Hanna Anisa dan Susahnya Jadi Perempuan di Indonesia

Beberapa waktu yang lalu, saya baca berita soal ‘Hanna Anisa’ yang jadi keyword paling dicari di Google seharian karena bocornya video porno alumni universitas terbaik di Indonesia itu. Dan layaknya netizen basic macem kamu-kamu semua, saya pun ga mau ketinggalan dan langsung search nama tersebut pas baru baca berita terkait.

Sampai hari ini, berita soal Hanna Anisa ini masih rame dibicarakan orang-orang. Bahkan saya sampai liat meme foto Hanna sama cowo yang diduga ada di video itu diklaim sama salah satu akun meme punya negara tetangga. Saya liat postingan ini di salah satu grup lelucon se-Asia dan netizen langsung rame minta link dan nama tersangka for their research purpose only. -_-

Baru disitu saya sadar, ini kenapa jagat maya diramaikan sama Hanna Anisa sedangkan nama cowoknya siapa aja saya ga tau? Kenapa cuma Hanna yang dieksploitasi sampai almamater-nya dibawa-bawa? Siapa nama cowoknya? Apa kampusnya di Depok juga?

Kenapa Yang Disalahkan Selalu Perempuan?

Berbagai pertanyaan soal kenapa disini seolah-olah cuma Hanna sendirian yang harus menanggung malu karena satu video yang harusnya untuk konsumsi pribadi mereka berdua tersebar di jagat maya wkwkland ini.

Terlepas dimana keberadaan Hanna atau siapa cowoknya, saya sendiri udah nonton filmnya karena minta ke si Heri, sepupu saya, berhubung penasaran sama video yang bikin heboh ini.

Malaysia masih aja nge-claim apa-apa dari negara tetangga. Neneng lelah. Hmm.

Dan jujur, menurut saya biasa aja karena dibandingin Hanna kayanya masih jagoan saya. Saya sedikit berekspektasi yang gimanaaaaa, tapi ternyata ya udah menurut saya itu video biasa aja. Layaknya sepasang sejoli yang sedang menikmati waktu bersama di tempat tidur.

Kadang saya mikir yah, orang Indonesia tuh apa-apa lebay. Tapi terus inget kalau saya sendiri juga orang Indonesia dan kadang suka tak kuasa ikut campur urusan orang. Ga lama kemudian, saya miris sendiri karena merasa relevan dengan apa yang saya tulis disini soal pelecehan terhadap perempuan.

Di Indonesia ini, kalau ada hal-hal heboh soal selangkangan (sorry to say!), yang dibikin seolah-olah paling salah selalu pihak perempuan.

Misalnya aja, saya pulang kerja disiulin sama tukang ojek. Menurut saya sebagai orang yang ga nyaman disiulin, itu tukang ojek sampah dan kurang kerjaan nyiulin orang. Tapi mari terima kenyataan, sebagian besar dari para bangsa julid ini bakal liat dulu apa yang saya pakai. Dibilangnya itu salah saya yang ga tutup aurat lah, salah saya yang ga senyum lah dan jutaan alasan lain.

Bener, kenyataannya jarang orang kita yang menganggap hal tersebut adalah salah satu bentuk pelecehan. Hal itu terlalu lumrah buat seorang perempuan ngomel karena disiul-siulin sama tukang ojek. Boro-boro ngomongin persamaan hak, disini melipir tanpa senyum aja dipertanyakan. Khan asu. -_-


Susahnya Jadi Perempuan dan Jadi Diri Sendiri di Indonesia

Oke, jadi salah satu alasan saya kepikiran buat nulis postingan ini yang utama bukan cuma karena Hanna. Tapi lebih dari itu, karena kemarin setelah sekian lama saya cek tumblr saya dan ternyata saya dapet message dari seorang anonim dengan isi sebagai berikut:

Hellooo… I’ve read your blogs so far. Wanna ask… Are you a virgin? What’s your thoughts when you decided to have sex with guys? Does your Mom know about your sexual activity? Sorry if it’s too sensitive but I wanna be bold like you in all of your post.
Asked by: Anonymous

 

Siapapun anonim di balik pesan yang saya dapatkan melalui akun Tumblr saya ini, saya haturkan terima kasih sebanyak-banyaknya karena memberikan wangsit untuk saya menulis postingan ini.

