Jadi Turis Lokal Dadakan di Jalan Asia Afrika (Bandung)

Kalau saya nyebut nama Bandung, kira-kira hal apa yang terlintas di otak kamu untuk pertama kali? Parijs van Java? Cewek-ceweknya yang cantik seperti saya? Kulinerannya? Atau pak wali-nya yang di balik segudang programnya yang progresif selalu memprovokasi warganya yang jomblo?! Heureuy ah Kang Emil, tapi sebel juga sih kadang-kadang joke-nya itu mulu. πŸ™

Nah, sekarang kalau pertanyaannya diganti jadi tempat apa yang pertama kali terlintas kalau ngomongin Bandung, jawaban kamu apa?

Braga? Alun-alun? Gedung Merdeka? Atau malah Pasar Baru? Hmmm.

Apapun itu, kalau boleh jujur sih hal yang ironis dalam diri saya adalah kenyataan kalau saya seneng jalan-jalan, tapi kalau urusannya dalam kota Bandung, saya ini tergolong dalam kaum-kaum yang jarang piknik.

Gimana yah? Saya ini dari lahir sampai kuliah saya beres di Bandung terus, kira-kira 22 tahun lamanya sebelum akhirnya memutuskan untuk merantau. Sejak 6 tahun yang lalu itu pula, bisa dibilang saya agak kudet soal perkembangan di Bandung.

Sepulang saya dari Jeddah pun, ketika kurang lebih saya 1.5 tahun tinggal di Bandung, saya ga terbawa arus untuk ikutan piknik di taman atau menyendiri di Taman Jomblo. Waktu Teras Cikapundung dibuka pun, saya cuma liat dari kejauhan dari mobil pas lagi jalan aja, ga pernah betul-betul memanfaatkan fasilitas Teras Cikapundung selayaknya tempat refreshing kaya orang-orang.

Bukan, bukan maksudnya saya jadi bener-bener buta dan ga tau apa-apa soal apa aja yang baru di Bandung, tapi biasanya ya saya tau info terbaru soal Bandung paling kalau ga dari berita, ya dari Instagram atau facebook-nya Kang Emil. Cuma ya itu, tiap kali ada tempat baru di Kota Kembang saya suka males datenginnya kalau ga perlu-perlu amat.

Males macet-macetan, kalau misalnya pergi pun nanti malah kesel karena banyak banget orangnya. Alhasil, jaman saya tinggal di luar kota, pilihan saya tiap di Bandung adalah stay di rumah dan tidur dengan tenang kalau engga kumpul dan ketemuan sama temen di suatu tempat yang biasanya sih ke cafe atau lounge. Biasa lah, anak milennial jaman sekarang. Krik.

Dan karena itu, sejak balik Bandung lagi untuk fokus terapi, misi saya satu: pengen seengganya jalan-jalan di Bandung dan bertingkah layaknya basic tourist yang foto-foto di tempat-tempat mainstream kota Bandung yang hampir sebagian besar belum pernah saya kunjungi. Dan salah satu tempat ini adalah… Alun-alun Bandung! πŸ˜›

Iya, jadi walaupun Alun-alun Bandung adalah salah satu tempat yang paling sering saya kunjungi jaman saya masih kecil, tapi saya ga pernah kesana lagi sejak sekian tahun lamanya.

Dan walaupun tiap hari sepulang terapi saya selalu lewat Alun-alun, tapi saya ga pernah punya kesempatan buat turun karena biasanya langsung ilfeel sendiri liat kerumunan orang-orang di sekitar Gedung Merdeka atau yang usaha ngambil foto di spot ter-mainstream Bandung saaat ini: disini.

Kutipan dari M.A.W. Brouwer yang dipasang di jembatan yang berada di Jalan Asia Afrika yang legendaris itu.
Akhirnya saya ngajak adik dan sepupu saya buat piknik dadakan ke Jalan Asia Afrika ini cuma supaya saya bisa jadi turis dadakan di Bandung beneran. Cuma, karena saya ini emang turis yang rese dan sering cranky kalau ketemu banyak orang, saya males cari-cari waktu happy hour buat kesana. Alhasil, saya bela-belain datang kesana cuma buat foto-foto tengah malam.

