Tic Facialis & Bell’s Palsy Treatment di Lineation Korean Center (Akupuntur – Sesi 1)

Hallo semuanya! ๐Ÿ™‚

Buat yang follow Instagram saya, mungkin sebelumnya sempet liat postingan saya soal ulang tahun Lineation yang ke-11 beberapa waktu lalu. Nah, sekarang giliran saya cerita lebih lengkap soal Lineation dan gimana kesan pertama terhadap Lineation yang awalnya saya pikir cuma beauty center seperti kebanyakan klinik kecantikan lainnya di Bandung.

Gak disangka-sangka, apa yang saya pikir bakal cuma sekedar facial atau peeling malah mengantarkan saya buat hal yang lebih serius: kesempatan untuk mengusahakan treatment dari masalah kesehatan saya beberapa tahun ke belakang, Bell’s Palsy.

Buat yang pernah baca resolusi tahun baru saya, kalian mungkin familiar dengan kondisi kesehatan saya. Dan salah satu resolusi yang tiap tahun saya punya itu yah buat nyembuhin masalah kesehatan saya ini. Karena jujur, saya udah coba hampir segala cara tapi hasilnya gitu-gitu aja. Hmm.

Makanya, waktu saya diundang sama Lineation, saya sebetulnya gak nyangka bakal berujung buat coba treatment sebagai upaya nyembuhin masalah muka saya ini.

Saya dan Penyakit Bermuka Dua

Sedikit cerita mengenai latar belakang dari awal saya kena Bell’s Palsy dan kondisi saya saat ini sebelum masuk ke Lineation Korean Center-nya yah…

Jadi, salah satu gejala awal sebelum sakit saya lebih parah sebetulnya terdengar sepele: kedutan mata. Waktu awal kejadian, itu jaman saya skripsi dan saya anggap hal kecil. Namanya juga orang awam yang sedikit banyak percaya tahayul, saya pikir ini kedutan tanda ada yang kangen sama saya. Kriks.

Awal-awal sih, frekuensi kedutannya jarang-jarang sampai akhirnya saya pindah ke Semarang. Di Semarang, frekuensi kedutannya jadi lumayan sering nih.

Baru puncaknya adalah waktu saya mulai terbang dan domisili di Jeddah, hasilnya gak cuma mata aja yang kena, tapi sekarang area pipi dan mulut sebelah kanan saya pun ikutan mencong dengan gerakan yang gak bisa saya kontrol secara sadar.

Awal ‘Perkenalan’ dengan Bell’s Palsy dan Tic Facialis

Saya ini pada dasarnya cuek soal kesehatan, dan saya pun jarang sakit. Boleh dicek absen jaman sekolah, kuliah, atau bahkan jaman saya kerja sekalipun, saya itu jarang absen karena sakit.

Penyakit-penyakit generik kayak demam atau flu pun saya jarang kena. Kalaupun kena, biasanya sembuh dengan sendirinya. Dan itu juga yang bikin saya jarang ke dokter dan cenderung santai, bahkan ketika saya mulai sering kedutan.

Soal Bell’s Palsy ini pun, saya baru familiar waktu saya terbang bareng salah satu temen kerja saya orang Filipina yang pernah sekolah perawat, namanya Mary-Ann.

Mary-Ann ngeh mata dan pipi saya sering gerak-gerak sendiri kalau ngomong, dan dia kasihtau kalau dari sindromnya, keliatannya saya kena Bell’s Palsy. Dia ngasih saran buat minta flight Kuala Lumpur atau Jakarta, supaya bisa sekalian berobat dengan biaya yang relatif lebih murah dengan dokter yang lebih bagus daripada di Jeddah waktu itu.

Tapi, saya ini anaknya bandel. Saran dari Mary-Ann masuk telinga kanan keluar terlinga kiri, sampai akhirnya saya kena flu dan saya ke klinik di Jeddah yang dokternya pun ngeh soal Bell’s Palsy saya.

Kali ini, dokternya menyarankan saya buat kompres muka saya dengan air hangat setiap malam karena katanya penyakit kayak gini biasanya cepet hilangnya asal muka dikompres dengan air hangat secara rutin. Saya lakukan tiap hari, tetep gak ada hasilnya.

Sampai akhirnya saya memutuskan buat berhenti terbang dan pulang ke Indonesia selain juga ada beberapa alasan lain yang memutuskan saya untuk berhenti.

Kalau ditanya gimana perasaannya kena Bell’s Palsy, coba tolong dilihat foto E-KTP saya yang berlaku seumur hidup dengan foto ketika muka saya mencong dan saya gak bisa kontrol muka saya saat di foto sedangkan petugas E-KTP rasa fotonya sudah cukup.

