Memilih Pekerjaan Dengan Bijak

Kemarin, tepatnya di tanggal 25 Juli 2017, saya resmi mengakhiri pekerjaan 9-to-5 saya setelah tiga bulan bekerja di salah satu sekolah desain internasional yang berlokasi di wilayah Jakarta Selatan.

Awal saya bergabung dengan kantor ini, saya sempat berpikir pekerjaan ini akan berada dalam rencana jangka panjang saya. Tapi situasi dan kondisi berkata lain, yang akhirnya mempengaruhi keputusan saya untuk tidak melanjutkan pekerjaan ini setelah masa percobaan.

Saya pribadi berprinsip bahwa tiga bulan masa percobaan untuk suatu pekerjaan berlaku tidak hanya dari perusahaan kepada karyawan, tetapi juga sebaliknya. Dengan banyaknya kejadian bunuh diri akhir-akhir ini karena depresi, karyawan pun memiliki hak sama besarnya dengan perusahaan untuk menentukkan cocok atau tidaknya pekerjaan tersebut bagi mereka.

Layaknya pasangan bercerai yang di awal pernikahan tidak pernah terpikir untuk melangsungkan akad atau pemberkatan hanya untuk akhirnya berpisah, begitu jugalah menandatangani kontrak untuk suatu pekerjaan.

Beberapa hari sebelum hari terakhir saya di kantor, sejumlah anak magang minta saran saya bagaimana menentukan pilihan hidup ke depannya. Dalam hal ini, terutama terkait dengan pekerjaan.

Di satu sisi, saya pikir saya bukan orang yang tepat untuk konsultasi mengenai pekerjaan. Tapi di sisi lain, rasanya saya memiliki cukup banyak hal yang bisa saya bagikan kepada teman-teman, terutama yang masih bingung terkait apa yang akan dilakukan setelah lulus atau bagaimana memilih pekerjaan untuk kaum milenial seperti kita.

Saya memiliki beberapa insight yang ingin saya sampaikan disini, karena dua tahun ke belakang saya bekerja 9-to-5 setelah sebelumnya memiliki pekerjaan di luar jam kantor. Dan ada beberapa hal yang saya bisa bagikan kepada teman-teman untuk memilih pekerjaan yang paling tepat untuk kalian.

Berbeda dengan beberapa teman yang bisa bertahun-tahun bertahan di perusahaan yang sama, saya ini tipe-tipe orang yang tiap kali datang untuk wawancara pekerjaan pasti ditanya kenapa saya punya kecenderungan cuma stay di satu tempat selama satu tahun. Dan jawaban saya selalu sama: karena saya mencari kesempatan baru untuk meningkatkan milestone dalam karir saya.

Ketika lulus kuliah dan menyandang status sebagai fresh graduate, saya berjanji kepada diri saya untuk memilih pekerjaan yang akan membuat saya happy. Atau paling tidak, pekerjaan yang saya enjoy melakukannya. 

Ibu saya selalu berkata kalau apapun pekerjaannya, yang penting saya harus ikhlas melakukan pekerjaan tersebut. Pikiran dangkal saya saat itu (yang masih saya anut hingga sekarang tampaknya!) adalah sesuatu hanya bisa dilakukan secara ikhlas kalau kita mengerjakannya secara enjoy. Setelah lulus kuliah di bulan Juli 2011, layaknya fresh graduate lainnya juga sibuk dengan mendatangi job fair untuk mencari pekerjaan.

Memang, privilege yang saya miliki saat itu adalah dari orang tua yang tidak terlalu menuntut saya selain juga saat itu saya sudah memiliki komitmen untuk bekerja sebagai LO di acara SEA Games 2011 di Jakarta di bulan November. Waktu itu, bayarannya lumayan sehingga pertimbangan saya saat itu kalau saya mendapatkan pekerjaan saya dalam waktu dekat, maka kemungkinan besar saya akan kehilangan kesempatan untuk menjadi bagian dari acara olahraga terbesar di Asia Tenggara ini.

Untuk saya ini lebih penting karena akan meningkatkan exposure saya terhadap pekerjaan sebenarnya, selain juga saya akan berkesempatan untuk menambah relasi selain juga dengan ikut SEA Games, saya akan berkesempatan untuk nonton bola gratis di GBK.

