Borneo Trip: Kenapa dan Kemana di Pontianak?

Hallo semuanya!

Udah sebulan lamanya nih saya MIA sejak saya review guest house tempat saya menginap di Pontianak. Belum seminggu saya pulang dari Borneo, alhamdulillah di rumah waktu luang lebih banyak daripada waktu liburan, makanya saya sempetin update blog ini juga akhirnya. πŸ˜›

Jadi, alasan pertama kenapa saya jarang update blog ini adalah gara-garanya selama trip kemarin, tiba-tiba saya banyak banget dapet orderan melalui blog Inggris saya. Dan di tengah jalan, tepatnya waktu saya sampai Sibu, tetiba saya dapet masalah sama laptop saya. Tombol H di keyboard-nya tiba-tiba rusak.

Gara-gara ini jugalah, mood saya buat update blog selama berada di Kalimantan langsung kandas begitu saja. Kagok cuy pake on-screen keyboard!

Nah, karena akhirnya sudah pulang ke Bandung, sekarang saya sudah beli keyboard baru untuk laptop saya supaya lebih gampang ngetiknya. Makanya, monmaap karena baru sempet update blog lagi sekarang! πŸ˜€

Bandara Supadio, bandara di Pontianak yang gak terlalu besar tapi cukup rapi dengan interior modern yang sedikit mengingatkan saya dengan bandara internasional di Hanoi.

Kenapa ke Pontianak?

Untuk Borneo trip ini, saya memutuskan buat memulai trip saya dari Pontianak karena beberapa alasan. Itupun, saya baru betul-betul mantap dengan keputusan saya sekitar bulan Maret lalu ketika akhirnya saya beli one-way ticket ke Pontianak dari Jakarta.

Soal rute perjalanan, saya pun baru susun itinerary beberapa bulan kemudian karena satu dan lain hal. Dari mulai urusan informasi mengenai transportasi umum yang kurang lengkap di internet, sibuk gara-gara kerjaan, dan lain sebagainya.

Alasan Kenapa Memulai Perjalanan dari Pontianak

Ada dua kota di Kalimantan Barat yang memang ingin saya kunjungi untuk trip kali ini: Pontianak dan Singkawang.

Untuk Pontianak sendiri, sebetulnya saya pilih karena dua alasan yang simpel: (1) Tujuan utama saya untuk trip kali ini adalah Brunei Darussalam, dan lihat tiket ke Brunei dari Jakarta, rasanya harganya gak worth it untuk ukuran jalan-jalan ke Brunei yang paling cuma 3-4 harian dan (2) Pontianak adalah kota di bagian Indonesia Borneo yang sudah punya transportasi umum yang cukup bagus untuk lintas perbatasan.

Sekilas pemandangan Pontianak diambil dari Sungai Kapuas.

Yesss, jadi buat kamu yang belum tau dan mungkin tertarik untuk melakukan trip jalur darat melintasi batas negara di Borneo, Pontianak ini punya beberapa pilihan transportasi umum darat maupun udara yang cukup mudah untuk lintas negara.

Selain AirAsia punya rute ke Kuching dan akan buka rute-rute baru lainnya dari Bandara Supadio, Pontianak juga punya beberapa opsi jalur darat melalui bus dengan destinasi Kuching atau bahkan Brunei sekalipun.

Dan inilah kenapa akhirnya saya memutuskan untuk memulai trip saya di Pontianak. Karena memang sejujurnya, waktu saya booking tiket ke Pontianak itu, saya sama sekali belum mikirin dari Pontianak mau kemana atau rute apa yang mau saya ambil dari sana. Semuanya bener-bener spontan, tapi apakah perjalanan saya akhirnya menyenangkan?! πŸ˜›

Di Pontianak, Enaknya Ngapain Aja?!

Jadi, sebelum saya mendaratkan kaki di Pontianak, boleh dikatakan saya ini adalah golongan orang Indonesia yang nihil sama sekali akan pengetahuan mengenai Pontianak.

Lintang nol derajat berada di Tugu Khatulistiwa, Pontianak Utara.

