Jalan-Jalan Seminggu di Tiga Negeri: Hongkong-Macao-Bangkok

Hallo beautravelers! 😀

Tadi siang di grup Backpacker Internasional ada salah satu member-nya yang bernama Mbak Priska bilang kalau dia dapat libur lebaran selama 6 hari untuk tahun depan dan sedang mempertimbangkan antara Hongkong dan Bangkok-Pattaya.

Dia bertanya-tanya apakah memungkinkan untuk mengunjungi kedua negara tersebut dalam seminggu, dan karena rute birthday trip saya tahun ini adalah Hongkong-Macao-Bangkok dihabiskan dalam satu minggu, saya pun langsung pede bilang bisa.

Tapi waktu ditanya apakah saya pernah nulis blog-nya, saya baru ngeh kalau saya ga pernah betul-betul review birthday trip saya ini di blog. Saya cuma pernah nulis sekilas tentang Bangkok, tapi ngga perjalanan saya di Hongkong kecuali beberapa postingan yang pernah saya tulis di Ransel Ungu (EN).

Dan thanks to Mbak Priska, sekarang saya jadi dapet wangsit untuk nulis tentang jalan-jalan seminggu di tiga negeri ini: Hongkong-Macao-Bangkok.

Bukan, saya pake istilah tiga negeri bukan karena saya baru merintis bisnis batik lewat BeautiQ. Tapi memang kebetulan aja sih pas banget, tiga negara dalam satu minggu. 🙂

Kalau ditanya apakah bisa liburan seminggu ke Hongkong dan Thailand sekaligus, sebetulnya jawabannya bisa dikembalikan masing-masing. Kira-kira apakah kita mau repot bikin itinerary untuk jalan-jalan di dua negara sekaligus dengan waktu yang terbilang singkat? Dan dengan singkatnya waktu, tempat-tempat macam apa yang dijadikan prioritas buat kamu kunjungi?

Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa macam-macam karena memang gaya liburan masing-masing pribadi bisa berbeda. Tapi, kalau misalnya kamu tipe traveler yang cukup adventurous untuk otak-atik itinerary dan cukup spontan ketika terjadi perubahan dadakan, catatan perjalanan tiga negeri saya ini bisa kalian coba aplikasikan dengan sedikit perubahan ini-itu yang bisa disesuaikan dengan minat masing-masing. 😉

Draft itinerary di Hongkong pertama yang saya buat untuk didiskusikan dengan Fiza, partner perjalanan yang saya kenal lewat Couchsurfing di Macao.

Harap dicatat, tiap kali traveling saya memang harus punya draft itinerary untuk acuan saya supaya jelas mau kemana-kemananya. Tapi, ketika hari H biasanya revisi habis-habisan bisa terjadi karena satu dan lain hal. Bisa karena mendadak mager atau karena mendadak menemukan hal-hal baru di perjalanan.

Inipun terjadi ketika saya memutuskan buat ke Hongkong untuk birthday trip saya di bulan Februari kemarin. Alasan pertama saya memilih Hongkong sebagai destinasi saya adalah karena saya pengen ke suatu tempat dengan udara dingin di ulang tahun saya. Dan karena saya sendiri belum pernah ke Hongkong dan punya ambisi tersendiri untuk mengunjungi reruntuhan St. Paul di Macao, akhirnya saya pun beli tiket berangkat ke Hongkong Juli tahun lalu setelah THR sampai di rekening saya. 😛

Ide untuk melanjutkan perjalanan ke Bangkok baru muncul di bulan Desember 2016 ketika saya mulai susun itinerary dan cari-cari tiket pulang dari Hongkong/Macao ke Jakarta. Hal ini semakin dikuatkan karena roommate saya ketika terbang, Jittima, adalah orang Bangkok yang sudah kembali menetap disana sehingga saya punya misi tersendiri untuk ga menikmati ulang tahun sendiri di negara asing.