Dan pengakuan soal you’ve read my blogs so farΒ dalam bentuk plural, saya asumsikan kamu baca tulisan saya di blog saya baik disini, Tumblr ataupun WordPress.

Dan membaca dari pertanyaan yang diajukan, saya juga asumsikan bahwa kamu adalah seorang perempuan Indonesia seperti saya dan bertanya-tanya kenapa saya bisa sangat candid soal opini saya tentang seksualitas dan penasaran bagaimana hubungan saya dengan orang tua soal ini.

Kalau boleh saya tebak, si penulis pesan ini di satu sisi ingin lebih ‘lepas’ menyampaikan sesuatu sesuai dengan sudut pandang dia pribadi. Tapi di sisi lain, ada peer pressure yang menghentikan dia untuk berbicara terus terang mengenai satu hal. Bisa jadi ini tentang aktifitas seksual yang masih dianggap tabu untuk sebagian orang, atau hal-hal lainnya yang masih dianggap melawan norma dan budaya ketimuran. Hmmm.

Photo by Daria Nepriakhina on Unsplash

Karena itu, saya ingin menjawab pesan dari anonim ini secara detail walaupun saya sudah menjawab pesan singkatnya disini.

Saya ingin memberi penjelasan lebih lengkap supaya ga dianggap bad influence seperti Awkarin. *yakeles




Apakah saya masih perawan?

Koreksi saya kalau saya salah, tapi apakah cuma di tanah Sunda ini aja kalau seorang anak perempuan udah mulai besar, biasanya kerabat mulai bilang begini ke orang tuanya, “Atuh sakeudeung deui ngawinkeun da budak geus perawan?”*

*Terjemahan: “Atuh sebentar lagi bakal ngawinin karena anak sudah perawan?”

Rasanya kaya pengen langsung meralat omongan kerabat-kerabat macam begini yang suka melontarkan pernyataan ini karena faktanya, saya bukan perawan udah sejak lama dan cuma Tuhan yang tau apakah saya akan nikah sebentar lagi atau kapan tauk. πŸ˜›

Pertanyaan pertama anon terjawab yah, I am no longer a virgin.

Kehilangan Keperawanan dan Kesulitan Untuk Menyatakan Kejujuran

Oke, apa cuma saya aja apa emang susah bicara soal seks tanpa terdengar binal dalam Bahasa Indonesia? πŸ™

Jadi gini, saya berhubungan seks pertama kalinya dengan pacar pertama saya ketika umur saya masih 18 tahun. Alasannya simpel, cowo ini adalah pacar pertama saya dan saya masih muda juga penuh dengan rasa ingin tahu soal A sampai Z.

Saat itu juga kali pertama saya betul-betul merasa sayang sama seseorang selayaknya pacar, dan layaknya seorang remaja yang naif saya pikir saya bakal bisa mempertahankan hubungan saya sampai suatu saat menikah dengan pacar saya itu dan sebagainya. Dan layaknya seorang remaja yang naif, tebakan saya salah.

Hubungan saya sama pacar pertama saya berantakan di tengah jalan, dan itu adalah saat pertama kali dan satu-satunya saya nangis heboh cuma karena saya patah hati dan merasa kehilangan segalanya. Ga cuma saya kehilangan pacar, tapi saya juga merasa udah kehilangan kehormatan saya sebagai seorang perempuan.

Karena budaya di Indonesia yang masih menganggap tabu hal ini, umur saya 19 tahun ketika saya putus dengan pacar saya itu. Ga ada yang ngerti kenapa saya begitu sedih waktu akhirnya harus memutuskan hubungan saya dengan pacar saya ini. Dari ratusan orang yang saya anggap teman, cuma sekitar tiga orang yang betul-betul tahu apa yang terjadi.

Sebuah Aib: Bukan Perawan

Bahkan bertahun-tahun setelah putus dengan pacar pertama saya ini, sulit buat saya untuk betul-betul jujur dengan diri sendiri apalagi orang lain soal apa yang terjadi karena saya takut dihakimi. Saya pernah beberapa kali pacaran dengan beberapa orang setelah pacar pertama saya ini, tapi saya ga pernah jujur dengan mereka mengenai apa yang saya alami.

