Catatan Perjalanan di Borneo: Kemana dan Ngapain Aja di Kuching, Sarawak?

Iya, udah sebulan lamanya sejak saya terakhir update blog ini. Emang saya ini banyak banget alasannya buat nunda-nunda nulis blog ini lagi. Dari mulai kerjaan yang lumayan sibuk, sampai kenyataan beberapa waktu lalu saya dapet e-mail dari salah satu pembaca yang baca tips jalur darat dari Singkawang ke Kuching.

Awalnya saya pikir dia cuma minta bantuan buat merencanakan perjalanan seperti biasa, ujung-ujungnya nanyain bisa temenin dia atau enggak berhubung kita sama-sama single. Kriks. Dari situ situ saya jadi agak ilfeel juga yah buat lanjut nulis lagi. Tapi saya sadar, kalau cuma gitu aja bikin saya males nulis, berarti saya gak berbakat jadi selebritis. HAHA.

FYI, buat para pembaca yang kurang update, mohon maaf tapi saya sekarang statusnya udah gak single lagi yah… Karena sekarang saya punya pacar. Eaaa.

Sekarang, back to the topic, kali ini saya mau bahas soal perjalanan saya selama di ibukota negara bagian Sarawak, East Malaysia: Kuching. Kemana dan ngapain aja sih saya disana?

Landmark di Kuching, Sarawak: patung-patung kucing yang bertebaran di tengah kota.

Tentang Kuching, Sarawak

Kalau kamu udah baca postingan Borneo trip saya dari awal, kayaknya kalian udah tau kalau inti perjalanan darat saya di Pulau Kalimantan ini sebetulnya karena pengen ke Brunei. Tapiiii, sebagai seseorang yang punya beberapa anabul (anak bulu.red), rasanya nyaris gak mungkin buat melewatkan kesempatan buat jalan-jalan di Kuching.

Selain itu, Kuching sendiri ternyata jadi satu dari beberapa destinasi favorit teman-teman yang tinggal di Kalimantan, khususnya Pontianak dan sekitarnya. Jadi, apa sih yang istimewa dari Kuching ini?! Terus, seberapa worth it sih jalan-jalan di Kuching buat pecinta kucing seperti saya?

Kuching yang merupakan ibukota dari bagian negara Sarawak, yang juga merupakan kota terpadat di bagian wilayah Malaysia Timur ini punya beberapa tempat yang cukup menarik buat dikunjungi.

Secuil cerita sejarah tentang Kota Kuching yang ada di sekitaran Waterfront.

Selain di pusat kota Kuching yang banyak terdapat patung-patung kucing yang harusnya instagrammable, ada tempat-tempat wisata lain yang juga recommended buat dikunjungi kayak Semenggoh Nature Reserve yang jadi tempat favorit untuk liat orangutan di Sarawak atau Taman Negara Bako. Karena kebetulan saya mengunjungi kedua tempat tersebut, saya bakal tulis cerita jalan-jalan saya secara terpisah. 🙂

Untuk tempat-tempat yang saya kunjungi di kota Kuching sendiri, saya gak mendatangi seluruh tempat recommended yang saya temukan di internet. Karena kalau kalian udah tau gaya jalan saya kalau lagi traveling sendirian, saya ini biasanya datengin tempat ya sebisanya saya aja. Gak terlalu kaku dan ambisius untuk datengin semua tempat yang ada di daftar tempat yang harus dikunjungin ketika saya berhenti di satu kota.

Tempat Menginap di Kuching, Sarawak

Kalau kamu ada rencana buat jalan-jalan ke Kuching dan menginap selama beberapa hari, juga pengen sedikit hemat biaya transportasi untuk melancong sana-sini, kamu bisa pilih penginapan yang ada di sekitaran Kuching Waterfront.

Di daerah inilah kamu bisa dengan mudah ke beberapa rekomendasi tempat di sekitaran Kuching dengan cukup berjalan kaki. Dari mulai patung-patung kucing yang bertebaran di setiap sudut kota, kantor DPRD-nya Sarawak dan Astana yang merupakan daerah rumah dinas para anggota dewan, juga beberapa museum yang kayaknya sayang banget buat dilewatin kalau kalian berada di Kuching.