Bonus tambahan buat saya ketika ternyata adik-adik saya, Uun dan Akin, ternyata available untuk ikut berlibur ke Bangkok selama 3 hari terakhir. Alhasil, saya menikmati hari-hari di Hongkong dan Macao untuk solo traveling dilanjutkan dengan quality time bersama orang-orang tersayang di Bangkok. 🙂

Hongkong

Seperti yang mungkin kalian lihat di draft itinerary saya, awalnya saya sempat berencana untuk mengunjungi Disneyland. Tetapi, karena saya solo traveling dan saya ga mau merasa sendirian di tengah keramaian walaupun judulnya berada di the happiest place on earth, akhirnya saya pun mengubah itinerary saya ke tempat lain.

Sebetulnya, awalnya saya mendapatkan partner jalan-jalan untuk ke Disneyland lewat Couchsurfing, namanya Mona dari Filipina. Tapi ga lama sebelum hari H keberangkatan, dia bilang kalau dia harus menunda keberangkatannya sehingga sepertinya kita ga mungkin ketemu di Hongkong. 🙁

Sedangkan Fiza, partner jalan-jalan lain saya dari Singapore, memang dari awal udah bilang kalau dia ga akan ke Disneyland sehingga kita akhirnya janjian untuk jalan-jalan bareng di Macao.

Karena saya ga jadi punya teman untuk ke Disneyland, akhirnya saya pun memutuskan untuk mengganti destinasi saya dari Disneyland menjadi Ngong Ping atas rekomendasi John, teman lama yang saya kenal semasa summer course di Izmir yang sekarang sedang menjalankan studi doktoral-nya di Hongkong University.

Sebelumnya, saya juga sempat menghubungi tur Hongkong Dolphinwatch untuk berlayar melihat lumba-lumba pink, tapi sayangnya saat itu akan diadakan Hongkong Marathon di akhir pekan sehingga ada beberapa perubahan mengenai jadwal tur yang ga memungkinkan saya untuk ikut tur mereka. :/

Jadi, kemana aja saya di Hongkong?



Hari Pertama: Belaga Kaya di Happy Valley Clubhouse

Saya landing di Hongkong sekitar jam 12 siang waktu setempat. Dengan menumpang bus A21 dari bandara seharga HKD 32, saya berhenti ga jauh dari tempat saya menginap di Chungking Mansion. Saya sendiri menginap di Days Hotel yang secara lokasi memang cukup strategis karena dekat dengan MTR dan tempat pemberhentian bus.

Walaupun saya sudah sampai hotel sekitar jam 2, tapi karena mager (iya, mager!) saya akhirnya memutuskan buat tidur siang sesampai di hotel dan baru bersiap-siap untuk keluar sekitar jam 5 sore untuk ketemu dengan John. 😀

Jadi, saya dan John itu kenal ketika kita sama-sama masih belajar Bahasa Turki di TOMER 7 tahun lalu. Waktu itu, John berada di kelas persiapan sebelum memulai kuliah dia di Dokuz Eylul University. John sendiri berasal dari Nigeria, sedangkan waktu itu saya disana karena mendapat beasiswa dari pemerintah Turki untuk belajar Bahasa Turki selama musim panas. Saya dan John kenal karena kita sama-sama tinggal di dorm yang sama dan sering berpapasan jaman nonton bareng World Cup 2010.

Awalnya saya ga nyangka bakal ketemu lagi sama John ini, tapi ketika saya sedang merencanakan perjalanan saya di Hongkong, tiba-tiba aja saya sering lihat update dia di Facebook. Long story short, ternyata dia sekarang kuliah doktoral-nya di Hongkong dan akhirnya kita merencanakan semacam mini reunion sesampainya saya disana.

Dan aktivitas reuni kita ditandai oleh makan malam dan… Nonton balap kuda di Happy Valley Clubhouse! 😀

Salah satu kuda pemenang yang kita tonton malam itu.

Random banget sih memang, tapi ternyata equestrian adalah salah satu olahraga populer di Hongkong. Bisa dilihat dari jumlah penonton yang betul-betul ramai. Saya yang rakyat jelata ini pun berasa macem orang kaya menikmati olahraga elit satu ini.

