari mulai replika SD Muhammadiyah sampai Museum Andrea Hirata.

Yang menarik adalah karena ternyata Kampung Ahok yang berlokasi di Manggar, Belitung Timur ini berada ga jauh dari Gantong, tempat masa kecil Andrea Hirata yang jadi latar Laskar Pelangi ini.

Saya dan teman-teman sendiri rental mobil untuk liburan kami di Belitung ini. Gantong sendiri berjarak sekitar 1.5 jam perjalanan dari Tanjung Pandan, yang merupakan pusat dari Kota Belitung.

Dan Kampung Ahok, yang berada di Manggar cuma menempuh sekitar 15 menit dengan mobil dari Gantong yang bikin saya dan teman-teman bertanya-tanya apakah Ahok dan Andrea Hirata adalah teman kecil. Atau jangan-jangan A Ling ini sebetulnya ada hubungan saudara sama Ahok? Hmmm.

Sampai sekitar Maghrib, saya langsung antri dengan beberapa pengunjung lainnya untuk foto di plang Kampoeng Ahok ini. Saya sendiri sama sekali ga menyangka kalo saya bakal dapat kesempatan untuk masuk ke rumah Ahok.

Sebelum pergi ke Belitung, sebetulnya saya udah browsing sedikit tentang rumah Ahok ini, dan saya menemukan beberapa artikel yang bilang kalau wisatawan bisa masuk ke rumah Ahok ketika ada anggota keluarga Ahok yang sedang ada di Belitung.

Awalnya sih saya pikir bisa foto di depan plang Kampoeng Ahok aja udah alhamdulillah, tapi ternyata pintu rumah Ahok yang berlokasi persis di depan plang tersebut terbuka dan ada satu rombongan wisatawan yang masuk ke rumah tersebut.

Saya dan teman-teman yang cuma berjumlah tiga orang pun langsung ikut masuk sama rombongan wisatawan tersebut. Ga disangka, ternyata rombongan yang sepertinya berasal dari komuni sebuah gereja ini memang sengaja dating ke rumah Ahok untuk berdoa bersama untuk Ahok yang saat itu baru dinyatakan sebagai tersangka kasus penistaan agama.

Dari kaca mata saya sebagai seorang awam dan rakyat jelata dari warga kelas menengah, sebetulnya pas masuk rumahnya saya bisa bilang rumah Ahok ini termasuk rumah mewah. Bahkan, rumah Ahok ini sepertinya merupakan rumah terbesar di daerah Manggar. Yang ada di foto ini cuma depannya aja, karena saya sempat jalan-jalan ke belakang rumahnya, dan rumahnya itu masih luas ke belakang dan sedikit mengingatkan saya sama kos-kosan walaupun untuk ukuran rumah sebesar itu, rumahnya tergolong sepi.

Ternyata juga, waktu saya ke rumah Ahok tersebut, ibunda Ahok yang bernama Buniarti Ningsih (Boen Nan Tjauw) sedang ada di Belitung. Dan beliau jugalah yang menyambut kedatangan kami dan rombongan komuni gereja yang sukses kita kuntit sampai akhirnya bisa menginjakkan kaki di rumah tempat Ahok dibesarkan. :p

Setelah berdoa bersama untuk keselamatan Ahok dan dilancarkannya persidangan Ahok, kami bergantian foto bersama ibunda Ahok. Termasuk saya dan Tahrul, karena Diandra menolak buat foto bareng.

Mungkin dia kuatir karena banyak dari teman-teman terbang kita yang kelompok garis keras anti-Ahok.

Ketika kita pamit untuk permisi karena kebetulan kita bertiga adalah tamu terakhir yang meninggalkan rumah karena rombongan yang lain udah minta diri duluan, kita minta diri dan Ibu Buniarti Ningsih dengan ramah cuma bilang, “Minta doa dan support-nya saja ya, Nak. Terima kasih sudah sempat datang.”

Percayalah, kalau beberapa waktu ke belakang di debat Pilkada sering dikoar-koarkan keperluan untuk memiliki pemimpin yang santun, kalau saya lihat bagaimana Ibu Buniarti Ningsih ini menjamu kami yang bukan siapa-siapa ini, saya yakin 99.9% kalau anaknya pun santun di balik sikapnya yang keras dan sarkastik itu.

Sepeninggal kami dari Kampoeng Ahok, ga banyak yang bisa saya katakan selain betapa salut dan semakin banyaknya rasa kagum saya. Saya ga pernah berpikir kalau saya bakal menginjakkan kaki saya di rumah Ahok, tapi saya bahkan dapat bonus ketemu dengan ibunya yang ternyata sangat rendah hati.

Entahlah, kalau buah jatuh tak jauh dari pohonnya, seandainya saya ber-KTP Jakarta, mungkin saya hampir pasti akan coblos nomor 2 di Pilkada babak kedua Rabu depan.

2 thoughts on “Menengok Kampung Ahok di Belitung

Leave a Reply