Jaman dulu saya kuliah, pikiran saya sebetulnya simpel karena masih stuck sama khayal-khayal babu dinikahin sama orang. Jadi dulu saya pikir dengan ikutan SEA Games, saya juga bakal berkesempatan untuk menjadi pemeran utama dalam drama idola jatuh cinta sama serbuk sari kaya saya. 😛

Saya sendiri sempat mendapatkan beberapa tawaran pekerjaan, salah satunya adalah dari perusahaan foreign exchange yang harus saya tolak karena setelah beberapa kali riset terkait dengan pekerjaannya, sepertinya pekerjaannya tidak sesuai dengan prinsip saya yang hanya akan memilih pekerjaan dimana saya enjoy di dalamnya.

Kebetulan, ketika saya bekerja sebagai LO untuk SEA Games 2011, saya kebagian tugas sebagai LO Akreditasi yang bertugas di Bandara Soekarno Hatta. Waktu itu tugas saya adalah untuk klarifikasi dokumen para atlet dan official yang datang dari luar negeri, yang surprisingly akhirnya berkaitan dengan pekerjaan resmi pertama saya. Tak lama setelah tugas di SEA Games selesai, saya mendapatkan tawaran sebagai Guest Service Assistant untuk low-cost carrier terbaik di dunia saat ini, AirAsia.

Salah satu alasan saya untuk akhirnya menerima pekerjaan AirAsia sebagai pekerjaan pertama saya adalah karena kredibilitas AirAsia sebagai perusahaan, selain juga deskripsi pekerjaannya yang kurang lebih mirip dengan tugas saya di SEA Games 2011.



Kalau ada kesempatan untuk merantau, merantaulah.

“Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hidup asing di negeri orang.”

-Imam Syafi’i

Saya beruntung karena bahkan untuk pekerjaan pertama saya di AirAsia, saya diberikan kesempatan untuk merantau ke Semarang. Tidak jauh, memang. Karena Bandung-Semarang masih bisa ditempuh dalam waktu satu jam saja naik pesawat, tetapi hidup di luar zona nyaman adalah sesuatu yang sangat saya sarankan terutama untuk teman-teman yang masih bimbang memilih apa yang akan dilakukan setelah lulus kuliah.

Iya, mungkin ada sebagian dari kalian yang sudah merantau sejak di bangku kuliah. Tapi untuk para mahasiswa atau fresh graduate yang nasibnya seperti saya, yang tinggal di zona nyaman hingga dewasa, maka merantau adalah salah satu jalan untuk membuka wawasan selain juga menebar benih persahabatan.

Dengan merantau, kita bisa tahu bagaimana kebiasaan orang-orang yang memiliki budaya atau latar berbeda dengan kita. Kita belajar arti toleransi. Tapi lebih dari itu, kita juga akan berkesempatan untuk belajar hidup mandiri. Bagaimana bertahan hidup ketika jauh dari orang tua, atau bagaimana rasanya mengatasi kesedihan ketika di kosan harus sendirian.

Kenyamanan akan merantau ini jugalah yang akhirnya mengantarkan saya kepada pekerjaan kedua saya. Tidak jauh-jauh dari dunia penerbangan yang sebelumnya saya lakukan, hanya kali ini saya mendapatkan pekerjaan sebagai pramugari yang mengharuskan saya terbang ke lebih banyak tempat. Dan tak tanggung-tanggung, kali ini saya harus merantau ke negara yang konon katanya negara paling tidak ramah untuk kaum wanita seperti saya: Saudi Arabia.

Hidup di Saudi Arabia menjadi tantangan tersendiri bagi saya yang mengklaim diri saya sebagai perempuan liberal dan outspoken terkait dengan isu apapun.

Selama merantau, selain belajar bertoleransi kita juga akan terekspos untuk menemukan jati diri kita dengan bertemu lebih banyak orang, dan terpacu untuk menghadapi isu-isu tertentu dari sudut pandang pribadi. Disinilah jiwa independen kita akan ditemukan karena kita akan berkesempatan untuk mengetahui hal-hal apa yang cocok untuk kita dan mana yang tidak.