Masuk ke Happy Valley Clubhouse untuk nonton rangkaian balap kuda ini harganya HKD 10. Kalau kamu tertarik untuk nonton kesana ketika di Hongkong, kamu bisa cari jadwal balap disini karena mereka mengadakan balap kuda secara rutin di hari Rabu setiap minggunya. Untuk tiket masuk, kalian juga bisa bayar menggunakan Octopus Card yang merupakan kartu sakti untuk siapapun yang ada di Hongkong. 😉

Selama balap, kalian juga bisa ikutan judi balap kuda kalau tertarik. Saya sendiri sih ga ikutan karena memang saya ga punya uang dan judi itu haram kata Bang Roma. 😛

Foto saya dan John beserta beberapa pemandangan yang kita dapat selama lomba balap kuda.

Walaupun nonton balap kuda ga bikin kita tiba-tiba jadi expert di bidang equestrian, tapi kita cukup terhibur dengan vibes yang ada disana. Karena ramai banget!!!!

Kalau saya perhatikan, sebetulnya yang datang kesini lebih banyak bule-bule sih walaupun cukup banyak juga orang-orang lokal yang kesana. Tapi kesan pertama pas masuk arena balap kuda, saya lebih berasa berada di suatu tempat dengan mayoritas orang-orang Kaukasian daripada di Asia. Hmmm.

Tips kalau kamu tertarik untuk nonton balap kuda di Happy Valley Clubhouse: Bawa air minum sendiri, atau beli air mineral dari 7/11 terdekat karena di dalam arena balap hampir semuanya jual minuman beralkohol dan soft drink seperti Coca-Cola. Gerai McDonald’s kecil tersedia, tapi ga jual air mineral juga. Walaupun teh hangat di McD cukup menjadi pelipur lara saat itu.

Hari Kedua: Ngong Ping dan Tsim Sha Tsui Promenade

Sesuai dengan saran dari John, karena saya batal ke Disneyland gara-gara sendirian, akhirnya saya pun memutuskan untuk jalan-jalan ke Ngong Ping. Untuk transportasi, sebetulnya gampang-gampang susah kalau dari Tsim Sha Tsui kesana. Gampang jalaninnya, susah jelasinnya. Hahaha.

Karena saya tinggal di Chungking Mansion yang notabene dekat dari MTR Station, saya naik dari Tsim Sha Tsui ambil Tsuen Wan Line menuju Lai King. Dari Lai King, saya pindah platform menuju Tung Chung. Nah, dari Tung Chung ini, saya ambil bus menuju Ngong Ping.

Tips kalau kamu baru pertama kali kesana: Be proactive! Sesampai Tung Chung, posisi pemberhentian bus cukup membingungkan. Malu bertanya, sesat di jalan. Kalau bingung, mending langsung tanya ke orang terdekat.

Kebetulan, waktu saya kesana cable car di Ngong Ping sedang dalam renovasi. Tapi kalaupun beroperasi, rasa-rasanya saya tetep bakal pilih bus karena harganya lebih murah. Bus dari Tung Chung ke Ngong Ping ini harganya HKD 17 sekali jalan dan cukup nyaman. 🙂

Sesampainya di Ngong Ping pun kita bisa pilih destinasi mana dulu yang mau kita kunjungi. Apakah langsung ke Big Buddha atau mau santai sedikit di Ngong Ping Village sekalian liat-liat suvenir atau ngopi-ngopi cantik. Atau mau ke Po Lin Monastery dulu? Semuanya bisa dilakukan sesuka hati kalau kalian kesana tanpa tur seperti saya!

Saya sendiri menghabiskan waktu sekitar 3 jam untuk jalan-jalan di sekitaran Ngong Ping ini ditambah dengan spare satu jam untuk makan siang di salah satu restoran yang ada di Ngong Ping Village.

Dari Ngong Ping, saya langsung balik ke hotel untuk istirahat sebentar dan baru keluar lagi agak sore untuk jalan-jalan ke Tsim Sha Tsui Promenade untuk santai sambil liat-liat pemandangan sekaligus menunggu malam untuk liat Symphony of Light.

