6 Hal Yang Ga Pernah Jadi Pertimbangan Saya Sebelum Memutuskan Pelihara Binatang di Rumah

Reading Time: 8 minutes

Tiga hari yang lalu, tepatnya tanggal 24 Januari 2018, adalah salah satu hari terberat dalam hidup saya.

Saya udah lupa kapan terakhir kali saya menghabiskan waktu menangis semalam, tapi itulah yang saya lakukan tiga hari kemarin. Kenapa? Bukan karena putus cinta, karena udah hampir sepuluh tahun kayaknya sejak saya nangis terakhir cuma karena urusan cinta. πŸ˜›

Alasan saya kemarin semaleman nangis mungkin konyol bagi sebagian orang, tapi ternyata banyak banget yang ngerti kesedihan saya: saya kehilangan Disco, kucing kesayangan yang sudah saya pelihara sejak kurang lebih 8 tahun yang lalu.

Baru minggu lalu saya tahu dari dokter kalau Disco kena TBC akut, tapi jujur saya sebetulnya ga nyangka kalau Disco bakal pergi secepat itu. Tapi di sisi lain, umur Disco pun udah 13 tahun. Cukup tua untuk ukuran kucing, walaupun beberapa teman ada yang keukeuh kalau kucing bisa hidup sampai 20 tahun lamanya.

Gara-gara Disco meninggal, akhirnya kemarin saya ngabisin seharian buat liat-liatin foto-foto lama sama Disco dan tiba-tiba refleksi diri bahwa begitu banyak hal mengenai kehidupan yang diajarkan binatang peliharaan, sahabat sekaligus keluarga saya yang buntelan bulu ini. πŸ™‚

Ini foto Disco waktu nemenin saya baca buku Marya Wanita Luar Biasa-nya Hendrasmara, biografi Madame Curie yang namanya tertulis seperti nama saya. Harapan saya, mudah-mudahan Disco melihat saya seperti buku yang saya baca saat itu. πŸ™

Sejak adopsi Disco di sekitaran akhir tahun 2009, banyak banget hal yang berubah di hidup saya. Ga cuma saya melihat perubahan Disco dari seekor kucing dewasa menuju tua, tapi juga saya melihat perubahan dari diri saya.

1. Ga ada yang ngasih tau saya kalau punya binatang peliharaan artinya kita bisa dengan mudah refleksi diri terhadap perubahan diri kita yang dulu dan sekarang.

Umur saya masih 20 tahun waktu pertama kali bawa pulang Disco ke rumah untuk pertama kalinya. Saya sendiri memutuskan buat adopsi Disco dari Febi, salah satu kakak angkatan saya di kampus.

Sebelumnya Febi pelihara Disco dan Kiko, bapaknya Disco yang meninggal di salah satu pet shop di Bandung. Karena satu dan lain hal, Febi ga bisa pelihara Disco lagi dan satu hari nge-tweet nanya ada yang tertarik buat adopsi kucing atau engga.

Saya sendiri sebetulnya ga pernah kepikiran pelihara kucing, karena dari dulu saya emang lebih suka anjing. Hmm.

Tapi pas baca tweet-nya Febi, saya langsung merasa pengen pelihara. Alasannya bener-bener random, karena waktu itu saya pikir tinggal itungan tahun sampai saya menikah dan lalu punya anak. Ga ada salahnya saya latihan ngurus anak dengan cara pelihara binatang.Β 

(Kiri:) Salah satu foto pertama yang saya ambil ga lama setelah bawa pulang Disco ke rumah, sekitar tahun 2009 atau 2010 foto pake Nokia 7610 Supernova saya. ; (Kanan:) Salah satu foto terakhir yang saya ambil sama Disco, diambil sekitar bulan November atau Desember.

8 tahun kemudian, saya emang belum kesampaian nikah atau punya anak sendiri. Tapi saya melalui begitu banyak hal di kurun waktu yang sama. Dari mulai stress kuliah sampai akhirnya lulus, dari mulai ga pernah ngerasain naik pesawat sampai punya kerjaan melulu karena jadi pramugari. Dari mulai muka saya yang cantik sempurna ini tidak ternoda, sampai senyum saya dirusak sama Bell’s Palsy.