Karena Kuching merupakan kota dengan durasi stay paling lama selama Borneo trip kali ini, saya pun milih akomodasi dengan rate paling terjangkau dibandingkan tempat penginapan saya lainnya selama Borneo trip kali ini. Di Kuching, saya menginap di Woodpecker Lodge dengan memilih kamar yang paling sederhana: basic single room tanpa AC.

Pengumuman di pintu masuk Woodpecker Lodge.

Woodpecker Lodge di Kuching, Sarawak

Fluffy di lobby.

Dari Singkawang, saya sampai di Kuching sekitar jam 10 pagi dengan menggunakan travel. Estimasi saya sebelumnya karena beranggapan bakal macet atau antri di imigrasi salah besar, karena justru saya sampai di Kuching lebih cepat dari perkiraan saya.

Karena sistem travel-nya ini point-to-point, otomatis saya juga diantar langsung ke alamat tujuan saya. Supir travel-nya juga yang bantuin saya buat nemu alamat Woodpecker Lodge ini.

Woodpecker Lodge ini lokasinya gak jauh dari Grand Margherita Hotel, karena posisinya berada di ruko sekitaran patung keluarga kucing yang jadi landmark-nya kota Kuching ini. Seandainya kamu baru pertama kali kesana, kamu bisa ngarahin GPS kamu ke Bank CIMB terdekat di sekitaran Grand Margherita Hotel, dan lokasi Woodpecker Lodge ini cuma sekitar 5 menit jalan kaki dari bank tersebut.

Posisi Woodpecker Lodge ini ada di lantai 2 untuk resepsionis, dan harap diperhatikan… Gak ada lift disini, jadi mungkin buat kamu yang bawa barang banyak bisa dijadikan pertimbangan dalam unsur kenyamanan.

Konsep Woodpecker Lodge sendiri lebih seperti guest house, karena lobby-nya lebih terasa seperti ruang tamu dengan staff yang super ramah dan… Yang jadi alasan kenapa saya super duper suka sama Woodpecker Lodge ini, ada dua kucing yang jadi bos disini: Fluffy dan Ninja. I felt home already when I saw those balls of fur! 🙂

Basic Single Room (with Fan) di Woodpecker Lodge, Kuching

Kamar basic single di Woodpecker Lodge, Kuching.
Ninja the mousekeeper, bos kucing di Woodpecker Lodge, Kuching.

Saya stay di Woodpecker Lodge selama 5 hari 4 malam, dimana total saya cuma bayar sekitar IDR 537.516 untuk keseluruhan.

Murah banget, karena saya sengaja milih yang paling murah biar alokasi dana bisa saya salurkan ke kegiatan yang lain. Selain rate untuk kamar, karena regulasi dengan tourism tax yang diterapkan oleh pemerintah Malaysia, saya juga bayar 40 MYR (sekitar IDR 137.500) di luar itu.

Sengaja saya pilih kamar dengan kipas angin aja, karena toh saya emang cukup terbiasa hidup tanpa AC. Sebetulnya pas check-in pun saya ditawarin untuk upgrade ke kamar yang ber-AC sih, cuma emang saya ini cukup keukeuh buat berhemat dan terpaksa nolak.

Selain itu, sebelum sampai di Kuching, dari awal pun saya udah menghubungi pihak Woodpecker Lodge tentang penitipan barang. Karena kebetulan, setelah check out dari Woodpecker, saya bakalan nginep di Taman Negara Bako selama satu hari dan saya gak mungkin bawa-bawa koper saya yang segede gaban itu kesana.

Oliver, yang punya Woodpecker Lodge, bener-bener bantu banget. Setelah check out, saya bisa titip koper tanpa biaya tambahan apapun. Selain itu, saya juga bisa ikut laundry untuk baju-baju kotor saya di Woodpecker Lodge dengan membayar 5 MYR per kilo.

Kemana dan Ngapain Aja di Kuching, Sarawak?

Untuk di pusat kota Kuching sendiri, saya lebih banyak jalan kaki daripada pake Grab untuk keliling kota Kuching ini. Sesungguhnya, saya pun cukup banyak menghabiskan waktu di penginapan karena satu dan lain hal.