Dasar apes, waktu saya kesana, Avenue of The Stars pun sedang renovasi sehingga saya ga kebagian foto ala-ala sama selebritis. 🙁

Setelah puas ambil foto sambil liatin orang-orang yang lalu lalang sembari dalam hati jadi komentator (kebiasaan nyinyirin orang hahaha!) dan lalu menyempatkan diri untuk makan malam di sekitaran Tsim Sha Tsui, akhirnya saya pun nonton Symphony of Light yang ternyata… biasa aja! 😐

Ekspektasi saya terlalu berlebih, sehingga saya dikecewakan oleh Symphony of Light. Haha.

Saya sampai harus bertanya ke orang sebelah saya apakah Symphony of Light cuma gitu aja. Cuma semacam permainan laser dengan background musik. Begitu krik.

Kalau boleh jujur, daripada Symphony of Light, saya lebih suka suasana Hongkong di malam hari seperti ini.

Walaupun sedikit kecewa, tapi saya cukup senang jalan-jalan menyusuri Tsim Sha Tsui di malam hari melihat gemerlap kota Hongkong sambil makan es krim. Es krim-nya kurang enak sih, tapi lumayan.

Di beberapa pojokan, saya pun liat begpacker, istilah yang digunakan untuk para backpacker yang cari uang selama perjalanan mereka dengan cara menjual foto atau ngamen. Kalau dipikir-pikir, kesel juga yah bagian kita kalau ke negara mereka harus punya bukti tabungan yang memadai, bagian mereka ke daerah kita bisa masuk dengan Visa On Arrival (atau bahkan bebas visa!) dan di negara kita malah minta-minta. 🙁



Macao

Dari beberapa tempat di Hongkong yang ingin saya kunjungi, sebetulnya tujuan utama yang bikin saya akhirnya beli tiket ke Hongkong ada di Macao: reruntuhan St. Paul. Maklum, saya sering banget liat foto temen-temen disana, dan tiap kali liat saya suka langsung ngebatin pengen kesana. Alhamdulillah akhirnya kesampaian juga. 🙂

Seengganya, sekarang udah 2 reruntuhan St. Paul yang saya kunjungi, yang di Melaka dan yang di Hongkong. 😀

Untuk transportasi dari Hongkong ke Macao, di atas kertas sebetulnya cukup mudah karena saya berada di Tsim Sha Tsui yang konon katanya dekat dengan Kowloon Ferry Terminal. Di hari pertama saya ketemu sama John pun, dia nunjukkin tempat saya naik ferry menuju Macao.

Tapi begitulah, kadang kenyataan ga sesuai dengan harapan karena di hari H ketika saya berencana untuk ke Macao, ternyata jalan ke Macao ga semudah itu.

Sebelumnya, saya janjian ketemu sama Fiza di Kowloon Ferry Terminal jam 8 pagi untuk ke Macao bareng. Tapi ternyata terminal yang ditunjukkan oleh John di hari pertama sepertinya bukan Kowloon Ferry Terminal yang dimaksud. Akhirnya, saya pun minta Fiza langsung ke Macao supaya kita bisa lanjut ketemu nanti sesampainya di Macao. :/

Dari Tsim Sha Tsui, saya disuruh naik ferry menuju Central Pier untuk ambil ferry lanjutan ke Macao. Dari Tsim Sha Tsui ke Central Pier sendiri saya bayar HKD 5 untuk ferry, dilanjutkan dengan ferry menuju Macao seharga HKD 153 sekali jalan.

Ferry ke Macao yang saya gunakan waktu itu adalah TurboJet. Cukup nyaman, karena untungnya saya tidak dilahirkan dengan mabuk laut. 🙂

Hari Ketiga: Macao dan Mongkok!

Perjalanan dari Hongkong ke Macao sendiri memakan waktu kurang lebih sekitar satu jam. Karena sedikit nyasar soal terminal ferry, saya pun baru berangkat dari Central Pier naik ferry jam 8.30 pagi dan sampai di Macao sekitar pukul 9.45 dikarenakan hujan di tengah perjalanan.

Tips untuk kamu yang berencana jalan-jalan ke Macau dari Hongkong: Mata uang HKD dan MAP (Macanese Pataca) sama, dan kalian bisa menggunakan HKD untuk transaksi di Macao. Sebaliknya, kalian ga bisa menggunakan MAP untuk transaksi di Hongkong. Jadi, kalau misalnya ga perlu-perlu banget, penukaran uang ke MAP ga disarankan.

