6 Museum di Jakarta, Pelipur Lara Ketika Jenuh di Ibukota

Hallo semuanya!

Jadi, beberapa waktu lalu saya udah nulis soal alternatif kegiatan selain nonton TV, dan salah satunya saya nulis soal datang ke museum. Gara-gara ini, saya kepikiran buat nulis soal beberapa museum di Jakarta yang udah pernah saya kunjungin.

Kebetulan, selama tinggal di Jakarta ini pilihan saya cuma dua: nyampah di rumah atau jalan-jalan ke tempat apapun yang bukan mall.

Bukannya mau sok-sokan anak anti mall, tapi karena emang saya tinggal di Kalibata City yang notabene dari mulai KFC sampai bioskop udah ada semuanya, saya rasa males juga yah jauh-jauh cuma ketemu mall lagi. Makanya, saya kalau bosen di rumah di Jakarta, saya lebih sering ngebolang ke museum atau bahkan yang deket-deket ke Taman Makam Pahlawan.

Maklum, saya ini bukan penggemar berat Jakarta. Ibarat kata, kalau misalnya gak perlu-perlu amat, saya mendingan buru-buru pindah ke tempat lain daripada di Jakarta. Pergi jauh-jauh, kalau macet juga berasa banget tua di jalannya. Hmm.

Kenapa saya suka ke museum?

Alasan kenapa saya suka ke museum sebetulnya simpel banget, karena bahkan dari dulu jaman saya sekolah pun saya selalu suka Sejarah. Enggak sih, nilai Sejarah saya juga gak bagus-bagus amat, tapi saya suka ngedengerin cerita dan baca hal-hal yang berkaitan sama sejarah.

Kebetulan, tiap kali jalan-jalan kemanapun saya pasti selalu menyempatkan buat pergi ke museum. Ironisnya, saya belum pernah ke museum apapun di Jakarta sampai tahun lalu ketika memutuskan buat kesana karena bosan di rumah.

Baca juga: Meresapi Arti Hidup di Museum Kesehatan Jiwa Lawang

Dan sejak saat itu, saya selalu nyempetin untuk jalan-jalan ke museum tiap kali mood saya pengen ke luar rumah. ๐Ÿ˜€

Kebetulan, beberapa waktu lalu saya ngobrol sama cem-ceman temen saya dan dia bilang soal rencana dia ada kerjaan di sekitaran Jakarta dan Bekasi. Terus dia sempet bilang kalau dia suka bingung mau kemana kalau ke Jakarta, karena pasti ujung-ujungnya ke mall lagi.

Saya mulai jelasin soal museum-museum yang udah saya kunjungin, dan setelah panjang-lebar jelasin, dia bilang, “Wow… You could’ve been a tour guide with that knowledge.”

Gara-gara dia ngomong begini juga, akhirnya saya dapet wangsit buat nulis soal museum ini. Jadi, museum apa aja sih yang udah saya kunjungi di ibukota?

1. Museum Sejarah Jakarta

Museum Sejarah Jakarta, atau lebih dikenal sebagai Museum Fatahillah.
Salah satu patung yang ada di Museum Sejarah Jakarta.

Kota Tua di Jakarta selalu menjadi destinasi favorit saya tiap kali saya bosen di rumah, karena akses kesana yang gampang banget.

Berhubung saya tinggal di Kalibata City, dari tempat saya ke Jakarta Kota cuma perlu naik KRL ke arah Jakarta Kota dengan ongkos cuma IDR 3000 aja sekali jalan. Murah meriah! ๐Ÿ˜€

Kalau kamu nginep di hotel gak jauh dari halte Transjakarta, kamu juga bisa ambil bus koridor 1 dengan rute Blok M-Kota buat kesana, ongkosnya cuma IDR 3500 aja!

Alasan ini jugalah yang bikin kenapa saya tulis Museum Sejarah Indonesia ini di daftar pertama. Karena rasa-rasanya Museum Sejarah Jakarta adalah museum yang paling ‘mentereng’ di area Jakarta Kota ini.ย 

Dengan lokasi yang paling strategis di sekitar lapangan Jakarta Kota dan arsitektur yang khas, saya rasa hampir semua yang dateng ke Jakarta Kota dan berniat buat masuk ke museum-museum sekitarnya bakal menjadikan Museum Sejarah Jakarta ini sebagai tujuan utama.

Tiket masuknya cuma IDR 5,000 per orang, bahkan bisa lebih murah kalau kamu pelajar atau mahasiswa. Untuk jadwal buka museum, kamu bisa kunjungin museum ini dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Tutup setiap hari, kecuali hari Senin dan hari libur nasional.ย ย 

Di gedung yang sebelumnya merupakan Stadhuis van Batavia atau Balai Kota jaman Belanda ini, selain kamu bisa liat penjara bawah tanah yang terkenal banget sebagai situs uji nyali acara-acara horor di TV, kamu juga bisa liat koleksi-koleksi lain. Koleksinya juga macem-macem, dari mulai prasasti, sampai galian arkeologi.