Kalau ada hal yang saya pelajari dari merantau, itu adalah kenyataan bahwa hidup itu abu-abu. Tidak ada yang sepenuhnya hitam atau putih. Apa yang kita percaya benar, belum tentu benar dan begitu juga sebaliknya.

Dimanapun kalian bekerja, jangan pernah berhenti belajar dari lingkungan sekitar kalian. Entah itu dari bos, rekan kerja atau bahkan subordinate kalian. 

Hidup ini adalah proses belajar dari kita dilahirkan sampai kembali kepada-Nya, itu prinsip saya. Dan begitu juga dengan pekerjaan saya selama ini. Saya selalu berusaha untuk belajar dari sekeliling saya, dan saya beruntung karena sejauh ini sering sekali mendapatkan rekan kerja atau atasan yang sangat menginspirasi saya baik dalam kehidupan secara profesional, maupun personal.

Salah satunya adalah bos sekaligus mentor saya di kantor saya sebelumnya yang selalu mendukung saya di setiap pekerjaan yang saya lakukan. Dan ketika saya memiliki kesulitan, dia akan mendengarkan dan meyakinkan saya kalau saya bisa. Bos saya ini, namanya Ruby, adalah salah satu dari sekian banyak orang yang sangat menginspirasi saya dalam hidup saya hingga saat ini.

Ruby selalu mengajarkan saya bagaimana menjadi seorang ‘mini Ruby’ yang di balik senyum manis-nya, tetapi dapat melakukan tindakan tegas jika diperlukan.

Saya ingat, salah satu pelajaran penting yang Ruby berikan kepada saya adalah bagaimana saya harus menentukan sikap ketika seseorang berperilaku tidak baik kepada kita. Menurut Ruby, kita sebagai perempuan seringkali diremehkan dari segi kemampuan. Akan lebih sulit ketika kita adalah perempuan yang peduli akan penampilan.

I don’t know how to describe it, but if there’s one woman who’s the real version of Elle Woods, Ruby is gonna be the one! 🙂

Keep it in mind bahwa bos tidak selalu benar, dan tak peduli seberapa rendahnya jabatan kita, kita sebagai karyawan merupakan aset perusahaan yang punya hak untuk bersuara. 

Mungkin ini salah satu hal yang perlu saya tekankan, karena setelah memiliki pengalaman bekerja untuk beberapa MNC dan perusahaan lokal, saya menarik satu kesimpulan bahwa banyak karyawan atau banyak orang di Indonesia yang masih berprinsip ala-ala Orde Baru yang bertajuk ABS. Asal Bapak Senang.

Pengalaman ini saya dapatkan dari kantor terakhir saya, dimana atasan saya berbuat semena-mena dengan cara merendahkan bawahannya dari segala sisi, selain gaya kepemimpinannya yang otoriter karena merasa dirinya paling benar. Masalah muncul karena ternyata karyawan-karyawan di perusahaan tersebut memiliki prinsip ‘lebih baik diam’ daripada mengangkat isu ke permukaan untuk dicarikan solusinya. Terlebih, karena atasan saya memiliki jabatan yang cukup tinggi dengan reputasi sebagai karyawan loyal yang sudah bertahun-tahun ada di perusahaan.

Sebagai seseorang yang terbiasa dengan vibes positif untuk selama bekerja, hal ini sangat mempengaruhi saya yang akhirnya berujung dengan keputusan saya untuk meninggalkan pekerjaan saya.

Satu hal yang ingin saya tekankan adalah bahwa seperti yang sering kalian dengan, tidak semua manusia sempurna. Tidak ada manusia yang selalu benar. Karena itu kritik yang membangun dalam perusahaan itu penting, bahkan ketika itu berurusan dengan atasan kalian sekalipun. Kenapa? Karena mereka berharga dan begitu juga kalian.

Kalian memiliki hak untuk berbicara jika kalian merasa ada yang tidak beres terkait dengan pekerjaan kalian. Jika kalian tidak diperbolehkan bicara hanya karena doktrin pemimpin kalian paling benar, mungkin saatnya buat kalian mencari kesempatan baru di luaran sana yang memprioritaskan kerja tim daripada hanya melulu mendengarkan pemimpin yang belum tentu benar.