Semuanya terjadi ketika Disco ada di rumah saya. Karena itu, Disco bukan cuma seekor kucing buat saya, tapi Disco adalah simbol perubahan dalam hidup saya. πŸ™‚Β 

2. Ga ada yang ngasih tau kalau melihara binatang di rumah itu mahal harganya.

Oke, mungkin kalau dari segi materi sebetulnya opsi buat pilih makanan dan segala perawatan kucing itu bisa diatur. Saya sendiri baru menyadari mahalnya pelihara binatang ketika awalnya makanan Disco adalah salah satu makanan kucing kering yang tergolong dalam kategori super premium. Disco ini kucingnya doyan makan dan kalau urusan makan cepet banget habisnya. Hmm.

Belum lagi kalau urusan grooming dan vaksin, kadang kalau saya lagi perhitungan sih saya mikir lagi, buat apa saya ngeluarin banyak uang buat kucing ketika saya kadang merasa duit saya seret bahkan untuk diri sendiri? πŸ™

Chiban, anaknya Disco yang juga saya pelihara, nampang di sebelah kemasan makanan sehari-hari mereka, merek makanan kucing dari Brazil, Equilibrio.

Tapi saya langsung inget rasa sayang saya untuk mereka yang begitu besar, sehingga saya ga membayangkan kalau sampai harus kehilangan mereka. Dan itu jugalah yang saya rasakan ketika Disco meninggal, saya langsung merasa betapa mahalnya kenangan-kenangan yang saya lalui sama Disco.

Dan betapa rasa sayang saya sama Disco ga dibuat-buat. Saya ini bukan tipe orang romantis yang bisa dengan mudahnya menunjukkan rasa sayang sama orang lain, tapi saya ga pernah malu-malu untuk menunjukkan rasa sayang saya sama kucing-kucing saya.Β 

Saya bahkan ga bisa membayangkan rasa sayang yang bakal saya punya seandainya suatu hari saya punya anak sendiri, karena dengan punya kucing aja saya merasa curahan kasih sayang saya ya cuma buat mereka.

Saya ga pernah ngedumel soal teman-teman saya yang rajin banget upload foto-foto anaknya karena saya sendiri juga hobi banget upload foto kucing-kucing saya. Waktu Disco meninggal pun, timeline saya penuh dengan ucapan duka cita, bahkan ada yang sampe bilang berasa kenal Disco padahal ketemu aja ga pernah. Kenapa? Karena saya sering banget upload fotonya. :’)

3. Ga ada yang ngasih tau saya kalau pelihara binatang di rumah itu oxymoron. Karena mereka bisa jadi motivasi sekaligus penghalang buat berkembangnya diri kita.

Atau mungkin saya aja sih yang begitu, karena saya ini tipe-tipe anak yang gampang banget ter-distract sama gangguan-gangguan kecil dan binatang adalah salah satunya. πŸ˜›

Sebenernya ga heran sih, bahkan mantan saya dulu sering komplain kalau I love animals better than people.Β Kenapa? Soalnya tiap kali saya liat kucing liar di jalanan di Istanbul, dia otomatis saya cuekin. Hmm.Β 

Tapi lain ceritanya kalau soal kucing peliharaan sendiri, yang nemenin kita sehari-hari. 8 tahun menurut saya waktu yang cukup untuk tahu enak-ga enaknya pelihara binatang, dan urusan mereka jadi motivasi dan penghalang adalah hal-hal esensial karena ga bisa dihindari.

Disco beberapa bulan lalu, kerjaannya ganggu saya kalau saya lagi mood nulis dengan cara tiduran di deket keyboard. πŸ™

Komitmen saya sejak awal adopsi Disco adalah saya mau coba nabung buat beli makanannya. Itu janji yang saya kasih sama ibu saya yang setengah hati dengan keputusan saya untuk pelihara Disco pada awalnya. Akhirnya, saya ngeh kalau pelihara kucing itu mahal. Ujung-ujungnya saya sering minta uang ke ibu saya untuk beli makanan kucing dan itu jadi motivasi saya buat bisa cepet lulus kuliah. Hmm.

Ironisnya, Disco ini jugalah yang sering jadi gangguan saya saat skripsi entah karena dia tiba-tiba pengen main waktu malem-malem ngerjain BAB II, atau karena dia tiba-tiba minta dielus-elus ga jelas sampai saya baca satu paragraf berulang-ulang. πŸ˜›Β 

4. Ga ada yang ngasih tau saya kalau kucing ataupun anjing, yang namanya binatang peliharaan pasti punya semacam ‘koneksi’ sama manusia mereka.