Saya sendiri tukar USD 50 ke MAP karena sebelumnya kurang riset. 😛

Baru ketahuan soal bisa pakai uang HKD di Macao ketika saya udah jalan-jalan sama Fiza dan dia sama sekali ga nuker uang MAP. Ga apa-apa, pelajaran. Lagipula lumayan, paling engga saya pulang punya receh mata uang pataca. Haha.

Dari terminal ferry, saya langsung ke tempat shuttle bus menuju Venetian Macao karena janjian dengan Fiza disana. Bus-bus di Macao ini semuanya gratis, kalian bisa tinggal naik sesuai dengan tujuan kalian. Duduk manis, nyalain wifi. Pokoknya hidupnya enak di Macao! 😀

Sesampainya di Macao, sambil nunggu kabar dari Fiza saya sarapan di McD karena ternyata makanan di Venetian Macao mahal-mahal. Food court pun mahal, dan pilihan pas untuk rakyat jelata macem saya ya cuma McD. Hmm.

Akhirnya, saya dan Fiza pun ketemu di Parisian Macao karena seselesainya saya makan, ternyata Fiza whatsapp saya kalau dia baru mau sarapan di McD juga. Padahal saya baru meninggalkan McD beberapa saat sebelumnya, dan karena males balik lagi akhirnya saya pun nunggu Fiza di area Parisian.

I don’t always take selfie in the rest room, but when I do, it’s Parisian Macao. Mewah banget sis WC-nya, Neneng mau pipis aja sampe gemeteran! 😛

Setelah ketemu, kita lalu jalan-jalan ke City of Dreams karena Fiza pengen ke Hard Rock Cafe untuk belanja pin dan kaos disana. Maklum, doski koleksi yang begituan. Ga heran sih, wong gajinya SGD. Apalah kalau Neneng cuma digaji pake IDR, nginjek Macao aja alhamdulillah. 😛

Baru dari City of Dreams, kita ambil bus gratis lagi menuju Grand Lisboa untuk melanjutkan perjalanan ke reruntuhan St. Paul. 😀

Ki-ka searah jarum jam: Macao Tower, Parisian Macao, reruntuhan St. Paul, dan jalanan di dekat kantor pos Macao.

Di Macao, kita seharian jalan-jalan dari mulai reruntuhan St. Paul, terus ke kantor pos karena Fiza ternyata suka kirim-kirim kartu pos tiap kali traveling. Semacam ‘time capsule postcard‘ buat diri sendiri sesampai di rumah pas balik liburan lah. Cukup unik juga, patut dicoba kalau kapan-kapan saya traveling lagi. 🙂

Kita juga sempet masuk ke bekas kantor walikota Macao ga jauh dari kantor pos, tapi ternyata cukup membosankan, dan waktu udah menunjukkan pukul 3 sedangkan Fiza udah beli tiket pulang ke Hongkong jam setengah 5. Karena saya belum beli tiket pulang, saya pun memutuskan buat coba jalan-jalan ke Macao Tower.

Sesampainya disana, saya mengurungkan niat buat naik ke Macao Tower karena masalah budget yang agak mahal buat saya. Akhirnya, saya cuma liat-liat lukisan yang berada di galeri Macao Tower ini. Setelah puas liat-liat, saya balik lagi ke Grand Lisboa untuk ambil bus gratis menuju terminal ferry.

Saya kembali ke Macao sekitar pukul setengah 7 dan saya mengurungkan niat buat langsung melanjutkan perjalanan ke Mongkong. Alih-alih, saya malah makan di restoran dekat hotel, salah satu restoran India karena ga ada angin ga ada hujan saya tetiba kepengen briyani.

Ga disangka, tiba-tiba Fiza whatsapp saya ada dimana, karena dia baru liat berita kalau ada ledakan di MTR Tsim Sha Tsui dan dia kuatir saya jadi ke Mongkok saat itu juga. So close, yet so far. Karena rasa-rasanya kalau bukan saya tiba-tiba pengen briyani, kayanya saya bakal ada diantara kericuhan MTR ini. Sekali lagi, saya diselamatkan oleh keinginan saya untuk makan. 😀

Selesai makan, karena ledakan tersebut, MTR ga beroperasi semalaman itu dan saya akhirnya ambil bus ke Mongkok walaupun di Mongkok pun akhirnya saya sama sekali ga beli apa-apa.

