Sumpah Pemuda: Kita Tidak Sama, Tapi Harus Kerjasama!

Selamat Hari Sumpah Pemuda, beautravelers di Nusantara!

Sekarang saya lagi kejar setoran karena lagi minim kerjaan sekaligus lagi banyak ide buat nulis nih. Karena itu, saya jadi agak produktif blogging akhir-akhir ini. Dan kebetulan juga, pas banget sekarang di tanggal 28 Oktober 2017 ini bangsa Indonesia juga merayakan Sumpah Pemuda.

Apa sih arti Sumpah Pemuda buat kamu? 🙂

Continue reading “Sumpah Pemuda: Kita Tidak Sama, Tapi Harus Kerjasama!”

Pelecehan dan Kekerasan Terhadap Perempuan: Karena Tak Selamanya Diam Itu Emas

Umur saya 22 tahun ketika saya baru menyelesaikan studi saya dan memutuskan untuk pindah sementara ke Jakarta untuk berpartisipasi dalam sebuah pagelaran olahraga regional disana.

Ketika banyak teman-teman saya yang langsung memilih bekerja di perusahaan setelah lulus kuliah, saya memutuskan untuk menunda mencari pekerjaan dan berpartisipasi dalam pagelaran olahraga tersebut untuk mempersiapkan mental dan menambah soft skill saya sebelum bekerja secara profesional.

Pertimbangan saya saat itu, pagelaran olahraga regional yang diadakan di Jakarta ini merupakan salah satu pagelaran olahraga terbesar di Asia Tenggara dengan ribuan tamu dari negara-negara tetangga. Kalau saya berpartisipasi di acara ini, maka setidaknya saya akan memiliki sedikit pengalaman ketika mencari pekerjaan sesungguhnya selain saya juga mencoba memanfaatkan acara ini sebagai ajang networking yang mungkin akan membuka peluang-peluang bekerja ke depannya.

Siapa yang sangka ternyata partisipasi saya dalam ajang kompetisi olahraga regional ini tidak saja membuka wawasan saya mengenai profesionalisme dan menambah teman, tetapi ajang olahraga ini juga membukakan mata saya terhadap suatu isu yang lebih besar: pelecehan terhadap perempuan.

Continue reading “Pelecehan dan Kekerasan Terhadap Perempuan: Karena Tak Selamanya Diam Itu Emas”

Skybound Online, Sekolah Pramugari Praktis Untuk Para Wannabes

Tiap kali saya ketauan orang kalau saya dulu sempat jadi pramugari, respon yang saya dapat kurang lebih sama: antara ga percaya karena kebetulan liat saya ga dandan dan pake baju awut-awutan atau langsung melanjutkan dengan pertanyaan, “Khan susah ya diterima jadi pramugari?”

Pertanyaan tersebut ga salah sih, karena sepertinya dari jaman dahulu kala, profesi pramugari ga pernah kehilangan peminatnya.

Baru beberapa waktu lalu, saya terkoneksi dengan setidaknya dua orang anggota grup The Solo Female Traveler Network di Facebook yang penasaran dengan gaya hidup di balik trolley dolly dan mempertimbangkan pekerjaan menjadi pramugari.

Dua orang ini cuma segelintir dari ribuan, atau mungkin jutaan banyak orang, baik lelaki maupun perempuan yang bercita-cita menjadi awak kabin.

Beribu sebutannya, dari mulai pramugara/pramugari, flight attendant, cabin crew, steward/stewardess… Boleh dicek tiap kali ada rekrutment, dimanapun untuk maskapai apapun, antrian selalu penuh dengan para wannabes, sebutan orang-orang yang bercita-cita jadi pramugari.

Kamu termasuk salah satu dari wannabes yang kepikiran untuk berkarir sebagai trolley dolly tapi ga pede dengan kemampuan kamu saat wawancara nanti? Atau mungkin kamu baru lulus SMA dan kepikiran untuk menambah skill kamu sebelum coba cari-cari peruntungan di dunia penerbangan?

Pas banget, karena saya baru diperkenalkan dengan platform yang memungkinkan kamu untuk sekolah praktis menjadi pramugari: Skybound Online.

Continue reading “Skybound Online, Sekolah Pramugari Praktis Untuk Para Wannabes”

Millen, Raisa, dan Mesum di Bintaro

Beberapa waktu lalu, tiba-tiba aja Binsar nge-DM saya lewat Instagram ngajak ngobrol ngalor ngidul dengan diakhiri pesan kira-kira seperti ini: “Eh, biar lu ga bosan, coba nulis deh sehari sekali. Entah cerita atau sajak.”

