Alternatif Kegiatan Daripada Nonton Acara Alay Di TV

Awalnya, saya sama sekali apatis sama pemberitaan soal putusnya Deddy Corbuzier dan Chika Jessica sampai Tante Tuty, mamanya Ninut cerita soal video Deddy Corbuzier yang nyindir soal acara alay.

Gara-gara ini, malemnya saya langsung buka Youtube dan cek videonya soal ini dan saya langsung bernafas lega dan angkat topi saya tinggi-tinggi buat Deddy Corbuzier karena saya pikir beliau sukses menyuarakan apa yang sebagian orang waras cemaskan soal acara yang ada di channel TV lokal.

Saya sendiri udah lama banget gak pernah nyalain TV atau nonton film, media yang saya ikutin beberapa tahun ke belakang ya cuma lewat internet aja. Beneran, bahkan film pun saya jarang nonton.

Saya pun gak kena demam nostalgia AADC atau Eiffel, I’m In Love karena emang film pertamanya pun ya biasa aja, gak ngefans gimana kayak orang-orang.

Oke, jadi kemarin saya akhirnya nonton beberapa video follow-up di channelnya Deddy Corbuzier dan saya bener-bener salut pas liat video dia yang ini.

“90% acara TV kita tidak mendidik. Sampai kapan kita mau membuat anak-anak kita, masa depan anak-anak kita, bangsa kita menjadi bodoh dan semakin bodoh? Sampai kapan?”

Saya bener-bener ngarep dengan adanya pertanyaan seperti ini dari public figure yang sangat berpengaruh terhadap KPI, lembaga yang berwenang dalam pemutaran acara di televisi bisa jadi kritik yang membangun dan ajang introspeksi acara-acara TV di Indonesia.

Kenapa saya ngarep begini? Karena saya punya seorang keponakan yang terbiasa ditinggal sama eyangnya dan nonton TV channel lokal, dan attitude-nya agak sedikit ‘mengkhawatirkan’. Kurang lebih sama seperti apa yang diceritakan sama Deddy Corbuzier tentang anak 11 tahun yang ngerti kata pelakor.

Saya gak mau cerita soal acara TV di Indonesia, atau kasus soal Widi Mulia yang ngambek karena dicuekin sama host di salah satu acara alay itu karena toh saya bukan ahlinya juga.

Tapiiiii, saya mau share soal kegiatan-kegiatan alternatif lain yang bisa dilakukan daripada melakukan hal-hal tak berfaedah macem nonton acara alay di TV. πŸ˜›

Saya ini tipe-tipe orang yang kalau lagi gak kemana-mana, biasanya nyampah di rumah. Gak ngapa-ngapain sih biasanya, cuma nyampah aja. Kalau bahasa Sunda-nya hardolin.

Dahar, modol, ulin.

Tapi kegiatan tersebut lebih oke daripada nonton acara gak berfaedah kaya acara-acara Raffi Ahmad talkshow gak jelas di TV lokal itu.

Terus, kira-kira selain makan, BAB sama main, apa lagi kegiatan yang bisa kamu lakukan sebagai alternatif nonton TV?

1. Membaca.

“We read to know we’re not alone.”
William Nicholson

Mungkin beberapa waktu lalu kamu udah pernah baca artikel soal peringkat minat baca Indonesia yang berada di peringkat ke-2 dari bawah sebelum Botswana.

Apakah mungkin ini karena anak-anak Indonesia jaman now lebih suka nonton acara alay di TV daripada baca?!

Sumber: Pexels

Ini jadi ironis, karena untuk ukuran negara dengan mayoritas agama Islam yang urusan politiknya bisa diadu domba pake nama agama, ternyata cuma sedikit orang di Indonesia yang mengaplikasikan Al-Alaq dalam kehidupannya sehari-hari.

Padahal, Al-Alaq adalah ayat Al-Quran pertama kali yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan satu kata pertama yang muncul di surat tersebut adalah jelas: iqro. Bacalah.

Membaca itu penting, karena dengan membaca kita bisa memperluas wawasan. Selain itu, membaca juga bisa dilakukan dimanapun selama kamu punya bukunya. Gak punya bukunya pun, jaman sekarang ada Kindle. Kamu tinggal beli atau download e-book sesuai sama topik yang kamu suka.