2. Museum Wayang

Museum Wayang, Jakarta Kota.
Koleksi boneka si Pitung, tokoh legenda Jakarta di zaman Batavia.

Walaupun saya udah sering banget ke Kota Tua berkali-kali sebelumnya, jujur saya baru mengunjungi Museum Wayang beberapa waktu yang lalu karena satu dan lain hal.

Awalnya, saya emang kurang tertarik juga liat-liat ke Museum Wayang karena saya kurang tertarik sama cerita perwayangan.

Selain itu, saya juga sempet denger dari orang-orang yang dulu-dulu udah pernah kesana dan cerita kalau suasana di Museum Wayang ini agak ngeri-ngeri sedap.

Tapi, karena toh saya penasaran juga akhirnya kemarin saya masuk juga deh ke Museum Wayang.

Untuk tiket, kayaknya hampir semua museum yang ada di wilayah Kota Tua harganya disamaratakan di harga IDR 5000 untuk pengunjung dewasa.ย 

Dan kalau sebelumnya saya pikir Museum Wayang ini isinya cuma soal cerita-cerita wayang, ternyata saya salah besar karena disini juga nampilin koleksi-koleksi boneka tiga dimensi, dari mulai boneka tokoh-tokoh Betawi seperti Si Pitung atau Si Manis Jembatan Ancol, sampai koleksi boneka dari luar negeri.

Selain boneka, gak jauh dari pintu masuk pun ada beberapa batu nisan dari beberapa tokoh Belanda, yang sayangnya batu nisannya ditulis dalam Bahasa Belanda yang saya gak ngerti. Gak ada tulisan terjemahannya juga, jadi saya kuran ngerti itu batu nisan siapa atau kenapa jenazahnya dikuburkan disana.

Untuk jadwal buka Museum Wayang sendiri kebetulan buka sampai sore, karena waktu kemarin saya udah sempet deg-degan karena baru nyampe Jakarta Kota mepet hampir jam 3. Tapi, ternyata khusus untuk Museum Wayang ini buka sampai jam 5 sore! ๐Ÿ˜€

3. Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia di area Kota Tua, Jakarta.
Salah satu pajangan di pijakan area Museum Bank Indonesia.

Buat yang mungkin belum tau soal Museum Bank Indonesia ini, gedung museum ini adalah venue pernikahannya Junior dan Putri Titian. *penting sekali Mar ๐Ÿ˜

Tapi, lebih dari itu adalah kenyataan kalau Museum Bank Indonesia mungkin adalah museum paling modern yang ada di area Jakarta Kota ini. Kalau dari segi fasilitas, pokoknya gak kalah sama fasilitas museum-museum yang ada di Singapore.ย 

Mungkin kalau mau dibandingin sama museum di dalam negeri, fasilitas-nya 11-12 sama Museum Satwa yang ada di Batu, Jawa Timur. ๐Ÿ˜€

Dengan tiket sama seperti Museum Sejarah Indonesia dan Museum Wayang, yaitu IDR 5000, Museum BI ini nyaman banget dan yang paling penting, full AC. Kenapa? Karena museum-museum lainnya kalaupun ada AC, rasa-rasanya gak kerasa. HAHA.ย 

Selain itu, fasilitas audio visual pun tersedia. Seperti yang saya bilang, kalau dari segi fasilitas Museum Bank Indonesia ini gak kalah sama museum-museum di Singapore.

Disini kita bisa belajar gak cuma sejarah perbankan di Indonesia, tapi juga awal perekonomian di Nusantara ini dimulai ketika orang-orang Eropa kesini buat mencari rempah-rempah.

Saya sendiri sebetulnya gak terlalu tertarik sama sejarah dunia perbankan atau perekonomian, yang juga jadi alasan kenapa sampai saat ini saya belum pernah ke Museum Bank Mandiri. Tapi, Museum Bank Indonesia ini lumayan banget didatengin buat ngadem setelah panas-panasan di Kota Tuaย belajar ilmu baru.

Jadwal bukanya sama kayak Museum Sejarah Indonesia, yaitu cuma sampai jam 3 sore aja. Dan ada istirahat selama satu jam, yaitu sekitar jam 12 sampai jam 1. Jadi, kalau kamu ngunjungin museum sekitaran jam segitu, hampir dipastikan kamu bakal disuruh keluar dulu.ย 

Sebetulnya 1-2 jam disana juga cukup sih, jadi pastikan jangan masuk mepet-mepet jam istirahat yah! ๐Ÿ˜€

4. Museum Nasional Indonesia

Foto saya pas masih kurus di depan Museum Nasional Indonesia.
Salah satu pameran sementara yang diadakan waktu saya ke Museum Nasional Indonesia tahun lalu.

