Meresapi Arti Hidup di Museum Kesehatan Jiwa Lawang

Reading Time: 4 minutes

“Yang terbesar dari kebodohan adalah mengorbankan kesehatan untuk jenis lain dari kebahagiaan.” -Arthur Schopenhauer

Ketika saya akhirnya memutuskan untuk pergi ke Malang untuk liburan dan menemukan sebuah artikel mengenai Museum Kesehatan Jiwa disana, saya langsung memasukkan museum tersebut sebagai destinasi saya di rencana perjalanan.

Kebetulan, saat itu saya sedang berada di situasi yang cukup sulit karena saya merasa ga bahagia dengan pekerjaan saya saat itu. Entahlah apakah situasi saya itu sudah masuk ke dalam tahap depresi, tapi yang pasti perasaan saya saat itu sangat jauh dari happy.

Bahkan sebelum sampai di Malang, saya sudah mulai tanya teman-teman saya baik yang tinggal di Malang atau pernah tinggal disana mengenai museum tersebut. Respon dari teman-teman saya kurang lebih sama: lokasi museum tersebut jauh dari pusat kota Malang, tempat saya akan menginap.

Tapi, hal itu ga memberhentikan niat saya untuk mengunjungi museum ini karena memang saya merasa perlu untuk mendatangi museum ini untuk sedikit pencerahan mengenai situasi ke-engga hepian saya ini.

Maka dari itu, setelah tanya resepsionis hotel dan lalu ke terminal Arjosari dan tanya-tanya lagi, akhirnya saya berhasil kesana dengan menggunakan angkot dilanjutkan dengan ojek ke Museum Kesehatan Jiwa yang berlokasi di Lawang, Kabupaten Malang. Dan memang betul kata teman-teman saya, jaraknya jauh dari tempat saya menginap. Kurang lebih sekitar 1.5 jam dari pusat kota Malang.

Museum Kesehatan Jiwa Lawang ini terletak tak jauh dari kompleks Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat, dan suasana cukup sepi ketika saya datang. Cuma ada dua orang adik-kakak yang juga merupakan pengunjung serta seorang penjaga museum yang langsung menyambut saya ketika menyadari kedatangan saya.

Dengan ramah, penjaga museum yang merupakan seorang pria setengah baya tersebut langsung menanyakan saya apakah saya juga berasal dari UGM. Setengah kikuk dan setengah gr karena berarti tampang saya berarti masih awet muda, saya langsung bilang kalau saya kesana atas kemauan saya sendiri atas nama pribadi.

Penjaga museum tersebut memperkenalkan diri. Namanya Pak Kasturi, dan dia menceritakan sedikit tentang Museum Kesehatan Jiwa yang berdiri sejak tahun 2009 ini.

Menurut Pak Kasturi, museum ini didirikan pada saat perayaan ke-107 tahun RSJ Lawang. RSJ Lawang sendiri berdiri sejak tahun 1902, yang juga merupakan rumah sakit jiwa tertua sekaligus tertua di Indonesia setelah RSJ Bogor.

Kata Pak Kasturi juga, kebanyakan pengunjung museum adalah rombongan atau praktisi di bidang kesehatan atau psikologi. Makanya beliau pikir saya berasal dari UGM ketika datang kesana, karena ternyata maksud kakak-adik yang datang sebelum saya salah satunya adalah karena kakaknya sedang menyelesaikan skripsi terkait dengan kesehatan jiwa.

Sebetulnya, konsep dari Museum Kesehatan Jiwa ini cukup sederhana dimana pesan yang ingin ditekankan disini adalah kesadaran akan pentingnya kesehatan jiwa kepada pengunjungnya. Ada dua hal yang menjadi topik utama saat mengunjungi museum ini: sejarah tentang RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat sejak awal berdirinya hingga saat ini dan juga tentang kesehatan jiwa pada umumnya.