Dan kalau inget begitu banyak hoax di luaran sana, hal itu gak perlu terjadi kalau aja masyarakat kita lebih banyak membaca.

Inget ya teman-teman, hoax itu diciptakan oleh orang pintar yang jahat. Sasarannya? Orang baik hati yang bodoh kurang pintar.

Sama kayak acara alay di TV. Oke? Janji yah, siapapun yang baca postingan ini harus jadi orang baik hati yang pintar! πŸ˜€

2. Piknik atau jalan-jalan ke taman kota dan kebun raya.

“I love being outside and getting fresh air.”
Melissa Tomei

Saya belum punya anak dan memang belum ada rencana untuk bikin punya anak dalam waktu dekat. Tapi, sebagai anak KRL sejak beberapa tahun ke belakang, saya cukup familiar sama iklan layanan masyarakat tentang ruang terbuka hijau untuk anak.

Tujuannya, ruang terbuka hijau ini berguna untuk anak-anak gak cuma buat menghirup udara segar, tapi juga untuk bermain dan belajar. Makanya pemerintah lokal di beberapa kota-kota besar udah mulai gencar nih buat ruang-ruang terbuka dalam bentuk taman bermain atau taman tematik.Β 

Sumber: Pexels.

Tapi, apakah ruang terbuka hijau ini cuma berguna buat para bunda-bunda yang udah punya anak aja? Gak ada faedahnya buat orang-orang yang petakilan dan jomblo seperti saya?

Tentu enggak, geng… Apalagi kalau misalnya kamu tipe-tipe karyawan kantoran yang kerjaannya tiap hari cuma diisi oleh commuting, kerja di lantai 30 dengan AC sepanjang hari dan cuma keluar makan siang di basement, kalau enggak sesekali meeting.

Aduh, jadi kelepasan curhat masa lalu deh. πŸ˜›

Percayalah, kita juga perlu ruang terbuka hijau buat sesekali bersantai dan menyegarkan pikiran yang seringkali sumpek, apalagi kalau kamu tipe orang kayak saya yang gak terlalu suka sama hiruk-pikuk kota metropolitan. Saya yakin, dimanapun kamu tinggal pasti ada ruang terbuka hijau yang bisa kamu datengin cuma buat sekedar short getaway buat jauh-jauh dari rutinitas dan kesibukan kamu di kota.Β 

Foto diambil di Kebun Raya Bogor.

Kalau kamu tinggal di Jakarta, kamu pun gak perlu ngeluarin banyak duit. Tinggal beli karcis harian kereta api, melipir ke Bogor, dari stasiun tinggal naik angkot atau Gojek ke Kebun Raya. Jalan-jalan disitu selama satu atau dua jam pun cukup buat kamu bersihin pikiran kamu dari energi-energi negatif.Β 

Jalan-jalan bikin cape? Tinggal melipir ke kafe atau tempat-tempat makan di Bogor, rasa lebih enak dari kafe di Jakarta dan harga lebih murah. Ya khan?

3. Apapun yang berkaitan sama musik, dengerin atau malah belajar main alat musik?

β€œWithout music, life would be a mistake.”
Friedrich Nietzche

Kenapa? Karena siapapun suka musik, terlepas dari jenis musik apa yang lebih kamu sukai!

Musik gak cuma punya efek bikin kamu lebih rileks, tapi juga kadang musik bisa mengeluarkan emosi yang sebelumnya kamu pikir kamu gak punya. Musik bantu kamu untuk melepaskan stress, dan musik juga kadang bikin kamu belajar hal-hal yang baru.Β 

Dari mulai belajar soal kehidupan, belajar tentang sesama, sampai belajar bahasa lain kalau musik yang kamu suka bukan berasal dari bahasa ibu kamu.

Sumber: Pexels.

Rasa-rasanya, mungkin kalau bukan karena musik, Bahasa Inggris saya gak akan kayak sekarang. Jadi, walaupun saya gak berbakat apa-apa sama sekali dalam bidang musik berhubung gak bisa nyanyi atau main alat musik, tapi seenggaknya, musik pernah mengajarkan sesuatu buat saya.