Serius, satu-satunya hal yang saya tau soal Pontianak adalah Tugu Khatulistiwa. Lain dari itu, saya sama sekali gak tau ada apa lagi di Pontianak. Saya pun gak punya temen orang Pontianak yang bisa saya tanya-tanya buat nyusun itinerary, makanya saya bener-bener blah-bloh soal kota ini.

Bahkan nih, waktu saya mau berangkat ke Pontianak itu gak lama setelah film-nya Dian Sastro “Aruna dan Lidahnya” baru rilis. Saya pun gak nonton film itu, dan baru tau kalo ada beberapa scene yang di-take di Pontianak gara-gara ade saya kasihtau soal kulineran disana. Baiklah, alasan inilah kenapa saya gak bisa jadi travel blogger sukses yessss. HAHA. πŸ˜›

Tempat Yang Saya Kunjungi di Pontianak

Iya sih, saya gak punya temen dari Pontianak pada awalnya.

Tapi, thanks to Couchsurfing, saya akhirnya ketemu sama Alvi, teman baru yang akhirnya gak cuma bantuin saya bikin itinerary, tapi malah nganterin saya kemana-mana selama disana.

Serius, saldo GoPay saya di Pontianak sampai gak tersentuh sama sekali sampai akhirnya saya check-out dari hotel dan menuju kantor DAMRI di hari terakhir.

Jadi, karena Alvi ini masih kuliah dan tergolong mahasiswa super aktif, jalan-jalan di Pontianak kali ini pun saya bener-bener santai. Saya emang udah list tempat-tempat yang saya pengen kunjungin, tapi pada akhirnya jadwal saya di Pontianak gak penuh dengan jalan-jalan melulu.

Alasannya, gak cuma karena Alvi seringkali harus ke kampus dan juga gantian jaga coffee shop yang dia rintis dengan temannya di Pouring Coffee, tapi juga karena cuaca di Pontianak yang seringkali hujan selama saya disana. Walaupun begitu, untungnya beberapa must-visit place di Pontianak sempet saya datengin.

1. Chai Kue A Hin di Jalan Siam

Chai kue dan kembang tahu goreng yang saya coba di A Hin, Jalan Siam.

Karena saya sampai Pontianak siang hari dan Alvi ada acara di kampus siangnya, akhirnya kita baru bisa ketemu untuk makan malam.

Chai kue di Jalan Siam ini ada dalam daftar yang pengen saya datengin di Pontianak, makanya Alvi langsung bawa saya kesini. Selain chai kue dan kembang tahu goreng yang ada di gambar, sebetulnya saya juga pesen tom yam. Tapi gak sempet saya foto, karena emang saya pengen fokus sama chai kue-nya aja.

Ini kali pertama saya cobain chai kue. Dan karena ini jadi ajang perdana saya cobain chai kue, saya kalap. Saya pesen semua varian, dengan isi kacang, bengkuang, keladi, dan kucai. Itupun saya pesan chai kue goreng dan kukus. Pokoknya gak ada yang ketinggalan deh karena YOLO.

Berdasarkan rekomendasi Alvi, semuanya enak tapi yang paling juara itu yang rasa bengkuang dan kucai. Dan dia benar. Liat foto diatas? Nah, Alvi paling cuma makan sekitar 6 biji. Sisanya saya yang makan karena ternyata emang super enak. #nenengkalap πŸ˜›

Untuk makan malam dengan chai kue, kembang tahu, tom yam dan minum untuk berdua, total yang saya keluarkan cuma IDR 81,500.

Itupun sebenernya kalo seandainya saya mengikuti sabda Rasul untuk makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang, saya gak perlu beli sebanyak itu. πŸ˜›

2. Pouring Coffee

Jadi, saya udah sempet cerita khan kalo Alvi juga kadang disibukkan untuk jaga coffee shop yang dia rintis sama temannya?! πŸ™‚

Nah, saya juga sempet mampir ke Pouring Coffee ini. Disana, sudah ada beberapa temannya Alvi yang memang katanya sering nongkrong disana bahkan setelah coffee shop-nya tutup tengah malam. #youthlifebelike

Untuk Pouring Coffee ini, saya gak bayar apa-apa karena Alvi maksa banget ngasih saya complimentary iced cappuccino.

Penampakan Pouring Coffee.