Di suatu hari Jumat jam 10 malam saya berangkat dari rumah, dan nongkrong dulu di sekitaran Jalan Braga. Ada dua tempat yang kita kunjungin malam itu di Braga, diantaranya I Am Beer dan Hangover.

FYI, saya awalnya udah kepengen ke Hangover, tapi sekitar jam 10 lebih saya nyampe sana ternyata udah penuh total dan akhirnya ke I Am Beer ceritanya buat mimi-mimi cantik. Habis satu bir, saya langsung risih pengen pergi karena diliatin sama mbak-mbak geje disana karena saya kesana bareng dua cowok yang ga terlalu kece.

Gara-gara itu dan adik saya yang alkoholik masih pengen minum, akhirnya kita ke Hangover lagi. πŸ˜›

Saya yang cantik dan adik saya Akin dan sepupu saya Heri yang tampangnya biasa-biasa aja.

Sebagai informasi, dari segi snack Hangover ini lumayan enak dengan harga yang ga terlalu mahal. Misalnya, menu favorit saya tahu pedas harganya cuma sekitar IDR 18.000 dan harga minuman standar tapi ambience lebih oke daripada I Am Beer. Beda konsep juga sih, jadi kalau bandingin keduanya ga apple-to-apple. Hehe.

Baru dari Hangover ini kita langsung ke Jalan Asia Afrika untuk sesi pemotretan Marya Sutimi. Haha. Kenapa Marya Sutimi? Karena emang cuma saya aja yang ngebet foto-foto, bisa keliatan eym dari foto bertiga diatas. Yang lain fotonya ogah-ogahan, saya cantik sendiri. πŸ˜€

Di Balik Jalan Asia Afrika dan Sekilas Bandoeng Tempo Doeloe

A for Ateh. Yang naksir sama batik yang saya pake, bahan batiknya bisa dibeli di BeautiQ lho girls! *colongan promosi

Gini-gini, dulu semasa remaja waktu saya masih SMA, saya sempat aktif di Klab Aleut, sebuah klub pecinta sejarah kota Bandung. Makanya kalau urusan Braga-Asia Afrika mah saya lumayan tau lah seluk beluk-nya. Tapi ya gitu, kecintaan saya ga dipupuk dari masa ke masa, makanya stuck disitu-situ aja kaya hubungan saya sama si doi. πŸ™

Mungkin banyak dari kalian yang udah tau seluk beluk kota Bandung sebelumnya, tapi karena di postingan ini saya jadi turis dadakan di Bandung, saya jadi pengen sedikit berbagi soal apa yang sedikit saya ketahui tentang kota kelahiran saya tercinta ini dan juga kenapa Jalan Asia Afrika menjadi salah satu situs yang paling penting untuk keberadaan Kota Bandung ini.

Awal cerita Jalan Asia Afrika adalah ketika di awal tahun 1800an, Gubernur Jendral Hindia Belanda saat itu, Herman Willem Daendels berinisiatif untuk membangun Jalan Raya Pos dari Anyer ke Panarukan yang kira-kira bahasa londo-nya adalah de Groote Postweg. Jalan Raya Pos ini ditandai dengan ditunjuknya satu titik yang di kemudian hari menjadi titik 0 km Kota Bandung, yang tak lain dan tak bukan berlokasi di Jalan Asia Afrika ini.
Jalan Asia Afrika, yang sebelumnya merupakan bagian dari proyek de Groote Postweg-nya Daendels.

Nah, hampir 150 tahun kemudian setelah Daendels menunjuk tempat ini sebagai titik 0 km-nya Bandung, di jalan yang sama juga menjadi tempat pagelaran Konferensi Non-Blok yang terdiri dari perwakilan-perwakilan negara di Asia dan Afrika. Itulah, kenapa sekarang jalan ini dinamakan Jalan Asia Afrika.