Gimana yah? Saya ini ga terlalu doyan belanja, makanya pas liat-liat di Mongkok pun ya cuma sekedar diliat aja. Beli ngga. Nasib rojali eym, rombongan jarang beli. Hmm.

Hari Keempat: Wong Tai Sin Temple dan Bangkok!

Hari keempat adalah tepat hari ulang tahun saya ke-28 di tanggal 11 Februari 2017, yang juga merupakan hari terakhir saya di Hongkong karena saya harus mengejar penerbangan saya ke Bangkok malam harinya.

Saya ambil penerbangan jam 6 sore ke Bangkok, sehingga saya spare waktu sampai jam 1 siang untuk pergi ke beberapa tempat terakhir yang bisa saya kunjungi di Hongkong.

Karena hari itu adalah tepat dengan hari ulang tahun saya, saya memutuskan untuk datang ke Wong Tai Sin Temple yang konon katanya merupakan ‘rumah’ dari setidaknya tiga kepercayaan: Buddhism, Taoism dan Confucianism.

Konon katanya, di Wong Tai Sin Temple ini semua keinginan bakal terkabul. Saya pikir, hari apa yang lebih baik dari hari ulang tahun untuk make a wish?

Walaupun keinginan saya untuk dapet jodoh kayanya masih jauh, tapi ya paling engga yah… Hahaha. 😛

Dunia itu adalah versi besar dari Wong Tai Sin Temple. Rumah dari berbagai keyakinan.

Katakanlah saya aneh, tapi memang saya ini suka random berfilosofis, makanya urusan destinasi dan kenapa saya kesana kadang-kadang agak ‘aneh’ buat sebagian orang.

Dari Wong Tai Sin, saya menuju Victoria Peak karena konon katanya belum ke Hongkong kalau belum ke The Peak. Tapi sayang beribu sayang, sesampai disana antriannya panjang bangeeeeeeet… Saya sampai disana sekitar jam setengah 10, dan saya hampir yakin kalau saya maksa ngantri pun takutnya saya malah tepat sampai bandara.

Akhirnya saya ke Victoria Peak tanpa hasil dan langsung balik ke hotel dan makan dimsum di salah satu restoran di Tsim Sha Tsui sebelum berangkat ke bandara dengan kembali menggunakan bus A21.

Saya menunggu cukup lama di bandara, tapi saya sendiri ga pernah bermasalah soal nyampah di bandara. Maklum, saya mendingan datang lebih cepat daripada harus lari-lari ngejar pesawat karena telat. Amit-amit, jangan sampe deh saya pernah ngalamin kaya gitu! 🙁



Bangkok

Dari Hongkong ke Bangkok, saya pertama kalinya terbang sebagai penumpang dengan Srilankan Airlines. Menggunakan pesawat B777-200, service airlines satu ini sangat memuaskan! 😀

Dalam penerbangan selama kurang lebih 3 jam dari Hongkong ke Bangkok, saya menghabiskan waktu dengan in-flight entertainment dari mulai dengerin musik sampai marathon The Big Bang Theory.

Walaupun semenjak terbang saya ga pernah suka makanan pesawat, tapi hot meals yang disediakan oleh Srilankan Airlines ini lumayan enak. Kayanya meals-nya dari airport di Hongkong, karena pilihannya mie dan nasi. Saya ambil mie, dan rasanya not so bad. 🙂

Untuk Srilankan Airlines, landing di Suvarnabhumi Airport (BKK) yang konon katanya jaraknya lebih jauh ke pusat kota dibandingkan Don Mueang (DMK). Dari airport, saya langsung cari tempat bus ke Khao San Road, tempat saya menginap. Dengan THB 70, saya dapat shuttle bus yang langsung berhenti di wilayah Khao San.

