Apa Semua Orang Harus Ngerasa Sakitnya Diselingkuhin Dulu Supaya Ga Jadi Pelakor?

Hallo beautravelers!

Beberapa waktu lalu sebetulnya saya udah bertekad untuk fokus buat konten yang lebih berkaitan dengan traveling atau make-up karena sebulan ke belakang ini saya udah cukup banyak ngomentarin isu-isu agak ‘berat’ dari Hanna Anisa sampai kekerasan terhadap wanita.

Tapi layaknya mungkin banyak perempuan di Indonesia yang ‘gatel’ buat ga mengeluarkan opini soal gosip terkini, saya pun begitu. Kalau kalian tanya gosip apa itu, saya hampir yakin kalau kalian udah bisa nebak: fenomena pelakor di Indonesia. Hmm.

Serius lho, temen saya yang punya kecenderungan buat ngepost sesuatu yang ‘berat’ seperti topik-topik mengenai pemanasan global atau G-20 pun tetiba heboh dengan topik pelakor melalui stories di akun sosmed-nya baru-baru ini.

Gimana yah? Susah juga kalau diem aja ketika ternyata pelakor itu macam-macam jenisnya. Apalagi kalau kita sama-sama perempuan yekan?

Pelakor Yang Tak Kenal Jera dan Pelakor Bersembunyi di Balik Syar’i

Liat isi akun gosip di Instagram akhir-akhir ini bikin saya merasa miris melihat fenomena pelakor disini yang mendadak banyak seolah-olah menjadi trend tersendiri. Hmm.

Pertama, tentunya saya salut sama Dik Shafa yang berani melakukan apa yang dia lakukan terhadap Jennifer Dunn walaupun saya ga nyangka kalau dia ternyata masih 14 tahun saking kecenya make-up doi di Instagram-nya. 😛

Dan yang terakhir, saya merasa jahat tapi bodo amat waktu ketawa gara-gara baca salah satu meme di Facebook yang isinya kurang lebih begini: Rina Nose lepas kerudung kalian hujat, sedangkan Umi Pipik yang buka dalamannya untuk seorang lelaki yang istrinya mungkin ga rela dipoligami malah memaklumi di balik isu pernikahan siri? Hmm. 

Oke, jadi kalau misalnya kalian udah cukup banyak baca postingan-postingan saya di blog, rasa-rasanya kalian udah tau kalau saya bukan seorang yang religius tapi saya juga sangat menghormati orang-orang yang memilih jalan untuk mengikuti hidayah-Nya.

Tapi, tanpa mengurangi rasa hormat, saya harus mengakui kalau saya betul-betul ga habis pikir dengan orang-orang yang menjadikan agama sebagai alibi untuk apapun yang dia (atau orang lain) perbuat.

Kumpul Kebo Ketika Sama-Sama Single vs Selingkuh dengan Suami/Istri Sah Orang Lain: Mana Yang Lebih Parah?

Gara-gara ini juga, saya gatel banget pengen komen dan jadi malah kepo pengen tau lebih jauh soal perselingkuhan ga cuma secara norma, tapi juga secara hukum.

Alasan saya sih simpel aja, sebelumnya saya udah bahas disini soal muda-mudi yang terciduk masa waktu asyik masyuk di mobil di kawasan Bintaro. Ga lama ini, saya juga baca dan liat video sepasang kekasih yang diarak massa dan ditelanjangi di jalan oleh RT/RW setempat.

Beberapa waktu yang lalu saya berdebat sama sepupu saya yang sempat ambil jurusan hukum tapi DO soal ini. Saya bilang, kenapa RT/RW setempat berani main hakim sendiri ketika secara hukum sebetulnya ga ada aturan hukum jelas yang melarang adanya kumpul kebo?

Alibinya sepupu saya sih karena di UU memang ga ada, tapi khan ada Perda. Salahnya dia adalah karena dia mengambil contoh Perda dilarang pacaran di Purwakarta yang dikeluarkan oleh junjunganqu Kang Dedi Mulyadi. Karena saya pintar dan penasaran, saya langsung membantah ga ada hubungannya sama Perda di Purwakarta karena kejadiannya khan di Tangerang.

Setelah diskusi tersebut, kesimpulan yang saya tarik cuma satu dari sepupu saya ini: kumpul kebo ketika sama-sama single, ga peduli apakah keduanya melakukan hal tersebut atas dasar suka sama suka atau bahkan cinta kasih yang tulus di luar ikatan pernikahan dihakimi hanya karena hal tersebut ga sesuai dengan adat ketimuran. 

Sedangkan kadang perselingkuhan dimaklumi oleh sebagian orang, apalagi kalau udah ada embel-embel nikah siri. Sah secara agama, tanpa sadar kalau kita berada di sebuah negara dengan konstitusi hukum sebagai dasarnya. Itupun bukan hukum syariah. Hmmm. 

Teruntuk Para Insan Yang Disakiti: Please Speak Out!

Lagipula, kalau udah bawa-bawa agama bukannya dalam agama Islam sendiri poligami hanya boleh ketika bisa berlaku adil, karena kalau tidak lebih baik memiliki satu istri saja untuk menghindari adanya seseorang yang tersakiti?

