Kenapa Akhirnya Berhenti Lebih Baik Daripada Bertahan

Seperti yang sudah saya sebutkan di beberapa postingan sebelumnya, saya akhirnya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan saya sebelumnya. 

Sebetulnya, bahkan ketika saya merasa pekerjaan adalah sumber ketidakbahagiaan saya saat itu, ketika saya mendapatkan penawaran di tempat lain, saya sempat berpikir untuk bertahan karena beberapa alasan. Pertama, karena bayangan saya adalah THR kalau saya bertahan setidaknya tiga bulan lagi. Kedua, dari segi benefit dan lain sebagainya, keuntungan yang saya dapatkan notabene lebih baik dibandingkan dengan penawaran yang diberikan di tempat baru saya. 

Tetapi akhirnya, disinilah saya ingin mencurahkan isi hati saya dan kenapa akhirnya saya memutuskan untuk berhenti daripada bertahan di pekerjaan saya sebelumnya. 

Ketika saya berkata kalau saya ga bahagia dengan pekerjaan saya sebelumnya, beberapa diantara teman yang kurang mengerti (dan mungkin juga karena kurang dekat dengan saya) langsung dengan mudah berkata untuk berpikir kembali mengenai apa yang saya rasakan terhadap pekerjaan saya sebelumnya ini. 

Pikir saya, kenapa saya harus berpikir mengenai apa yang saya rasakan? Saya bisa menggunakan otak saya untuk berpikir, tapi untuk apa yang saya rasakan ya lain cerita. Bukan sama otak lagi urusannya. 

Untuk mengatakan bahwa saya kurang cocok sama pekerjaan saya adalah berlebihan, karena saya betul-betul merasa kehilangan esensi diri saya di pekerjaan ini. Saya merasa hilang semangat hidup saya. Merasa apapun yang saya kerjakan ga pernah cukup bagus. Dan beberapa kali saya bahkan merasa muak dengan lingkungan sekitar saya. 

Masalahnya, efek tersebut ga cuma berdampak pada pekerjaan saya. Tapi juga pada kehidupan saya seluruhnya. 

Saya di Jakarta tinggal dengan adik saya, yang tahu A sampai Z tentang hidup saya karena dia adalah teman hidup pertama saya sejak dia lahir. Dia yang paling tahu ketika ada sesuatu yang ga beres dengan saya atau hidup saya. 

Ketika saya sempat berpikir untuk bertahan demi THR, dialah yang mengingatkan saya bahwa hidup saya lebih berharga daripada gaji sebulan yang toh kalau dipikir-pikir lagi ga seberapa. Dia tahu betapa saya membenci hidup ketika saya harus bangun di pagi hari. Saya lupa akan bersyukur dengan anugerah bernama kehidupan karena satu hal bernama pekerjaan. 

Bahkan waktu saya curhat dengan seorang cowok yang pernah menjadi teman kencan saya beberapa waktu lalu, satu kalimat dia yang saya ingat ketika itu adalah: “You can always quit. After all, you only have a bad job. Not a bad life.” 

Saya pun mulai mempertimbangkan penawaran yang diberikan, dari segi kelebihan dan kekurangan dibandingkan dengan pekerjaan saya sebelumnya. Dari segi gaji ga berubah banyak, bahkan saya masih harus kerja setengah hari di hari Sabtu. Dari segi transportasi, saya harus menggunakan go-jek alih-alih commuter line seperti sebelumnya.

Tapi satu hal yang saya temukan di penawaran tersebut yang akhirnya membuat saya akhirnya memutuskan untuk menerima penawaran tersebut: harapan. 

Ada secercah harapan yang saya temukan, bahkan ketika kenaikan gaji yang ditawarkan ga seberapa. Ada sedikit keinginan untuk bangkit kembali ketika harapan saya untuk berkarya sempat terkikis di pekerjaan saya sebelumnya. 

Saya ga pernah tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang, tapi saya ga keberatan untuk memulai kembali demi meniti hidup saya untuk lebih baik lagi ke depannya. Kalau saya ga bisa kaya raya, terus kenapa saya harus bertahan dengan keadaan bokek dan ga bahagia? Bukankah ada baiknya saya cukup bokek aja, tapi cukup bahagia dengan apa yang saya punya? 

Salah satu rekan kerja saya di kantor saya sebelumnya sempat mempertanyakan kenapa saya memilih untuk keluar ketika tahu kemana pelabuhan saya selanjutnya. Disana saya mulai mengerti, ada hal-hal yang lumrah cocok untuk beberapa orang, ternyata bukan sesuatu yang akan bekerja sama baiknya untuk orang lain. Itulah yang membedakan saya dan rekan saya itu. 

Saya ga menyalahkan dia yang berpikir lebih baik bertahan supaya bisa kerja di gedung perkantoran di pusat kota Jakarta, tapi justru saya beruntung karena diingatkan bahwa not everything is your cup of tea. 

Apakah saya menyesal? Tidak sama sekali. 

Satu minggu berlibur dan kembali ke rumah orang tua untuk bermain dengan kucing saya dan menyibukkan diri dengan konten di blog-blog saya cukup untuk saya merasa siap kembali ke pertarungan terbaru saya ke depannya. 

Seperti apa yang saya temukan di balik penawaran untuk pekerjaan saya selanjutnya ini, di fase awal hidup baru saya ini, saya cuma punya satu hal: harapan. Dan melalui pilihan saya untuk berhenti alih-alih bertahan, saya yakin bahwa apapun itu, saya akan wujudkan. 

One thought on “Kenapa Akhirnya Berhenti Lebih Baik Daripada Bertahan

Tinggalkan Balasan

loading...