Alvi sendiri cerita kalo Pouring Coffee ini sempat rebranding, dan setelah proses rebranding, mereka juga pindahin lokasi toko ke rumah pacarnya teman Alvi yang jadi rekan bisnisnya ini. Tempatnya sendiri berada di tengah perumahan yang cenderung sepi sih, kayak gak bakalan nyangka disitu ada coffee shop.

Tapi, bener-bener cozy buat dipake nongkrong karena perumahannya cukup luas dengan sistem self-service untuk tempat duduk menggunakan ban bekas dan kayu-kayu untuk meja. Super kreatif, dan gara-gara ini salut banget sama Alvi karena so young and full of life! #menolaktua

3. Mie Tiaw Apollo

Jadi, setelah mampir ke Pouring Coffee sekalian nungguin Alvi jaga warung sampai tengah malam, jangan pikir saya bakal berhenti makan. HAHA.

Jadi, karena saya di Pontianak itu cuma 3 hari 2 malam, mau gak mau saya bener-bener menerapkan prinsip YOLO. Jadi, walaupun tom yam dan chai kue di Jalan Siam lumayan bikin saya kenyang, saya masih keukeuh pengen cobain mie tiaw Apollo yang legendaris itu walaupun udah tengah malam. πŸ˜›

Yang bikin unik dari rasa mie tiau ini adalah cocolan sambal di wadah kecil itu. Cabe rawit dengan kuah rasa asam yang bikin cita rasa mie tiaw-nya nambah berkali-kali lipat dibandingin kwetiaw di Jawa. πŸ˜›

Jadi, selama di Pontianak ini saya jadi tergila-gila sama es jeruk kecil! πŸ˜€

Kalau di Jawa, mungkin kita biasa nyebutnya es jeruk nipis. Di Pontianak, es jeruk kecil ini bener-bener pelepas dahaga banget. Gak peduli mau siang pas lagi panas-panasnya atau tengah malam kayak waktu saya makan Mie Tiaw ini.

Untuk total keseluruhan makan saya dan Alvi, kita berdua sama-sama pesan mie tiaw daging dan es jeruk kecil dan air mineral, saya bayar IDR 63,000. Tapi kalau bandingin sama rasa mie tiaw-nya, dengan harga segitu saya jadi pengen balik lagi juga sih ke Pontianak karena enaaaaaaak! πŸ˜€

4. Tugu Khatulistiwa

Garis tempat saya berdiri di foto ini adalah garis ilusi yang disebut garis khatulistiwa, garis yang membelah bumi menjadi bagian utara dan selatan dalam bola dunia.
Ferry untuk menyebrangi Sungai Kapuas sendiri gak bagus-bagus banget sih, tapi cukup oke lah.

Baru besokannya, kita mengawali hari dengan menuju ke tempat yang sifatnya wajib didatangi kalau mampir kesini: Tugu Khatulistiwa!

Jadi, karena selama di Pontianak saya nginep di pusat kota, ternyata Tugu Khatulistiwa ini berada di bagian Pontianak lainnya.

Untuk menuju Tugu Khatulistiwa dari pusat kota, ada dua jalur yang bisa diambil: melalui jalur darat dengan melewati tol yang berupa jembatan yang menghubungkan Pontianak Utara dan Selatan, atau bisa juga dengan menggunakan ferry yang akan membawa kamu menyebrangi Sungai Kapuas sebelum melanjutkan perjalanan dengan motor/mobil.

Untuk perjalanan ke Tugu Khatulistiwa-nya, saya dan Alvi ambil jalur yang terakhir melalui ferry. Karena kita bawa motor, jadi motornya ikut masuk ke ferry dan perjalanan kita lanjutkan dari jetty ke Tugu Khatulistiwa sekitar kurang lebih 20 menit. Sialnya, kita sempet terjebak hujan selama kurang lebih setengah jam di tengah jalan. 😐

Untuk masuk ke Tugu Khatulistiwa ini sendiri gak dikenakan biaya apapun, cukup dengan isi buku tamu aja. Cuma, sejujurnya sih pas kesana saya agak sedikit kecewa juga pas liat.