Pertama, karena saya udah masuk masa-masa dimana bahkan waktu jalan-jalan pun saya merasa butuh tidur siang. Selain itu, karena pekerjaan saya yang sifatnya remote, selama di Kuching ini saya banyak project yang mengharuskan saya berada di depan laptop. 😐

Tapiiii, saya bakal kasih daftar beberapa aktivitas dan tempat yang saya lakukan selama di kota Kuching ini. Jadi, kemana dan ngapain aja sih saya selama disana?

1. Kuching Waterfront

Kantor DPRD-nya Sarawak dari Jembatan Darul Hana di Kuching Waterfront.
Jembatan Darul Hana di waktu malam.

Kuching Waterfront ini jadi salah satu landmark yang ada di kota ini. Selain merupakan bagian dari Sungai Sarawak, ada Jembatan Darul Hana yang enak banget buat dipake jalan-jalan sore.

FYI, konon katanya momen sunset di Jembatan Darul Hana ini jadi salah satu aktivitas paling recommended yang bisa kamu lakukan di sekitaran Kuching Waterfront ini.

Kebetulan saya gak sempet menikmati sunset disini sih, tapi saya sempat jalan-jalan kesini siang bolong dan panas banget… HAHA.

Kalau malam, sekitaran Kuching Waterfront ini jadi bazaar setiap harinya. Dari mulai kafe tenda sampai tempat belanja oleh-oleh, semuanya ada di sekitaran Waterfront ini.

Selain itu, kalau kamu tertarik buat jalan-jalan menyusuri Sungai Sarawak di sekitaran Waterfront ini, kamu juga bisa beli tiket untuk naik boat dengan harga sekitar 19 MYR buat setiap penumpang.

Saya sendiri gak sempet naik boat ini sih, karena emang kurang tertarik aja. Jadi, jujur kerjaan saya tiap malem itu kesini cuma buat jalan-jalan, makan malam sambil ngeliatin orang-orang yang lalu lalang.

Di malam terakhir aja saya beneran fokus ngambil foto-foto Kuching Waterfront di malam hari, lainnya saya bener-bener cuma enjoyed the moment aja.

2. Chinese History Museum

Peta gelombang imigran Cina yang datang ke Sarawak.
Salah satu eksibisi yang ada di Chinese History Museum.

Chinese History Museum ini berada di sekitaran Waterfront, gedungnya sih gak terlalu besar dan yang terpenting buat masuknya gak perlu bayar. 😛

Jadi, berdasarkan informasi yang saya baca sih ya… Gedung yang saat ini jadi Chinese History Museum ini dulunya beroperasi sebagai kantor dagang bangsa Cina yang ada di Sarawak, efektif sampai sekitar tahun 1920an.

Walaupun gedungnya kelihatan gak terlalu besar, saya berada di museum ini sekitar 2 jam karena terlalu seru buat baca-baca sejarah kedatangan imigran pertama dari Cina ke tanah Sarawak.

Selain informasi tersebut bisa dibaca di eksibisi yang tersedia, mereka juga punya ruangan audio visual dimana kamu bisa nonton film singkat mengenai kedatangan gelombang pertama imigran Cina ke Sarawak.

Yang menarik adalah, karena kebanyakan imigran pertama yang datang ke Sarawak ini sebenernya datang pertama kalinya ke Kalimantan yang sekarang menjadi bagian Indonesia. Salah satunya ya ke Singkawang, karena awalnya kesempatan kerja disana lebih banyak dari berbagai sektor, seperti pertambangan atau bahkan pertanian.

3. Sarawak Textile Museum

Salah satu eksibisi mengenai tenun di Sarawak Textile Museum.
Kantor pos lama dan Carpenter Street, Kuching.

Kalau boleh jujur sih ya, Sarawak Textile Museum ini jadi salah satu museum yang cukup membosankan yang saya kunjungi di Sarawak ini. Tapi gak apa-apa sih, lumayan buat tambah-tambah ilmu. Apalagi karena gak ada biaya masuk buat dateng ke museum ini. Gratis! 😀

Lokasi Museum Tekstil Sarawak ini persis di depan kantor pos lama yang ada di Kuching, tepatnya di sebrang gapura menuju Carpenter Street yang cukup terkenal di sekitaran pusat kota ini.

