Dilan 1890 ala Bumi Manusia: Alasan Kenapa Gak Semua Buku Itu Harus Difilmkan

Hallo semuanya!

Gak kerasa yah, udah hampir sebulan lamanya saya gak update blog ini. Hmm.

Alasannya macem-macem sih, saya lagi banyak kejar setoran di blog The BeauTraveler. Selain itu, kerjaan freelance saya juga lagi lumayan banyak dan saya lagi sibuk planning buat trip saya selanjutnya. Akhirnya, blog ini sedikit terabaikan.

Walaupun gak lama-lama banget, karena saya langsung tertarik buat ‘bersuara’ pas baca berita yang mungkin akhir-akhir ini memenuhi portal berita di Indonesia: soal Iqbaal Ramadhan yang akan memerankan peran Minke di film Bumi Manusia yang akan digarap oleh Hanung Bramantyo.

Sejujurnya, saya udah lama banget gak ngikutin berita hiburan artis-artis Indonesia. Dilan 1990 pun saya gak nonton, gak baca bukunya juga. Saya gak tau skill akting Dilan Iqbaal kayak gimana.

Tapi, walaupun harus saya akui saya gak terlalu suka baca novel Indonesia, cuma satu novel Indonesia yang saya ikuti macam kitab suci, dan itu adalah Tetralogi Buru-nya Pramoedya Ananta Toer.

Dan waktu saya baca berita soal Bumi Manusia akan difilmkan dengan Iqbaal sebagai Minke, reaksi pertama sebenernya bengong dulu. Bingung mau ngomong apa.

Kutipan Pramoedya Ananta Toer di salah satu buku Tetralogi Buru yang saya punya, Jejak Langkah.

Awal “Perkenalan” Saya dan Tetralogi Buru

Saya pertama kali baca Bumi Manusia waktu saya duduk di kelas 1 SMA. Saya masih ingat, karena buku ini direkomendasikan oleh guru Bahasa Inggris saya saat itu yang berpikir kalo saya akan suka dengan buku ini.

Sebelumnya, dengan pamor Om Pram sebagai penulis kawakan, satu hal yang saya tau soal Om Pram ini adalah kenyataan kalau beliau sempat dipenjarakan di masa Orde Lama dan Orde Baru dan karyanya sempat dibredel. Alasannya kenapa, saya gak tau sampai akhirnya saya dipinjamkan buku Bumi Manusia oleh guru Bahasa Inggris saya ini.


“Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?”

-Pramoedya Ananta Toer


Dan seperti kebanyakan orang pada umumnya, saya akhirnya mengidolakan tokoh yang disebut-sebut MILF pada masanya: Nyai Ontosoroh.

Tokoh perempuan yang dianggap hina hanya karena seorang ‘nyai’, tapi di balik cerita hidupnya merupakan sosok yang gak cuma pemberani, tapi pandai dan juga mandiri.

Kalau diingat-ingat lagi, kayaknya gak ada lagi novel Indonesia yang bikin saya betul-betul jatuh cinta selain Tetralogi Buru-nya Om Pram ini, khususnya Bumi Manusia. Dan walaupun jatuh cinta sama Bumi Manusia, saya gak pernah beli bukunya sampai beberapa tahun yang lalu waktu saya udah mulai bekerja.

Bahkan, sampai saat ini pun saya belum punya buku Bumi Manusia yang Bahasa Indonesia, karena tiap kali saya main ke Gramedia pasti selalu habis. Yang akhirnya saya terpaksa buat beli versi terjemahan Bahasa Inggris-nya yang diterbitkan sama Penguin.

Versi Bumi Manusia yang saya punya, terjemahan Bahasa Inggris.

Soal Iqbaal, Minke, dan film Bumi Manusia

Kalau soal Bumi Manusia, sebetulnya saya sering banget baca soal buku ini dimainkan di Taman Ismail Marzuki, walaupun saya sendiri gak pernah nonton karena ya emang jiwa seni saya gak tinggi-tinggi banget. Terakhir, kalau gak salah saya pernah baca soal Bumi Manusia ini diangkat ke teater dengan Happy Salma yang sukses memerankan peran Nyai Ontosoroh.

Terus kenapa saya sampai speechless waktu tau Bumi Manusia mau difilmkan ketika saya ngaku penggemar Bumi Manusia tapi saya sendiri males nonton teaternya?