Pulang ke Indonesia untuk Fokus Terapi

Sepulang saya ke Indonesia, saya sempat ke salah satu dokter saraf di Bandung. Waktu itu, saya cuma disuntik dan dokternya nyuruh saya jangan stress. Karena menurut dokter tersebut, stress jadi salah satu pemicu munculnya penyakit saya ini.

Waktu itu, dokternya malah menyarankan saya untuk segera menikah. Kriks. Yang bikin saya malah jadi trauma dan jujur, jadi makin males urusan sama dokter.

Tapi, upaya saya buat treatment Bell’s Palsy ini gak berhenti sampai sana, karena selama 6 bulan setelah saya pulang ke Bandung, saya rutin akupuntur seenggaknya 2 kali seminggu.

Sayangnya, gak ada hasilnya sampai uang saya habis dan saya memutuskan buat kembali bekerja.

Terapi dan Efek Penyakit Bermuka Dua Terhadap Saya

Selain pernah coba akupuntur, ada banyak rangkaian treatment yang sudah pernah saya coba. Sejauh ini, saya udah coba akupresur dan pengobatan oleh shin she juga.

Rangkaian treatment tersebut sebetulnya bukannya gak ngefek sama sekali, karena ada cukup banyak perubahan yang saya rasakan.

Misalnya, kalau sebelumnya saya betul-betul susah buat senyum (lihat foto E-KTP saya yang diambil di bulan September 2016 tapi baru jadi satu tahun kemudian karena kasus korupsi), sekarang seenggaknya saya bisa senyum walaupun mata saya masih terlihat kecil sebelah kalau kebetulan lagi gerak. Geraknya pun gak sesering dulu.

Kalau ditanya apakah ada efek lain yang ditimbulkan dari keadaan saya ini seperti pusing dkk, sebetulnya efeknya sih minim yah. Tapi, efek penyakit saya ini lebih besar ke urusan psikis.

Saya jadi males ketemu sama orang, kontak mata yang dianggap penting dalam menjalin hubungan sama orang jadi males saya lakukan. Saya males ditanya-tanya apa yang terjadi sama muka saya atau kenapa.

Apakah ini ngaruh sama kerjaan saya? Ngaruh ketika saya harus berhadapan sama client, karena saya jadi gak pede ketika harus bertatap muka. Tapi, lebih daripada itu, I’m more than able to do any kind of task.

Tentang Lineation Korean Center

Lineation yang awalnya saya pikir cuma sekedar beauty clinic biasa, ternyata punya keunikan tersendiri dibandingkan klinik kecantikan lainnya. Waktu pertama kali dateng ke kliniknya, saya pribadi langsung tertarik untuk coba fisioterapi untuk masalah kesehatan saya.

Lineation Manifesto

Dan ternyata, waktu pertama saya konsul sama dr. David dan beliau notice masalah saya yang ternyata adalah Tic Facialis dan bukan Bell’s Palsy yang sebelumnya saya kira, beliau memang langsung menyarankan saya untuk menjalankan treatment akupuntur dan fisioterapi terlebih dahulu.

Dan kalau liat salah satu tujuan didirikan Lineation Korean Center untuk memberikan solusi perawatan yang gak cuma mempercantik luar, tetapi juga dari dalam dengan menjadi pribadi yang tampil menarik dan lebih percaya diri sih, ya memang itulah yang dilakukan dari awal pertama saya datang.

Ibarat kata, gimana saya bakal ngerasa cantik karena facial dsb kalau saya masih gak pede karena muka saya masih gerak-gerak terus karena Tic Facialis ini?! Dan akhirnya, saya pun bikin janji untuk sesi akupuntur beberapa hari kemudian. Hal yang akan saya tulis kali ini. ๐Ÿ™‚

Lokasi & Tempat

Suasana ruang tunggu Lineation yang nyaman dan relaxing banget dipake buat nunggu.

Selain klinik kecantikan yang juga menyediakan treatment untuk akupuntur dan fisioterapi, Lineation ini juga punya apotek dan salon di lokasi yang sama.

Tempatnya pun nyaman banget dengan nuansa warna-warna pastel yang unyu banget.

Yang mau kesana, bisa langsung datang ke alamatnya di Jl. Leumah Neundeut No. 10, Bandung atau bisa telepon dulu ke nomor 022-2010593 dan cek Instagram-nya di @lineation.id untuk tau lebih banyak soal treatment yang mereka punya.

Tic Facialis & Bell’s Palsy Treatment di Lineation (Akupuntur – Sesi 1)

Pertemuan pertama saya dengan dr. Winda, akupunturis dari Lineation ini dimulai dengan konsultasi soal situasi kesehatan saya, track record yang sudah saya lakukan selama kena Tic Facialis ini dan saya pun dijelaskan perbedaan mengenai Tic Facialis dengan Bell’s Palsy ini serta penyebab-penyebab yang bisa mengakibatkan keduanya, yang kurang lebih serupa tapi tak sama.