Museum Nasional Indonesia ini lebih kenal dengan sebutan Museum Gajah.

Disebut Museum Gajah, karena pastinya… Ada patung gajah di depannya.

Padahal, patung gajah ini ‘cuma’ hadiah pemberian dari raja Thailand yang namanya dijadikan salah satu nama universitas di Bangkok, Chulalongkorn atau yang lebih dikenal sebagai King Rama V.

Lokasinya udah bukan di Jakarta Kota, karena posisinya ada di sebrang Monas. Kalau kamu berangkat dari Jakarta Kota, kamu bisa naik bus gratis yang disediakan Pemkot untuk keliling Jakarta.ย 

Gak jauh dari pintu masuk museumnya ada tempat pemberhentian bus gratis tersebut, persis di depan shelter busway Monumen Nasional. ๐Ÿ˜€

Di Museum Nasional Indonesia ini terbagi jadi beberapa area, dimana biasanya ada pameran sementara yang diadakan dimana tenant-nya bisa berubah, tergantung tanggal kunjungan kamu. Waktu saya kesana, kebetulan pameran yang diadakan disana adalah salah satu pameran yang diadakan oleh Arsitektur UI. Kebetulan saya lupa nama pamerannya apa.

Selain pameran yang diadakan secara periodikal ini, beberapa koleksinya pun kebanyakan lebih ke benda-benda bersejarah kayak senjata tradisional, globe, dan ada juga replika prasasti Ciaruteun.

Tiket masuk kesini juga cuma IDR 5000 dengan jadwal buka tiap hari kecuali hari Senin dan hari libur nasional, jam 9 pagi sampai jam 4 sore. Dari segi fasilitas, Museum Nasional ini pun beda tipis sama Museum BI, karena full AC dan bahkan tersedia kafe gak jauh dari area pintu masuknya.ย 

5. Museum Taman Prasasti

Salah satu batu nisan yang ada di Museum Taman Prasasti.
Batu nisan Soe Hok Gie, aktivis beretnis Tionghoa yang tokohnya sempat dimainkan oleh Nicolas Saputra di film Gie.

Pertama kali tau soal Museum Taman Prasasti ini kayaknya saya nemu dari salah satu blog waktu lagi iseng blogwalking soal museum-museum di Jakarta.

Saya tertarik kesana, karena gak cuma ini adalah museum, tapi juga merupakan taman makam dimana karena satu dan alasan yang lain, saya punya misi buat menyempatkan diri mengunjungi makam kemanapun saya pergi.ย 

Pertama kali saya coba kesana, waktu itu kesorean karena ternyata Museum Taman Prasasti ini buka cuma sampai jam 3 sore. Kali kedua saya kesana, waktu itu sama Tahru yang waktu itu lagi vacation ke Jakarta.

Dan baru pas udah disini, saya baru tau kalau ternyata Soe Hok Gie makamnya disini. Hmm.

Selain Soe Hok Gie, disini juga terdapat pusara Olivia Mariamne Devenish, yang lebih dikenal sebagai istri dari Thomas Stamford Raffles. Familiar donk yah sama nama yang terakhir ini?ย 

Penemu bunga bangkai, patungnya juga kayaknya dimana-mana… Kalau pernah ke Singapore pun ada MRT Station yang dinamain sesuai nama dia. Bahkan salah satu hotel legendaris disana pun namanya Raffles. Nah, tuh… Istrinya dimakamin disini.

Baru setelah dari sini, saya mulai baca-baca cerita infotainment masa lalu soal affair-nya Olivia sama salah satu kapten dan kisah cinta Raffles ini. Kepo sama keingintahuan tingkat tinggi emang beda tipis yes? ๐Ÿ˜›

Oh iya, lokasi Museum Taman Prasasti ini ada di Tanah Abang. Saya waktu kesini naik KRL sampai Stasiun Tanah Abang dan lanjut pake Gojek ke lokasi Taman Prasasti ini. Harga tiket pun sama kayak museum kebanyakan yang cuma IDR 5000 aja untuk pengunjung dewasa.ย 

6. Museum Pengkhianatan PKI / Monumen Pancasila Sakti

Salah satu tulisan di pojok Museum Pengkhianatan PKI di Lubang Buaya.
Baju yang dipakai mendiang Pierre Tendean saat kejadian G30S/PKI dan beberapa foto juga keterangan visum.