Karena selain cuma ‘gitu doang’, semua penjelasan pun cuma tersedia dalam Bahasa Indonesia. Padahal kayaknya bakal lebih informatif kalau misalnya penjelasan juga disediakan dalam Bahasa Inggris.

Info yang saya dapetin dari kunjungan saya ke Tugu Khatulistiwa sendiri adalah soal titik kulminasi matahari, dimana setiap tahunnya, akan ada hari-hari dimana untuk setiap benda apapun yang berada di sekitar garis lintang, bayangan seluruh benda itu akan hilang selama matahari. Hari-hari tanpa bayangan!

Berdasarkan info yang saya dapatkan dari petugas, konon hari-hari titik kulminasi matahari ini akan sama setiap tahunnya. Yaitu pada tanggal 20-22 Maret dan 21-23 September.

5. Istana Kadriah

Istana Kadriah, Pontianak.

Karena berangkat dari penginapan ke Tugu Khatulistiwa kita ambil jalur lewat ferry, pulangnya kita ambil jalur darat melalui tol menuju destinasi kita selanjutnya: Istana Kadriah.

Sekilas beberapa pemandangan di Istana Kadriah. Bonus ada kucing lagi santai di permadani raja. πŸ˜›

Gak ada biaya apapun untuk masuk ke Istana Kadriah ini. Karena saya kesana pakai baju dengan model midi dress, saya diminta untuk pakai kain tambahan untuk menutup lutut dan kaki bagian bawah.

Awalnya saya pikir sewa kain ini bakal dikenakan bayaran, tapi ternyata enggak dan kainnya memang disediakan untuk menerima pengunjung haram macam saya. πŸ˜›

Lagi-lagi, untuk Istana Kadriah ini saya juga agak kecewa dikarenakan gak ada informasi berarti yang disampaikan melalui tulisan yang bisa dibaca oleh pengunjung.

Yah, memang sih itu salah saya juga karena saya gak sempat cari tau mengenai sejarah Kesultanan Pontianak. Alhasil, pas dateng kesini bener-bener blah-bloh liat foto di istana ini, siapa raja anaknya siapa.

Kayaknya emang ada beberapa guide yang diset untuk menjelaskan terkait hal ini secara lisan, tapi kebetulan gak ada guide yang nyamperin saya waktu kita datang kesana.

Akhirnya, kita pun ngintil salah satu grup yang saat kita kesana lagi bersama guide yang menjelaskan sedikit banyak soal Kesultanan Pontianak ini.

6. Rumah Radakng

Sekilas bagian dari Rumah Radakng.

Dari seluruh tempat yang bikin saya kecewa, sesungguhnya Rumah Radakng ini yang paling mengecewakan. πŸ™

Ekspektasi saya terhadap tempat ini begitu berlebihan, sehingga pas saya kesana dan ternyata rumah ini cuma bisa dilihat bagian luarnya aja dengan beberapa ornamen yang terbuat dari sterofoam, rasanya kayak kok sayang ya ini rumah gede-gede begini cuma jadi pajangan doang.

Buat kesini gak ada biaya apapun, karena kalaupun ada, kayaknya yang ada saya yang ngamuk karena gak rela bayar untuk kesana tanpa ngapa-ngapain kecuali menginjakkan kaki di Rumah Radakng yang terlihat megah dari luar.

7. Taman Alun-Alun Kapuas & Menyusuri Sungai Kapuas

Pemandangan dari atas kapal waktu menyusuri Sungai Kapuas.
Pemandangan dari dek atas kapal.

Sungai Kapuas dengan reputasinya sebagai sungai terpanjang di Indonesia, tentunya sayang kalau gak merasakan pengalaman untuk explore di sekitar sungai ini.

Sekitar jam 5 sore, saya dan Alvi menuju Taman Alun-Alun Kapuas untuk naik kapal dan menyusuri Sungai Kapuas sambil melihat pemandangan dan ngopi-ngopi cantik di kapal. Seandainya cerah, mungkin sunset juga bakal lebih indah.

Sayangnya, waktu saya kesana cuaca Pontianak emang lagi angin-anginan dan lebih sering hujan daripada cerahnya.