Disini diperlihatkan beberapa objek dari mulai replika alat pasung, baju lilit yang digunakan untuk pasien, bahkan janin-janin yang diawetkan yang ditemukan di rumah sakit tanpa diketahui siapa pemiliknya. Selain itu, ada juga alat-alat yang digunakan selama terapi di masa pemulihan untuk para pasien.

Ga diduga, ternyata alat-alat yang digunakan ini cukup simpel dan cenderung sepele buat kita yang awam akan pentingnya kesehatan jiwa. Beberapa alat terapi yang dipamerkan di museum ini adalah pemutar alat musik, proyektor yang biasa digunakan untuk memutar film, alat tenun, meja bilyard sampai kanvas untuk melukis.

Saat itu, saya mulai sadar kalau hiburan memag ada kaitannya dengan kesehatan, khususnya adalah kesehatan jiwa. Hal-hal yang terdengar sepele, ternyata bisa menjadi obat untuk pikiran kita ketika dibutuhkan.

Yang menarik adalah ketika saya berada di tempat alat-alat pemulihan ini, Pak Kasturi cerita juga kalau terapi musik dan film adalah aktivitas kesukaan beliau ketika masih menjadi pasien disana. Saat itu, saya langsung kaget sekaligus takjub mengetahui kalau ternyata Pak Kasturi ini bekas pasien.

Tanpa ditanya, Pak Kasturi langsung cerita kalau beliau menghabiskan sebagian masa hidupnya di RSJ Lawang ini. Secara total, beliau sudah menjadi bagian dari RSJ Lawang ini sekitar 23 tahun dimana beliau menghabiskan waktunya selama 3 tahun di masa pemulihan dan 13 tahun rehab. Hampir 7 tahun sejak Museum Kesehatan Jiwa Lawang ini dibuka, beliau mulai bekerja sebagai penjaga museum.

Saya betul-betul kagum sekaligus terenyuh dengan kenyataan bahwa saya bicara dengan seseorang yang pernah selama 16 tahun menyandang predikat sebagai seorang pasien RSJ. Lebih terenyuh lagi karena beliau sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang mentalnya terganggu. Dan saya langsung menyadari pentingnya arti hidup dan kesehatan jiwa untuk kita manusia.

Kesehatan jiwa itu sama pentingnya dengan kesehatan badan secara keseluruhan, tapi yang mengerikan adalah kenyataan bahwa kadang gangguan kesehatan jiwa itu tak kasat mata. Dan itulah kenapa kita perlu mengerti lebih banyak mengenai vitalitas kesehatan jiwa kita dan orang-orang di sekitar kita.

Saya lalu ingat saya sendiri, saya merasa ga happy dengan keadaan saya bahkan ketika saya punya pekerjaan yang cukup bergengsi untuk sebagian orang. Saya selalu merasa cemas dan merasa apa yang saya lakukan ga cukup baik, ditambah dengan keadaan yang sama sekali terasa ga mendukung sama sekali.

Di Museum Kesehatan Jiwa inilah saya mulai menyadari pentingnya kesehatan jiwa saya dan berusaha untuk memperbaiki keadaan dengan lebih banyak berkarya.

Saya pikir, apa sih yang mau dicari dalam hidup kalau bukan untuk jadi bahagia? Masalah hidup bakal ada bahkan tanpa dicari, sayangnya selalu ada momen dimana kadang kita takut untuk jadi bahagia sendiri. Sebagai manusia, selalu ada pertimbangan ini-itu yang bahkan untuk menjadi bahagia aja kita cemas karena takut akan probabilitas.

Ambil contoh pengalaman saya yang merasa ga happy dengan keadaan saya. Saya mengerti ketidakcocokan saya dengan pekerjaan saya saat itu merupakan sumber dari ketidak bahagiaan saya. Akhirnya, minggu lalu saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan saya dan memulai hidup saya dari awal lagi.

Apakah itu membuat hidup saya lebih bahagia? Semoga.

3 thoughts on “Meresapi Arti Hidup di Museum Kesehatan Jiwa Lawang

Leave a Reply