Seperti namanya, di museum ini memuat banyak artefak, khususnya yang berhubungan dengan tekstil dan fashion. Gak tanggung-tanggung, karena koleksi yang mereka punya di museum ini pun gak main-main. Mereka punya arca dan bahkan anting-anting dari jaman Majapahit!

Museum ini terdiri dari 3 lantai, yang sebetulnya gak terlalu besar, tapi cukup agak ngeri-ngeri sedap juga sih kalau jalan-jalan sendiri. Maklum, banyak boneka-boneka yang agak bikin parno pas liatinnya. HAHA.

4. Makan Laksa Sarawak

Laksa Sarawak.

Jadi, kalau ada satu hal yang saya simpulkan dari perjalanan saya dari Kalimantan Barat ke Sarawak ini… Maka kesimpulan saya adalah kenyataan bahwa makanan disana enak-enak. 😀

Di Sarawak sendiri, diantaranya ada dua makanan yang jadi makanan khas dan sangat direkomendasikan: Laksa Sarawak dan Kolo Mee. Saya udah coba dua-duanya, dan kalau saya boleh kasih opini sih, I’d die for Laksa Sarawak any day! 

Buat saya pribadi, kolo mee gak terlalu enak… Tapi Laksa Sarawak itu semacam surga di lidah. Enak bangeeeeeet… Kalau kamu udah pernah coba Laksa Penang, kamu juga harus coba Laksa Sarawak buat tau mana yang menurut kamu lebih enak. Ada perbedaan yang signifikan dari kedua laksa tersebut, tapi buat saya sendiri Laksa Sarawak adalah yang terenak diantara keduanya!

Iya, saya sesuka itu sama Laksa Sarawak sampai kalau lagi bingung mau makan apa, saya pasti melipir ke kedai yang jual Laksa Sarawak. Gak ada satupun yang gagal. Seenak itu! 🙂

5. The Cat Museum

Salah satu koleksi di Cat Museum, Kuching.
Eksibisi mengenai kuburan kucing di Cat Museum, yang menjelaskan tentang bagaimana ketika kita pelihara kucing, mereka udah seperti keluarga dan berhak untuk mendapat kuburan yang layak. Langsung keingetan Disco. 🙁

Konon katanya, belum afdol jadi cat lady kalau belum ke Cat Museum yang ada di Kuching, Sarawak ini. Makanya nih, saya bela-belain buat kesini walaupun posisinya cukup jauh dari tempat saya nginep.

Kalau museum dan tempat-tempat lainnya bisa saya datangi dengan berjalan kaki, Cat Museum yang berlokasi di Kuching North City Hall ini berada sekitar 8 km dari Waterfront. Saya pake Grab gak terlalu mahal sih, cuma sekitar 5 MYR sekali jalan.

Berbeda dengan beberapa museum sebelumnya yang gratisan, untuk Cat Museum kita perlu bayar tiket masuk seharga 3 MYR (sekitar IDR 10.000). 

Disini, kita bisa lihat sejarah kucing dari mulai bagaimana ceritanya sehingga akhirnya bisa didomestikasi menjadi binatang peliharaan, sampai tokoh-tokoh kucing di pop culture seperti Garfield dan Doraemon.

Walaupun kedengarannya menarik, sesungguhnya sih saya sedikit kecewa dengan museum ini. Gak semenarik kedengerannya, dan koleksinya cenderung cupu dan gak jelas. Walaupun ya banyak quotes tentang kucing yang bikin mata saya berkaca-kaca karena keingetan kucing saya di rumah sih. 🙂

6. Kuching Old Courthouse, Sarawak

Gedung lama kompleks kantor mahkamah di Kuching, Sarawak.

Gedung lama yang dulunya merupakan kantor mahkamah pengadilan di kota Kuching, Sarawak ini saat ini lebih terkenal jadi tempat foto-foto para instagrammer.

Kalau kata Gabriel, supir Grab yang nganter saya ke Semenggoh di hari kedua saya di Kuching, gedung ini jadi salah satu gedung favorit buat dipakai untuk foto pre-wedding. Yah, mungkin semacam kayak Jalan Asia-Afrika di Bandung.

Lokasi gedung lama kantor mahkamah ini ada diantara Kuching Waterfront dan kantor pos lama yang ada di ujung Carpenter Street. Jadi, kalau kamu jalan kaki dari Waterfront menuju kantor pos, kamu bisa mampir kantor mahkamah ini sebentar.

