Indonesia dan Makna Merdeka

Hallo beautravelers dari Sabang sampai Merauke!

Gimana acara 17an di rumah kalian? Ikutan lomba apa di ulang tahun Indonesia yang ke-72 ini? Apakah kalian dipaksa ikutan upacara di kantor kalian? Dirgahayu Indonesiaku!

Kalau saya sendiri sih, berhubung sudah berstatus pengangguran saat ini, jadinya ga perlu repot-repot bangun pagi buat upacara. Hmm. Rasa-rasanya terakhir kali saya upacara itu waktu SMA, masa-masa yang kalau ga terpaksa rasanya pengen banget ga usah diinget lagi. 😐

Anyway, kali ini saya pengen sedikit berbagi soal makna kemerdekaan buat saya sendiri mumpung momennya tepat.

Awal ide saya menulis ini adalah karena ketika saya pulang belanja sama Heri, sepupu saya, tetiba ada anak-anak gerombolan minta sumbangan untuk perayaan Agustusan dan lalu sepupu saya nanya, “Apa itu artinya Indonesia belum merdeka, kalau merayakan kemerdekaan aja harus pake minta-minta?”

Terlepas dari apakah iya atau tidak dari pertanyaan tersebut, saya langsung pengen sedikit berbagi soal makna merdeka buat saya. Sedikit saduran arti kata merdeka dari Kamus Besar Bahasa Indonesia yang saya contek dari sini sebagai inspirasi.

merdeka/mer·de·ka/ /merdéka/ a 1 bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri: sejak proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 itu, bangsa kita sudah –; 2 tidak terkena atau lepas dari tuntutan: — dari tuntutan penjara seumur hidup; 3 tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa: majalah mingguan –; boleh berbuat dengan —

Lalu, apa arti merdeka bagi saya?

Indonesia tanah air beta, dibuai dibesarkan Bunda. Tempat berlindung di hari tua, tempat akhir menutup mata.

Oke, cuplikan dari lirik lagu Indonesia Pusaka ini sebetulnya kurang relevan, karena ya siapa yang tahu di masa depan seperti apa? Siapa yang bisa menjamin kalau kita akan menutup mata di Nusantara? *kritis*

Dan itulah pentingnya merdeka, karena artinya adalah bebas mengemukakan pendapat pribadi dan bebas berekspresi.

Bebas mengemukakan pendapat pribadi disini juga artinya menghormati orang lain yang berpendapat berbeda. Bebas boleh, tapi jangan semena-mena. Itulah kenapa hukum dibutuhkan di suatu negara.

Saya pernah baca di suatu sumber yang kebetulan saya udah lupa darimana, tapi konon katanya seseorang yang mengerti psikologi tidak akan mudah marah ketika ada perbedaan yang muncul ke permukaan karena dia biasanya mengerti bahwa segala opini dan pendapat yang muncul biasanya datang dari alasan-alasan yang hanya dimengerti oleh orang yang bersangkutan sesuai dengan cerita hidup mereka.

Karena itu, biasanya orang yang mengerti psikologi cenderung lebih berempati daripada yang lain.

Masih suka nyinyirin orang cuma karena gaya berpakaian orang lain yang beda sama gaya kamu? Mungkin waktunya kamu cek kembali apakah kamu sudah betul-betul merdeka.

Jadi, saya pikir merdeka itu adalah kebebasan yang diiringi oleh ilmu psikologi yang cukup untuk menghargai orang lain yang pendapatnya mungkin berbeda. Salah satunya adalah pendapat mengenai kenyakinan.

Karena merdeka juga adalah bebas untuk meyakini apapun yang dirasa baik untuk masing-masing.

Tiap kali ditanya mengenai kewarganegaraan saya, saya selalu bangga akan keberagaman di Indonesia karena itulah yang membedakan Indonesia dari negara dengan penduduk mayoritas Muslim lainnya.

Satu pertanyaan tambahan ketika saya bilang kalau saya orang Indonesia, terutama dari orang-orang yang berasal dari negara Timur Tengah yang mayoritas penduduknya beragama Islam, mereka selalu mengidentikkan Indonesia dengan negara Muslim karena faktanya kita adalah negara dengan jumlah populasi Muslim terbesar di dunia.

Tapi, lebih dari itu saya biasanya dengan bangga mengedukasi mereka bahwa ada setidaknya 6 agama yang diakui di Indonesia. Dan kita memiliki UU terkait dengan kebebasan umat beragama.

Sayangnya, akhir-akhir ini saya sering banget baca berita-berita di media yang bikin was-was karena banyak hal-hal yang kurang enak terkait dengan hal yang sangat saya banggakan tersebut.

Tapi saya percaya, kalau ada oknum yang merenggut kebebasan orang lain untuk meyakini hal yang berbeda dengan apa yang mereka yakini, itu artinya ada sesuatu yang belum merdeka dalam diri mereka.

Daripada terlalu serius mikirin hidup orang dan mencoba mengarahkan mereka ke jalan yang ‘benar’ menurut kita, saya sarankan untuk orang-orang seperti ini untuk lebih banyak ketawa.

Kebebasan untuk tertawa adalah esensi hidup yang paling hakiki.

Ini hal penting buat saya, karena tertawa membantu meringankan beban hidup saya. Seperti sekelompok orang bijak pernah berkata, “Tertawalah sebelum tertawa dilarang.”

Ada yang familiar dengan istilah tersebut? Iya, saya nyatut motto Warkop DKI. 😀

Tapi menurut saya pernyataan tersebut sangat beralasan karena seperti yang pernah baca sebelumnya (lagi-lagi sumbernya lupa!), konon katanya orang yang sulit tertawa karena selalu ingin jaga wibawa adalah tanda bahwa seseorang tidak merdeka di dalam jiwanya.

Hidup itu kadang-kadang konyol, makanya tertawa itu wajib hukumnya. Itulah kalau misalnya cari jodoh, cari orang yang bisa bikin ketawa. Bukan orang yang malah nambah-nambah pikiran kamu terus bikin stress. Yah, kalau yang kaya gitu sih enaknya ke laut aja kali yah. 😛

Jadi, apakah Indonesia sudah merdeka?

Tergantung konteks. Kalau merdeka dari jajahan Belanda atau Jepang, mungkin kita sudah merdeka karena tentunya kita sudah ada di dalam daftar negara berdaulat berdasarkan PBB.

Seperti apa yang Bung Karno pernah sebutkan sebelumnya mengenai kesulitan yang mungkin akan menghadang Indonesia ke depannya, saat ini ancaman yang muncul berada bukan dari bangsa luar. Tapi dari bangsa sendiri.

Lebih sulit melawan duri dalam daging, daripada melawan anjing Dobberman yang masih ditaliin di luaran sana.

Karena itu, orang-orang Indonesia di masa-masa kemerdekaan ini memerlukan empati yang lebih tinggi. Supaya ga terlalu banyak konflik di negeri sendiri. Lebih sulit menjalankan daripada sekedar mengungkapkan dalam kata-kata memang, tapi kalau dulu pahlawan kita aja bisa menyatukan Sabang sampai Merauke melawan penjajah, kenapa kita ga bisa?

Kuncinya satu, mulai dari diri sendiri. Merdeka!



2 thoughts on “Indonesia dan Makna Merdeka

Tinggalkan Balasan

loading...