Terlalu sering saya baca artikel soal bedanya kucing atau anjing, atau bahkan beda-beda tipe manusia sesuai binatang peliharaan mereka. Katanya kucing itu pemalas dan cuek, ketika anjing itu adalah binatang peliharaan paling setia.

Saya tumbuh besar pernah pelihara anjing, dan 8 tahun ke belakang selalu berurusan sama kucing, sedikit banyak belajar satu hal: anjing, kucing atau apapun binatang yang kalian pelihara, secuek-cueknya mereka, pasti akan menunjukkan ‘perhatian’ mereka dengan cara-cara yang mungkin ga pernah kalian duga sebelumnya.Β 

Screenshot obrolan saya dan ade saya di Skype, yang saya ambil di tahun 2010 waktu saya lagi di Izmir.

Untuk Disco sendiri, saya mungkin sedikit beruntung karena karakter dia yang manja dan clingy lebih mirip anjing daripada kucing. Kemanapun saya pergi, dia pasti selalu nganter saya sampai ke depan rumah. Dan setiap saya pulang, dia pasti tau dan langsung menyambut saya di pintu. πŸ™‚

Salah satu ‘koneksi’ yang pernah terjadi antara saya sama Disco adalah waktu saya pertama kali tinggal jauh dari rumah, tahun 2010 saya ke Izmir untuk ikutan summer course selama hampir 3 bulan. Di bulan pertama saya jauh dari rumah, Disco jatuh sakit.Β 

Entah apa yang terjadi, tapi tiba-tiba kakinya pincang dan langsung dibawa ke dokter. Pulang dengan kaki diperban, beberapa kemudian kakinya Disco ini masih aja pincang. Sampai satu hari, ibu saya mergokin dia jalan seperti biasa tanpa pincang sama sekali dan ibu saya teriak shock karena ibu saya baper ngerasa Disco ini cari perhatian karena kangen sama saya. πŸ™

Seperti yang saya bilang sebelumnya, ibu saya awalnya agak kurang setuju dengan keputusan saya pelihara Disco. Tapi setelah kejadian tersebut, ibu saya ga cuma jadi sayang sama Disco, tapi kalau Disco sakit dia yang sibuk sampai kadang bikin jamu segala buat kakinya supaya hangat. Sedih deh kalau inget lagi. πŸ™

5. Ga ada yang ngasih tau saya kalau bahkan binatang peliharaan bikin saya ngeset standar yang cukup tinggi soal urusan kehidupan lainnya.

Pas pelihara Disco, saya langsung teringat mantan saya yang alergi kucing dan dalam hati langsung berpikir, saya ga mungkin balikan sama mantan saya ini karena kayaknya kalau saya harus pilih antara pacar dan Disco, saya bakal pilih Disco. πŸ˜›

Alasan saya pacaran sama mantan yang jadi pacar saya selanjutnya pun karena kita sama-sama pelihara kucing. Dia pelihara kucing di Tunis, saya pelihara kucing di Bandung. Sayangnya kita belum sampai taraf seserius itu sampai ketemu kucing masing-masing. Hahaha.

Tapi, pelihara Disco sampai dia beranak-pinak ini sukses bikin saya ngeset standar yang cukup tinggi buat urusan cowok. Ga cuma soal suka kucing, tapi juga soal karakter.

Disco dan Chiki beserta anak-anak kucingnya. Tebak Chiban yang mana? πŸ˜›

Melihara Disco sejak 8 tahun yang lalu, saya jadi tau karakter Disco sebagai binatang peliharaan terhadap manusianya seperti apa, dan karakter Disco sebagai bapak dari anak-anaknya atau pasangan bagaimana. Dan saya ga pernah malu-malu ngaku kalau saya cari cowo, saya mau cari cowo yang kayak Disco.

Yang bisa manja-manjaan, tapi bertanggung jawab karena dia memperlihatkan kasih sayang yang besar ke anak-anaknya. Dan bahkan ke anak kucing lain yang bukan darah dagingnya. :’)

Percaya ga percaya, Disco ini nemenin Chiki selama persalinan dan bener-bener ga lepas dari penglihatan selama proses berlangsung. Now, who doesn’t want a guy like that?Β 

Saya sering becanda sama ade-ade saya dulu, kalau saya nikah saya mau Disco jadi ring bearer saya karena Disco begitu berarti buat saya.