Mungkin betul kita butuh pekerjaan dan butuh uang dari pekerjaan kita tersebut, tapi ingat bahwa harga diri kita bukan ada untuk diinjak-injak. Know the border. 

What’s next? 

Dan setelah melalui beberapa drama di pekerjaan terkahir saya, akhirnya saya memutuskan untuk merealisasikan rencana bisnis saya dengan mantan teman sekantor saya di perusahaan sebelumnya. Kalau sebelumnya saya hanya memiliki konsep, saat ini sepertinya merupakan waktu yang tepat untuk eksekusi konsep yang sudah kita miliki sejak beberapa bulan ke belakang.

Tentu, wirausaha akan sulit pada awalnya karena saya masih perlu banyak belajar untuk berbisnis. Tapi saya percaya bahwa kalau ada kemauan, akan ada jalan untuk saya menjalankannya.

Saat ini, tepatnya 5 tahun setelah saya mendapatkan pekerjaan pertama saya di AirAsia, saatnya untuk saya bekerja di atas kaki sendiri dan mengaplikasikan apa yang sudah saya pelajari selama menjadi karyawan di tempat-tempat saya bekerja sebelumnya.

Karena kita semua berhak untuk bahagia.

9 thoughts on “Memilih Pekerjaan Dengan Bijak

  1. Like this post, Mar 🙂

    Menurut gw sih nyari kerja kayak nyari jodoh.
    Gw kerja di perusahaan yg sekarang udah 6 taon banyak pahit getirnya, macam mengarungi bahtera rumah tangga, hehehe
    Soal bos yg nyebelin, rekan kerja penjilat, penganut ABS, tukang gosip, munafik itu sih dimana-mana. Udah kebal gw mah.

    Sukses ya Mar sama bisnisnya 🙂

    1. Bener banget Vin soal nyari kerja kaya nyari jodoh. Cocok-cocokkan, ada yang klo putus bisa baik-baik dan jadi temenan, ada juga yang bahkan saking malesnya udah ga mau liat ke belakang. Kebetulan aja perusahaan terakhir aku itu tipe-tipe yang disebutin terakhir, apalagi kalo mikirin kelakuan bosnya bikin nyut-nyutan. Baru pertama kali aku kerja kudu rempong drama report sana-sini. Haha. 😐

  2. Tadi aku liat di kolom komentar (ig) kakak bakal ngasih review tentang beberapa platform penginapan, ditunggu ya ka 😉 selain itu, untuk selanjutnya kan kakak sering travelling ke tempat-tempat yang cuaca dan iklim nya berbeda satu dengan yang lain, pasti kadang kulit bermasalah untuk sebagian orang 😂 kasih tau dong kak cara perawatan kulitnya, recommend juga merek yang menurut kakak bagus. Selain itu, ceritain juga pengalaman yang menurut kakak travelling terrrrperf menurut kakak (kalau bisa yang low-budget biar siapa tau kapan kapan bisa kesan juga//heleh//😂)

    1. Hallo Kalishya, thank you for dropping by! 🙂

      Aku bakal buat draft-nya dulu nanti klo udah siap pasti aku post secepatnya. Dan kebetulan untuk cara perawatan kulit, aku lagi siapin konten khusus untuk skin care aku selama liburan kerjasama sama kontributor aku, mudah-mudahan di minggu depan udah bisa posting.

      Ditunggu aja yaa, dan makasih banget inputnya, aku tampung dulu dan mudah2an bisa dibuatin kontennya dalam waktu dekat yah! 😀

  3. Ditunggu kak review dari platform penginapannya 😉. Kak kan kalau misalkan travelling, tempat-tempatnya itu cuaca sama iklimnya beda-beda ya. Nah kalau urusan kulit wajah kan sensitif banget 😂 gimana sih kak cara merawat kulit dalam kondisi yang selalu berubah ubah (selama travelling) sama recommend dong kak merek yang sekiranya bagus untuk kulit

    1. konten tentang skin care ini kebetulan aku baru bicarain sama kontributor aku, kebetulan dia kayanya lebih expert nih urusan skin care dibanding aku. kita nanti akan post bareng2 soal skin care. ditunggu yah! 🙂

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.