Berbagai macam pikiran ada di benak saya, karena buat saya itu aib dan kebetulan pacar-pacar saya selanjutnya adalah apa yang orang-orang kategorikan anak baik-baik. Boro-boro mukul saya, buat nyium saya aja mereka malu-malu. πŸ˜›

Saat itu, belajar dari hubungan saya sebelumnya, saya ga buru-buru untuk berasumsi menjalin hubungan untuk akhirnya menikah.

Saya merasa ga perlu buru-buru untuk jujur, karena saya pikir kemungkinannya cuma dua: mereka mempermainkan saya seperti apa yang dilakukan pacar pertama saya atau mereka bakal ninggalin saya karena saya bukan perawan lagi.

Dan emang ternyata belum jodohnya, hubungan saya dengan mereka pun (lagi-lagi) gagal. Tapi kali ini saya lebih ikhlas dan ga pake drama nangis-nangis seharian karena putus cinta.


Apa yang saya pikirkan sebelum saya berhubungan seks dengan seseorang?

Ini pertanyaan yang cukup sulit, karena jujur saat ini saya udah tidur dengan banyak orang. Tapi kalau dibilang ini cuma perkara kebutuhan biologis, ga juga sih.

Sekarang kalian udah kenal dengan the legendary first boyfriend, kalian juga udah tau trauma yang saya alami sampai ga bisa sepenuhnya jujur dengan pacar-pacar saya selanjutnya.

Butuh waktu selama 5 tahun sampai akhirnya saya memutuskan untuk tidur dengan orang lain. Dan bahkan ketika tidur dengan orang kedua ini, saya malah merasa semakin sampah karena orang ini cuma ‘sekedar’ teman lama yang beberapa bulan kemudian mendeklarasikan hubungannya dengan perempuan lain.

Baru setahun kemudian, saya ketemu dengan mantan rekan kerja saya dan diawali dengan ‘budaya modern’ berupa hook-up seperti kids jaman now. Alasan pertama kenapa saya mau tidur sama dia sih simpel aja: dia cakep dan dia bisa bikin saya ketawa.

Proses Menerima Kenyataan dan Mencintai Diri Sendiri

Gombalan pertama yang saya terima dari orang ini adalah: “So you’re Indonesian. You know what would make us if we have a kid together right? We’ll have a chubby boy like his Dad or a pretty girl with small eyes like her Mom. Better yet, they will speak at least four languages: Indonesian, French, Arabic and English.”Β 

Saya tidur dengan orang ini malam itu juga. Dan surprisingly, saya malah pacaran sama dia sampai hampir 2 tahun lamanya selama saya tinggal di Jeddah. Saya baru belajar berhubungan secara ‘dewasa’ ya sama orang ini.

Dewasa disini ga cuma sekedar bobo-bobo cantik dan enak di pagi hari pas bangun tidur lho yah. Tapi dewasa disini karena kita berdua sama-sama belajar menjadi diri sendiri di hadapan masing-masing. Saya ga perlu jaim di depan dia cuma buat menarik perhatian dia. Dia juga ga perlu pura-pura jagoan di depan saya. Dan saya nyaman dengan hubungan seperti itu.

Walaupun akhirnya hubungan tersebut gagal, saya belajar banyak dari 2 tahun saya berhubungan dengan orang ini.

Butuh waktu bertahun-tahun buat saya menerima diri saya dengan segala kekurangannya, dan saya merasakan kenyamanan menjadi diri sendiri lewat orang ini. Inilah kenapa saya berusaha apapun yang terjadi selanjutnya, saya bertekad harus jujur setidaknya terhadap diri sendiri.

Dan kejujuran inilah yang saya cari dari lawan jenis, baik cuma untuk sekedar ‘senang-senang’ atau untuk ‘serius mikirin masa depan’. Saya ga mau buang-buang waktu jaim cuma buat bikin mereka kecewa ketika tahu aslinya saya bagaimana, itulah kenapa saya terkesan ‘berani’ dalam postingan-postingan saya.