Tetiba, saya inget soal pembahasannya Deddy Corbuzier soal artis alay dengan perbandingan kasar melalui medium ‘sabun batang’ dan ‘sabun cair’ sebagai medium.

Dan alasan kekecewaan saya soal Bumi Manusia yang akan difilmkan ini kurang lebih mirip-mirip sama kayak perumpamaan ‘sabun batang’ dan ‘sabun cair’-nya Deddy Corbuzier. Apalagi kenyataan kalau pemeran Minke ini adalah artis muda yang lagi naik daun, sehingga terkesan efek domino kesuksesan Dilan 1990 dan aji mumpung.

Rasanya kok kayak nyessss banget gitu yah.

Mungkin saya egois sih sebagai penggemar, tapi ya gimana yah? Pikir saya, kalau misalnya penikmat teater khan biasanya mereka tipe-tipe penikmat seni dengan niche terkait.

Tapi ketika suatu karya difilmkan, itu artinya karya tersebut udah jadi komoditas jutaan masyarakat yang alasannya bisa emang karena suka, penasaran, atau malah cuma nonton karena efek subjektif. Mungkin mereka gak tau kenyataan peran Minke ini sendiri terinspirasi dari tokoh sosok yang disebut-sebut merupakan Bapak Pers Indonesia, Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo.

Iya, sih… Ada beberapa twist di cerita Bumi Manusia. Misalnya, di Tetralogi Buru diceritakan Minke ini mandul, sedangkan Raden Mas Tirto beranak-pinak dkk. Dan kalau kalian pembaca setia tirto.id seperti saya, kalian juga pada akhirnya toh bakal mengerti kenapa tirto.id menamakan dirinya Tirto. Itulah kenapa karakter Minke ini penting.

Bukan cuma karena Iqbaal sukses dengan perannya sebagai Dilan, atau seberapa unyu Iqbaal ini. Atau bahkan segimana populernya dek Iqbaal ini supaya bisnis film Bumi Manusia ini bisa untung besar.

Iya lah, baru pengumuman aja yang berkoar-koar udah banyak, bahkan nambah. Kategori pertama, pembaca Bumi Manusia seperti saya yang sebelumnya peduli amat sama keberadaan si Iqbaal dan sekarang jadi ikutan kepo karena buku Om Pram mau difilmkan. Yang terakhir ya jelas, dedek-dedek gemas yang emang masih kesengsem berat sama picisan Iqbaal di film Dilan. Dari situ aja udah keliatan, pangsa film-nya jadi dua kali lipat.

Tapi, bukan berarti berita soal rencana film Bumi Manusia ini gak ada bagus-bagusnya di mata saya lho. Karena dengan begini, sedikit banyak saya agak berharap bisa membuka kesempatan orang-orang yang sebelumnya gak peduli, jadi seenggaknya terbuka matanya akan sejarah di masa perjuangan kemerdekaan melalui sisi Minke.

(Opini) Buku > Film

Kalau saya boleh egois sih, saya tetep berpikir kalau gak semua buku itu perlu difilmkan. Dan Bumi Manusia ini adalah salah satunya.

Cerita asli di buku yang kompleks itu gak mungkin semuanya akan difilmkan, dan untuk kasus kayak gini, more often than not, buat yang baca bukunya hasilnya malah mengecewakan. Dan buat yang gak baca bukunya, takutnya malah menimbulkan misinterpretasi. Yah, walaupun mudah-mudahan sih saya salah.

Sumber: Pexels

Dan emang gak bisa dipungkiri sih, pada akhirnya toh balik lagi ke trend masa kini yang emang semuanya serba visual. Apalagi ditambah dengan hasil survey yang menyatakan kalau Indonesia ini adalah negara dengan minat baca yang sangat rendah, ya mungkin jalan satu-satunya upaya adalah dengan menyajikan film dari adikarya seperti Bumi Manusia ini.

Saya udah lupa kapan terakhir kalinya saya nonton film Indonesia, tapi mungkin saya bakal coba tonton film Bumi Manusia ini. Bukan karena saya siap dikecewakan, tapi karena sedikit banyak (mudah-mudahan) saya masih punya harapan.

Tapi harapan terbesar saya di atas segalanya adalah… Mudah-mudahan nanti penerbit bukunya gak akan menerbitkan buku dengan cover Dilan Iqbaal sebagai Minke-nya. 

Sekian.

Tinggalkan Balasan