Alasan Di Balik Aturan Ini-Itu Dalam Penerbangan

Sejak saya posting tulisan soal tips anti-norak saat terbang, sebetulnya salah satu teman kuliah saya langsung komentar minta saya buat post mengenai aturan-aturan di pesawat karena banyak yang masih belum tau. Karena saya seorang procrastinator kelas kakap sekaligus agak sibuk belakangan ini, saya pun akhirnya baru bisa betul-betul fokus nulis lagi malam ini.

Itupun alasan utama saya untuk memutuskan betul-betul bikin postingan ini bukan semata karena request Rhema, teman kuliah saya kemarin-kemarin. Selain itu, karena beberapa kejadian belakangan yang bikin saya semakin mengerti soal masih banyak orang-orang yang ga ngerti soal aturan yang saya pikir sepele.

Kalau dipikir-pikir, pantes aja ga banyak penumpang yang disiplin kalau urusan terbang. Pertama, soal kekesalan penumpang Garuda beberapa hari ke belakang karena delay. Padahal, terlepas dari keterlambatan yang terjadi, hal itu terjadi karena alasan cuaca.

Saya sendiri pernah ngalamin di sisi staff maskapai, pasti adaaaaa aja orang yang marah-marah, ga peduli kalau misalnya keterlambatan terjadi demi keamanan para kru dan ribuan penumpang di bandara lainnya.

Kalau ketemu penumpang macam gini, rasanya pengen melontarkan kata-kata sarkastik. Situ mau cepet-cepet nyampe tujuan apa pengen cepet-cepet ketemu Tuhan? 🙁

 

Menunjukkan paspor atau kartu identitas lainnya ketika boarding.

Saya masukkan poin ini karena beberapa waktu lalu saya menemukan postingan soal salah satu orang Indonesia yang katanya ketemu sama orang Indonesia yang sombong di penerbangan dari Hawaii.

Intinya sih nih user marah-marah karena orang Indonesia yang menurut dia sombong itu nyerobot antrian, padahal dia bawa orang tuanya yang udah sepuh. Oke, bagian itu ranting-nya bisa diterima.

Omelan kedua dia adalah dia bilang nih orang pegang paspor Indonesia tapi sombong karna ga nyapa. Bagian ini saya aga mendengus kesal. Cuma karena sama-sama orang Indonesia, ga berarti semua orang harus saling sapa kalau ketemu di luar negeri.

Yang terakhir nih yang bikin kesel, karena ini adalah cermin dari banyak penumpang sok pinter lainnya kaya netizen yang satu ini. Dia bilang gini, “Dan dia norak karena pas boarding aja pake keluarin paspor segala.” 

Dan dengan jari-jemari lentik saya ditambah dengan skill sarkastik, saya ga tahan untuk ikutan komen dan bilang kalau yang namanya keluarin paspor saat boarding itu namanya bukan norak. Tapi taat aturan.

Kenapa? Apa gunanya memperlihatkan paspor saat boarding padahal paspor udah dicek pas check-in dan masuk ruang tunggu?!

Karena saat boarding adalah saat terakhir pengecekan sebelum kalian meninggalkan titik keberangkatan kalian. Kru kabin di pesawat sudah seharusnya cek kartu identitas atau paspor sebelum penumpang memasuki pesawat untuk menghindari perbedaan data yang ada di manifest (dokumen perjalanan) dan data penumpang yang betul-betul masuk ke pesawat. 

Apa gunanya manifest ini? Ini untuk mencocokkan siapa-siapa aja yang ada di pesawat kalau seandainya hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Misalnya, amit-amit, kecelakaan pesawat.

Tidak perlu menggunakan sabuk pengaman saat pengisian bahan bakar pesawat.

Kalian udah masuk pesawat dan masih menunggu penumpang lain boarding, sedangkan di bawah pesawat lagi proses pengisian bahan bakar. Biasanya tanda sabuk pengaman dilepaskan nyala di dekat tempat duduk kalian, kenapa?

Sebetulnya, hampir segala hal yang dilarang di pesawat itu alasannya adalah terkait dengan keamanan. Emang terdengar paranoid kalau dijelaskan, tapi khan mencegah lebih baik daripada mengobati. 

Sabuk pengaman perlu dilepaskan ketika pengisian bahan bakar untuk mempermudah kalian dievakuasi kalau seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya bahan bakar memercikkan api atau adanya kerusakan mesin.