Seperti saya, saya juga butuh orang yang berani ‘menghadapi’ saya, baik sebagai perempuan maupun sebagai manusia secara keseluruhan.


Apa Ibu Saya Tahu Tentang Apa Yang Saya Lakukan Di Luaran Sana?

Oke, ini pertanyaan sulit karena yang tahu jawabannya ya ibu saya. Haha.

Sebagai seorang anak, saya ga mau mengecewakan ibu saya. Tapi di sisi lain saya pun ga mau menipu siapapun, apalagi ibu saya. Saya ga pernah berperilaku seolah-olah saya orang paling suci sedunia di depan ibu saya.

Saya bahkan sering berantem sama ibu saya cuma karena dia nyuruh saya pake baju yang lebih ‘sopan’ karena ga enak dilihat sama orang, sedangkan saya keukeuh bilang kalau orang sampe ga sopan sama saya, itu ga ada hubungannya sama baju yang saya pake. Hubungannya ya sama tabiat orang itu aja yang ga sopan.

Urusan kencan, saya pun sedikit banyak selalu jujur sama beliau walaupun buat saya ga perlu juga cerita soal detail tentang apa yang saya lakukan sama teman kencan saya.

Misalnya aja, di trip Malaysia-Singapore yang terakhir, saya kencan sama dua orang cowo yang berbeda. Saya jujur sama ibu saya kalau saya mau ketemu kedua orang ini, saya ga bilang apa aja yang saya dan mereka berdua lakukan selama kencan. Tapi beliau tahu.

Entahlah, mungkin insting beliau sebagai ibu sedikit banyak tahu. Atau mungkin beliau diam-diam suka baca blog saya? Kalaupun iya, mudah-mudahan beliau memaafkan saya. πŸ™


Pesan Untuk Para Perempuan di Indonesia (dan Juga Anon Yang Kirim Pesan)

Jadi diri sendiri dalam tubuh seorang perempuan di Indonesia itu sulit, karena kamu akan dihadapi dengan begitu banyak penghakiman masa. Kamu ga boleh gini, ga boleh gitu, dan sebagainya.

Butuh waktu bertahun-tahun buat saya hingga akhirnya saya nyaman dengan diri saya seperti saat ini, tapi untuk menjadi seperti ini tentunya ada proses. Proses patah hati, kehilangan teman yang ga sepaham, debat sama orang tua, dan lain sebagainya.

Kalau kalian tanya saya 8 tahun yang lalu apakah saya menyesal kehilangan perawan di usia muda dengan pacar pertama pula, mungkin saya akan menjawabnya dengan terbata-bata karena saat itu ada penyesalan yang mendalam dalam diri saya. Ada bagian dalam diri saya yang merasa saya ga berharga cuma karena kehilangan keperawanan.

Tapi saya yang sekarang bukanlah saya yang 8 tahun lalu, saya yang sekarang cukup nyaman dengan diri sendiri dan ga sungkan untuk cerita kalau kalian bertanya. Saya mensyukuri apa yang sudah terjadi dan begitu banyak pelajaran yang diberi dari kejadian-kejadian ini.

Butuh nyaris 10 tahun untuk saya betul-betul berani bicara lantang mengenai apa yang saya percaya. Ga semua orang setuju, tapi saya bukan hidup untuk mereka. Saya hidup untuk diri sendiri, dan itu ga ada hubungannya dengan apakah saya perempuan atau bukan.

Khusus buat anon yang kirim pesan di akun Tumblr saya, saran saya adalah ikuti kata hati. Dan apapun pilihan kamu, siap-siap untuk menghadapi resiko yang mungkin ga pengen kamu alami tapi ga bisa dihindari. Namanya hidup, kamu ga akan bisa prediksi.

Sebelum pamit, kalian boleh tonton sedikit video salah satu theme song saya buat perempuan-perempuan hebat di luaran sana. Stay beautiful and cheerio!