Konsultasi sama dr. Winda.

Jadi, yang membedakan Bell’s Palsy dan Tic Facialis adalah pergerakan di wajah tanpa sadar ini. Kalau Bell’s Palsy biasanya efeknya seperti stroke dimana otot wajah sebelah kaku, Tic Facialis ini efeknya seperti yang saya alami, dimana wajah saya masih bisa memperlihatkan wajah asli saya sesekali, tapi serik terjadi pergerakan sebelah wajah yang gak bisa saya kontrol.

Penyebab keduanya kurang lebih sama, yaitu angin dan juga saraf yang tegang. Menurut dr. Winda, selain stress, sebaiknya juga menghindari emosi berlebih. Emosi ini pun bisa berupa apa aja, dari mulai sedih berlebih sampai bahagia berlebih sekalipun. Yang kemudian bikin saya bertanya-tanya, apa jangan-jangan saya kena Tic Facialis ini karena saya orangnya lebay? Bisa jadi. ๐Ÿ˜›

Sementara itu, saya dianjurkan untuk sementara waktu gak boleh kena angin secara langsung. Yang artinya, saya harus jauh-jauh dari AC yang untungnya bisa dihindari karena saya ada di Bandung dan juga menghindari naik motor untuk sementara waktu.

Prosedur Akupuntur

Karena saya sebelumnya pernah coba terapi akupuntur juga untuk masalah yang sama, saya mau fokus mengenai perbedaan dari akupuntur yang pernah saya coba dan di Lineation ini.

Kalau prosedur sih, namanya akupuntur, ya metodenya kurang lebih sama yaitu tusuk jarum. Setelah titik-titik tertentu sesuai dengan masalah kesehatan yang dialami, jarum tersebut disetrum untuk memberikan efek kejut ke titik-titik tersebut.

Proses akupuntur yang saya lakukan di Lineation.

Beberapa perbedaan yang saya rasakan diantaranya adalah titik-titik yang ditusuk. Kalau di tempat akupuntur sebelumnya titik yang ditusuk hanya daerah wajah dan punggung, di Lineation titik yang ditusuk ini lebih kompleks karena dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Selain itu, tusukan jarumnya juga yang lebih sakit daripada prosedur akupuntur yang pernah saya coba sebelumnya. Kalau sebelumnya saya hampir kebal karena nyaris gak ada rasa sakit tiap ditusuk, untuk di Lineation ini ada rasa pedih waktu jarumnya masuk ke kulit yang bikin saya tarik nafas terus setiap mau ditusuk. Sedangkan titik yang ditusuk itu banyak. ๐Ÿ˜

Tampak dekat wajah waktu disetrum dan proses tusuk jarum.

Saya pun konsultasi sama dr. Winda soal ini, dan menurut beliau kalau terasa sakit, berarti titik yang jadi masalah kesehatannya kena. Dan mudah-mudahan dengan begitu bisa cepet sembuhnya. Amin.

Setelah ini, saya juga dianjurkan untuk treatment secara rutin paling enggak seminggu sekali dengan didampingi oleh fisioterapi juga sekaligus.

Kebetulan, untuk fisioterapi sendiri saya udah reschedule beberapa kali karena terapisnya berhalangan hadir. Tapi besok saya akan menjalani sesi akupuntur kedua sekaligus fisio untuk pertama kalinya.

Sejauh ini sih, belum terlalu banyak perubahan yang bisa saya liat. Tapi yang saya rasakan setelah akupuntur sih tidur jadi lebih nyenyak. Kebetulan sepulang sesi akupuntur ini saya langsung lanjut tidur siang.

Yah, walaupun saya kurang ngerti sih ini apa efek akupuntur-nya, efek puasa jadi ngantuk dan kebluk, atau gara-gara kecapean karena pas sesi pertama ini saya nyetir setelah sekian lama saya gak nginjek gas mobil.

Kesan Setelah Treatment Akupuntur Pertama

Kalau dari segi saya sih, saya semangat untuk treatment karena ya emang ini penyakitnya udah lama dan saya pengen cepet-cepet sembuh. Mudah-mudahan perkenalan saya dengan Lineation ini jadi jalan pembuka untuk menuju kesembuhan saya.

Ke depannya, saya akan tulis perubahan yang saya rasakan selama treatment disini secara periodikal. Doain saya cepet sembuh ya teman-teman, sampai ketemu minggu depan untuk tulisan lengkap mengenai sesi kedua akupuntur dan sesi pertama fisio.

Cheerio! ๐Ÿ˜€

3 thoughts on “Tic Facialis & Bell’s Palsy Treatment di Lineation Korean Center (Akupuntur – Sesi 1)

Tinggalkan Balasan