Sekarang kalau mikir lagi Disco udah ga ada dan saya masih jauh dari rencana buat nikah, ada perasaan sedih juga sih. Tapi lebih ke arah sedih karena Disco ga ada daripada belum rencana buat nikah sih. πŸ˜›

6. Ga ada yang ngasih tau kalau liat mereka sakit itu lebih sakit daripada ikhlas.

Selama saya pelihara Disco, Disco itu bukan kucing rewel. Anaknya jarang sakit, diajak jalan pun anteng banget, bahkan kalau malem-malem kerjaannya suka nongkrong di dashboard mobil sambil liatin jalan.

Selama Disco di rumah, Disco ke dokter cuma karena vaksin dan beberapa sakit ringan seperti kaki tetiba pincang atau bisul karena berantem sama kucing jalan. 😐

Makanya saya shock waktu dia sakit kemarin. Bahkan ketika dia sakit dan cuma mengandalkan infus, dia masih bangun waktu saya mau ngasih makan kucing-kucing yang lain. Dia masih ada semangat buat makan walaupun makanan udah ga masuk ke badan dia tanpa bikin dia tersiksa. Saya ga tega.

The last vet visit for Disco. πŸ™

Disco masih bisa coba maksa makan, tapi setelah itu dia tersengal-sengal dan terlihat sangat tersiksa bahkan cuma buat bernafas. Beruntung, karena saya ga pernah mengalami harus melihat orang yang saya kasihi menderita karena kesakitan, dan waktu saya liat Disco menderita saya betul-betul ga bisa nahan air mata saya.

Sebelum meninggal, sedikit banyak saya sebetulnya udah ikhlas karena saya ga tega liat dia menderita. Saya bahkan sempet ngelus-ngelus dia sambil bilang, “Disco kalau ga tahan dan mau pergi ga apa-apa, soalnya aku ga tega liat kamu kesakitan.”

Sorenya waktu saya lagi terapi, ade saya Whatsapp bilang kalau Disco udah ga ada. πŸ™Β 

Saya ga bisa berhenti nangis nginget-nginget Disco sampai 2 hari yang lalu, tapi sekarang saya cukup lega karena seengganya Disco udah ga perlu sakit-sakit lagi. Dan saya cuma bisa bersyukur dengan begitu banyak kenangan dan pelajaran yang Disco berikan selama dia hidup.

Saran Untuk Yang Mempertimbangkan Untuk Pelihara Binatang di Rumah

Saran saya, kalau keluarga kamu ada rencana adopsi binatang peliharaan, the worst scenario is that you could lose them when you just love them too much to let them go.

Terlepas dari kekurangan dan resiko yang didapatkan ketika memutuskan untuk adopsi binatang peliharaan di rumah, berdasarkan pengalaman, saya merasakan lebih banyak manfaatnya daripada mudarat punya binatang peliharaan di rumah. πŸ™‚Β 

Buat yang punya anak kecil, terlepas dari bahaya penyakit A sampai Z yang mungkin ditularkan melalui binatang peliharaan, anak-anak yang terbiasa berinteraksi dengan binatang peliharaan biasanya punya rasa empati yang tinggi. Saya bisa ngomong gini karena saya punya keponakan batita yang tiap hari suka main di rumah dan sering main sama kucing-kucing saya.

Kalau dibandingin sama anak-anak kecil yang datang ke rumah saya pas lebaran cuma buat lempar-lemparin batu ke arah ikan-ikan di kolam, rasanya kayak saya pengen pitesin anak-anak kayak begini. Zzz.

Dan saya sekarang ngerti kenapa ada istilah crazy cat lady, karena ketika kamu punya satu kucing, agak sulit buat ga pengen nambah. Tiap kali liat kucing liar di luar bawaannya jadi suka pengen bawa pulang. πŸ˜›Β 

Jadi gimana? Siap pelihara binatang?! πŸ˜‰

The day when Chiban was conceived. πŸ˜›

In Memoriam: Disco The Cat (2006-2018)

One thought on “6 Hal Yang Ga Pernah Jadi Pertimbangan Saya Sebelum Memutuskan Pelihara Binatang di Rumah

Leave a Reply

loading...