Oh iya, ngomong-ngomong soal Braga dan Asia Afrika, dulu waktu jaman Belanda, Bandung terbagi menjadi dua: Bandung Barat dan Bandung Timur. Kalau mau mudah melihat pembagian Bandung saat itu, sekarang kamu bisa lihat dari rel kereta yang melintasi Jalan Perintis Kemerdekaan.

Bagian Bandung yang melintasi Jalan Perintis Kemerdekaan, Balai Kota dan seterusnya merupakan bagian dari Bandung Barat. Sedangkan bagian lainnya, daerah Pasar Baru, Jalan Otto Iskandardinata dst adalah Bandung Timur.

Yang membedakan dari keduanya? Politik adu domba jaman penjajah. Karena Bandung Barat dulunya banyak menjadi tempat tinggal bagi kaum londo dan aparat pemerintahan jaman Hindia Belanda yang kebanyakan adalah orang kulit putih. Sedangkan Bandung Timur merupakan tempat tinggal kaum menengah kebawah yang terdiri dari kalangan bangsa keturunan Cina, Arab dan rakjel alias rakyat jelataΒ pribumi. Ini nih catatan buat kalian yang hari gini masih aja ngomongin pribumi dan non-pribumi. πŸ˜›

Begitulah kira-kira, jadi ngerti ya sekarang kenapa Chinatown itu ada di Cibadak sedangkan rumah-rumah elite ada di Cipaganti? *bukan bermaksud devide et impera, cuma FYI aja hehe

Rasanya Jadi Turis di Rumah Sendiri

Sebenernya sih rasanya biasa aja, cuma biar heboh aja jadi lebay headline-nya. Hahaha. πŸ˜›

Karena saya pilih jam-jam orang tidur, yaitu sekitar jam 12 dan jam 1an buat jalan-jalan di sekitaran Jalan Asia Afrika, saya kebagian foto-foto cukup enak dan sepi. Emang sih, jadi susah jajan karena kebanyakan tukang dagang hampir udah pada tutup semua.

Tapi kalau misalnya kalian cuma pengen kesana buat foto-foto aja, terutama foto di trademark Bandung dengan segala kutipan soal Bumi Pasundan-nya, saya sih saranin tengah malam. Kalau bisa weekdays, atau paling ngga hari Jumat kaya pas saya foto-foto beberapa minggu yang lalu.
“Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika sunyi.” -Pidi Baiq

Kenapa? Karena kalau misalnya kalian foto sebelum tengah malem, kemungkinan cuma dua: jalan diramaikan oleh pejalan kaki dan juga badut-badut serta hantu bohongan entah beneran yang tampil di sepanjang Jalan Asia Afrika, atau kalau engga kalian kudu anyep sama kemacetan yang bikin kalian ga memungkinkan foto di depan kutipan ini tanpa ada obstacles berupa mobil yang lagi ngetem nunggu jalan karena macet. :/

Kalau berdasarkan pengalaman saya kesana cuma buat numpang foto aja, ga nyampe setengah jam juga cukup dan langsung balik lagi ke rumah. Eh, engga deng, karena mendadak lapar attack di tengah malam, saya langsung cari mamang cuanki terdekat buat jajan. Wajar khan kenapa saya cuma butuh sebulan di Bandung buat naik berat badan sekitar 8 kilo?

Begitulah Bandung. Kalau kata Pidi Baiq Bandung melibatkan perasaan yang bersamanya ketika sunyi, Bandung buat saya melibatkan perasaan ketika lapar. Soalnya mau kapanpun, dimanapun, kalau saya di Bandung dan kelaparan, pasti ada aja makanan. Kumaha atuh? Da Neneng teh embung gendut, tapi hayang dahar. πŸ™

Jadi, ini cerita saya jadi turis di kota kelahiran sendiri. Gimana dengan kamu dan kota kamu? Share cerita kamu di kolom komen yah, siapa tau Ransel Ungu bisa jalan-jalan jadi turis ke kota kamu selanjutnya. See you on the next post and cheerio! πŸ˜€

loading…


2 thoughts on “Jadi Turis Lokal Dadakan di Jalan Asia Afrika (Bandung)

Tinggalkan Balasan

loading...