Nah, sekarang kamu tinggal nanya sama diri sendiri, kira-kira kamu bisa belajar apa dari musik?Β 

Dan waktu saya ngomongin musik, tentunya saya bukan lagi rekomendasiin Dahsyat. Oops. Keceplosan sebut merek, yekaaaan? πŸ˜›

4. Jalan-jalan ke Museum!

“Reality TV to me is the museum of social decay.”
Gary Oldman

Mantan presiden Soekarno dulu pernah berkata dengan menggunakan istilah jas merah – jangan sekali-kali melupakan sejarah. Salah satu cara yang bisa kamu lakukan buat belajar sejarah tanpa perlu melulu cuma ngapalin tanggal kayak di sekolahan adalah dengan cara jalan-jalan ke museum.Β 

Kebetulan, museum adalah objek wisata wajib yang harus saya kunjungin tiap kali saya traveling kemanapun. Iya sih, mungkin ada beberapa dari kamu yang juga mungkin bukan tipe orang yang doyan ke museum, tapi ya toh kalaupun kalian tipe orang kaya gitu, khan gak dosa sesekali melakukan hal yang berbeda iya khan? πŸ˜€

Toko Merah, yang lokasinya gak jauh dari Kota Tua.

Museum itu seolah-olah merupakan tempat bermain dan belajar bukan cuma buat anak-anak, tapi juga orang tua seperti kamu. Selain itu, biasanya tiket masuk museum pun relatif gak mahal. Misalnya aja, di Jakarta, untuk masuk ke museum-museum di daerah Kota Tua, untuk wisatawan lokal tiket masuknya gak lebih dari IDR 5,000.

Dan sekarang, museum-museum cenderung lebih bagus kalau dibandingin sama 10 tahun yang lalu sehingga lebih nyaman buat dikunjungin.

Sekarang, coba dibandingin… Mending nonton acara TV alay yang isinya presenternya ngatain fisik orang atau nambah ilmu liat-liat artefak dan barang-barang atau cerita bersejarah di museum?Β 

Boneka karakter Unyil dan teman-teman yang dipajang di Museum Wayang.

Nah, itu kira-kira alternatif kegiatan yang bisa kamu lakukan daripada kamu sibuk mantengin acara alay di channel TV lokal. Mending kurang-kurangin deh nonton acara yang gak mendidik, karena tampaknya generasi mecin bukanlah cuma isapan jempol semata.

Gimana, siap meninggalkan acara alay di TV dan menjadi pintar?! The choice is yours, and cheerio! πŸ˜€

7 thoughts on “Alternatif Kegiatan Daripada Nonton Acara Alay Di TV

    1. betuuuulll.. nonton di bioskop sekali-kali boleh donk pastinya, asal jangan keseringan, ntar bokek jadinya. ya walaupun kalo situ kaya ga apa2 sih. hahaha. πŸ˜›

  1. point 1 dan 4….duh miris deh kalo di Indonesia mah. Minat baca dan minat nge-museum super rendah. ORang2 lebih tertarik dengan budaya pop, entah itu berupa mal, cafe, nonton konser musik pop, ketimbang jalan2 ke museum. Soal mbaca, duh pengen deh balik ke era 80an di mana semau anak2 kerjaannya berlomba banyak2an baca serial Lima Sekawan, Sapta Siaga, Tintin dll dsb, huhuhuhu…hiks hiks….

    1. sebenernya ga bisa ngelarang mereka juga buat lebih tertarik dengan budaya pop sih, karena ya emang dengan canggihnya teknologi jaman sekarang, pasti trendnya kesitu. tapi ya kalo mereka bisa nemu celah supaya bisa transformasiin kesukaan mereka ke sesuatu yang lebih berfaedah khan bagus juga tuh. kaya rich chigga gara2 youtube jadi rapper terkenal, langsung deh mainannya sekarang gaul sama pherrel williams. khan jadi positif gitu, ga cuma sibuk komentar negatif di ig selebritis. *eh πŸ˜›

  2. Saya sebenarnya setuju dengan yang diutarakan si DC tapi faktanya memang di kampung-kampung, di desa-desa, masyakaratnya nggak ada alternatif hiburan selain televisi. Rata-rata nggak mampu pasang tv kabel jadi channelnya hanya channel uhf yang isi acara begitu-begitu. youtube? makan aja susah gimana mau bayar internet. Mall nggak ada, perpus umum nggak ada, museum apalagi. Makanya mungkin acara-acara sperti itu masih banyak yang nonton dan naik ratingnya.

Tinggalkan Balasan