Saya ga tau kenapa Binsar tiba-tiba nulis gitu, karena konteks obrolan kita waktu itu soal terapi akupresur yang sedang saya jalankan untuk Bell’s Palsy saya. Tapi, pesan dari Binsar ini cukup memotivasi saya untuk cari-cari topik apa lagi yang kira-kira bisa ditulis, karena kebetulan untuk sajak dan puisi, skill saya nyaris nihil. 😛

Dan lalu, rentetan kejadian-kejadian yang jadi viral di sosial media di Nusantara akhir-akhir ini akhirnya memaksa saya untuk mencurahkan pemikiran saya terkait isu-isu yang antara penting dan ga penting itu.

Isu apa? Apa lagi kalau bukan kasus video oral sex-nya Millen Cyrus yang keponakannya Ashanti, #HariPatahHatiNasional karena pernikahan Raisa dan Hamish Daud, dan yang terakhir video penggrebekan sepasang ABG yang lagi asyik masyuk di Bintaro.

Melihat respon orang-orang soal isu-isu ini, saya langsung teringat karakter manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis. Menurut beliau, salah satu karakter manusia Indonesia diantaranya adalah hipokrit atau munafik.

Continue reading “Millen, Raisa, dan Mesum di Bintaro”

Wangsit Batik dan Cantik di Balik BeautiQ

Sebetulnya, bahkan sejak saya mulai terbang dan sering pulang-pergi jadi bocah petualang, ibu saya yang visioner seringkali menasehati saya untuk bisa ‘menghasilkan’ tiap kali saya jalan-jalan.

Dalam Bahasa Sunda-nya yang kental, bukan sekali dua kali beliau berkata, “Kalau senang jalan-jalan tuh, ya jangan cuma senang jalannya aja. Cari tau donk apa yang kira-kira bisa dijual dari sana atau yang bisa dibawa dari sini supaya ga cuma senang, tapi menghasilkan uang.”

Dulu saya ga pernah menghiraukan apa kata beliau karena memang pada dasarnya saya adalah tipe traveler yang paling males diribetin sama budaya titip-titipin yang mendarah daging di Indonesia ini.

Pikir saya, boro-boro mikirin apa yang bisa dijual, cucian muat di koper aja udah alhamdulillah.

Continue reading “Wangsit Batik dan Cantik di Balik BeautiQ”

Indonesia dan Makna Merdeka

Hallo beautravelers dari Sabang sampai Merauke!

Gimana acara 17an di rumah kalian? Ikutan lomba apa di ulang tahun Indonesia yang ke-72 ini? Apakah kalian dipaksa ikutan upacara di kantor kalian? Dirgahayu Indonesiaku!

Kalau saya sendiri sih, berhubung sudah berstatus pengangguran saat ini, jadinya ga perlu repot-repot bangun pagi buat upacara. Hmm. Rasa-rasanya terakhir kali saya upacara itu waktu SMA, masa-masa yang kalau ga terpaksa rasanya pengen banget ga usah diinget lagi. 😐

Anyway, kali ini saya pengen sedikit berbagi soal makna kemerdekaan buat saya sendiri mumpung momennya tepat.

Awal ide saya menulis ini adalah karena ketika saya pulang belanja sama Heri, sepupu saya, tetiba ada anak-anak gerombolan minta sumbangan untuk perayaan Agustusan dan lalu sepupu saya nanya, “Apa itu artinya Indonesia belum merdeka, kalau merayakan kemerdekaan aja harus pake minta-minta?”

Continue reading “Indonesia dan Makna Merdeka”

Perempuan Akhir 20an Masih Sendirian: Balada Bosan Jadi Pagar Ayu, Tapi Males Mikirin Drama Jadi Pengantin

Kemarin tiba-tiba aja Ninut kirim Whatsapp nanya bisa telepon atau engga.

Di satu sisi, saya heran kenapa dia tiba-tiba kirim mesej mau telepon. Di sisi lain, saya udah berteman cukup lama sama makhluk eksentrik satu ini sehingga ga ada yang aneh dari kelakuan dia yang sering sekali timbul tenggelam. Bisa mendadak cerewet pengen ngobrolin geje, terus lagi asik-asik ngobrol mendadak ngilang. Sudah biasa.

Sedikit latar belakang pertemanan saya dengan Ninut adalah karena usut punya usut Ninut ini ternyata teman saya dari TK. Saya udah ga inget kalau kita ternyata pernah berteman sampai ketika kuliah dan menjadi teman dekat, dia dengan bangga nunjukkin foto saya sama dia di sekolah. Nah, setelah lulus kuliah Ninut pindah mengembara ke Benua Biru dan saat ini berdomisili di Denmark.

Dan ketika akhirnya kita tersambung melalui free call di Whatsapp, akhirnya saya mengerti maksud dan tujuan Ninut telepon: Ninut mau nikah.

Continue reading “Perempuan Akhir 20an Masih Sendirian: Balada Bosan Jadi Pagar Ayu, Tapi Males Mikirin Drama Jadi Pengantin”