Sayangnya, saya lupa nyatet nama perusahaan shuttle bus yang saya tumpangi. Tapi rasanya ga susah kok buat nemuin shuttle bus ke daerah Khao San. Tiap kali traveling, saya masih berpegang teguh dengan motto malu bertanya sesat di jalan. 😀

Adik-adik saya, Uun dan Akin, udah sampai di Bangkok duluan siangnya dan sudah check in duluan di tempat kita menginap di Sawasdee Bangkok Inn Hotel.

Karena saya baru sampai hotel sekitar pukul 10 malam, saya dan adik-adik saya cuma jalan-jalan di sekitaran Khao San Road sekalian mimi-mimi cantik di salah satu bar disana. 😀

Kedua adik saya, Uun dan Akin di depan plang yang entah kenapa bikin berasa dipaksa suruh kawin. :/

Hari Kelima: Asoke dan Chatuchak Market

Untuk info lebih lengkap tempat-tempat yang saya kunjungi di Bangkok, sekaligus tempat yang bikin saya jatuh cinta sama kota ini, kamu bisa cek lebih lanjut disini.

Singkat cerita, untuk hari kelima birthday trip sekaligus hari pertama saya di Bangkok, saya ketemu Abul untuk makan siang di kawasan Khao San dan kita bareng-bareng naik ferry sampai Asoke karena konon katanya disana banyak makanan murah. Sayangnya, sampai balik pun kita belum nemu makanan murah di Asoke. Tapi itu memotivasi kita buat kapan-kapan balik Bangkok lagi.

Tips nginep di Bangkok: Jadi, saya nginep di kawasan Khao San Road karena menurut Jittima daerah ini yang paling rame didatengin turis. Setelah merasakan hingar bingar Khao San di malam hari, next time rasanya saya mending cari penginapan daerah Asoke karena malam-malam lebih ‘syahdu’ selain juga akses lebih gampang karena ada terminal ferry dan BTS. 🙂

Karena jatuh di hari Minggu (dan memang sengaja berada di Bangkok pas weekend!), dari Asoke kita pun langsung hunting barang di Chatuchak Market karena sekalian janjian ketemu Jittima yang ternyata tinggal ga jauh dari sana. 🙂

Maaf fotonya tanpa sensor, tapi ini sabun saya beli buat jailin salah satu teman saya sekaligus oleh-oleh buat dia. 😛

Di Chatuchak Market inilah kita hunting segala macam dari mulai casing HP, kaos sampai oleh-oleh aneh seperti sabun berbentuk (maaf!) penis atau payudara. Harganya dijamin murah, pokonya kalau udah di Bangkok mendadak aku cinta rupiah! 😛

Hari Keenam: Jim Thompson House, Wat Pho dan Asiatique The Riverfront

Hari kedua kita di Bangkok menjadi hari paling padat karena besokannya adalah hari kepulangan kita ke Jakarta, sehingga di hari ini kita betul-betul prioritaskan tempat-tempat yang pengen kita kunjungi. Dan karena saya #LadyBoss, sehingga destinasi hari itu semuanya saya yang pilih. *anaknya dominan 😛

Sebenernya sih saya simpel banget maunya kemana kalau jalan-jalan, kemanapun itu. Saya pengen ke tempat-tempat yang memberikan saya ‘cerita’. Makanya saya akhirnya pilih Jim Thompson House, rumah seorang arsitek Amerika yang mencintai Bangkok hingga akhir hayatnya ketika beliau hilang tanpa jejak di Cameron Highland, Malaysia.

Untuk masuk ke Jim Thompson House, tiketnya sendiri seharga THB 150. Dan khusus untuk pelajar dan pengunjung di bawah 21 tahun, ada diskon menjadi THB 100.

Dari Jim Thompson House, kita menumpang mobil kecil serupa mobil golf yang disediakan untuk para pengunjung ke jalan besar terdekat. Dan dari sana kita ambil bus menuju Wat Pho dengan ongkos sekitar 5 THB. Murah abitch! 😀

Saya sendiri memutuskan untuk skip Grand Palace dari itinerary karena selain Grand Palace lagi rame-ramenya dengan pengunjung yang datang kesana untuk memanjatkan doa untuk King Rama IX, tapi juga karena tiket masuknya yang lumayan mahal. Untuk Wat Pho sendiri, tiket masuknya cuma THB 100 termasuk kupon yang bisa ditukar dengan air minum.