“If those girls are being honest that have been where you’re at, I bet they’d tell you that they wish they had their innocence back.” -Kelly Pickler, Don’t You Know You’re Beautiful

 

16 thoughts on “Hanna Anisa dan Susahnya Jadi Perempuan di Indonesia

  1. Waw.. jujur sekali jawabannya. Benar2 menarik mb aku baca sampai akhir. Hebat bgt bisa jujur sama diri sendiri. Emang susah ya jadi perempuan Indonesia yg suka dijugde g perawanlah, ini lah, naif lah dll. Suka bgt sama tulisannya

    1. hallo mbak mei, salam kenal… πŸ™‚
      dilematis sih mbak, karena khan ga semua orang juga suka apa yang kita pikirin atau lakukan. cuma ya seiring berjalannya waktu, mulai aware aja kalo mau happy harus pikirin dulu diri sendiri. baru nanti bahagiain orang lain. and that’s what i’m trying to do. thank you for dropping by! πŸ˜€

  2. Hi Marya,

    Super like this writting, cuman aku mau share aja my thots. Bukan cuman di Indonesia tetapi it’s a general double standard and victim blaming BS sih. Apabila ada perempuan di cat call, sexually assulted pasti yang akan disalahkan perempuan (what clothes are you wearing, are you drunk, are you being flirtatious and inviting, etc, etc). No one talk about consent dan bahwa no means no. Pemikiran seperti ini lah yang harusnya bisa dirubah. Seperti halnya video ini, yang di ekspos selalu si perempuan seakan-akan orang lupa there are two people involved in it.

    I also think virginity is overrated however menurut gw when you decide to do it harus bener-bener 1. you want it 2. with people you care about. Anw really admire you’re being candid with your story.

    1. setuju, mbak.. sebetulnya soal gender equality ini masalahnya ga cuma di indonesia. cuma di indonesia kayanya lebih susah untuk terbuka karena dari adat istiadat pun kebanyakan dari kita emang membiasakan perempuan untuk ‘mengalah’ atau bahkan ‘salah’ sekalian. ibaratnya, kata ‘pamali’ cuma ada di indonesia, dan ‘pamali’ buat perempuan lebih banyak jumlahnya daripada lelaki. πŸ™

      untuk virginity, kayanya di kita sebetulnya udah mulai terbuka. cuma ya itu, stigma2 soal losing virginity itu yang jadi masalah mungkin buat orang-orang jadi akhirnya kaya segala macem serba ditutupi.

      thank you for dropping by, mbak! πŸ˜€

      1. salam kenal Mbak Marya. Saya pembaca baru blog mbak.. amaze banget sama kejujuran mbak dalam tulisannya. Kultur di kita memang nggak adil ya mbak buat cewek kayak kita?
        Terimakasih buat tulisannya ya mbak. Suka sama jujurnya Mbak Marya. pelajaran banget buat saya dan wanita lainnya. Karena jujur itu lebih baik drpda kita so so suci ya mbak?

        1. hallo dita, salam kenal juga! πŸ˜€

          thank you udah mampir ke blog aku. hehe. sebetulnya sih itu balik ke masing-masing juga dita, tergantung pilihan masing-masing karna aku yakin di luaran sana juga banyak yang ga berani jujur karena takut sama penilaian orang-orang terdekatnya yang mungkin pikirannya masih tertutup soal ini. masing-masing ada resikonya juga sebetulnya, kalo jujur pasti ada yang ngehujat. klo ga jujur nanti malah terkesan kaya bohongin sendiri. πŸ™

          if you encounter the same situation, choose wisely! hehe. πŸ˜€

  3. Jadi perempuan di Indonesia memang gak pernah mudah apalagi kalau di desa

    Bicara soal keperawanan itu sesuatu. Setidaknya Mbak bisa jujur dan maafin diri sendiri. Di luar sana byk kan yg malah terpuruk lalu tunduk bahkan sampai bunuh diri gara2 penyesalan udah gak perawan lagi

    1. hallo jiah, thank you udah mampir di blog aku yah!

      betul, aku yakin di luaran sana masih banyak yang terpuruk dan kalau ngga nyalahin diri sendiri ya jadi depresi.

      makanya aku pengen coba jujur dalam postingan aku karena dengan kemudahan teknologi, mudah-mudahan orang-orang seperti ini bisa ter’bawa’ ke postingan aku ini supaya mereka sadar kalo soal galau mengenai keperawanan dkk, mereka ga sendirian. πŸ™‚