Gak jauh dari sana, kamu juga bakal bisa liat Museum Tekstil Sarawak. Pokoknya, selama kamu seneng jalan kaki, jalan-jalan di pusat kota Kuching ini sebenernya cukup gampang.

FYI, Gabriel pun sempet rekomendasiin kafe yang ada di sekitaran bangunan mahkamah ini. Katanya, di kafe ini cukup recommended untuk makanan Western-nya. 🙂

7. Tugu Pahlawan, Kuching

Salah satu spot di sekitaran Tugu Pahlawan.

Yang jadi ironis adalah kenyataan bahwa saya mengunjungi Tugu Pahlawan yang berada di Kuching ini tepat di tanggal 10 November, dimana merupakan Hari Pahlawan di Indonesia. Lebih ironis lagi, karena banyak orang Kuching sendiri gak tau Tugu Pahlawan itu dimana. Kriks. 

Saya sendiri tertarik buat kesini karena kelihatannya tempatnya indah dan penuh kehijauan. Keliatan enak banget buat dipake jalan-jalan. Cukup jauh sih kalau jalan kaki dari pusat kota, tapi karena saya tipe orang yang seneng jalan kaki, ya dibawa santai aja sambil liat-liat.

Seperti juga beberapa Tugu Pahlawan yang ada di beberapa kota di Indonesia, ini pun kurang lebih sama. Tugu Pahlawan di Kuching juga merupakan taman budaya di kota ini. Yang menarik adalah, karena banyak batu nisan bertebaran di sekitaran Tugu Pahlawan ini.

Saya sendiri kurang tau apakah batu nisan ini dimiliki oleh para pejung Sarawak atau gimana, karena ya itu tadi… Nanya ke Grab yang bawa saya ke Kuching pun mereka banyak yang gak tau. 😐

8. Foto di Patung Kucing Yang Bertebaran di Seluruh Sudut Kota

Pertama kali liat nih patung, langsung kasian sama ekspresinya. 🙁

Jadi, karena punya julukan The Cat Town gara-gara namanya, di Kuching banyak banget patung-patung kucing bertebaran di sudut kota yang bisa jadi spot foto buat kamu upload di Instagram. Kalau mau. 

Saya sendiri pas hunting patung-patung kucing ini, pas nemu sebenernya agak sedikit kecewa karena ternyata patung-patung kucing ini agak sedikit krik. Maksud saya, awalnya saya cukup berekspektasi lebih mengenai patung-patung ini. Saya pikir patung ini dipahat sedemikian artistiknya, tapi ternyata agak gak jelas juga ya bentukannya. HAHA.

Tapi ya lumayan lah kalau cuma buat ngejar foto-fotonya doang. Lumayan.

9. Cek Spot Instagrammable Lainnya di Kota Kuching, Sarawak

Salah satu spot instagrammable di Kuching, Sarawak.

Kalau boleh jujur sih ya, daripada patung-patung kucing yang bentuknya agak-agak sembrono itu… Lebih banyak spot-spot instagrammable lain yang ada di sekitaran pusat kota Kuching. Salah satunya graffiti dan lukisan yang menghiasi banyak bangunan di kota ini. 

Sesekali kamu juga bisa berhenti di kafe terdekat buat sekedar ngopi atau makan. Pokoknya, kalau kamu tanya kota apa yang paling saya suka selama Borneo trip ini… Saya gak bakalan ragu buat bilang saya suka banget sama Kuching. Bahkan, kalau boleh ngayal-ngayal babu sih yaa, saya gak keberatan ya buat tinggal di Kuching kalau dapet kesempatan.

Ada Rekomendasi Lain Buat Didatengin di Kuching?

Saya tauuuu, banyak banget tempat di Kuching yang sebenernya masih bisa saya explore. Kayak misalnya mesjid di Kuching, Fort Margeritha, dll. Tapi yaaaa, saya juga gak terlalu ambisius buat datengin semuanya di waktu saya yang singkat itu.

Punya rekomendasi tempat lain buat didatengin di Kuching? Boleh tinggalin komen di bawah supaya bisa dibaca sama teman-teman yang mungkin lagi ada rencana untuk traveling ke Kuching dalam waktu dekat. Cheerio! 🙂

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.