Tau ga sih? Ternyata gambar Buddha itu ga dibenarkan untuk dijadikan tato. Dan di Thailand, kalau itu terjadi bisa dikenakan denda!

Walaupun skip Grand Palace, kita tetep jalan-jalan menyusuri halaman Grand Palace dan sempat liat barisan orang-orang menuju sana untuk mendoakan mendiang King Rama IX.

FYI, karena selama disana saya selalu sama Jittima, Jittima cerita kalau King Rama IX ini karismanya emang ga ada dua. Ga becanda, pas cerita pun muka Jittima sampai berkaca-kaca. Beliau merupakan raja yang sangat dihormati dan disayangi oleh rakyat-rakyatnya. Makanya ga heran kalau mereka menjadikan periode berkabung selama satu tahun sejak beliau meninggal.

13 Oktober 2017 nanti akan menjadi puncaknya ketika tepat setahun King Rama IX mangkat.

King Rama IX, yang terlahir dengan nama Bhumibol Adulyadej.

Sedikit oportunis, karena selama masa berkabung ini, di sekitaran Grand Palace ini banyak menyediakan makanan-makanan gratis untuk para pengunjung yang ikut mendoakan. God bless King Rama IX and his people in Thailand.

Baru setelah puas jalan-jalan sekitaran Grand Palace, kita lanjut ke Asiatique The Riverfront dengan menggunakan ferry ke Asoke dan lanjut dengan ferry gratis ke Asiatique dari sana.

Selayang pandang hari kedua kita di Bangkok.

Karena udah terlalu puas belanja di Chatuchak Market hari sebelumnya, di Asiatique The Riverfront saya cuma jalan-jalan dan jajan aja tanpa beli apa-apa. Kita pulang ke Khao San Road sekitar pukul 9 dengan menggunakan bus dari Asiatique, saya dan Jittima pun berpisah disana karena besoknya dia ga bisa nganter ke bandara karna harus kerja. :’)

Hari Terakhir: PULANG! 🙁

Penerbangan kita dari Don Mueang menggunakan ThaiLion di sore hari, dan kita pake shuttle bus dari Khao San Road dengan harga 50 THB per orang. Tiketnya sendiri beli di deket hotel, dan kita sempet jalan-jalan cari makan sebelum dijemput pake bus di pinggir jalan Khao San.

Dan di Don Mueang Airport, kita dapet surprise menyenangkan karenaaaaa… Kita ketemu anjing gendut ceria yang lagi di’karantina’ dari K9 karena kegendutan dan disuruh olahraga. Hahaha. :))

Selain terlalu gendut, ini anjing satu terlalu ramah buat berada di garda depan keamanan bandara. 😛

Nah, jadi kira-kira begitulah daftar perjalanan tiga negeri saya untuk rute Hongkong-Macao-Bangkok. Mudah-mudahan membantu, cheerio! 😀



3 thoughts on “Jalan-Jalan Seminggu di Tiga Negeri: Hongkong-Macao-Bangkok

  1. hai…lagi blog walking trus nyangkut ke blog kamu… senang bacanya… hanya saja, sayang kalau menulis perjalanan seru di babat habis semua… sebaiknya bikin berseri. selain yg baca tidak bosen, karena kecenderungan pembaca akan bosen membaca lebih dari 3 halaman… even dilengkapi foto-foto.

    Kalao buat berseri pembaca juga menanti2 kisah apa lagi yang akan kamu suguhkan… dan yg unpredictable-nya..

    btw… senang bisa mampir ke blog kamu.. jgn lupa mampir ke blog aku ya…

    salammmmm

    1. hallo mas, makasih ya udah mampir kesini. hehe. 😀

      iya nih, biasanya aku bikin seri kalau di blog lama, tapi kebetulan untuk postingan ini aku emang sengaja bikin complete itinerary buat dibaca sekaligus buat mbak priska yang ngasih wangsit bikin ini biar gampang. hehe.

      tapi makasih banyak lho masukannya, nanti aku bw balik yah.. thank you! 🙂

Tinggalkan Balasan

loading...