  4. Hi Mbak. Iseng scroll timeline Facebook dan akhirnya baca ini. Jujur aja, saya termasuk yang tipe old school, mirip2 ibu Mbaklah soal prinsip keperawanan dan kesopanan pakaian.
    Tapi saya gak mau debat soal prinsip sih, capeklah dan saya yakin setiap orang dipengaruhi lingkungan sampai menganut suatu prinsip. Tapi jujur aja, punya prinsip yang nyeleneh itu memang akan bikin orang mengerutkan kening. Saya sendiri punya 1 pandangan tentang pernikahan,yang kalo saya share bakal bikin orang ngeri kayaknya haha. Tapi yang penting itu adalah bisa menerima diri sendiri ketika kita ngerasa berbeda dengan kebanyakan individu. Saya juga sempat merasakan susahnya disitu, butuh waktu agar bisa mencintai diri sendiri.

    1. hallo mia, thank you for dropping by! πŸ™‚

      betul, klo soal prinsip mending ga usah debat karna aku percaya tiap prinsip punya ‘target market’-nya masing2. hehe.
      sebetulnya soal prinsip itu kembali lagi ke masing-masing individu juga sih, karna khan yang namanya jalanin hidup khan semuanya imbasnya cuma dua, ke diri sendiri dan orang lain. klo diri sendiri suka, orang lain yang ga suka. gitu juga sebaliknya.

      sekarang tinggal balik lagi ke kitanya, hidupnya mau bikin bahagia diri sendiri apa orang lain?

      klo aku prinsipnya simpel, aku mau bahagiain gimana caranya kalo aku sendiri ga bahagia? jadi ya mungkin buat aku jujur sama diri sendiri dulu. hehe. πŸ˜€

  5. Saya bahkan tidak tahu kisah Hanna Anisa, tapi saya mengerti, ini semua tentang perempuan.

    Saya membaca kisah mba ini setiap detailnya, dan saya menghargai setiap kejujuran dan keberanian mbak mengeluarkan pendapat.

    Saya juga pernah bertemu seorang wanita yang menceritakan kehidupannya dengan sangat terbuka, apa adanya sekali. Setidaknya kehidupan mba masih lebih baik dengannya.

    Dari sana saya belajar, bagaimana seorang wanita berjuang menerima garis kehidupan yang telah dijalaninya.

    Saya tidak akan mengatakan bahwa saya sependapat dan setuju dengan pilihan hidup mba. Karena tentu saja saya memiliki keyakinan dan pendapat yang berbeda.

    Tapi sebagai wanita, kita memang harus menyayangi dan menghargai diri kita sendiri. Kemudian berani mengambil resiko atas setiap keputusan yang telah kita buat.

    1. makasih komentarnya, mbak khairunnisa!

      betul, apapun pilihan hidup, sebetulnya ga perempuan ataupun laki-laki, harus berani mengambil resiko dari keputusan atau pilihan apapun yang mereka ambil. karena toh namanya hidup segala hal penuh dengan konsekuensi. πŸ™‚

  6. Memang betul mbak, susah jadi perempuan yang “jadi diri sendiri” di negeri sendiri. Bukan cuma karena orang-orangnya masih old school atau terbiasa nge-judge, tapi nggak mau atau mager “berpikiran positif dulu” sebelum ngeliat orang lain. Apalagi masalah Hanna Annisa ini. Jujur, siapa sih yang mau difitnah kayak gini? Bahkan mengumbar privasinya ke khalayak? Pasti nggak mau. Apalagi dikonsumsi publik dan penonton menikmatinya.

    Kayaknya emang “individu” orang Indonesia masih agak… sorry to say.. terbelakang. Memang butuh waktu untuk menerima perubahan dan hal baru, serta membuka diri. Apalagi soal masalah seks dsb.

    Good to read! I love it, this is so realistic πŸ™‚

    1. aku setuju banget yang kamu bilang orang2nya masih terbiasa ngejudge, kadang2 aku sendiri suka harus elus2 dada klo liat komen2 di ig atau facebook pas netizen udah nyinyirin orang. dan itu kaya ga kenal tema dan orang, yang nyinyir adaaaa aja. πŸ™

      thank you for reading ya nadia! πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

loading...