Kalau saya boleh jujur sih yah, ini adalah museum terserem yang pernah saya kunjungin.ย 

Soalnya, gini yah… Saya tau sih kalau penjara bawah tanah di Museum Fatahillah kayaknya lebih populer dijadiin lokasi adu nyali. Tapi penjara bawah tanah disana mengalahkan perasaan saya waktu pertama kali masuk ke Museum Pengkhianatan PKI di Lubang Buaya ini.

Oke, terlepas dari banyak yang bilang soal PKI ini cuma propaganda Orde Baru, karena itu wallahualam, jadi saya beberapa waktu lalu emang sengaja ke Lubang Buaya karena pengen tau. Sendirian.

Harga tiket masuk ke museum harganya lebih murah daripada museum lainnya, karena cuma IDR 4000 aja. Tapi mungkin karena lokasi museum ini yang jauh dari mana-mana.ย 

Sebenernya bisa aja sih naik angkot, tapi males banget… Saya kesana dari Kalibata naik Gojek dengan ongkos sekitar IDR 27000 pake Gopay, lumayan bikin pantat tepos karena ternyata jauh. HAHA.

Dan pas nyampe museumnya, saya bingung. Kebetulan saya datengnya pun weekdays, jadi wajar gak banyak pengunjung. Atau lebih kepada… Gak ada pengunjung sama sekali! ๐Ÿ˜

Tapi, selain gak ada pengunjung, juga gak ada petugas yang jaga pas masuk bangunan museum. Jadi, saya jalan-jalan disana cuma ngikutin petunjuk yang ada di area museum aja karena gak ada orang yang bisa ditanya-tanya.ย 

Bener, isinya cenderung bosenin karena cuma diorama-diorama saat kejadian penculikan para jendral dan kejadian yang berkaitan sama PKI jaman 1960an. Tapi lebih dari itu, suasana di museum ini bener-bener serem karena sepi, saya sendirian dan ngebayangin gak jauh dari situ pernah ada kejadian pembantaian pula.

Terus nih, saking gak ada petugas yang ditanya-tanya, saya bahkan sama sekali gak tau apakah sumur yang dipake buat ngubur ketujuh jendral ini masih ada atau enggak. Karena ya emang gak ada petunjuknya.ย 

Agak merasa rugi sih kesini karena udah jauh dan ongkosnya mahal, ternyata begini doang… Walaupun yah, rasa mencekam-nya lumayan bikin deg-deg-ser.

Rekomendasi Museum di Jakarta

Dari semua museum yang pernah saya kunjungi di Jakarta, jujur sih saya paling suka Museum Taman Prasasti. Sejak pertama kali nemu info soal Museum Taman Prasasti ini, saya emang pengen banget kesana.

Dan pas udah kesana, saya malah jadi penasaran pengen tau siapa-siapa aja yang dimakamin disana dan latar belakang masing-masing dari mereka.

Kebetulan, saya kesana sama Tahrul sama sekali gak ditemenin pemandu, jadi yah bener-bener jalan-jalan random aja liatin nama-nama di batu nisan. Tapi entah kenapa saya suka. ๐Ÿ˜

Tapiiii, buat kamu semua yang belum pernah jalan-jalan ke museum di Jakarta, saya rasa wajib hukumnya buat paling enggak ke Museum Sejarah Jakarta.

Jadi kayaknya, sebelum kemana-mana, mendingan kunjungin museum yang ada di area Kota Tua dulu aja karena selain aksesnya gampang, dari segi maintenance pun museum di Kota Tua ini tergolong lebih bagus kalau dibandingin sama museum di Lubang Buaya misalnya.

Museum di Lubang Buaya ini, kalau boleh saya bilang sih… Agak nyesel juga kesana. Cuma ya paling enggak rasa penasaran saya udah terjawab dengan kesana.

Ada museum di Indonesia yang penasaran pengen kamu kunjungi? Atau ada kesan tertentu waktu kamu ke salah satu museum diatas? Share donk pengalaman kamu di kolom komentar, cheerio!ย 

 

3 thoughts on “6 Museum di Jakarta, Pelipur Lara Ketika Jenuh di Ibukota

  1. aku juga suka banget sama museum taman prasasti. selain itu yang lumayan untuk dikunjungi ya museum BI, selebihnya masih biasa aja. pengennya punya museum-museum kece biar bisa semangat ke museum ya, tapi sayangnya sampai sekarang cuma beberapa gelintir aja museum yang bisa dibilang keren di Indonesia.

    1. iya, cuma sayangnya agak susah aja aksesnya.. tapi agak unik dibandingin yang lain. betul, yang lainnya biasa aja. walaupun museum wayang agak lumayan dibandingin perkiraan aku sebelumnya, gara-gara sebelum kesana aku sering banget denger kesan2 kurang bagus di museum wayang ini. tapi pas kesana ternyata ga jelek2 banget. ๐Ÿ˜›

Tinggalkan Balasan