Makanya, kalau ditanya apakah Pontianak panas, panasnya Pontianak selama disana belum ngalahin panasnya di Jakarta atau Semarang seperti yang pernah saya rasakan gara-gara hujan. πŸ™

Tapi, lumayan menghibur kok… Asyik juga nongkrong diatas kapal sambil liat-liat Kampung Beting, dan menikmati secangkir Milo di kapal.

Untuk menyusuri Sungai Kapuas dengan kapal ini, dikenakan biaya IDR 15,000 per orang untuk sekali putaran. Di kapal tersebut juga tersedia semacam kafe, sehingga bisa makan-minum sambil menikmati Kapuas di waktu senja. #atzek

8. Pisang Goreng Sarihati & Kopi Asiang Pontianak

Karena malamnya Pontianak hujan dan Alvi ada acara, malam terakhir saya di Pontianak saya habiskan di kamar untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan saya. Bahkan buat makan malam ke Kopi Aming yang gak jauh dari penginapan saya pun mikir lagi saking gedenya hujan waktu itu! 😐

Gara-gara ini juga, akhirnya saya dan Alvi janjian untuk melanjutkan petualangan di Pontianak besokan paginya dimulai dari waktu sarapan. Salah satunya, kopi legendaris di Pontianak: Kopi Asiang.

Ada yang bilang, katanya belum ke Pontianak kalau belum ke Kopi Asiang. Warung kopi yang terkenal dengan ‘barista’-nya, alias yang mpunya toko, Asian, seorang lelaki setengah baya yang mempersiapkan kopinya dengan bertelanjang dada.

Dari kiri ke kanan: Kopi susu Asiang, telur mentah Asiang dan pisang juga roti Sarihati.

Sayangnya, saya gak sempet ambil foto-nya Asiang ini waktu nyiapin kopi euy… Maklum, saya ini suka gak enakan kalo ambil foto orang sembarangan. πŸ˜›

Sebelum ke Kopi Asiang, saya dan Alvi mampir dulu ke Sarihati untuk cobain pisang goreng dan roti sarikaya mereka yang konon katanya cukup terkenal di Pontianak. Masuk akal sih kalau terkenal, karena waktu kita kesana, meja semua penuh dan akhirnya pisang dan roti yang kita pesan kita bungkus untuk dimakan di Kopi Asiang.Β Total pembelian saya di Sarihati, 2 pisang goreng dan 2 roti sarikaya cuma IDR 22,000 aja.

Dan rasanya emang enak banget. Saus sarikaya-nya gak terlalu manis, jadi saya suka. Menu roti dan pisang goreng ini cocok banget dijadiin menu sarapan. Dan sesungguhnya, ini cocok banget dimakan sambil ditemani kopi susu panas Asiang ini.

Kopi susu panas Asiang ini rasanya lebih cenderung ke pahit, ditambah dengan sarikaya yang ada di roti dan pisang goreng Sarihati ini oke bangeeeeeeet. Nikmat! πŸ˜€

Selain kopi, di Asiang pun saya dan Alvi masing-masing pesan telur mentah yang dihidangkan dalam cangkir kecil. Tambah sedikit bumbu garam dan lada sendiri, lumayan banget buat stamina.

Untuk 2 cangkir kopi dan 2 telur mentah di Asiang, total yang saya bayar cuma IDR 42,000. Lumayan banget.

9. Es Krim Angi

Es krim batok kelapa rasa coklat yang saya pesan di Es Krim Angi.

Jadi, katanya es krim Angi ini udah ada di Pontianak sejak tahun 1950an. Dan saya amazed juga waktu saya posting di Instagram soal es krim ini, dan teman-teman saya banyak yang komen karena ternyata es krim ini seterkenal ITU. *bener-bener blah-bloh soal Pontianak πŸ˜›

Es krim Angi ini terkenal dengan sebutan es krim Petrus, karena lokasi tokonya yang persis di depan Sekolah Petrus. Untuk penyajian es krimnya sendiri, kita bisa pilih mau disajikan dalam bentuk cup atau batok kelapa. Ada beberapa pilihan rasa es krimnya juga yang bisa dipilih sesuai selera.

Buat orang kayak saya yang gak bisa main-main sama rasa es krim, saya ini pasti pilih rasa coklat dan pilih ukuran besar di batok kelapa dengan harga sekitar IDR 25,000.