Dilarang menggunakan headset atau perangkat elektronik saat take off dan landing.

Saya tau mungkin diantara kalian pasti ada aja yang ngeyel tetep dengerin musik walaupun kru kabin udah final check.

Balik lagi ke pernyataan saya soal critical eleven ini, soal 11 menit yang paling rentan di setiap penerbangan: take off dan landing. Di saat-saat tersebut, ga cuma kru kabin, tapi seluruh penumpang pun diharapkan untuk lebih waspada. Entah apa yang mereka lihat atau rasakan. *ga bermaksud dangdut kbye

Kenapa? Karena headset seharga satu juta kalian bisa bikin kalian ga mendengar tanda bahaya.

Kenapa saat lepas landas dan mendarat kursi penumpang harus dimajukan seperti semula?

Ini adalah salah satu contoh yang Rhema berikan waktu ngasih saya ide soal bikin postingan ini. Katanya, masih banyak orang yang ga ngerti apa urusannya lepas landas sama majuin kursi ke depan.

Seperti yang udah saya sebutkan sebelumnya, seluruh larangan yang ada di pesawat itu kebanyakan alasannya ya berhubungan sama keamanan dan keselamatan. Dan untuk kursi harus dimajukan ini (lagi-lagi) ada hubungannya dengan critical eleven.

Kenapa? Karena beberapa peragaan keselamatan saat terjadi kecelakaan pesawat salah satunya adalah dengan cara menunduk. Kenapa semua kursi harus dimajukkan, yaitu kalau sampai kejadian dan upaya penyelamatan diri harus membungkuk semua penumpang bisa membungkuk dengan mudah tanpa terkecuali.

Dan amit-amit, kalau misalnya terjadi, yang namanya kecelakaan khan ga bisa request minta tambah waktu sama Yang Maha Kuasa.

Memajukan kursi pesawat saat lepas landas dan mendarat diharapkan untuk dapat mempercepat proses terkait dengan keselamatan dan evakuasi apabila terjadi kecelakaan.

Kursi di jajaran emergency exit tidak boleh diduduki oleh anak-anak, ibu hamil, manula atau difabel.

Kenapa? Karena siapapun penumpang yang duduk di emergency exit harus memiliki kapabilitas yang cukup untuk membantu kru kabin saat proses evakuasi apabila terjadi kecelakaan. 

Ini menarik, karena baik saat menjadi kru atau terbang sebagai penumpang, saya sering banget statement nyeleneh terkait pintu darurat ini.

Pertama, saya pernah ketemu penumpang saat penerbangan Jeddah-Riyadh dimana penumpang tersebut sampai bertengkar sama satpam bandara cuma karena dia ngeyel pengen anaknya yang masih balita duduk di kursi emergency exit. Bahkan dia teriak-teriak nanya mesti bayar biaya berapa supaya anaknya bisa duduk disana.

Percayalah, ini urusannya bukan sama biaya kecuali AirAsia karena tempat duduk disitu harganya lebih mahal. 😛

Kedua, kalau ini kejadiannya pas saya terbang domestik menggunakan salah satu maskapai nasional dari Malang ke Jakarta. Di konter check-in, saya minta emergency exit dan ditolak karenaaaaa… Saya perempuan. 

That is the most sexist statement that I’ve ever heard.

Rasanya langsung pengen sombong bilang ke mas-mas di konter ini ngasihtau kalau dulu saya pernah terbang sebagai kru. Dan saya pegang lisensi Boeing 747. Boeing 737 ga ada apa-apanya dibandingin Queen of the Sky yang saya operasikan jaman terbang.

Tapi saya menolak untuk takabur walaupun langsung komplain di sosmed yang tak didengar.

Dilarang mengambil pelampung di bawah kursi pesawat.

Karena siapapun yang ketahuan mengambil pelampung di bawah kursi pesawat biasanya ada regulasi yang berlaku secara internasional berupa denda yang sama sekali ga sedikit. 

Oh iya, ini juga berlaku buat kalian mahmud (mamah muda) yang doyan terbang sama si kecil. Biasanya nih, kalau terbang saat boarding kalian dikasih seperangkat alat buat bayi kamu: ekstensi sabuk pengaman dan pelampung yang masih dibungkus rapi.

Kedua barang tersebut BUKAN untuk diambil. Dan pelampung yang masih dibungkus rapi pun bukan untuk dibuka dan digunakan, KECUALI saat keadaan darurat.