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. An-Nisa:3)

Sekali lagi, saya bukan ahli hukum atau ahli agama. Saya cuma nulis ini karena merasa pengen ngeluarin unek-unek soal isu yang muncul beberapa minggu belakangan ini.

Kalau kalian masih baca bagian ini, kalian mungkin udah cukup memahami kalau saya tergabung dalam kelompok anti-pelakor. 😛

Oke, lain dalam agama, lain juga dalam hukum yang berlaku di Indonesia karena kasus perselingkuhan memiliki undang-undang tersendiri yang akan melindungi siapapun kalian, baik perempuan atau laki-laki yang menjadi korban dari kasus perselingkuhan oleh pasangan kalian dalam ikatan pernikahan.

Dalam KUHP Pasal 284, disebutkan bahwa pasangan selingkuh terancam penjara selama sembilan bulan apabila mereka melakukan perselingkuhan saat masih resmi menikah dengan pasangan legal mereka. Dan hukum hanya berjalan apabila pasangan legal mereka melaporkan hal tersebut kepada pihak yang berwajib. 

Saya sangat berharap siapapun yang nyasar di blog saya cuma kesini karena kepo sama kasus Umi Pipik/Sunu dan Jennifer Dunn/Faisal Harris, dan bukan karena kalian memang korban perselingkuhan pasangan kalian.

Kalau iya, saya turut prihatin tapi saya betul-betul menyarankan untuk melaporkan hal yang tidak menyenangkan tersebut ke pihak yang berwajib jika itu terjadi kepada kalian.

Nyaris ga ada yang bisa mengobati rasa sakit karena diselingkuhi, tapi bukankah lebih baik mengetahui mereka di penjara dan bukannya bersenang-senang sama selingkuhannya? Entahlah, kalau saya lebih milih yang pertama.

Kenapa Saya Anti Lelaki Yang Doyan Selingkuh dan Pelakor?

Kalau kalian tanya kenapa, jawaban saya akan cukup sinis dan saya agak curiga banyak orang yang malah jadi nyinyirin balik saya walaupun saya ga peduli.

Seperti judul tulisan ini: apa semua orang harus ngerasa sakitnya diselingkuhin dulu supaya ga jadi pelakor?

Lagi-lagi, saya berbicara berdasarkan pengalaman karena saya pernah merasakan bagaimana rasanya diselingkuhin sama pacar pertama saya… Dengan dua orang cewek lain. Bangke emang nih laki.

Kalau kalian tanya saya waktu SMA, hampir pasti kalian cuma mendengar saya sumpah serapah soal mantan pacar saya ini. Dan sedikit banyak rasanya saya sedikit trauma sama komitmen gara-gara orang ini.

Tapi, kalau saya pikir-pikir sekarang, setidaknya dengan kejadian diselingkuhin ini, sebisa mungkin saya jauh-jauh dari kesempatan menjadi pelakor. Salah satunya kejadian pelecehan seksual oleh seseorang yang sudah menikah yang saya alami hampir 8 tahun yang lalu, dimana alih-alih jadi pelakor respek saya terhadap lelaki tersebut malah hilang begitu saja.

Setidaknya dengan kejadian diselingkuhin sama pacar sendiri ini, saya jadi tau gimana rasanya dikhianati dan saya ga mau melakukan hal yang sama terhadap orang lain. Ibarat kata, diselingkuhin pas lagi pacaran aja sakitnya gitu banget. Ga kebayang kalau harus ngerasain itu pas udah nikah.

Dan itulah kenapa sebisa mungkin saya menghindari kesempatan apapun dengan seseorang yang sudah beristri. Buat saya pernikahan itu suci, saya ga mau jadi orang ketiga dalam sebuah rumah tangga.

In a marriage, three people will be too crowded unless you’re the kid. Dan saya berpegangan dengan prinsip ini sejauh ini. 

Ga seorangpun mau menikah untuk kemudian cerai di kemudian hari. Apalagi kalau misalnya cerai gegara isu selingkuh.

Kalian ga perlu merasakan gimana rasa sakit gara-gara diselingkuhi untuk menghindari kemungkinan jadi pelakor, kalian cukup berusaha keras untuk lebih baik bahagia menjadi diri sendiri daripada harus bahagia di atas penderitaan orang lain. 

Saya harap ga ada seorangpun yang menjadi korban perselingkuhan dalam hubungan kalian. Dan kalaupun ada, saya harap kalian kuat untuk menghadapinya. Stay happy and cheerio! :*

2 thoughts on “Apa Semua Orang Harus Ngerasa Sakitnya Diselingkuhin Dulu Supaya Ga Jadi Pelakor?

  1. It’s hard to speak up karena nowdays the new shame is to stay with your “non-monogamous” partner and it’s also about “nama baik” keluarga. Selain itu norma-norma sudah shifted sangat jauh, dimana it’s okay to be the other woman malah ada rasa bangga. As if knowing bahwa kamu lebih baik dari perempuan yang lama. Pelakor menurut gw manipulatif, heartless, conniving. Sama juga sama laki-laki yang having an affair

    But memang even happy people cheat, bahkan orang yang sudah merasa content dengan hubungan yang mereka miliki. You should try to listen to Esther Perel, dia terapis pernikahan/relationship terkenal dan sudah menerbitkan berbagai buku mengenai hal ini. You’ll see an affair in different light. FYI aja.

Tinggalkan Balasan

loading...