Kalau dari segi rasa sih yaaaa, menurut saya sih ya enak sebagaimana es krim. Gak yang istimewa gimanaaaa gitu. Cuma emang rasanya ini es krim gak kebanyakan gula jadi ya enak aja gitu, gak terlalu manis.

Highlight-nya tetep sih, batok kelapanya karena enak jadi bisa nikmatin sekaligus serut kelapa dan es krimnya. πŸ˜€

10. Aming Coffee

Vietnam drip-nya Aming Coffee.

Jadi, bahkan sejak pertama kali sampai ke penginapan, saya langsung penasaran sama Aming Coffee yang lokasinya persis di depan Sentosa Guest House tempat saya nginep kali ini. Masalahnya, saya sampai penginapan sekitar jam 2 siang, dan coffee shop ini udah terlihat super penuh sampai ke luar.

Karena malam sebelumnya gak sempat kesana gara-gara hujan, akhirnya sebelum saya pergi ke kantor DAMRI untuk melanjutkan perjalanan saya ke Singkawang, saya mampir kesini buat cobain Vietnam drip-nya mereka.

Harganya super murah, cuma IDR 13,000 dan walaupun rasanya tetep gak bisa dibandingin sama Ca Phe Sua Da asli Vietnam, tapi saya bisa hampir pastikan kalau kopi Vietnam-nya Aming Coffee ini lebih enak rasanya daripada Kopi Vietnam-nya Olivier, alias kopi sianida-nya Jessica Mirna. 😐

Kesan Pertama terhadap Pontianak: Makanannya Super Enak!

Kalau ada satu hal yang bikin saya pengen balik lagi ke Pontianak, itu adalah karena makanannya yang enak-enak banget.Β 

Jujur, karena untuk tempat wisata sendiri menurut saya agak sedikit mengecewakan sih. Bahkan Tugu Khatulistiwa yang kayaknya jadi salah satu tempat wisata yang harus banget didatangin pun gak terlalu istimewa keliatannya. Hmm.

Tapi gak apa-apa, yang penting sekarang udah pernah kesana. Tapi ya itu tadi, kalau balik lagi ke Pontianak, alasan saya paling cuma buat makan aja. Dan saya sendiri agak surprised, karena saya sendiri gak tau kalau ternyata Pontianak ini emang andalannya ya kulinernya ini. Super banget! πŸ˜€

Btw, Alvi juga sempet cerita kalau dia pernah coba naik kapal ferry dari Tanjung Priok ke Pontianak. Perjalanannya 3 hari 2 malam, dengan menginap di atas kabin kapal PELNI yang lumayan bagus. Saya jadi penasaran juga nih pengen coba gara-gara Alvi cerita. Ada yang pernah coba juga?!Β 

Sementara itu, ini essay gak disangka udah hampir 3000 kata gara-gara keasyikan nulis. Nanti lanjut lagi ke cerita saya di kota selanjutnya yaa… Cheerio! πŸ˜€

4 thoughts on “Borneo Trip: Kenapa dan Kemana di Pontianak?

  1. Baca ini pelan-pelan banget karena nggak mau kelewatan sedikitpun cerita kulinerannya yang seru banget hahaha. Ini temen kantorku ada yang orang Pontianak dan rencana dia libur natal ini mau pulang kampung, apakah ku harus ikut sama doi demi nyobain makanan-makanan tsb? :)))

    Dan aku pun ngakak ketika baca (((pengunjung haram)))

    Sis, ajak-ajak dong kalau rencana traveling ke tempat-tempat yang nggak biasa kek gini, hahaha #NesaAnakYangKepengenDiajakTapiSusahBuatCuti :)))

    1. emangnya klo mislnya libur natal temen kamu pulang kampung, kamu bisa cuti? bukannya agency malah banyak campaign di bulan2 itu yaaa? #tetepjulid2019 :)))

      aku akhir2 ini gara2 jadi ngidap choi pan cari2 di bandung juga nih, ini lagi PO ke harkings choi pan di sarijadi. ntar aku kabarin klo enak, siapa tau mo cobain yesss. mana tau malah lebih enak daripada di a hin. πŸ˜›

Tinggalkan Balasan