Kenapa saya bilang begini? Karena ternyata banyak uga orang-orang yang ngeyel soal hal kecil begini. Hmm.

Kalau kalian dalam kategori gemuk atau menderita obesitas, jangan malu untuk minta ekstensi sabuk pengaman!

Kalian yang body-nya singset seperti saya, pasti bakal mikir saya becanda. Tapi percayalah, ada orang-orang yang ketika duduk di pesawat, sabuk pengaman mentok dan ga bisa dikaitkan.

Salah satu penerbangan yang paling saya sering temui penumpang seperti ini adalah penerbangan ke Mesir. Bahkan pernah satu kali saya terbang ke Kairo, dan seluruh ekstensi sabuk pengaman habis karena kebanyakan penumpangnya obesitas. Dan itu termasuk ekstensi sabuk pengaman yang harusnya untuk infant. :/

Dilarang membawa buah-buahan atau daging segar, khususnya untuk penerbangan internasional.

Lagi-lagi saya baru liat satu video di Facebook soal regulasi karantina dari salah satu netizen dengan caption nyinyir, “Peraturannya ada-ada aja.”

Padahal, peraturan kaya gini udah ada dari dulu. Dan berlaku internasional, ga cuma di Indonesia. Tapi, banyak dari para penumpang terhormat yang ga tau dan seringkali ga mau tau sehingga membiasakan apa yang salah. 

Kenapa ga boleh bawa buah-buahan atau daging segar secara internasional? Kalau kalian seumuran saya atau lebih muda tapi tau seluk beluk berita, kayanya isu-isu soal penyakit macam flu babi dan SARS itu belum lama-lama banget.

Selain itu, masalah biji dari buah-buahan tersebut kalau misalnya kalian pikir lebih mendalam juga bisa memungkinkan konflik yang nantinya bisa riskan soal perebutan hak paten. Misalnya biji jalapeno dikawinin sama cabe gendot bisa menghasilkan cabe gendut dan hot kaya cowo idaman saya. Intinya gitu deh, mudah-mudahan ngerti. Hmmm.

Baris paling belakang pesawat, berdasarkan penelitian merupakan area paling aman.

Dulu jaman saya di AirAsia, ada salah satu security yang kalau terbang balik ke Jakarta, biasanya bukannya minta ditempatin di hot seat, tapi malah minta tempat duduk paling belakang. :/

Alasan dia sih simpel, soalnya biar bisa ngobrol sama pramugari cantik di galley deket kalau mau ke WC. Tapi, sebetulnya berdasarkan penelitian sih justru kursi paling belakang pesawat itu relatif yang paling aman baik saat terjadi turbulence atau kecelakaan.

Bahkan nih, salah satu training jadi pramugari sendiri adalah seandainya ada smoke on board yang mengharuskan kita membuka pintu pesawat, pintu yang bisa dibuka ya pintu yang paling belakang. 

Hmmm. Sejauh ini sih cuma itu aja yang saya inget karena banyak yang sering ngeyel dan ngomel kalau dibilangin.

Tapi, sedikit saran saya untuk kalian-kalian para penumpang yang budiman, mungkin kalau misalnya keterlambatan dikarenakan cuaca bisa sedikit lebih bersabar yah. Karena percayalah, itu juga demi kebaikan kalian.

Next time kalian kena delay, coba ngerti juga aturan kompensasi keterlambatan pesawat yang berlaku. Karena kemarin saya sempet nguping pembicaraan sepasang kekasih di depan saya yang pede banget bilang kalau ada keterlambatan bisa langsung diduitin. Padahal khan ya ga terlambat 5 menit langsung bisa klaim juga.

Sumber: http://images.hukumonline.com/frontend/lt4e68e0492fbe4/lt56403e83be10d.png

Terima kasih sudah membaca, semoga selamat sampai tujuan! 😀

2 thoughts on “Alasan Di Balik Aturan Ini-Itu Dalam Penerbangan

  1. Mbak rajin baca buku manual dan nonton instruksi penerbangan di pesawat ya hehehe..Kalau di Indo mungkin banyak yg belum paham atau tak perduli soal penggunaan handphone dlm pesawat. Kenapa harus flight mode atau kadang ada yg nekat tetap pakai hp. Hal simple tapi penting tapi banyak yg belum sadar. Thanks for sharing anyway 🙂

Tinggalkan Balasan

loading...